Wednesday, 15 June 2016

PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF (PERAN GURU DALAM PEMBENTUKAN ...



PERAN GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA DI SMP SWASTA ………..


sukses
BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
   Guru adalah seorang pendidik dalam dunia pendidikan sekaligus orang yang menentukan berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Pendidikan tidak hanya proses mentransfer ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh guru kepada peserta didiknya namun juga membentuk kepribadian yang baik kepada peserta didiknya. Pendidikan berupaya untuk membentuk peserta didik yang unggul dalam hal pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) maupun keterampilan (skill). Pendidikan di Indonesia sekarang ini dalam keadaan belum berhasil sepenuhnya terutama dalam hal penanaman karakter pada peserta didik.
Pendidikan pada dasarnya adalah membentuk karakter peserta didik. Tujuan pendidikan tersebut tertuang dalam Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 3 yang berbunyi:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”
Dalam lingkungan sekolah, guru mempunyai tugas dan wewenang dalam membina dan membentuk karakter siswa, yaitu karakter yang seluruh aspek-aspeknya yakni baik tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Allah SWT. Dalam hal ini guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa-siswanya di sekolah, guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran,  yang  ikut  bertanggung  jawab  dalam  mendidik  dan  mengajar, membantu anak dalam mencapai kedewasaan.
Guru adalah orang dewasa yang bertanggung jawab untuk memberi pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai tingkat kedewasaannya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT, serta mampu melaksanakan tugas sebagai mahluk sosial dan sebagai mahluk individu yang mandiri.
Untuk  itu  seorang  guru  harus  memenuhi  berbagai  persyaratan baik secara fisik, psikis, mental, moral maupun intelektual yang secara ideal supaya kelak mampu menunaikan tugasnya dengan baik, sehingga guru sebagai pendidik dan pengajar mempunyai peranan dan tanggung jawab dalam membentuk pribadi dan karakter siswanya terutama dalam pendidikan yang diarahkan agar setiap siswanya menjadi manusia yang beriman, berilmu, berakhlak mulia serta mampu membangun dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa. Seorang guru adalah sumber keteladanan, sebuah pribadi yang penuh dengan contoh dan teladan bagi murid-muridnya.
Ditengah-tengah perkembangan dunia yang begitu cepat dan semakin canggih, prinsip-prinsip untuk membangun etika, nilai dan karakter peserta didik tetap harus dipegang. Akan tetapi perlu dilakukan dengan cara yang berbeda atau kreatif sehingga mampu mengimbangi perubahan kehidupan. Guru  harus memiliki kemitmen yang kuat dalam melaksanakan pendidikan secara holistik yang berpusat pada potensi dan kebutuhan peserta didik. Pendidik juga harus mampu menyiapkan peserta didik untuk bisa menangkap peluang dan kemajuan dunia dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Problem kemerosotan moral akhir-akhir ini menjangkit sebagian generasi muda. Gejala kemerosotan moral antara lain diindikasikan  dengan merebaknya kasus penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, kriminalitas kekerasan dan aneka perilaku kurang terpuji lainnya. Dilain pihak, ada juga dari generasi muda  yang  menampilkan akhlak terpuji (akhlak mahmudah) sesuai harapan orang tua. Kesopanan, sifat- sifat ramah, tenggang rasa, rendah hati, suka menolong, solidaritas sosial dan sebagainya seolah-olah begitu melekat secara kuat dalam diri mereka.
Disini peranan guru sangatlah penting untuk menanamkan pendidikan karakter pada siswa. Guru sebagai suri tauladan bagi siswa-siswanya dalam memberikan contoh karakter yang baik sehingga bisa mencetak dan membentuk generasi yang memiliki kepribadian baik pula.
Penanaman karakter dimulai dari lingkungan keluarga, kerabat, sekolah dan lingkungan masyarakat. Lingkungan rumah dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter yang pertama dan utama harus lebih diberdayakan dan hal tersebut merupakan tugas orang tua sebagai penanam pertama karakter anaknya. Keluarga adalah sekolah untuk kasih sayang, tempat belajar yang penuh dengan cinta, janganlah orang tua menanamkan keluarga sebagai tempat untuk bertengkar dengan pasangannya karena hal itu akan berakibat buruk pada karakter anak yang akan menganggap berkeluarga adalah hal yang menyengsarakan kelak jika anak tersebut sudah dewasa. Pembentukan karakter melalui sekolah juga harus diperhatikan di sekolah pendidikan tidak semata-mata tentang mata pelajaran yang hanya mementingkan diperolehnya kemampuan kognitif tetapi juga penanaman moral, nilai-nilai estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya.
Pemilihan SMP ………sebagai objek penelitian karena ada hal yang menarik dengan suasana religi yang ada di SMP ………. Penulis heran, bagaimana bisa sekolah umum yang tidak berlatar belakang agama namun tercermin suasana keagamaan yang tidak kalah jauh dengan sekolah berasrama atau sekolah-sekolah yang berlatar belakang agama atau sekolah-sekolah yang berlabel sekolah Islam Terpadu (IT). Padahal pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang ada di SMP ………tidak jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya, yakni  hanya terbatas 2 jam pelajaran dalam seminggu. Materi yang ada pun merupakan satu kesatuan yang utuh antara materi ibadah, qur’an-hadits, akhlak, sejarah kebudayaan Islam yang tergabung menjadi satu mata  pelajaran yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI).
Hal tersebut di atas dibuktikan dengan banyaknya siswi putri yang berjilbab, kegiatan sholat jama’ah dhuhur dan kegiatan keagamaan lainya. Hal ini melatarbelakangi keinginan penulis untuk mengetahui lebih jauh, bagaimana peran guru dalam membentuk karakter siswa, sehingga para siswa memiliki karakter yang baik dan positif seperti menjalankan ibadah keagamaan yang di dasari oleh kesadaran dan kemauan dari para siswanya, bukan merupakan paksaan dari gurunya.
Dengan demikian dari berbagai uraian di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “ Peran Guru dalam Pembentukan Karakter Siswa di SMP ……….

B.  Identifikasi Masalah
1.    Tingginya rasa hormat anak didik terhadap gurunya
2.    Memiliki karakter yang baik padahal tidak bersekolah di sekolah yang berbasis agama
3.    Peran guru dalam membentuk karakter siswa yang baik

C.  Pembatasan Masalah
          Berdasarkan identifikasi masalah yang ada, tidak semua masalah akan diteliti. Peneliti hanya akan meneliti tentang peran guru dalam pembentukan karakter
D.  Rumusan Masalah
1.  Apa peran guru dalam pembentukan karakter siswa SMP ………?
2.  Bagaimana cara penanaman pendidikan karakter oleh guru terhadap siswa SMP ………?

E.  Tujuan Penelitian
1.    Untuk mengetahui apa peran guru dalam pembentukan karakter siswa SMP
2.    Untuk mengetahui cara penanaman pendidikan karakter oleh guru terhadap siswa ……….

F.   Manfaat Penelitian
a.    Kegunaan penelitian secara teoritis
            Memberi tambahan wawasan secara teoritik terkait usaha guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pembelajaran.
b.    Kegunaan penelitian secara praktis
1)        Bagi pendidik
a.    Mengetahui peran guru dalam membentuk karakter peserta didik di SMP Swasta Hasanuddin Medan .
b.    Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman dalam ruang lingkup yang lebih luas guna menunjang profesi sebagai guru
2)        Bagi siswa, memberikan motivasi bahwa belajar dengan membangun karakter siswa itu menyenangkan serta siswa dapat memperakekannya dalam kehidupan sehari-hari
3)        Bagi sekolah, sebagai masukan yang konstruktif dalam mengelola program pendidikan karakter di sekolah dan menjadi bahan sekaligus referensi bagi kepala sekolah, guru, komite sekolah dan seluruh warga sekolah dalam mengembangkan pendidikan karakter di sekolah.



BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Peranan Guru dalam Pembentukan Karakter
           Peranan adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Guru adalah seseorang yang membuat orang lain tahu atau mampu untuk melakukan sesuatu, atau memberikan pengetahuan atau keahlian. Men urut Zakiah Daradjat, guru adalah seseorang yang memiliki kemampuan atau pengalaman yang dapat memudahkan melaksanakan peranannya membimbing muridnya.[1]
           Peranan adalah suatu yang jadi bagian atau yang memegang pimpinan yang terutama (dalam terjadinya suatu hal atau peristiwa).[2] Peranan juga dikatakan perilaku atau lembaga yang punya arti penting  bagi struktur sosial. Dalam hal ini maka kata peranan lebih banyak mengacu pada penyesuaian diri pada suatu proses.
           Jadi Peranan guru adalah tercapainya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuan. Dengan kata lain peranan guru dapat dikatakan tugas yang harus dilaksanakan oleh guru dalam mengajar  siswa untuk kemajuan yaitu perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa. Maksudnya  guru  mengajar  sebagai  sentral  proses  belajar  mengajar dia membantu perkembangan peserta didik untuk mempelajari sesuatu yang belum ia ketahui dan untuk memahami apa yang dipahami.
           Peranan guru banyak sekali, tetapi yang terpenting adalah pertama, guru sebagai pemberi pengetahuan yang benar kepada muridnya. kedua guru sebagai pembina akhlak yang mulia, karena akhlak yang mulia merupakan tiang utama untuk menopang kelangsungan hidup suatu  bangsa. Ketiga guru memberi petunjuk kepada muridnya tentang hidup yang baik, yaitu manusia yang tahu siapa pencipta dirinya yang menyebabkan ia tidak menjadi orang yang sombong, menjadi orang yang tahu berbuat baik kepada Rasul, kepada orang tua, dan kepada    orang lain yang berjasa kepada dirinya.[3]
           Untuk mewujudkan peran guru, maka seorang guru harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut dapat kita kelompokkan menjadi dua, yaitu hard competence adalah kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional, sementara   soft competence   adalah   kompensi   kepribadian   dan   kompetensi    sosial.
           Menurut Mukhtar, peran guru dalam pembentukan akhlak atau karakter lebih difokuskan pada tiga peran, yaitu:
1.      Peran pendidik sebagai pembimbing
Peran pendidik sebagai pembimbing sangat berkaitan erat dengan praktik keseharian. Untuk dapat menjadi seorang pembimbing, seorang pendidik harus mampu memperlakukan para siswa dengan menghormati dan menyayangi (mencintai). Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang pendidik, yaitu meremehkan/merendahkan siswa, memperlakukan sebagai siswa  secara tidak adil, dan membenci sebagian siswa.
Perlakuan pendidik sebenarnya sama dengan perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya yaitu penuh respek dan kasih sayang serta memberikan perlindungan. Sehingga dengan demikian, semua siswa merasa senang dan familiar untuk sama-sama menerima pelajaran dari pendidiknya tanpa ada paksaan, tekanan dan sejenisnya. Pada intinya, setiap siswa dapat merasa percaya diri bahwa di sekolah/madrasah ini, ia akan sukses belajar lantaran ia merasa dibimbing, didorong, dan diarahkan oleh pendidiknya dan tidak dibiarkan tersesat. Bahkan, dalam  hal-hal  tertentu  pendidik  harus  bersedia  membimbing     dan mengarahkan satu persatu dari seluruh siswa yang ada.[4]

2.      Peran pendidik sebagai model (contoh)
Peranan pendidik sebagai model pembelajaran sangat penting dalam rangka membentuk akhlak mulia bagi siswa yang diajar. Karena gerak gerik guru sebenarnya selalu diperhatikan oleh setiap murid. Tindak tanduk, perilaku, dan bahkan gaya guru selalu diteropong dan sekaligus dijadikan cermin (contoh) oleh murid-muridnya. Apakah yang baik atau yang buruk. Kedisiplinan, kejujuran, keadilan, kebersihan, kesopanan, ketulusan, ketekunan, kehati-hatian akan selalu direkam oleh murid-muridnya dan dalam batas-batas tertentu akan diikuti oleh murid-muridnya. Demikain pula sebaliknya, kejelekan- kejelekan  gurunya  akan  pula  direkam  oleh  muridnya  dan  biasanya akan lebih mudah dan cepat diikuti oleh murid-muridnya. Semuanya akan menjadi contoh bagi murid, karenanya guru harus bisa menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya. Guru juga menjadi figur  secara tidak langsung dalam pembentukan akhlak siswa dengan memberikan bimbingan tentang cara berpenampilan, bergaul dan berperilaku yang sopan.
3.      Peran pendidik sebagai penasehat
             Seorang pendidik memiliki jalinan ikatan batin atau emosional dengan para siswa yang diajarnya. Dalam hubungan ini pendidik berperan aktif sebagai penasehat. Peran pendidik bukan hanya sekedar menyampaikan   pelajaran   di   kelas   lalu   menyerahkan  sepenuhnya kepada siswa dalam memahami materi pelajaran yang disampaikannya tersebut. Namun, lebih dari itu, guru juga harus mampu memberi nasehat bagi siswa yang membutuhkannya, baik diminta ataupun tidak.
             Oleh karena itu hubungan batin dan emosional antara siswa dan pendidik dapat terjalin efektif, bila sasaran utamanya adalah menyampaikan nilai-nilai moral, maka peranan pedidik dalam menyampaikan nasehat menjadi sesuatu yang pokok, sehingga siswa akan merasa diayomi, dilindungi, dibina, dibimbing, didampingi penasehat dan diemong oleh gurunya.[5]


B.     Cara/metode dalam pembentukan karakter
             Ada beberapa metode klasik yang digunakan berkaitan dengan pembentukan akhlak atau karakter disekolah, antara lain:
1.    Metode Keteladanan
             Pendidikan dengan keteladanan berarti pendidikan dengan memberi contoh, baik berupa tingkah laku, sifat, cara berfikir dan sebagainya. Keteladanan dalam pendidikan adalah metode influentif yang paling menentukan keberhasilan dalam mempersiapkan dan membentuk sikap, perilaku, moral, spiritual dan sosial anak. Hal ini karena pendidikan adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditirunya dalam segala tindakan disadari maupun tidak. Bahkan jiwa  dan  perasaan  seorang  anak  sering  menjadi suatu gambaran pendidiknya, baik dalam ucapan maupun perbuatan materiil maupun spirituil, diketahui atau tidak diketahui.
2.    Metode Pembiasaan
   Pembiasaan merupakan proses penanaman kebiasaan. Pembiasaan memberikan manfaat bagi anak karena pembiasaan berperan sebagai efek latihan yang terus menerus, anak akan lebih terbiasa berperilaku dengan nilai-nilai akhlak. Di samping itu, pembiasaan juga harus memproyeksikan terbentuknya mental dan akhlak yang lemah lembut untuk mencapai nilainilai akhlak. Di sinilah kita  perlu  mengakui  bahwa  metode  pembiasaan  berperan     penting dalam membentuk perasaan halus khususnya pada beberapa tahapan pendidikan awal.
Dalam teori perkembangan anak didik, dikenal adanya teori konvergensi di mana, pribadi dapat dibentuk oleh lingkungannya dengan mengembangkan potensi dasar yang ada padanya sebagai penentu tingkah laku. Oleh karena itu, potensi dasar harus selalu diarahjkan agar tujuan  pendidikan  dapat  tercapai  dengan  baik. Salah satu caranya ialah melakukan kebiasaan yang baik.
3.    Metode Nasehat
            Yang dimaksud dengan nasehat ialah penjelasan tentang kebenaran dan kemaslahatan dengan tujuan menghindarkan orang yang dinasehati dari bahaya serta menunjukkan ke jalan yang mendatangkan kebahagiaan dan manfaat. Dengan. metode ini pendidik mempunyai kesempatan yang luas untuk mengarahkan peserta didik kepada berbagai kebaikan dan kemaslahatan serta kemajuan masyarakat dan umat.
            Metode nasehat digunakan sebagai metode pendidikan untuk menyadarkan anak akan hakekat sesuatu, mendorong mereka menuju harkat dan martabat yang luhur, menghiasinya dengan akhlak yang mulia serta membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam.[6]
4.    Metode Cerita/Kisah
            Metode kisah mengandung arti suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menunturkan secara  kronologis tentang bagaimana terjadinya suatu hal, baik yang sebenarnya ataupun yang rekaan saja. Dalam   mengaplikasikan   metode   ini   pada   proses    belajar mengajar, metode kisah merupakan salah satu metode pendidikan yang masyhur dan penting, sebab metode kisah mampu mengikat pendengar untuk mengikuti peristiwanya, merenungkan maknanya selanjutnya makna-makna itu akan menimbulkan kesan dalam hati dan ikut menghayati atau merasakan isi kisah seolah-olah ia yang menjadi tokohnya. Hal itu jika didasari oleh ketulusan hati yang mendalam, sehingga  menimbulkan  sugesti  untuk  mengikuti  alur  cerita  sampai selesai.[7]
5.    Metode Mendidik Melalui Kedisiplinan
              Metode ini identik dengan pemberian hukuman atau sanksi. Tujuannya untuk menumbuhkan kesadaran siswa bahwa apa yang dilakukan tersebut tidak benar, sehingga ia tidak mengulanginya lagi. Pendidikan melalui kedisiplinan ini memerlukan ketegasan dan kebijaksanaan.          Ketegasan       mengharuskan seorang              pendidik memberikan sanksi kepada setiap pelanggar sementara kebijaksanaan mengharuskan pendidik berbuat adil dan arif dalam memberikan sanksi, tidak terbawa emosi atau dorongan lain.
Dengan demikian, sebelum menjatuhkan sanksi seorang pendidik harus memperhatikan hal-hal berikut ini:
a.      Perlu adanya bukti yang kuat tentang adanya tindak pelanggaran
b.     Hukuman harus bersifat mendidik bukan sekedar memberi kepuasan atau balas dendam dari si pendidik
c.      Harus mempertimbangkan latar belakang dan kondisi siswa yang melanggar.
Menurut  M.  Nur  Hafizh[8],  ada  lima  hal  mendasar   yang      perlu diberikan kepada anak dalam rangka upaya pembinaan akhlak, yaitu:
a.      Pembinaan budi pekerti dan sopan santun
Pentingnya budi pekerti dan penanamannya dalam jiwa anak sudah jelas dan tegas ditunjukkan oleh Rasulullah tepatnya dalam sabdanya: “Tidak ada sesuatu pemberian orang tua kepada anak-anaknya yang paling berharga kecuali budi pekerti yang baik”. Dan juga “Muliakanlah anak-anakmu dan ajarkanlah mereka budi pekerti   yang luhur”. Perhatian  yang  besar  terhadap  pembinaan  budi  pekerti ini disebabkan karena menghasilkan hati yang terbuka. Hati yang terbuka menghasilkan kebiasaan yang baik dan kebiasaan yang baik menghasilkan akhlak yang terpuji.
b.     Pembinaan bersikap jujur
               Bersikap jujur merupakan dasar pembinaan akhlak yang sangat penting   dalam   ajaran   Islam.   Oleh   karena   itu   Rasulullah   saw.
               Memperhatikan pembinaan kejujuran ini dengan membinanya sejak usia anak masih kecil. Beliau juga mengajarkan kepada setiap orang tua untuk bersikap jujur dahulu sebelum mendidik anak-anaknya agar memiliki kejujuran. Sabda Nabi saw.: “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu dan lakukan apa yang engkau yakini kebenarannya. Ketahuilah bahwa sifat jujur itu akan menghasilkan ketenangan dan dusta itu akan membuat keresahan”.
c.      Pembinaan menjaga rahasia
          Rasulullah memberikan perhatian yang penuh dalam membuat anak yang bisa menjaga rahasia karena sikap seperti ini merupakan perwujudan dari keteguhan anak dalam membina kebenaran. Anak akan mampu hidup di tengah masyarakat dengan penuh percaya diri dan anak akan tumbuh dengan memiliki keberanian dan keinginan yang kuat, mampu menjaga dirinya dan keluarga khususnya hingga menjaga masyarakat dan agama secara keseluruhan.
d.     Pembinaan menjaga kepercayaan
Al-amanah adalah sifat dasar Rasulullah yang dimiliki sejak kecil hingga masa kerasulannya sampai beliu dijuluki dengan alshadiq, al- amin. Teladan seperti inilah yang meski ditiru oleh setiap  muslim pada masa sekarang ini. Rasulullah bersabda: “Anak adalah pemeliharaan     harta orang tuanya dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas harta tersebut”. Artinya, anak harus bisa memanfaatkan harta orang tuanya.
Berdasarkan peran pendidikan akhlak dalam pembinaan peserta didik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan bahwa:
a.  Pelaksanaan program-program pendidikan akhlak perlu disertai pula dengan keteladanan guru, orang tua dan orang dewasa pada umumnya.Selain itu, perlu disertai pula dengan upaya-upaya untuk mewujudkan lingkungan sosial yang kondusif bagi para siswa, baik dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Dengan demikian pelaksanaan program-program pendidikan akhlak akan terkesan dalam rangka membentuk kepribadian siswa.
b.  Kesadaran untuk berbuat baik sebanyak mungkin kepada orang lain  ini melahirkan sikap dasar untuk mewujudkan keselamatan, keserasian dan keseimbangan dalam hubungannya antar manusia, baik pribadi maupun masyarakat lingkungannya. Jika tiap orang sadar dan mau menjalankan tugas dan kewajibannya masing-masing, maka akan tercipta masyarakat yang adil dan makmur yang membawa kebahagiaan bagi dirinya dan masyarakat.
c.  Penyusunan program-program pendidikan akhlak dan pengimplementasiannya perlu memberikan penekanan yang  berimbang kepada aspek isi nilai-nilai dan proses pengajarannya. Selain  itu,  memberikan  penekanan   yang  berimbang  pula    kepada perkembangan rasional emosional serta tingkah laku dan perbuatan. Hal ini penting dalam rangka membentuk dan mengembangkan kepribadian siswa.
d.  Faktor agama juga perlu mendapat perhatian yang baik dalam mengimplementasikannya, karena agama dapat menjadikan nilai-nilai budi pekerti memiliki akar yang kuat dalam diri siswa, yakni iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, guru perlu menjadi teladan dan harus mampu mendorong siswa untuk menjadi insan yang beriman dan bertakwa.[9]



BAB III
METODE PENELITIAN

1.    Tempat Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di SMP ……………………. sebagai tempat penelitian.

2.    Jenis dan Pendekatan Penelitian
a.    Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yaitu penelitian yang pengumpulannya dilakukan di lapangan dan bersifat kualitatif. Untuk lebih jelasnya Lexy J. Moleong dalam bukunya metodologi penelitian kualitatif mengutip penjelasan yang  diberikan dari Bogdan dan Taylor “Metodologi kualitatif adalah sebagai  prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati”.[10]
b.    Pendekatan Penelitian
  Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan deskriptif. Pendekatan ini berusaha memberikan fakta-fakta aktual dengan sistematis dan cermat.

3.    Subyek Penelitian
Subyek penelitian merupakan informan atau orang yang dijadikan pemberi informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Adapun yang dijadikan sebagai subyek penelitian adalah
a.    Guru pengampu mata pelajaran PAI di SMP ……...
Untuk mengetahui metode, perlakuan, dan perkembangan  siswa dalam proses pembelajaran PAI dalam penanaman pendidikan karakter.
b.    Siswa SMP Swasta ……….
Untuk mengetahui proses penanaman pendidikan karakter berlangsung di sekolah, yaitu cara guru dalam menanamkan karakter yang baik kepada siswa.

4.    Metode Pengumpulan Data
a.    Wawancara
       Teknik wawancara mendalam yaitu mendapatkan informasi secara mendalam bertanya langsung kepada responden. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan informasi dari informan atau responden dengan menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan- pertanyaan. Metode ini ditujukan kepada guru pada umumnya, khusunya guru PAI, untuk mengetahui metode, perlakuan, dan perkembangan siswa selama proses pembelajaran di SMP ……….
       Wawancara yang digunakan peneliti disini adalah interview bebas, di mana pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi juga mengingat akan data apa yang akan dikumpulkan. Instrumen yang peneliti gunakan adalah pedoman lembar wawancara yang tidak terlalu mengikat.
b.    Observasi
       Sebagai metode ilmiah observasi biasa diartikan sebagai pengamatan  dan  pencatatan  fenomena-fenomena  yang diselidiki.
       Metode ini digunakan untuk mengamati dan mencatat letak tempat penelitian, kondisi siswa, kegiatan yang dilakukan guru dalam penanaman pendidikan karakter di SMP Swasta ……….

5.    Hasil Penelitian
     Berdasarkan hasil penelitian mengenai peran dalam usahanya menanamkan pendidikan karakter terhadap siswa SMP Swasta Hasanuddin Medan , maka kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian yang dilakukan sebagai berikut: Peran guru dalam pembentukan karakter siswa SMP Swasta ………  antara lain:
1.            Peran sebagai perencana, dalam menerapkan perannya sebagai perencana guru PAI di SMP Swasta ………menggunakan cara 1). Memaksimalkan materi yang meliputi perencanaan (Planing), proses pembelajaran, manajemen kelas dan assessement (penilaian). 2) membudayakan kultur/budaya madrasah yang baik, 3) meningkatkan kerjasama dengan orang tua murid
2.            Peran sebagai organisator, peran guru sebagai organisator dalam membentuk karakter siswa di SMP Swasta ………terlihat dari usahanya dalam menciptakan proses kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan, efektif dan efisien.
3.            Peran sebagai konselor, guru akidah akhlak yang ada di lingkungan SMP ………sangat berperan sekali dan juga turut andil dalam menyelesaikan masalah-masalah atau kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa-siswinya.
4.            Peran sebagai Pembimbing, guru PAI di Swasta ………bukan saja bertugas mendidik dan mengajar saja akan tetapi juga berperan sebagai pembimbing.
                Cara guru dalam membentuk karakter siswa-siswi di SMP Swasta ………adalah dengan cara penanaman nilai-nilai karakter secara umum, nilai-nilai yang dimaksud yaitu, nilai religius, nilai kejujuran, nilai toleransi, nilai kedisiplinan, nilai kerja keras, nilai kereatif, nilai kemandirian, nilai demokratis, nilai rasa ingin tahu, nilai semangat kebangsaan, nilai cinta tanah air, nilai menghargai prestasi, nilai bersahabat/komunikatif, nilai cinta damai, nilai gemar membaca, nilai peduli lingkungan, nilai peduli sosial dan nilai tanggung jawab. Guru maupun pihak madrasah selalu menanamkan secara terus-menerus dan berkelanjutan. Dengan adanya penanaman nilai karakter secara terus menerus terhadap siswa terdapat tingkat perubahan yang baik walaupun masih ada beberapa siswa yang masih sulit menerapkannya.
                Berbagai upaya dilakukan guru pendidikan agama Islam di  SMP ………untuk meningkatkan sumber daya atau meningkatkan profesionalisme guru baik dalam pembelajaran maupun dalam pengembangan pendidikan agama Islam, antara lain dengan mengikuti seminar, baik yang diselenggarakan oleh sekolah, Kementrian Pendidikan, Kementrian Agama maupun oleh pihak lain. Selain itu guru pendidikan agama Islam yang ada juga mengikuti kegiatan MGMP (musyawarah guru mata pelajaran), KKG (kelompok kerja guru) dan PLPG (pelatihan program guru) sebagai wahana untuk saling tukar pengetahuan dan pengalaman dengan guru pendidikan agama Islam dari sekolah lain.
                Guru pendidikan agama Islam di tuntut untuk berinovasi dalam pengembangan pembelajaran pendidikan agama Islam. Salah satu cara yang dapat dikembangkan adalah dengan mengefektifkan kegiatan keagamaan di sekolah. Kegiatan keagamaan di SMP Swasta ………cukup banyak baik yang sifatnya rutin, mingguan sampai pada program tahunan.
                Keberadaan rohis di SMP ………sangat vital bagi terciptanya suasana Islami di sekolah, bahkan sebagian besar kegiatan keagamaan dikoordinir langsung oleh para siswa. Sedangkan guru pendidikan agama Islam sebagai pembina sekaligus fasilitator. Siswa diberikan kesempatan untuk bertangggung jawab dalam merencanakan, melaksanakan  dan  membuat  laporan  suatu  kegiatan,  selain  itu  para siswa juga diberikan kesempatan untuk menjalin kerjasama dengan pihak-pihak tertentu seperti, alumni, lembaga keagamaan, dll.
                Peran guru pendidikan agama Islam sebagai motor penggerak pada kegiatan keagamaan di sekolah, memotivasi, membimbing dan memantau setiap kegiatan keagamaan yang dilakukan rohis. Sehingga para siswa bisa mendapatkan bimbingan dan pengarahan pada perkembanganya, karena guru dekat dengan para siswanya yang mana sebagian besar waktunya di habiskan dibangku siswa di sekolah. Khususnya kegiatan keagamaan yang paling penting adalah sholat dhuhur dan sholat jum’at. Dengan demikian suasana Islami disekolah sangat mendukung dalam pembentukan karakter siswa dengan beraneka ragam kegiatan keagaaman disekolah dengan bantuan rohis yang terus bervariatif menarik minat siswa memperdalam ajaran agama Islam.
                Guru pendidikan agama Islam menyadari bahwa kegiatan yang sudah direncanakan tidak akan mungkin terlaksana tanpa adanya kerjasama antara guru, siswa, sekolah dan masyarakat. Pendidikan merupakan tanggung jawab antara orang tua (keluarga), guru (sekolah) dan masyarakat (lingkungan).


DAFTAR PUSTAKA

Arief, Armai. Pengantar Ilmu dan Metodelogi Pendidikan Islam. Jakarta:  Ciputat Press, 2002
Darajat, Zakiah, dkk. Metode Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1996
Hafizh, M. Nur. Mendidik Anak Bersama Rasulullah. Bandung: al-Bayan III, 1998
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007
Mujib, Abdul. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006


[1]Zakiah Darajat, dkk, Metode Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 266
[2]W.J.S Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai  Pustaka, 1991), hlm. 175.
[3]Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 69-70.
[4]Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: CV. Misika Anak Galiza, 2003), hlm. 93-94.
[5] Ibid., hlm. 95-96
[6]Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodelogi Pendidikan Islam,  (Jakarta:  Ciputat Press, 2002), hlm. 125
[7]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja  Rosdakarya, 1992), hlm. 146
[8] M. Nur Hafizh, Mendidik Anak Bersama Rasulullah, (Bandung: al-Bayan III, 1998), hlm. 179-190.
[9] Teuku Ramli Zakaria, Pendekatan-Pendekatan Pendidikan Nilai dan Implementasinya dalam Pendidikan Budi Pekerti, (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, no. 026, Oktober 2000), hlm.493-494
[10]Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif,  (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 4