PERAN GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA DI SMP SWASTA ………..
sukses
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Guru adalah seorang pendidik dalam dunia
pendidikan sekaligus orang yang menentukan berhasil atau tidaknya proses
pembelajaran. Pendidikan tidak hanya proses mentransfer ilmu pengetahuan yang
dimiliki oleh guru kepada peserta didiknya namun juga membentuk kepribadian
yang baik kepada peserta didiknya. Pendidikan berupaya untuk membentuk peserta
didik yang unggul dalam hal pengetahuan (knowledge),
sikap (attitude) maupun keterampilan (skill). Pendidikan di Indonesia
sekarang ini dalam keadaan belum berhasil sepenuhnya terutama dalam hal
penanaman karakter pada peserta didik.
Pendidikan pada
dasarnya adalah membentuk karakter peserta didik. Tujuan pendidikan tersebut
tertuang dalam Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dalam pasal 3 yang berbunyi:
“Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”
Dalam
lingkungan sekolah, guru mempunyai tugas dan wewenang dalam membina dan
membentuk karakter siswa, yaitu karakter yang seluruh aspek-aspeknya yakni baik
tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat hidup dan
kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Allah SWT. Dalam hal ini guru
mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa-siswanya
di sekolah, guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan
pengajaran, yang ikut
bertanggung jawab dalam
mendidik dan mengajar, membantu anak dalam mencapai
kedewasaan.
Guru adalah
orang dewasa yang bertanggung jawab untuk memberi pertolongan pada peserta
didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai tingkat
kedewasaannya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah
Allah SWT, serta mampu melaksanakan tugas sebagai mahluk sosial dan sebagai
mahluk individu yang mandiri.
Untuk itu
seorang guru harus
memenuhi berbagai persyaratan baik secara fisik, psikis,
mental, moral maupun intelektual yang secara ideal supaya kelak mampu
menunaikan tugasnya dengan baik, sehingga guru sebagai pendidik dan pengajar
mempunyai peranan dan tanggung jawab dalam membentuk pribadi dan karakter
siswanya terutama dalam pendidikan yang diarahkan agar setiap siswanya menjadi
manusia yang beriman, berilmu, berakhlak mulia serta mampu membangun dirinya
dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa. Seorang guru adalah sumber
keteladanan, sebuah pribadi yang penuh dengan contoh dan teladan bagi
murid-muridnya.
Ditengah-tengah
perkembangan dunia yang begitu cepat dan semakin canggih, prinsip-prinsip untuk
membangun etika, nilai dan karakter peserta didik tetap harus dipegang. Akan
tetapi perlu dilakukan dengan cara yang berbeda atau kreatif sehingga mampu
mengimbangi perubahan kehidupan. Guru
harus memiliki kemitmen yang kuat dalam melaksanakan pendidikan secara
holistik yang berpusat pada potensi dan kebutuhan peserta didik. Pendidik juga
harus mampu menyiapkan peserta didik untuk bisa menangkap peluang dan kemajuan
dunia dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Problem
kemerosotan moral akhir-akhir ini menjangkit sebagian generasi muda. Gejala
kemerosotan moral antara lain diindikasikan
dengan merebaknya kasus penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas,
kriminalitas kekerasan dan aneka perilaku kurang terpuji lainnya. Dilain pihak,
ada juga dari generasi muda yang menampilkan akhlak terpuji (akhlak mahmudah) sesuai harapan orang
tua. Kesopanan, sifat- sifat ramah, tenggang rasa, rendah hati, suka menolong,
solidaritas sosial dan sebagainya seolah-olah begitu melekat secara kuat dalam
diri mereka.
Disini peranan
guru sangatlah penting untuk menanamkan pendidikan karakter pada siswa. Guru
sebagai suri tauladan bagi siswa-siswanya dalam memberikan contoh karakter yang
baik sehingga bisa mencetak dan membentuk generasi yang memiliki kepribadian
baik pula.
Penanaman
karakter dimulai dari lingkungan keluarga, kerabat, sekolah dan lingkungan
masyarakat. Lingkungan rumah dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan
pendidikan karakter yang pertama dan utama harus lebih diberdayakan dan hal
tersebut merupakan tugas orang tua sebagai penanam pertama karakter anaknya.
Keluarga adalah sekolah untuk kasih sayang, tempat belajar yang penuh dengan
cinta, janganlah orang tua menanamkan keluarga sebagai tempat untuk bertengkar
dengan pasangannya karena hal itu akan berakibat buruk pada karakter anak yang
akan menganggap berkeluarga adalah hal yang menyengsarakan kelak jika anak
tersebut sudah dewasa. Pembentukan karakter melalui sekolah juga harus
diperhatikan di sekolah pendidikan tidak semata-mata tentang mata pelajaran
yang hanya mementingkan diperolehnya kemampuan kognitif tetapi juga penanaman
moral, nilai-nilai estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya.
Pemilihan SMP ………sebagai
objek penelitian karena ada hal yang menarik dengan suasana religi yang ada di
SMP ……….
Penulis heran, bagaimana bisa sekolah umum yang tidak berlatar belakang agama
namun tercermin suasana keagamaan yang tidak kalah jauh dengan sekolah
berasrama atau sekolah-sekolah yang berlatar belakang agama atau
sekolah-sekolah yang berlabel sekolah Islam Terpadu (IT). Padahal pelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI) yang ada di SMP ………tidak
jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya, yakni
hanya terbatas 2 jam pelajaran dalam seminggu. Materi yang ada pun
merupakan satu kesatuan yang utuh antara materi ibadah, qur’an-hadits, akhlak,
sejarah kebudayaan Islam yang tergabung menjadi satu mata pelajaran yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI).
Hal tersebut di
atas dibuktikan dengan banyaknya siswi putri yang berjilbab, kegiatan sholat
jama’ah dhuhur dan kegiatan keagamaan lainya. Hal ini melatarbelakangi
keinginan penulis untuk mengetahui lebih jauh, bagaimana peran guru dalam
membentuk karakter siswa, sehingga para siswa memiliki karakter yang baik dan
positif seperti menjalankan ibadah keagamaan yang di dasari oleh kesadaran dan
kemauan dari para siswanya, bukan merupakan paksaan dari gurunya.
Dengan demikian
dari berbagai uraian di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan
judul “ Peran Guru dalam Pembentukan Karakter Siswa di SMP ……….
B. Identifikasi
Masalah
1.
Tingginya rasa hormat anak didik terhadap
gurunya
2.
Memiliki karakter yang baik padahal tidak
bersekolah di sekolah yang berbasis agama
3.
Peran guru dalam membentuk karakter siswa yang
baik
C.
Pembatasan
Masalah
Berdasarkan
identifikasi masalah yang ada, tidak semua masalah akan diteliti. Peneliti
hanya akan meneliti tentang peran guru dalam pembentukan karakter
D. Rumusan
Masalah
1. Apa
peran guru dalam pembentukan karakter siswa SMP ………?
2. Bagaimana
cara penanaman pendidikan karakter oleh guru terhadap siswa SMP ………?
E. Tujuan
Penelitian
1.
Untuk mengetahui apa peran guru dalam
pembentukan karakter siswa SMP
2.
Untuk mengetahui cara penanaman pendidikan
karakter oleh guru terhadap siswa ……….
F. Manfaat
Penelitian
a. Kegunaan
penelitian secara teoritis
Memberi tambahan wawasan secara
teoritik terkait usaha guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter dalam
pembelajaran.
b.
Kegunaan penelitian secara praktis
1)
Bagi pendidik
a. Mengetahui
peran guru dalam membentuk karakter peserta didik di SMP Swasta Hasanuddin
Medan .
b. Meningkatkan
pengetahuan, pemahaman dan pengalaman dalam ruang lingkup yang lebih luas guna
menunjang profesi sebagai guru
2)
Bagi siswa, memberikan motivasi bahwa belajar
dengan membangun karakter siswa itu menyenangkan serta siswa dapat
memperakekannya dalam kehidupan sehari-hari
3)
Bagi sekolah, sebagai masukan yang konstruktif
dalam mengelola program pendidikan karakter di sekolah dan menjadi bahan
sekaligus referensi bagi kepala sekolah, guru, komite sekolah dan seluruh warga
sekolah dalam mengembangkan pendidikan karakter di sekolah.
BAB II
KAJIAN
TEORI
A.
Peranan
Guru dalam Pembentukan Karakter
Peranan adalah tindakan yang
dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Guru adalah seseorang yang
membuat orang lain tahu atau mampu untuk melakukan sesuatu, atau memberikan
pengetahuan atau keahlian. Men urut Zakiah Daradjat, guru adalah seseorang yang
memiliki kemampuan atau pengalaman yang dapat memudahkan melaksanakan
peranannya membimbing muridnya.[1]
Peranan adalah suatu yang jadi bagian
atau yang memegang pimpinan yang terutama (dalam terjadinya suatu hal atau
peristiwa).[2]
Peranan juga dikatakan perilaku atau lembaga yang punya arti penting bagi struktur sosial. Dalam hal ini maka kata
peranan lebih banyak mengacu pada penyesuaian diri pada suatu proses.
Jadi Peranan guru adalah tercapainya serangkaian tingkah laku yang
saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan
dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuan. Dengan kata
lain peranan guru dapat dikatakan tugas yang harus dilaksanakan oleh guru dalam
mengajar siswa untuk kemajuan yaitu perubahan
tingkah laku dan perkembangan siswa. Maksudnya
guru mengajar sebagai
sentral proses belajar
mengajar dia membantu perkembangan peserta didik untuk mempelajari
sesuatu yang belum ia ketahui dan untuk memahami apa yang dipahami.
Peranan guru banyak sekali, tetapi
yang terpenting adalah pertama, guru sebagai pemberi pengetahuan yang benar
kepada muridnya. kedua guru sebagai pembina akhlak yang mulia, karena akhlak
yang mulia merupakan tiang utama untuk menopang kelangsungan hidup suatu bangsa. Ketiga guru memberi petunjuk kepada
muridnya tentang hidup yang baik, yaitu manusia yang tahu siapa pencipta
dirinya yang menyebabkan ia tidak menjadi orang yang sombong, menjadi orang
yang tahu berbuat baik kepada Rasul, kepada orang tua, dan kepada orang lain yang berjasa kepada dirinya.[3]
Untuk mewujudkan peran guru, maka
seorang guru harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Keempat
kompetensi tersebut dapat kita kelompokkan menjadi dua, yaitu hard competence adalah kompetensi
pedagogik dan kompetensi profesional, sementara soft competence adalah
kompensi kepribadian dan
kompetensi sosial.
Menurut Mukhtar, peran guru dalam
pembentukan akhlak atau karakter lebih difokuskan pada tiga peran, yaitu:
1. Peran pendidik sebagai pembimbing
Peran
pendidik sebagai pembimbing sangat berkaitan erat dengan praktik keseharian.
Untuk dapat menjadi seorang pembimbing, seorang pendidik harus mampu
memperlakukan para siswa dengan menghormati dan menyayangi (mencintai). Ada
beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang pendidik, yaitu
meremehkan/merendahkan siswa, memperlakukan sebagai siswa secara tidak adil, dan membenci sebagian siswa.
Perlakuan
pendidik sebenarnya sama dengan perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya yaitu
penuh respek dan kasih sayang serta memberikan perlindungan. Sehingga dengan
demikian, semua siswa merasa senang dan familiar untuk sama-sama menerima
pelajaran dari pendidiknya tanpa ada paksaan, tekanan dan sejenisnya. Pada
intinya, setiap siswa dapat merasa percaya diri bahwa di sekolah/madrasah ini, ia
akan sukses belajar lantaran ia merasa dibimbing, didorong, dan diarahkan oleh
pendidiknya dan tidak dibiarkan tersesat. Bahkan, dalam hal-hal
tertentu pendidik harus
bersedia membimbing dan mengarahkan satu persatu dari
seluruh siswa yang ada.[4]
2. Peran pendidik sebagai model (contoh)
Peranan
pendidik sebagai model pembelajaran sangat penting dalam rangka membentuk
akhlak mulia bagi siswa yang diajar. Karena gerak gerik guru sebenarnya selalu
diperhatikan oleh setiap murid. Tindak tanduk, perilaku, dan bahkan gaya guru
selalu diteropong dan sekaligus dijadikan cermin (contoh) oleh murid-muridnya.
Apakah yang baik atau yang buruk. Kedisiplinan, kejujuran, keadilan,
kebersihan, kesopanan, ketulusan, ketekunan, kehati-hatian akan selalu direkam
oleh murid-muridnya dan dalam batas-batas tertentu akan diikuti oleh
murid-muridnya. Demikain pula sebaliknya, kejelekan- kejelekan gurunya
akan pula direkam
oleh muridnya dan
biasanya akan lebih mudah dan cepat diikuti oleh murid-muridnya. Semuanya akan
menjadi contoh bagi murid, karenanya guru harus bisa menjadi contoh yang baik
bagi murid-muridnya. Guru juga menjadi figur
secara tidak langsung dalam pembentukan akhlak siswa dengan memberikan
bimbingan tentang cara berpenampilan, bergaul dan berperilaku yang sopan.
3.
Peran
pendidik sebagai penasehat
Seorang pendidik memiliki jalinan
ikatan batin atau emosional dengan para siswa yang diajarnya. Dalam hubungan
ini pendidik berperan aktif sebagai penasehat. Peran pendidik bukan hanya
sekedar menyampaikan pelajaran di
kelas lalu menyerahkan
sepenuhnya kepada siswa dalam memahami materi pelajaran yang
disampaikannya tersebut. Namun, lebih dari itu, guru juga harus mampu memberi
nasehat bagi siswa yang membutuhkannya, baik diminta ataupun tidak.
Oleh karena itu hubungan batin dan emosional antara siswa dan pendidik
dapat terjalin efektif, bila sasaran utamanya adalah menyampaikan nilai-nilai
moral, maka peranan pedidik dalam menyampaikan nasehat menjadi sesuatu yang
pokok, sehingga siswa akan merasa diayomi, dilindungi, dibina, dibimbing,
didampingi penasehat dan diemong oleh gurunya.[5]
B.
Cara/metode
dalam pembentukan karakter
Ada beberapa metode klasik yang
digunakan berkaitan dengan pembentukan akhlak atau karakter disekolah, antara
lain:
1.
Metode Keteladanan
Pendidikan dengan keteladanan
berarti pendidikan dengan memberi contoh, baik berupa tingkah laku, sifat, cara
berfikir dan sebagainya. Keteladanan dalam pendidikan adalah metode influentif
yang paling menentukan keberhasilan dalam mempersiapkan dan membentuk sikap,
perilaku, moral, spiritual dan sosial anak. Hal ini karena pendidikan adalah
contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditirunya dalam segala tindakan
disadari maupun tidak. Bahkan jiwa dan perasaan
seorang anak sering
menjadi suatu gambaran pendidiknya, baik dalam ucapan maupun perbuatan
materiil maupun spirituil, diketahui atau tidak diketahui.
2.
Metode Pembiasaan
Pembiasaan merupakan proses penanaman
kebiasaan. Pembiasaan memberikan manfaat bagi anak karena pembiasaan berperan
sebagai efek latihan yang terus menerus, anak akan lebih terbiasa berperilaku
dengan nilai-nilai akhlak. Di samping itu, pembiasaan juga harus memproyeksikan
terbentuknya mental dan akhlak yang lemah lembut untuk mencapai nilainilai
akhlak. Di sinilah kita perlu mengakui
bahwa metode pembiasaan
berperan penting dalam
membentuk perasaan halus khususnya pada beberapa tahapan pendidikan awal.
Dalam teori
perkembangan anak didik, dikenal adanya teori konvergensi di mana, pribadi
dapat dibentuk oleh lingkungannya dengan mengembangkan potensi dasar yang ada
padanya sebagai penentu tingkah laku. Oleh karena itu, potensi dasar harus
selalu diarahjkan agar tujuan
pendidikan dapat tercapai
dengan baik. Salah satu caranya
ialah melakukan kebiasaan yang baik.
3.
Metode Nasehat
Yang dimaksud dengan nasehat ialah
penjelasan tentang kebenaran dan kemaslahatan dengan tujuan menghindarkan orang
yang dinasehati dari bahaya serta menunjukkan ke jalan yang mendatangkan
kebahagiaan dan manfaat. Dengan. metode ini pendidik mempunyai kesempatan yang
luas untuk mengarahkan peserta didik kepada berbagai kebaikan dan kemaslahatan
serta kemajuan masyarakat dan umat.
Metode nasehat digunakan sebagai
metode pendidikan untuk menyadarkan anak akan hakekat sesuatu, mendorong mereka
menuju harkat dan martabat yang luhur, menghiasinya dengan akhlak yang mulia
serta membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam.[6]
4.
Metode Cerita/Kisah
Metode kisah mengandung arti suatu
cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menunturkan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya suatu
hal, baik yang sebenarnya ataupun yang rekaan
saja. Dalam mengaplikasikan metode
ini pada proses
belajar mengajar, metode kisah merupakan salah satu metode pendidikan
yang masyhur dan penting, sebab metode kisah mampu mengikat pendengar untuk
mengikuti peristiwanya, merenungkan maknanya selanjutnya makna-makna itu akan
menimbulkan kesan dalam hati dan ikut menghayati atau merasakan isi kisah
seolah-olah ia yang menjadi tokohnya. Hal itu jika didasari oleh ketulusan hati
yang mendalam, sehingga menimbulkan sugesti
untuk mengikuti alur
cerita sampai selesai.[7]
5.
Metode
Mendidik Melalui Kedisiplinan
Metode ini identik dengan
pemberian hukuman atau sanksi. Tujuannya untuk menumbuhkan kesadaran
siswa bahwa apa yang dilakukan tersebut tidak benar,
sehingga ia tidak mengulanginya lagi. Pendidikan
melalui kedisiplinan ini memerlukan ketegasan dan kebijaksanaan. Ketegasan mengharuskan seorang pendidik memberikan sanksi kepada setiap
pelanggar sementara kebijaksanaan mengharuskan pendidik berbuat adil dan arif
dalam memberikan sanksi, tidak terbawa emosi atau dorongan lain.
Dengan
demikian, sebelum menjatuhkan sanksi seorang pendidik harus memperhatikan
hal-hal berikut ini:
a.
Perlu
adanya bukti yang kuat tentang adanya tindak
pelanggaran
b.
Hukuman
harus bersifat mendidik bukan sekedar memberi kepuasan atau balas dendam dari
si pendidik
c.
Harus
mempertimbangkan latar belakang dan kondisi siswa yang melanggar.
Menurut M.
Nur Hafizh[8], ada
lima hal mendasar
yang perlu diberikan kepada
anak dalam rangka upaya pembinaan akhlak, yaitu:
a.
Pembinaan
budi pekerti dan sopan santun
Pentingnya budi pekerti
dan penanamannya dalam jiwa anak sudah jelas dan tegas ditunjukkan oleh
Rasulullah tepatnya dalam sabdanya: “Tidak ada sesuatu pemberian orang tua
kepada anak-anaknya yang paling berharga kecuali budi pekerti yang baik”. Dan
juga “Muliakanlah anak-anakmu dan ajarkanlah mereka budi pekerti yang luhur”. Perhatian yang
besar terhadap pembinaan
budi pekerti ini disebabkan
karena menghasilkan hati yang terbuka. Hati yang terbuka menghasilkan kebiasaan
yang baik dan kebiasaan yang baik menghasilkan akhlak yang terpuji.
b.
Pembinaan
bersikap jujur
Bersikap jujur merupakan dasar
pembinaan akhlak yang sangat penting
dalam ajaran Islam.
Oleh karena itu
Rasulullah saw.
Memperhatikan pembinaan kejujuran ini dengan membinanya sejak usia
anak masih kecil. Beliau juga mengajarkan kepada setiap orang tua untuk
bersikap jujur dahulu sebelum mendidik anak-anaknya agar memiliki kejujuran.
Sabda Nabi saw.: “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu dan lakukan apa yang
engkau yakini kebenarannya. Ketahuilah bahwa sifat jujur itu akan menghasilkan
ketenangan dan dusta itu akan membuat keresahan”.
c.
Pembinaan
menjaga rahasia
Rasulullah memberikan perhatian yang
penuh dalam membuat anak yang bisa menjaga rahasia karena sikap seperti ini
merupakan perwujudan dari keteguhan anak dalam membina kebenaran. Anak akan
mampu hidup di tengah masyarakat dengan penuh percaya diri dan anak akan tumbuh
dengan memiliki keberanian dan keinginan yang kuat, mampu menjaga dirinya dan
keluarga khususnya hingga menjaga masyarakat dan agama secara keseluruhan.
d.
Pembinaan
menjaga kepercayaan
Al-amanah
adalah sifat dasar Rasulullah yang dimiliki sejak kecil hingga masa
kerasulannya sampai beliu dijuluki dengan alshadiq,
al- amin. Teladan seperti inilah yang
meski ditiru oleh setiap muslim pada
masa sekarang ini. Rasulullah bersabda: “Anak adalah pemeliharaan harta orang tuanya dan ia akan diminta pertanggungjawaban
atas harta tersebut”. Artinya, anak harus bisa memanfaatkan harta orang tuanya.
Berdasarkan
peran pendidikan akhlak dalam pembinaan peserta didik, ada beberapa hal yang
harus diperhatikan bahwa:
a. Pelaksanaan program-program pendidikan akhlak
perlu disertai pula dengan keteladanan guru, orang tua dan orang dewasa pada
umumnya.Selain itu, perlu disertai pula dengan upaya-upaya untuk mewujudkan
lingkungan sosial yang kondusif bagi para siswa, baik dalam keluarga, sekolah
dan masyarakat. Dengan demikian pelaksanaan program-program pendidikan akhlak
akan terkesan dalam rangka membentuk kepribadian siswa.
b. Kesadaran untuk berbuat baik sebanyak mungkin
kepada orang lain ini melahirkan sikap
dasar untuk mewujudkan keselamatan, keserasian dan keseimbangan dalam
hubungannya antar manusia, baik pribadi maupun masyarakat lingkungannya. Jika
tiap orang sadar dan mau menjalankan tugas dan kewajibannya masing-masing, maka
akan tercipta masyarakat yang adil dan makmur yang membawa kebahagiaan bagi
dirinya dan masyarakat.
c. Penyusunan program-program pendidikan akhlak
dan pengimplementasiannya perlu memberikan penekanan yang berimbang kepada aspek isi nilai-nilai dan
proses pengajarannya. Selain itu, memberikan
penekanan yang berimbang
pula kepada perkembangan rasional emosional serta tingkah
laku dan perbuatan. Hal ini penting dalam rangka membentuk dan mengembangkan
kepribadian siswa.
d. Faktor agama juga perlu mendapat perhatian yang
baik dalam mengimplementasikannya, karena agama dapat menjadikan nilai-nilai
budi pekerti memiliki akar yang kuat dalam diri siswa, yakni iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, guru perlu menjadi
teladan dan harus mampu mendorong siswa untuk menjadi insan yang beriman dan
bertakwa.[9]
BAB III
METODE PENELITIAN
1.
Tempat Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti
mengambil lokasi di SMP ……………………. sebagai tempat penelitian.
2. Jenis dan Pendekatan Penelitian
a. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan
penelitian lapangan yaitu penelitian yang pengumpulannya dilakukan di lapangan
dan bersifat kualitatif. Untuk lebih jelasnya Lexy J. Moleong dalam bukunya metodologi
penelitian kualitatif mengutip penjelasan yang
diberikan dari Bogdan dan Taylor “Metodologi kualitatif adalah
sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan perilaku yang dapat diamati”.[10]
b.
Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan
deskriptif. Pendekatan ini berusaha memberikan fakta-fakta aktual dengan
sistematis dan cermat.
3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian merupakan informan atau orang
yang dijadikan pemberi informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian.
Adapun yang dijadikan sebagai subyek penelitian adalah
a. Guru pengampu mata pelajaran PAI di SMP ……...
Untuk mengetahui metode, perlakuan, dan
perkembangan siswa dalam proses
pembelajaran PAI dalam penanaman pendidikan karakter.
b. Siswa SMP Swasta ……….
Untuk mengetahui proses penanaman pendidikan
karakter berlangsung di sekolah, yaitu cara guru dalam menanamkan karakter yang
baik kepada siswa.
4. Metode Pengumpulan Data
a. Wawancara
Teknik wawancara mendalam yaitu
mendapatkan informasi secara mendalam bertanya langsung kepada responden.
Teknik ini digunakan untuk mendapatkan informasi dari informan atau responden
dengan menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan- pertanyaan. Metode
ini ditujukan kepada guru pada umumnya, khusunya guru PAI, untuk mengetahui
metode, perlakuan, dan perkembangan siswa selama proses pembelajaran di SMP ……….
Wawancara yang digunakan peneliti disini
adalah interview bebas, di mana pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi
juga mengingat akan data apa yang akan dikumpulkan. Instrumen yang peneliti gunakan adalah
pedoman lembar wawancara yang tidak terlalu
mengikat.
b.
Observasi
Sebagai metode ilmiah observasi biasa
diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan
fenomena-fenomena yang diselidiki.
Metode ini digunakan untuk mengamati dan
mencatat letak tempat penelitian, kondisi siswa, kegiatan yang dilakukan guru
dalam penanaman pendidikan karakter di SMP Swasta ……….
5.
Hasil
Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian mengenai peran
dalam usahanya menanamkan pendidikan karakter terhadap siswa SMP Swasta
Hasanuddin Medan , maka kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian yang
dilakukan sebagai berikut: Peran guru dalam pembentukan karakter siswa SMP
Swasta ……… antara lain:
1.
Peran
sebagai perencana, dalam menerapkan perannya sebagai perencana guru PAI di SMP
Swasta ………menggunakan cara 1). Memaksimalkan materi yang
meliputi perencanaan (Planing),
proses pembelajaran, manajemen kelas dan assessement (penilaian). 2)
membudayakan kultur/budaya madrasah yang baik, 3) meningkatkan kerjasama dengan
orang tua murid
2.
Peran
sebagai organisator, peran guru sebagai organisator dalam membentuk karakter
siswa di SMP Swasta ………terlihat
dari usahanya dalam menciptakan proses kegiatan belajar mengajar yang
menyenangkan, efektif dan efisien.
3.
Peran
sebagai konselor, guru akidah akhlak yang ada di lingkungan SMP ………sangat
berperan sekali dan juga turut andil dalam menyelesaikan masalah-masalah atau
kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa-siswinya.
4.
Peran
sebagai Pembimbing, guru PAI di Swasta ………bukan
saja bertugas mendidik dan mengajar saja akan tetapi juga berperan sebagai pembimbing.
Cara guru
dalam membentuk karakter siswa-siswi di SMP Swasta ………adalah dengan cara
penanaman nilai-nilai karakter secara umum, nilai-nilai yang dimaksud yaitu,
nilai religius, nilai kejujuran, nilai toleransi, nilai kedisiplinan, nilai
kerja keras, nilai kereatif, nilai kemandirian, nilai demokratis, nilai rasa
ingin tahu, nilai semangat kebangsaan, nilai cinta tanah air, nilai menghargai
prestasi, nilai bersahabat/komunikatif, nilai cinta damai, nilai gemar membaca,
nilai peduli lingkungan, nilai peduli sosial dan nilai tanggung jawab. Guru
maupun pihak madrasah selalu menanamkan secara terus-menerus dan berkelanjutan.
Dengan adanya penanaman nilai karakter secara terus menerus terhadap siswa
terdapat tingkat perubahan yang baik walaupun masih ada beberapa siswa yang masih
sulit menerapkannya.
Berbagai upaya
dilakukan guru pendidikan agama Islam di
SMP ………untuk meningkatkan sumber daya atau meningkatkan profesionalisme
guru baik dalam pembelajaran maupun dalam pengembangan pendidikan agama Islam,
antara lain dengan mengikuti seminar, baik yang diselenggarakan oleh sekolah,
Kementrian Pendidikan, Kementrian Agama maupun oleh pihak lain. Selain itu guru
pendidikan agama Islam yang ada juga mengikuti kegiatan MGMP (musyawarah guru
mata pelajaran), KKG (kelompok kerja guru) dan PLPG (pelatihan program guru)
sebagai wahana untuk saling tukar pengetahuan dan pengalaman dengan guru
pendidikan agama Islam dari sekolah lain.
Guru
pendidikan agama Islam di tuntut untuk berinovasi dalam pengembangan
pembelajaran pendidikan agama Islam. Salah satu cara yang dapat dikembangkan
adalah dengan mengefektifkan kegiatan keagamaan di sekolah. Kegiatan keagamaan
di SMP Swasta ………cukup banyak baik yang sifatnya rutin, mingguan sampai pada program
tahunan.
Keberadaan
rohis di SMP ………sangat vital bagi terciptanya suasana Islami di sekolah, bahkan
sebagian besar kegiatan keagamaan dikoordinir langsung oleh para siswa.
Sedangkan guru pendidikan agama Islam sebagai pembina sekaligus fasilitator.
Siswa diberikan kesempatan untuk bertangggung jawab dalam merencanakan,
melaksanakan dan membuat
laporan suatu kegiatan,
selain itu para siswa juga diberikan kesempatan untuk
menjalin kerjasama dengan pihak-pihak tertentu seperti, alumni, lembaga
keagamaan, dll.
Peran guru
pendidikan agama Islam sebagai motor penggerak pada kegiatan keagamaan di
sekolah, memotivasi, membimbing dan memantau setiap kegiatan keagamaan yang
dilakukan rohis. Sehingga para siswa bisa mendapatkan bimbingan dan pengarahan
pada perkembanganya, karena guru dekat dengan para siswanya yang mana sebagian
besar waktunya di habiskan dibangku siswa di sekolah. Khususnya kegiatan
keagamaan yang paling penting adalah sholat dhuhur dan sholat jum’at. Dengan
demikian suasana Islami disekolah sangat mendukung dalam pembentukan karakter siswa
dengan beraneka ragam kegiatan keagaaman disekolah dengan bantuan rohis yang
terus bervariatif menarik minat siswa memperdalam ajaran agama Islam.
Guru
pendidikan agama Islam menyadari bahwa kegiatan yang sudah direncanakan tidak
akan mungkin terlaksana tanpa adanya kerjasama antara guru, siswa, sekolah dan
masyarakat. Pendidikan merupakan tanggung jawab antara orang tua (keluarga),
guru (sekolah) dan masyarakat (lingkungan).
DAFTAR PUSTAKA
Arief,
Armai. Pengantar Ilmu dan Metodelogi
Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat
Press, 2002
Darajat,
Zakiah, dkk. Metode Pengajaran Agama
Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1996
Hafizh, M. Nur. Mendidik Anak
Bersama Rasulullah. Bandung: al-Bayan III, 1998
Moleong,
Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007
Mujib,
Abdul. Ilmu Pendidikan Islam.
Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006
[1]Zakiah Darajat, dkk, Metode
Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 266
[2]W.J.S
Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa
Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
1991), hlm. 175.
[3]Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos
Wacana Ilmu, 1997), hlm. 69-70.
[4]Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,
(Jakarta: CV. Misika Anak Galiza, 2003), hlm. 93-94.
[5] Ibid., hlm. 95-96
[6]Armai Arief, Pengantar Ilmu
dan Metodelogi Pendidikan Islam,
(Jakarta: Ciputat Press, 2002),
hlm. 125
[7]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), hlm. 146
[8] M. Nur Hafizh,
Mendidik Anak Bersama Rasulullah,
(Bandung: al-Bayan III, 1998), hlm. 179-190.
[9] Teuku Ramli
Zakaria, Pendekatan-Pendekatan Pendidikan
Nilai dan Implementasinya dalam Pendidikan Budi Pekerti, (Jurnal Pendidikan
dan Kebudayaan, no. 026, Oktober 2000), hlm.493-494
[10]Lexy J. Moleong, Metodologi
Penelitian Kualitatif, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 4
No comments:
Post a Comment