Wednesday, 15 June 2016

Interpretasi Foto Udara



BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Fotogrametri dapat didefinisikan sebagai suatu seni, pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh data dan informasi tentang suatu objek serta keadaan disekitarnya melalui suatu proses pencatatan, pengukuran dan interpretasi bayangan fotografis (hasil pemotretan). Salah satu bagian dari pekerjaan fotogrametri adalah interpretasi foto udara. Oleh karena itu dengan adanya praktikum tentang interpretasi foto udara  dan pembuatan peta tutupan lahan kali ini diharapkan mahasiswa Program Studi Teknik Geodesi mampu melakukan interpretasi foto udara dengan menggunakan prinsip-prinsip interpretasi yang benar serta dilanjutkan dengan pembuatan peta tutupan lahan. Adapun prinsip yang digunakan dalam interpretasi foto terdiri dari 7 (tujuh) kunci interpretasi yang meliputi : bentuk, ukuran, pola, rona, bayangan, tekstur, dan lokasi. Dengan beracuan pada 7 (tujuh) kunci tersebut maka kita dapat mengidentifikasi dengan jelas objek yang sebenarnya.    
Praktikum kali ini juga diberi tugas untuk membuat peta tutupan lahan  dimana saat kini banyak sekali lahan yang tidak teridentifikasi kegunaannya. Sehingga dengan  praktikum fotogrametri kali ini kita dituntut dapat membuat peta tata guna lahan yang akurat dan valid sesuai kondisi sebenarnya dilapangan.

I.2 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan praktikum Fotogrameri I ini adalah :
a)      Mahasiswa Memahami konsep interpretasi citra foto udara
b)      Mahasiswa melakukan interpretasi foto udara dengan menggunakan prinsip – prinsip interpretasi yang benar
c)      Mahasiswa mampu mengidentifikasi objek pada foto udara dilanjutkan pembuatan peta tutupan lahan
d)     Mahasiswa mampu menghitung luasan dari lahan yang ada pada peta tutupan lahan hasil interpretasi.
BAB II
LANDASAN TEORI

II.1 Definisi Interpretasi Foto Udara
Interpretasi foto udara merupakan kegiatan menganalisa citra foto udara dengan maksud untuk mengidentifikasi dan menilai objek pada citra tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip interpretasi. Interpretasi foto merupakan salah satu dari macam pekerjaan fotogrametri yang ada sekarang ini. Interpretasi foto termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan pengenalan dan identifikasi suatu objek.
Dengan kata lain interpretasi foto merupakan kegiatan yang mempelajari bayangan foto secara sistematis untuk tujuan identifikasi atau penafsiran objek.
Interpretasi foto biasanya meliputi penentuan lokasi relatif dan luas bentangan. Interpretasi akan dilakukan berdasarkan kajian dari objek-objek yang tampak pada foto udara. Keberhasilan dalam interpretasi foto udara akan bervariasi sesuai dengan latihan dan pengalaman penafsir, kondisi objek yang diinterpretasi, dan kualitas foto yang digunakan. Penafsiran foto udara banyak digunakan  oleh berbagai disiplin ilmu dalam memperoleh informasi yang digunakan. Aplikasi fotogrametri sangat bermanfaat diberbagai bidang  Untuk memperoleh jenis-jenis informasi spasial diatas dilakukan dengan teknik interpretasi foto/citra,sedang referensi geografinya  diperoleh dengan cara fotogrametri. Interpretasi foto/citra dapat dilakukan dengan cara konvensional atau dengan bantuan komputer.Salah satu alat yang dapat digunakan dalam interpretasi konvensional adalah stereoskop dan alat pengamatan paralaks yakni paralaks bar.
Didalam menginterpretasikan suatu foto udara diperlukan pertimbangan pada karakteristik dasar citra foto udara.Dan dapat dilakukan dengan dua cara yakni cara visual atau manual dan pendekatan digital.Keduanya mempunyai prinsip yang hampir sama. Pada cara digital hal yang diupayakan antara lain agar interpretasi lebih pasti dengan memperlakukan data secara kuantitatif. Pendekatan secara digital mendasarkan pada nilai spektral perpixel dimana tingkat abstraksinya lebih rendah dibandingkan dengan cara manual. Dalam melakukan interpretasi  suatu objek atau fenomena digunakan sejumlah  kunci dasar interpretasi atau elemen dasar interpretasi. Dengan karakteristik dasar citra foto dapat membantu serta membedakan penafsiran objek – objek yang tampak pada foto udara. Berikut tujuh karakteristik dasar citra foto yaitu :
Bentuk
Bentuk berkaitan dengan bentuk umum, konfigurasi atau kerangka suatu objek individual. Bentuk agaknya merupakan faktor tunggal yang paling penting dalam pengenalan objek pada citrta foto.
Ukuran
Ukuran objek pada foto akan bervariasi sesuai denagn skala foto. Objek dapat disalahtafsirkan apabila ukurannya tidak dinilai dengan cermat.
Pola
Pola berkaitan susunan keruangan objek. Pengulangan bentuk umum tertentu atau keterkaitan merupakan karakteristik banyak objek, baik alamiah maupun buatan manusia, dan membentuk pola objek yang dapat membantu penafsir foto dalam mengenalinya.
Rona
Rona mencerminkan warna atau tingkat kegelapan gambar pada foto.ini berkaitan dengan pantulan sinar oleh objek.
Bayangan
Bayangan penting bagi penafsir foto karena bentuk atau kerangka bayangan menghasilkan suatu profil pandangan objek yang dapat membantu dalam interpretasi, tetapi objek dalam bayangan memantulkan sinar sedikit dan sukar untuk dikenali pada foto, yang bersifat menyulitkan dalam interpretasi.
Tekstur
Tekstur ialah frekuensi perubahan rona dalam citra foto. Tekstur dihasilkan oleh susunan satuan kenampakan yang mungkin terlalu kecil untuk dikenali secara individual dengan jelas pada foto. Tekstur merupakan hasil bentuk, ukuran, pola, bayangan dan rona individual. Apabila skala foto diperkecil maka tekstur suatu objek menjadi semakin halus dan bahkan tidak tampak.
Lokasi
Lokasi objek dalam hubungannya dengan kenampakan lain sangat bermanfaat dalam identifikasi.

II.2 Stereoskop
Stereoskop ialah suatu alat yang digunakan untuk dapat melihat sepasang gambar/foto secara stereoskopis.
Untuk dapat melihat sepasang foto yang saling overlap secara streoskopis tanpa bantuan perlengkapan optis, sangat dirasakan sekali kesulitannya.
Hal ini disebabkan karena :
1.      Melihat sepasang foto dari jarak yang dekat akan menyebabkan ketegangan pada otot-oto mata.
2.      Mata difokuskan pada jarak yang sangat pendek ± 15 cm dari foto yang terletak diatas meja, sedangkan pada saat itu otak kita mengamati atau melihat sudut paralaktis dengan tujuan dapat membentuk stereo model pada suatu jarak atau kedalaman.
Keadaaan yang demikian sangat mengacaukan pandangan stereoskop.
Karena kesukaran-kesukaran itulah diperlukan suatu stereoskop untuk membantu kita dalam pengamatan.
Ada 2 jenis stereoskop, yaitu :
1.      Stereoskop saku atau stereoskop lensa
-          Lebih murah daripada stereoskp cermin
-          Cukup kecil hingga dapat dimasukkan kedalam saku
-          Terdiri dari susunan lensa convex yang sederhana
-          Mempunyai factor perbesaran yang cukup besar
-          Mudah dibawa ke lapangan
-          Daerah yang dpat dilihat secara stereoskopis sangat terbatas



2.      Stereoskp cermin
-          Lebih besar dari stereoskop saku
-          Daerah yang dapat dilihat secara stereoskop lebih luas jika dibandingkan dengan menggunakan stereoskop lensa
-          Karena bentuknya agak besar maka agak lebih sukar dibawa ke lapangan

 

II.3 Metode Mekanis
Salah satu cara yang  digunakan untuk menghitung luas daerah yang tidak beraturan adalah dengan cara mekanis yaitu dengan alat yang dinamakan dengan planimeter. Alat planimeter diletakkan diatas peta (gambar) yang akan dihitung luasnya. Kemudian alat tersebut mentrace (mengikuti) batas wilayah yang akan diukur luasnya. Dengan konversi tertentu, maka luas akan dapat dihitung. Ketelitian hasil sangat bergantung pada besar atau kecilnya skala peta. Semakin besar skala petanya, akan semakin teliti hasil luasannya. Ada dua jenis planimeter yaitu planimeter mekanik (manual) dan planimeter digital.


Planimeter




Gambar 2.3 Planimeter

II.3.1 Bagian-bagian planimeter :
Alat planimetri terdiri dari dari dua tangkai (batang) yang dihubungkan oleh sendi yang memungkinkan kedua tangkai tersebut bergerak bebas pada meja gambar.
Tangkai yang pertama disebut tangkai jarum tetap atau tangkai batang (kutub), dibagian ujung lain dari tangkai tetap terdapat jarum pelacak tetap yang disebut dengan kutub planimeter.
Tangkai yang kedua disebut  tangkai pelacak. Pada ujung-ujung tangkai pelacak terdapat sebuah roda (roda ukur) dan jarum pelacak untuk menelusuri batas daerah yang diukur. Roda ukur dapat berputar bersamaan dengan gerakan dari jarum pelacak. Banyaknya putaran dapat dibaca pada piringan berskala yang dihubungkan dengan roda ukur.

Bagian-bagian Planimeter

Gambar 2.4 Bagian-bagian Planimeter

Keterangan :
1.      Batang kutub
2.      Batang pelacak
3.      Kutub planimeter (tetap)
4.      Sendi (engsel)


5.      Jarum pelacak
6.      Roda ukur berskala
7.      Piringan berskala
8.      Klem (untuk mengatur panjang batang pelacak)
9.      Nonius

II.3.2 Langkah-langkah menghitung luas peta (gambar)
Langkah-langkah dalam menghitung luas peta (gambar) yaitu :
1.     Letakkan alat planimeter diatas peta (gambar) yang akan dihitung luasnya
2.    Jarum kutub planimeter ditempatkan sedemikian serupa sehingga jarum pelacak dapat menelusuri seluruh batas daerah yang akan diukur luasnya (dapat didalam atau diluar daerah yang akan diukur)
3.    Lihat titik merah pada lensa alat, kemudian tepatkan titik tersebut pada garis/ batas wilayah yang akan dicari luasannya.
4.    Tempatkan jarum pelacak mulai dari titik awal (misal x0 ), yang telah ditentukan, kemudian putar roda ukur maju (searah jarum jam) atau mundur (berlawanan arah jarum jam) melalui x1 sampai kembali ketitik awal (x0).
5.    Dengan  konversi tertentu, maka luas akan dapat dihitung. Ketelitian hasil sangat bergantung pada besar atau kecilnya skala peta. Semakin besar skala petanya, akan semakin teliti hasil luasannya.

II.3.3 Rumus Perhitungan Planimeter
Untuk mendapatkan luasan suatu daerah permukaan bumi dipeta maka diadakan pengukuran dengan metode planimetri dari titik awal x0 sampai dengan titik akhir x1 dengan menggunakan rumus :






 
Keterangan :      
La        =  luas yang dicari (km2)
Lx        = luas daerah dalam peta (cm2) à diperoleh dari perhitungan         menggunakan planimeter
Ly        = luas kalibrasi dalam peta (cm2) à diperoleh dari perhitungan    menggunakan planimeter
Lb        =   luas kalibrasi (cm2)
p          =   panjang (cm)
l           =   lebar (cm)

    X1=Titik Akhir            X0= Titik Awal
Luasan Pembanding (Daerah Kalibrasi)
       
Gambar 2.5 Pembanding (Daerah Kalibrasi)

II.4 Metode Digitasi
Digitizing is the process of converting paper-based graphical information into a digitalfomat. (Digitasi adalah proses untuk mengubah informasi grafis yang tersedia dalam kertas ke format digital). Cara yang paling umum digunakan untuk memasukkan data dari media kertas ke digital adalah dengan menggunakan alat digitizer dan scanner. Alat digitizer mengubah ke format digital langsung ke dalam bentuk vector sedangkan scanner dalam bentuk raster. Untuk data raster hasil scanning harus diubah ke format vektor dengan on screen digitasi. Software yang sering digunakan untuk digitasi peta adalah AutoCad Map. Setelah gambar berbentuk digital dengan format *.dwg maka dengan mudah dicari luasnya dengan perintah area.



Metode Digitasi


                                                        Gambar 2.6 Metode Digitasi


BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM


III.1 Alat dan Bahan
        Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum fotogrametri I ini yaitu :
1.      Strereoskop cermin
2.      Sepasang Foto Udara
3.      Planimeter
4.      Software Autocad
5.      Plastik Mika (Kertas Transparan)
6.      Buku dan alat tulis

III.2 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum
Hari / tanggal      : Selasa, 9 Desember 2008 dan Sabtu. 13 Desember 2008
Pukul                   : 09.00 – 15.00 BBWI dan 09.30 – 16.00 BBWI
Tempat                : Ruang sidang dan Ruang Baca T.Geomatika ITS













III.3 Diagram Alir Pelaksanaan Praktikum




 Diagram Alir Pelaksanaan Praktikum


III.4 Problematika Praktikum
          Adapun beberapa masalah yang timbul dalam proses praktikum fotogrametri ini yaitu :
1.      Pencahayaan yang kurang fokus terhadap lensa alat, sehingga ketajaman resolusinya kurang baik.
2.      Lensa fokus alat yang kurang bersih atau sudah kabur karena massa waktu alat (stereoskop) yang sudah lama.
3.      Pengguanan alat yang kuarang maksimal dikarenakan :
·         Ketika pada saat pengukuran planimeter ke kertas transparan tanpa disengaja adanya pergeseran alat sehingga bacaannya berubah dan menyebabkan hasil pengukuran  kurang teliti
·         Bergeraknya tumpuan dibawah alat dalam hal ini meja sebagai tempat peletakkan planimeter  sehingga menyebabkan bacaannya berubah
·         Adanya fokus mata personal kelompok yang berbeda sehingga ada sedikit kesalahan – kesalahan lanjutan dalam pengeplotan
4.      Pengguanan foto udara yang kurang maksimal dikarenakan :
·         Kurang jelasnya informasi yang terdapat di tepi foto udara seperti nivo kotak, jam penunjuk waktu pemotretan, dan altimeter.
·         Pemakaian foto udara yang sudah tua sekali sehingga adanya perusakan pada lempengan foto sehingga menyebabkan gambar foto kabur.

 III.5 Solusi Problematika Praktikum
1.      Untuk menghilangkan kesalahan –kesalahan dalam ploting alat harus benar – benar dalam keadaan baik dan sudah dikalibrasi.
2.      Menggunakan meja yang luas dan tidak mudah bergerak sebagai tumpuan alat stereoskop sehingga alat tidak mudah bergerak.
3.     Menggunakan foto–foto udara yang standart untuk proses pengeplotan dimana lebih baik resolusi yang tinggi.
4.     Dalam proses pengeplotan diusahakan alat tetap pada posisi keadaan yang semula.

BAB IV
HASIL DAN ANALISA DATA

IV.1 Hasil Pengamatan            
Dari praktikum Fotogrametri tersebut digunakan 1 buah foto udara dengan informasi tepi sebagai berikut :
1. Nivo                                                      : foto tegak
2. Jam Pemotretan                                    : 09.40
3. Fokus Kamera                                       : 152,51
4. Tanggal, bulan dan tahun pemotretan   : Agustus 1998
5. Altimeter                                                : 3,6 km
6. No.Foto                                                  : 826
7. Instansi pembuat                                    : KLM AEROCARTO B.V
                                                                     THE NETHERLANDS















no
luas
luas (cm2)
Keliling
luas digit
luas digit x skala
luas (m2)
luas (km2)
jumlah luas (km2)
keterangan
a1
36.8497
0.368497
8.6625
0.11427447
63646308.81
6364.63088
0.63646309
1.838481345
pemukiman
a2
69.594
0.69594
8.6625
0.215817699
120201825.7
12020.1826
1.20201826
b1
3.1622
0.031622
8.6625
0.009806287
5461709.531
546.170953
0.0546171
4.499139792
hutan
b2
4.3517
0.043517
12.4729
0.013495041
7516198.016
751.619802
0.07516198
b3
1.2597
0.012597
6.3666
0.003906451
2175736.986
217.573699
0.02175737
b4
0.8779
0.008779
4.8836
0.002722452
1516297.134
151.629713
0.01516297
b5
1.9454
0.019454
10.2103
0.006032873
3360068.852
336.006885
0.03360069
b6
0.1538
0.001538
1.8335
0.000476949
265641.3022
26.5641302
0.00265641
b7
0.1806
0.001806
2.1139
0.000560058
311929.9037
31.1929904
0.0031193
b8
0.8217
0.008217
4.7795
0.002548171
1419229.246
141.922925
0.01419229
b9
3.1717
0.031717
16.3722
0.009835747
5478117.804
547.81178
0.05478118
b10
1.6527
0.016527
9.4651
0.005125182
2854521.328
285.452133
0.02854521
b11
2.152
0.02152
12.7319
0.006673559
3716905.607
371.690561
0.03716906
b12
0.6351
0.006351
4.2274
0.001969506
1096936.223
109.693622
0.01096936
b13
122.0701
1.220701
107.2556
0.378551141
210837843.5
21083.7843
2.10837843
b14
115.4316
1.154316
80.4807
0.357964513
199371915.1
19937.1915
1.99371915
b15
2.6233
0.026233
8.07
0.008135106
4530928.662
453.092866
0.04530929
c1
16.4129
0.164129
100.5987
0.050897984
28348141.28
2834.81413
0.28348141
0.313739995
sungai
c2
1.7519
0.017519
13.537
0.005432811
3025858.24
302.585824
0.03025858
d1
18.6674
0.186674
26.737
0.057889406
32242083.52
3224.20835
0.32242084
0.618149728
tebing
d2
4.7543
0.047543
26.2601
0.014743542
8211563.35
821.156335
0.08211563
d3
12.3677
0.123677
26.148
0.038353429
21361325.97
2136.1326
0.21361326

                                                            Tabel 4.1 Perhitungan Digitasi


Daerah
Luas Digit (km2)
Luas Planimeter (km2)
Pemukiman
1.838481345
1.479104969
Sungai
0.313739995
0.162557092
Tebing
0.618149728
0.534359965
Hutan
4.499139792
5.792384






      Tabel 4.2 Perbandingan Perhitungan Digitasi dan Planimeter


IV. Analisis Data
·            Dengan memperhatikan hasil dari data pengukuran menggunakan planimeter dan    digitasi. Diperoleh hasil luasan untuk area setiap lahannya berbeda, dikarenakan  kalibrasi yang digunakan pada planimeter terlalu besar. Sehingga hasil luasan yang dicari tidak sama persis dengan pengukuran digitasi.
·            Pengukuran yang menggunakan planimeter minimal dilakukan pengukuran  sebanyak 3 kali untuk mendapatkan hasil luasan yang mendekati. Kemudian dari hasil pembacaan setiap luasan dirata-rata
·            Bandingkanlah luasan yang telah dihitung menggunakan planimeter dan digitasi. Apakah hasil pengukurannya benar atau tidak.





















BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Dari praktikum interpretasi foto udara dan pembuatan peta tutupan lahan ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
-          Orientasi foto udara sangatlah penting untuk dilakukan jika akan melakukan interpretasi udara
-          Keberhasilan dalam interpretasi foto udara akan bervariasi sesuai dengan kemampuan dan asumsi penafsir, keadaan obyek yang diamati, dan kualitas foto yang digunakan.
-          Objek-objek pada foto I, II, III dapat diinterpretsikan berdasarkan prinsip 7 kunci interpretasi, yaitu bentuk, warna, tekstur, pola, bayangan, lokasi, dan tone.
-          Identifikasi obyek yang tidak benar akan mempengaruhi hasil  interpretasi
-          Hasil interpretasi foto udara nantinya dapat dibuat peta tutupan lahan
-          Diperlukan ketelitian yang tinggi pada perhitungan planimeter agar diperoleh hasil luasan yang sebanding dengan perhitungan planimeter

IV.2  Saran
-          Sebelum praktikum dimulai, sebaiknya mempelajari lebih dalam terlebih dulu modul praktikum
-          Diperlukan banyak latihan dan pengalaman dalam interpretasi foto, sehingga mudah dan cepat dalam identifikasi obyek serta hasilnya akurat
Setelah melakukan praktikum dan laporan dikumpulkan, alangkah lebih baik jika obyek-obyek yang telah diidentifikasi dijelaskan oleh Dosen, sehingga dapat melakukan koreksi dan lebih mengetahui sifat obyek pada foto udara
-          Untuk mendapatkan hasil hitungan luas yang optimal, maka harus dilakukan perhitungan minimal 3 kali. Untuk menghindari kesalahan setiap pembacaan. Kemudian dari hasil tersebut dirata-rata, sehingga mendapatkan hasil yang mendekati dari sebenarnya.


LAMPIRAN










DAFTAR PUSTAKA

Budi Cahyono, Agung dan Hapsari, Hepi. 2005. Petunjuk Praktikum Fotogrametri I. Surabaya: Program Studi Teknik Geodesi ITS
Haryanto, Teguh. 2003. Photogrametri I. Surabaya: Program Studi Teknik geodesi ITS

No comments:

Post a Comment