Thursday, 7 July 2016

POLA KOMUNIKASI ORANG TUA DALAM MENUMBUHKAN KECINTAAN ANAK



POLA KOMUNIKASI ORANG TUA DALAM MENUMBUHKAN
KECINTAAN ANAK TERHADAP ALQURAN



BAB I

PENDAHULUAN



A.  Latar Belakang Masalah

Menciptakan generasi yang baik untuk melanjutkan tugas manusia di permukaan bumi tentu menjadi tanggung jawab bersama. Dalam ajaran Islam, menjaga dan menciptakan generasi tersebut merupakan beban dan tanggung jawab yang harus dimulai dari lingkungan keluarga sebagai unit terkecil dari tatanan masyarakat dunia. Allah swt dengan jelas mengingatkan hal ini dalam surat At-Tahrim ayat 6 yaitu:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
Ayat diatas memberi tuntunan kepada kaum beriman bahwa: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu antara lain dengan meneladani Nabi Muhammad Saw dan pelihara juga keluarga kamu yakni Istri, anak-anak dan seluruh yang berada di bawah tanggung jawab kamu dengan membimbing dan mendidik mereka agar kamu semua terhindar dari api neraka dan yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia yang kafir dan juga batu-batu antara lain yang dijadikan berhala-berhala. Diatasnya yakni menangani neraka itu dan bertugas menyiksa penghuni-penghuni adalah malaikat-malaikat yang kasar-kasar hati dan perlakuannya, yang keras-keras perlakuannya dalam melaksanakan tugas penyiksaan, yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang dia perintahkan kepada mereka sehingga siksa yang mereka jatuhkan- kendati mereka kasar –tidak kurang dan tidak juga berlebih dari apa yang diperintahkan Allah, yakni sesuai dengan mudah apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.
Penjelasan di atas menunjukkan pengertian bahwa manusia harus bisa menjaga diri sendiri dan keluarga dari panasnya api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu. Dengan cara membimbing dan mendidik keluarga terutama kepada kedua orang tua sebagai panutan untuk anak-anak dalam keluarga agar dapat membimbing dan mendidik anak-anak menanamkan kepada mereka akhlak dan keimanan untuk menjadi anak yang dewasa, untuk selalu menjaga diri diri sendiri dan keluarga dari panasnya api neraka yaitu dengan saling mengingatkan dalam kebaikan.
    1
Di dalam kehidupan masyarakat di manapun juga, keluarga merupakan unit terkenal yang peranannya sangat besar. Peranan yang sangat besar itu disebabkan, oleh karena keluarga (yakni keluarga batih) mempunyai fungsi yang sangat penting di dalam kelangsungan kehidupan bermasyarakat. Fungsi yang sangat penting itu terutama dijumpai pada peranannya untuk melakukan sosialisasi, yang bertujuan untuk mendidik warga masyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang dianut. untuk pertama kalinya diperoleh dalam keluarga.
Dari uraian diatas jelaslah bahwa keluarga adalah sebuah institusi pendidikan yang utama dan bersifat kodrati. Sebagai komunitas masyarakat terkecil, keluarga memiliki arti penting dan strategis dalam pembangunan komunitas masyarakat yang lebih luas. Oleh karena itu, kehidupan keluarga yang harmonis perlu dibangun diatas dasar sistem interaksi yang kondusif sehingga pendidikan dapat berlangsung dengan baik.
Alquran adalah sumber utama ajaran Islam dan pedoman hidup bagi setiap muslim. Alquran bukan sekedar memuat petunjuk tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (hablum min Allah wa hablum minan-nas), serta manusia dengan alam sekitarnya. Untuk memahami ajaran Islam secara sempurna (kaffah), diperlukan pemahaman terhadap kandungan Alquran dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari secara sungguh-sungguh dan konsisten.
Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, antara lain dinamai Al-Kitab dan Alquran (bacaan yang sempurna), walaupun penerima dan masyarakat pertama yang ditemuinya tidak mengenal baca tulis. Ini semua, dimaksudkan agar mereka dan generasi berikutnya membacanya. Fungsi utama Al-Kitab adalah memberikan petunjuk. Hal ini tidak dapat terlaksana tanpa membaca dan memahaminya.Mengajarkan Alquran kepada anak adalah hal yang paling pokok dalam Islam. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah Al-Ankabut ayat 45:

Artinya: “Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Bagi setiap muslim Alquran merupakan kitab suci yang sangat diagungkan karena di dalamnya terdapat nilai-nilai yang penting untuk dijadikan suri teladan maupun sebagai pedoman terhadap segala aspek kehidupan. Sehingga, bagi mereka (orang-orang Islam), apabila ingin mengharap kehidupan yang sejahtera, damai, dan bahagia, maka semestinya berperilaku sesuai dengan semua hal yang tertera dalam Alquran. Dan Alquran menjadi sarana paling utama untuk merintis, memulai, dan menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Setiap persoalan apa pun yang datang silih berganti dalam kehidupan, tentu muaranya akan bertemu pada satu titik, yaitu Alquran.
Dalam keluarga anak memiliki dunia tersendiri yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh orang tua. Pada usia dini anak yang senang bermain diajak bergembira menggali kekayaan Alquran melalui berbagai jenis permainan yang mengasyikkan. Rasa cinta pada Alquran ditumbuh-suburkan dengan mengoptimalkan potensi fitriyah yang anak miliki. Sehubungan dengan itu orang tua dituntut untuk mendalami tugas-tugas perkembangan anak, agar permainan yang diciptakan bersama anak dalam bergembira bersama Alquran, mencapai sasaran yang diharapkan berbagai pihak.
Pada masa-masa dini usia seorang anak, fungsi indera, tangan dan kaki demikian kerap difungsikan dalam bentuk aktivitas bermain. Beberapa kesadaran potensial, seperti mendengar, berpikir, berbicara, berhitung, dan merasakan berbagai pengalaman hidup diri dan lingkungan terdekatnya dapat menjadi sarana bagi proses pembelajaran Alquran. Saat pertama bayi hingga usia menyusui, menyimak lantunan ayat-ayat Alquran adalah dasar pertama bagi perkembangan pemahaman anak terhadap pesan dan nilai ajaran Alquran.
Berbicara tentang Alquran merupakan salah satu faktor terpenting dalam pemahaman anak terhadap pesan dan nilai Alquran. Di samping itu, kemampuan membaca Alquran tetap menjadi landasan utama bagi anak. Berbagai benda yang dekat dengan dirinya adalah sarana yang bagus bagi pertemuannya dengan Alquran. Bagi orang tua, pendidik dan mentor yang secara sadar berupaya untuk mendesains suatu lingkungan terdekat anak yang senantiasa mengingatkannya akan Alquran merupakan upaya yang sangat mulia.
Terkait dengan menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran dilingkungan keluarga, Faktor komunikasi keluarga dinilai sangat berpengaruh dan menentukan proses pembentukan prilaku anak. Hal ini disebabkan oleh sulitnya mengabaikan peran keluarga dalam pendidikan anak. Anak-anak sejak bayi hingga usia sekolah memiliki lingkungan tunggal, yaitu keluarga. Oleh karenanya Gilbert Hinghest menyatakan bahwa kebiasaan yang dimiliki anak-anak sebagian besar terbentuk oleh pendidikan keluarga. Sejak dari bangun tidur hingga ke saat akan tidur kembali, anak-anak menerima pengaruh dan pendidikan dari lingkungan keluargaSementara itu, komunikasi sebagaimana ditekankan Bernard Berelson dan Garry A. Steiner, adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, vigur, grafik, dan sebagainya.
Setiap orang tua memiliki tanggung jawab mengajarkan anak-anaknya Alquran sejak kecil. Karena pengajaran Alquran memiliki pengaruh yang cukup besar dalam menanamkan aqidah yang kuat pada jiwa anak. Pada proses pengajaran Alquran, sang anak akan merasakan pengaruh besar dimana proses penanaman ruh Alquran didalam jiwanya. Secara tidak disadarinya, pola berpikir anak dan  indera lainnya terarahkan pada pola yang terdapat dalam Alquran. Secara perlahan pula anak
akan terikat dengan segala apa yang tersirat dalam Alquran. Maka apabila orang tua selaku penanggung jawab langsung terhadap pendidikan anak, dapat memahami pengaruh besar yang ada dalam pengajaran Alquran, tentunya tidak akan rela melewatkan kesempatan berharga ini dengan mengabaikan Alquran.
Penanaman Alquran bukan dimasyarakat akan tetapi dalam lingkungan keluarga agar mereka mau mempelajari dan memahami Alquran.Orang tua sangat berperan penting dalam keluarga untuk memberikan nasehat-nasehat dan arahan yang baik kepada anak, semua arahan dan nasehat ini tidak terlepas dari komunikasi orang tua dalam keluarga.
Ada satu keluarga yang sangat berbeda dengan keluarga-keluarga lain yang terdapat di lingkungan keluarga  itu sendiri, keluarga bapak Sahrizal ini tidak terpengaruh dengan kerusakan keluarga yang lain seperti mabuk-mabukan, narkoba, dan yang lainnya.
Keluarga bapak Anuuu mempunyai empat anak dan semua anak bapak Anuuu ini hafiz dan hafizah, selalu menang dalam setiap pertandingan bahkan ada yang sampai ketingkat provinsi. Padahal orang tuanya hanya orang biasa, pendidikan ibunya tidak tamat SD dan Ayahnya hanya tamat SD. dan orang tuanya termasuk orang yang tidak mampu dalam biaya ekonomi, tetapi mengapa semua anak keluarga bapak Sahrizal bisa mendapatkan prestasi yang sangat baik?

Keunikan yang terdapat dalam keluarga ini tidak terlepas dari komunikasi yang diberikan orang tua kepada anak. Komunikasi yang dilakukan orang tua ini karena pola yang dilakukan dalam keluarga. Maka dari itu sampai sekarang inipenulis merasa tertarik untuk melakukan sebuah penelitian yang lebih mendalam tentang pola komunikasi orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran, dengan memilih keluarga Bapak .......... sebagai subjek penelitian.

B.     Rumusan Masalah
Masalah yang kemudian ingin dikaji pada penelitian ini dirumuskan ke dalam beberapa pertanyaan, yaitu:
1.      Bagaimana bentuk-bentuk pola komunikasi orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran di keluarga bapak ...........
2.      Bagaimana proses penerapan bentuk-bentukpola komunikasi orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran di keluarga bapak ..........
3.      Bagaimana hasil penerapan bentuk-bentukkomunikasi orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran di keluarga bapak ..........



C.  Batasan Istilah
Untuk menghindari kesalah pahaman dalam penafsiran dari judul penelitian ini, maka perlu diadakan batasan istilah secara jelas, adalah sebagai berikut:
1.      Pola komunikasi terdiri dari pola, yaitu gambar (yang bisa dipakai untuk contoh batik). Sedangkan komunikasi, yaitu suatu proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan. Menurut Deddy Mulyana pola komunikasi merupakan model dari proses komunikasi.Sehingga dengan adanya berbagai macam model komunikasi dan bagian dari proses komunikasi akan dapat ditemukan pola yang cocok dan mudah digunakan dalam berkomunikasi. Maka pola komunikasi yang penulis maksud adalah bentuk atau model yang digunakan dalam berkomunikasi guna memudahkan komunikator dalam penyampaian pesan kepada komunikan. Komunikasi disini merupakan komunikasi yang dilakukan orangtua kepada anaknya yang selalu atau sering saja terjadi dimana saja, kapan saja (sesuatu yang sudah tetap).
2.      Orang tua adalah pendidik dalam keluarga. Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka. Dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Oleh karena itu, bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Orang tua yang penulis maksud disini ialah Ayah dan Ibu yang ada di dalam keluarga Bapak ...........
3.      Menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran yang penulis maksud disini ialah memberikan semangat anak untuk belajar dan menghafal Alquran di keluarga Bapak ...........

D.  Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini ialah:
1.      Untuk mengetahui bentuk-bentuk polakomunikasi orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran di keluarga bapak ...........
2.      Untuk mengetahui proses penerapan bentuk-bentuk pola komunikasi orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap alquran di keluarga bapak ...........
3.      Untuk mengetahui hasil penerapan bentuk-bentukkomunikasi yang diterapkan orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran.
E.     Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian diharapkan untuk:
Secara teoritis, penelitian ini berguna sebagai bahan pengembangan wawasan dan ilmu pengetahuan dalam bidang komunikasi Islam.
Secara praktis diharapkan berguna:
1.        Kepada keluarga bapak .......... sebagai bahan masukan untuk terus mempertahankan dan meningkatkan apa yang sudah di terapkan kepada keluarga dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran.
2.        Sebagai bahan masukan bagi para orang tua dan calon orang tua, dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran.
3.        Kepada peneliti lain dalam mengembangkan penelitian.

F.     Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penelitian ini dibagi kepada lima bab  dan setiap bab terdiri dari beberapa pasal yaitu:
Bab pertama pendahuluan, latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan istilah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika pembahasan.
Pada bab kedua berisi landasan teoritis, pengertian ruang lingkup komunikasi, pola komunikasi dalam keluarga, dan menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran.
Pada bab ketiga didalamnya berisi metodologi penelitian, yaitu jenis penelitian, informan penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, instrumen pengumpulan data, dan teknik analisis data.
Pada bab keempat yang merupakan hasil penelitian dan pembahasan berisi bentuk-bentuk pola komunikasi orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran di keluarga bapak .........., proses penerapan bentuk-bentuk pola komunikasi orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran di keluarga bapak .........., dan hasil penerapan bentuk-bentuk komunikasi orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran di keluarga bapak ...........
Pada bab kelima sebagai penutup, dikemukakan kesimpulan yang merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang telah dikemukakan, serta saran-saran terhadap berbagai hal yang perlu ditindak lanjuti dari hasil penelitian.


BAB II

LANDASAN TEORITIS

A.  Pengertian dan Ruang Lingkup Komunikasi
Secara etimologis atau menurut asal katanya, istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin, yaitu communicatio, yang akar katanya adalah communis, tetapi bukan partai komunis dalam kegiatan politik. Arti communis disini adalah sama, dalam arti kata sama makna, yaitu sama makna mengenai suatu hal. Secara terminologis komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Dari pengertian itu jelas bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, di mana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain. Jadi yang terlibat dalam komunikasi itu adalah manusia
Dedi Mulyana menyebutkan beberapa defenisi komunikasi sebagai kegiatan satu arah yang dirumuskan beberapa ahli, sebagai berikut:
1.      Bernard Berelson dan Garry A. Steiner: Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, vigur, grafik, dan sebagainya. Tindakan transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.
2.      Theodore M.Newcomb: Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada penerima.
3.      Carl Hovland:  Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah prilaku orang lain (komunikate).
4.      Gerald R. Miller: Komunikasi terjadi ketika suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari untuk menerima prilaku menerima.
5.      Everett M.Roger: komunikasi adalah suatu proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
6.      Raymond R. Ross: Komunikasi (intensional) adalah suatu proses menyortir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respon dari fikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator.
7.      Harold Laswell: cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: atau siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana?

Berdasarkan definisi Laswell dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain yaitu:
1.        Sumber (source) yang juga disebut pengirim (sender), penyandi (encorder), komunikator (comunicator), pembicara (speaker), atau originator.
2.        Pesan, yaitu apa yang dikomunikasikan sumber kepada penerima.
3.        Saluran atau media, yaitu alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima.
4.        Penerima (reciver), sering juga disebuttujuan (destination), komunikate (communicate), penyandi balik (decorder), atau khalayak (audience)
5.        Efek, yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah menerima pesan.
Selanjutnya, Dedi Mulyana menyebutkan pula komunikasi sebagai proses interaksi yang menyetarakan komunikasi dengan suatu proses sebab akibat atau aksi-reaksi yang arahnya bergantian. Komunikasi sebagai interaksi dipandang sedikit lebih dinamis daripada komunikasi sebagai tindakan satu arah. Unsur yang dapat ditambahkan dalam konsep ini adalah umpan balik (feed back), yaitu apa yang disampaikan penerima pesan kepada sumber pesan, yang sekaligus digunakan sumber pesan sebagai petunujuk mengeni efektifitas pesan yang disampaikan sebelumnya.
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya.
Ketercapaian tujuan komunikasi merupakan keberhasilan komunikasi. Keberhasilan itu tergantung dari berbagai faktor sebagai berikut.
1.      Komunikator
Komunikator merupakan sumber dan pengiriman pesan. Kepercayaan penerima pesan pada komunikator serta keterampilan komunikator serta keterampilan komunikator dalam melakukan komunikasi menentukan keberhasilan komunikasi.
2.      Pesan yang disampaikan
Keberhasilan komunikasi tergantung dari:
a.       Daya tarik pesan
b.      Kesesuaian pesan dengan kebutuhan penerima pesan
c.       Lingkup pengalaman yang sama antara pengirim dan penerima pesan tentang pesan tersebut
d.      Peran pesan dalam memenuhi kebutuhan penerima pesan.
3.      Komunikan
Keberhasilan komunikasi tergantung dari:
a.       Kemampuan komunikan menafsirkan pesan
b.      Komunikan sadar bahwa pesan yang diterima memenuhi kebutuhannya
c.       Perhatian komunikan terhadap pesan yang diterima.
4.      Konteks
Komunikasi berlangsung dalam setting atau lingkungan tertentu. Lingkungan yang kondusif (nyaman, menyenangkan, aman, menantang) sangat menunjang keberhasilan komunikasi.
5.      Sistem penyampaian
Sistem penyampaian pesan berkaitan dengan metode dan media. Metode dan media yang sesuai dengan berbagai jenis indera penerima pesan yang kondisinya berbeda-beda akan sangat menunjang keberhasilan komunikasi.
Onong Ucjhana Effendi menyebutkan proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yakni secara primer dan secara sekunder.
a.       Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu “menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. Bahwa bahasayang paling banyak dipergunakan dalam komunikasi adalah jelas karena hanya bahasalah yang mampu “menerjemahkan” pikiran seseorang kepada orang lain. Apakah itu berbentuk idea, informasi atau opini; baik mengenai hal yang kongkret maupun yang abstrak, melainkan juga pada waktu yang lalu dan masa yang akan datang.
b.      Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada ditempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak
H. A. W. Widjaya mengatakan komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Komponen atau unsur tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Sumber (source)
Sumber adalah dasar yang digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber dapat berupa orang, lembaga, buku dan sejenisnya.
2.      Komunikator
Komunikator dapat berupa individu yang sedang berbicara, menulis, kelompok orang, organisasi komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi, film dan sebagainya.
3.      Pesan
Pesan adalah keseluruhan daripada apa yang disampaikan oleh komunikator.
4.      Saluran
Saluran komunikasi selalu menyampaikan pesan yang dapat diterima melalui panca indera atau menggunakan media.
5.      Komunikan
Komunikan atau penerima pesan dapat digolongkan dalam 3 jenis yakni personna, kelompok dan massa.
6.      Effect (hasil)
Effect adalah hasil akhir dari suatu komunikasi, yakni sikap dan tingkah laku orang, sesuai atau tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Jika sikap dan tingkah laku orang lain itu sesuai, berarti komunikasi berhasil, demikian pula sebaliknya
Hafied Changara menjelaskan demikian banyak klasifikasi yang menjadi bentuk-bentuk komunikasi. Kelompok sarjana Amerika membagi komunikasi kedalam lima tipe, yaitu komunikasi antar pribadi, (interpersonal communication) komunikasi keompok kecil, (small group communication) komunikasi organisasi, (organization communication) komunikasi massa, (massa communication) dan komunikasi publik (publik communication)
Sementara itu, Joseph A Devito membagi bentuk komunikasi atas empat macam, yaitu: komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok kecil, komunikasi publik dan komunikasi massa. Berbeda dengan Joseph dan klasifikasi sebelumnya, R. Wayne Pace membagi komunikasi atas tiga tipe, yaitu: komunikasi dengan diri sendiri, komunikasi antar pribadi dan komunikasi khalayak
Keberhasilan komunikasi tergantung dari beberapa faktor sebagai berikut :
1.      Komunikator
Komunikator merupakan sumber dari pengirim pesan.
2.      Pesan yang disampaikan
Keberhasilan komunikasi tergantung dari :
a.       Daya tarik pesan
b.      Kesesuaian pesan dengan kebutuhan penerima pesan
c.       Lingkup pengalaman yang sama antara pengirim dan penerima pesan tentang pesan tersebut, serta peran pesan dalam memenuhi kebutuhan penerima pesan.
3.      Komunikan
Keberhasilan komunikasi tergantung dari :
a.       Kemampuan komunikan menafsirkan pesan
b.      Komunikan sadar bahwa pesan yang diterima memenuhi kebutuhannya.
c.       Perhatian komunikan terhadap pesan yang diterima.
4.      Konteks
Komunikasi berlangsung dalam setting atau lingkungan tertentu. Lingkungan yang kondusif (nyaman, menyenangkan, aman dan menantang) sangat menunjang keberhasilan komunikasi.
5.      Sistem penyampaian
Sistem penyampaian pesan berkaitan dengan metode dan media. Metode dan media yang sesuai dengan berbagai jenis indera penerima pesan yang kondisinya berbeda-beda akan sangat menunjang keberhasilan komunikasi

Adapun Sifat dalam komunikasi yaitu:
a.       Tatap muka (face-to-face)
b.      Bermedia (mediated)
c.       Verbal
1.      Lisan (oral)
2.      Tulisan/ cetak (written/printed)
d.      Nonverbal (non-verbal)
1.      Kial/isyarat badaniah (gestural)
2.      Bergambar (pictorial)

B.  Pola Komunikasi dalam Keluarga
Komunikasi adalah suatu kegiatan yang pasti terjadi dalam kehidupan keluarga tanpa komunikasi, sepilah kehidupan keluarga dari berbicara, berdialog, bertukar pikiran dan sebagainya. Akibatnya kerawanan hubungan antara anggota kluarga pun sukar untuk dihindari. Oleh karena itu, komunikasi antara suami dan istri, komunikasi antara ayah, ibu dan anak, komunikasi antara ayah dan anak, komunikasi antara ibu dan anak,komunikasi antara anak dan anak, perlu dibangun secara harmonis dalam rangka membangun pendidikan yang baik dalam keluarga. Berbicara mengenai pola komunikasi dalam lingkungan keluarga maka berbicara mengenai model komunikasi.
Menurut Sereno dan Mortensen, suatu model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Suatu model mempresentasikan secara abstrak ciri-ciri penting yang menghilangkan rincian komunikasi yang tidak perlu dalam dunia nyata. Sedangkan B Aubrey Fisher mengatakan, model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsur, sifat, atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model. Model adalah gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan teori, atau dengan kata lain teori yang disederhanakan.
Gardon Wiseman dan larry Barker menyebutkan tiga fungsi pentingnya model komunikasi.
1)      Melukiskan proses komunikasi
2)      Menunjukkan hubungan visual
3)      Membantu dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi.
Beberapa model komunikasi yang sangat umum dibicarakan dalam teori komunikasi adalah:
1.      Model S – R
Model Stimulus – Respon (S-R) menunjukkan komunikasi sebagai suatu proses aksi- reaksi yang sangat sederhana. Proses ini dapat bersifat timbal balik dan memiliki banyak efek. Setiap efek dapat mengubah tindakan komunikasi (Commucation) berikutnya. Model S-R mengasumsi bahwa kata-kata verbal (lisan-tulisan), isyarat-isyarat non-verbal, gambar-gambar, tindakan-tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respons dengan cara tertentu. 
Model ini menunjukkan komunikasi sebagai suatu proses “aksi- reaksi” yang sangat sederhana. Pola ini dapat menghasilkan komunikasi yang efektif (positif), namun pola ini dapat pula berlangsung negatif. Model S-R mengabaikan komunikasi sebagai suatu proses khusus yang berkenaan dengan faktor manusia. Ringkasnya, pada model ini komunikasi dianggap sebagai statis, yang menganggap manusia selalu berprilaku karena kekuatan dari luar (stimulus).
2.      Model Ariestoteles
Model Ariestoteles adalah model komunikasi yang paling klasik yang sering juga disebut model retoris (rethorical model). Pada model ini terjadi melalui tiga unsur yaitu: pembicara (speaker), pesan (message), dan pengantar (listener).
3.      Model Laswell
Seperti dijelaskan sebelumnya, model komunikasi Laswell berangkat dari ungkapan who says what in wich channel to whom with what effect. Model laswell menunjukkan tiga fungsi komunikasi yaitu:
a.       Pengawasan lingkungan yang mengingatkan anggota-anggota masyarakat akan bahaya dan peluang dalam lingkungan.
b.      Korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan.
c.       Transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya
4.      Model Shannon dan Weaver
Model Shanon dan Weaver dikenal dengan istilah “model matematika”yang menyoroti problem penyampaian pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran kepada seorang penerima yang menyandi balik atau mencipta ulang pesan tersebut. Model shanon dan weaver ini dapat dijelaskan pada gambar berikut ini:
    
5.      Model Schramm
Pada model Scharmm, komunikasi paling tidak membutuhkan tiga unsur, yaitu: sumber (source), pesan (message), dan sasaran (destination). Schramm membuat serangkaian model komunikasi dimulai dengan model komunikasi manusia yang sangat sederhana, lalu model yang paling rumit, hingga model komunikasi yang dianggap sebagai interaksi dua individu. Model yang diperkenalkan Scharmm dapat dijelaskan pada gambar berikut
6.      Model Newcomb
Theodore Newcomb memandang komunikasi dari perspektif dari perspektif psikologi sosial. Dalam model ini, komunikasi adalah suatu cara yang lazim dan efektif yang memungkinkan orang-orang mengorientasikan diri terhadap lingkungan mereka. Model ini mengisyaratkan bahwa setiap sistem apapun mungkin ditandai oeh suatu keseimbangan kekuatan-kekuatan setiap perubahan dalam bagian manapun dari sistem tersebut akan menimbulkan suatu ketegangan terhadap keseimbangan, atau simetri, karena ketidakseimbangan atau kekurangansimetri secara psikologis tidak menyenangkan dan menimbulkan tekanan internal untuk memulihkan keseimbangan. 
7.      Model Westley dan MacLean
Dalam model ini terdapat lima unsur komunikasi yaitu: objek orientasi, pesan, sumber, penerima, dan umpan balik. Sumber (A) menyoroti suatu objek atau peristiwa tertentu dalam lingkungan (X) dan menciptakan pesan mengenai hal itu (X’) yang ia kirim kepada penerima (B). Pada gilirannya, penerima mengirimkan untuk balik (fBA) mengenai pesan kepada sumber, penjelasan ini dapat dilihat pada gambar berikut:

Westley dan MacLean menambahkan suatu unsur lain (C), yaitu “penjaga gerbang” (gatekeeper) atau pemimpin pendapat (opinion leader) yang menerima pesan X’ dari sumber media massa (A) atau menyoroti objek orientasi (X3, X4) dalam lingkungannya. Dalam komunikasi massa, umpan balik dapat mengalir dengan tiga arah: dari penerima ke penjaga gerbang, dari penerima ke sumber media massa, dan dari pemimpin pendapat ke sumber media massa.
8.      Model Berlo
Berlo menggambarkan kebutuhan penyandi (encorder) dan penyandi-balik (decoder) dalam proses komunikasi. Menurut Berlo, sumber dan penerima pesan dipengaruhi oleh faktor: keterampilan komunikasi, sikap, pengetahuan, sistem sosial, dan budaya. Pesan dikembangkan berdasarkan elemen struktur, isi, perlakuan, dan kode. Salurannya berhubungan dengan panca indra: melihat, mendengarkan, menyentuh, membaui dan merasa (mencicipi) model ini bersifat organisasional yang mendeskripsikan proses.
9.      Model Defleur
Model Defleur diakui sebagai perluasan dari model-model yang dikemukakan para ahli, khususnya Shannon dan Weaver. Yaitu dengan memasukkan perangkat media massa, perangkat umpan balik. Menurut DeFleur komunikasi bukanlah pemindahan makna. Komunikasi terjadi lewat suatu operasi seperangkat komponen dalam suatu sistem teoritis, yang konsekuensinya adalah isomeorfisme (isomorphism) di antara respon internal (makna) terhadap seperangkat simbol tertentu pada pihak pengirim dan penerima. Isomorfisme makna merujuk pada upaya membuat makna terkoordinasikan antara dan khalayak.
 
Sementara itu H.A.W. Widjaja menyebutkan menyebutkan model-model penyebaran arus komunikasi, sebagai berikut:
1.      Model Jarum Hipodermik
Model komunikasi massa ini didasarkan atas anggapan bahwa media massa mampu menimbulkan efek yang amat kuat. Artinya bahwa komunikan dapat dianggap bersifat pasif, dengan demikian media massa dianggap sangat ampuh terhadap komunikannya.
2.      Model Komunikasi Satu Tahap
Model ini didasarkan atas anggapan bahwa media massa secara langsung sampai pada komunikannya. Tidak menggunakan pemuka sebagai penerus pesan arti media massa tersebut. Namun model ini juga mengakui bahwa media bukan merupakan alat yang teramat kuat pengaruhnya dan efek bagi tiap komunikannya berbeda satu sama lain.
3.      Model Komunikasi Dua Tahap
Model ini beranggapan bahwa dalam penyampaian melalui media massa, tidak dapat langsung kepada publiknya tetapi pemuka pendapat. Artinya dari media massa sampai pada pemuka pendapat kemudian baru para pemuka ini meneruskannya kepada komunikan yang dimaksud oleh media massa.
4.      Model Komunikasi Tahap Ganda
Model ini beranggapan bahwa media massa tidak selalu langsung menuju/sampai pada komunikannya yang dituju dan juga tidak selalu harus melalui pemuka pendapat.
Berdasarkan pemaparan tentang model komunikasi di atas, maka pola atau model komunikasi yang bisa digunakan dalam lingkungan keluarga, antara lain adalah :
1.      Model Stimulus- Respon (S-R)
Pola komunikasi yang biasanya terjadi dalam keluarga  adalah model stimulus – respon. Pola ini menunjukkan komunikasi sebagai suatu proses ”aksi-reaksi” yang sangat sederhana. Pola S-R mengasumsikan bahwa kata-kata verbal (lisan-tulisan), isyarat –isyarat nonverbal, gambar-gambar, dan tindakan-tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respons dengan cara tertentu. Oleh karena itu, proses ini dianggap sebagai pertukaran atau pemindahan informasi atau gagasan.
Dengan demikian pola komunikasi yang berlangsung antara orang tua dan anak selalu saja terjadi didalam sebuah keluarga. Dan peran orang tua sangat penting untuk memperhatikan seorang anak di dalam sebuah keluarga. 
Dengan demikian dari banyak model-model yang ada maka model stimulus respon merupakan komunikasi yang sangat efektif digunakan dalam lingkungan keluarga, karena model stimulus respon sangat baik untuk digunakan dalam keluarga, dimana antara anggota keluarga mempunyai hubungan yang sangat dekat dan komunikasi yang dilakukan dalam keluarga juga secara terus menerus.

C.      Aneka Komunikasi Dalam Keluarga
1.      Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal adalah suatu kegiatan komunikasi antara individu atau kelompok yang mempergunakan bahasa sebagai alat perhubungan. Proses  komunikasi dapat berlangsung dengan baik bila komunikan dapat menafsirkan secara tepat pesan yang disampaikan oleh komunikator melalui penggunaan bahasa dalam bentuk kata-kata atau kalimat. Panjang pendeknya suatu kalimat, tepat tidaknya penggunaan kata-kata yang merangkai kalimat, menjadi faktor penentu kelancaran komunikasi
Kegiatan komunikasi verbal menempati frekuensi terbanyak dalam keluarga. Setiap hari orang tua selalu ingin berbincang-bincang kepada anaknya. Canda dan tawa menyertai dialog antara orang tua dan anak. Perintah, suruhan, larangan, dan sebagainya merupakan alat pendidikan yang sering dipergunakan oleh orang tua atau anak dalam komunikasi keluarga
2.      Komunikasi Nonverbal
Komunikasi yang berlangsung dalam keluarga tidak hanya dalam bentuk verbal, tetapi juga dalam bentuk nonverbal. Komunikasi nonverbal sering dipakai oleh orang tua dalam menyampaikan suatu pesan kepada anak. Sering tanpa sepatah kata pun, orang tua menggerakkan hati anak untuk melakukan sesuatu. Kebiasaan orang tua dalam mengerjakan sesuatu dan karena anak sering melihatnya, anak pun ikut mengerjakan apa yang pernah dilihat dan didengarnya dari orang tuanya
3.      Komunikasi Individual
Komunikasi individual atau komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang sering terjadi dalam keluarga. Komunikasi yang terjadi berlangsung dalam sebuah interaksi antarpribadi; antara suami dan istri, antara ayah dan anak, antara ibu dan anak, dan antara anak dan anak

D.    Menumbuhkan Kecintaan Anak Terhadap Alquran.
Anak adalah amanat yang diberikan Allah kepada orang tua. Anak diciptakan  oleh tuhan dengan dibekali kekuatan pendorong alamiah yang dapat diarahkan ke arah yang baik atau kearah yang buruk. Maka kewajiban orang tualah memanfaatkan kekuatan alamiah itu dengan menyalurkannya ke saluran yang baik, dengan mendidik anak sejak usia muda membiasakan diri dengan kelakuan dan adat istiadat yang baik agar mereka bertumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berguna,  bagi dirinya dan pergaulan hidup sekelililngnya. Rasulullah SAW bersabda “janganlah lepas anak-anakmu dan didik mereka yang baik”. Dalam hadist ini terdapat petunjuk bagaimana orang tua harus selalu mendampingi anak-anaknya agar bisa mengawasi gerak-gerik dan tingkah laku anak, sehingga jika terdapat penyelewengan dari jalan yang baik, segera dapat diperhatikan dan dikembalikan kejalan yang baik, maka dari itu ajarkanlah kepada anak untuk menanamkan rasa cinta kepada Alquran
Alquran adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Rasulullah saw. Melalui Malaikat Jibril As. Kitab suci ini disampaikan kepada Nabi secara berangsur-angsur. Alquran juga merupakan kemuliaan paling tinggi, yang memberikan petunjuk kepada seluruh umat manusia agar berada dijalan yang lurus dan keluar dari kegelapan menuju cahaya terang, dan tidak ada keburukan sedikitpun di dalamnya. Oleh karena itu sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya. Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Tidak ada waktu lagi bagi orang tua dalam menanamkan kecintaan anak pada Alquran pada tidak pada saat usia anak masih kecil. Pada saat kertas putih yang ada dalam jiwanya masih kosong belum tertulis apapun oleh pengaruh lingkungannya kelak. Pada Alquran ini yang merupakan sarana paling ideal dalam membentuk anak menjadi sosok manusia sempurna yang hidupnya selalu berlandaskan Alquran. Ibnu sina didalam kitabnya Al-Siyasah, mengatakan apabila anak telah mampu mengucapkan sesuatu atau meniru ucapan orang lain, dan dia sadar serta paham terhadap apa yang dia ucapkan maka mulailah dia diajari membaca Alquran dan pengetahuan tentang agama
Membangun keluarga yang mencintai Alquran adalah cita-cita mulia, sebab Alquran adalah firman Allah yang menjadi pedoman hidup manusia. Oleh karena itu penting bagi orang tua untuk berkomitmen menjadikan putra-putri mereka akrab dengan Alquran sejak dini, apalagi jika ingin menjadikan anak sebagai penghafal Alquran. dan ini dimulai dari orang tua karena orang tua adalah pendidik dalam keluarga. Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka. dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Oleh karena itu, bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga
Kehidupan keluarga merupakan cermin bagi anak karena anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya di keluarga, mereka akan memperhatikan Ibu dan Bapaknya serta sedikit banyaknya pada saudara-saudara sekandungnya atau wali-wali mereka. Mereka semua akan dipandangnya sebagai orang-orang yang berperan dalam kehidupan keluarga, segala kejadian sehari-hari dari apa yang dipergunakan serta apa yang dilakukan oleh mereka, akan ditiru dan dicoba oleh anak tersebut.
Orang tua yang telah memahami arti penting dalam pengaruh yang sangat besar dalam mempelajari Alquran, tidak hanya puas sampai anak mampu membacanya saja. Justru pengaruh besar yang akan membentuk dan menjiwai anak akan didapat ketika dia sudah mampu memahami kandungan isi Alquran. Maka bagi orang tua diupayakan agar setiap mengajarkan anak membaca Alquran, secara bertahap diikuti pula dengan penjelasan ayat demi ayat yang tengah dibacanya. Walaupun saat dijelaskan arti dari ayat-ayat tersebut, anak belum dapat memahami dengan akalnya dikarenakan usianya belum memadai untuk bisa mengerti secara keseluruhan, namun kehebatan anak akan terlihat ketika dia mampu menyimpan berbagai memori penjelasan dalam otaknya
Usaha untuk menjadikan anak dapat menghafal Alquran merupakan cita-cita yang baik dan tinggi nilainya. Akan tetapi mendidik anak supaya hafal Alquran perlu ilmu dan cara supaya anak-anak tidak terpaksa dan tumbuh cinta pada dirinya untuk menghafal Alquran. Setiap orang yang ingin menghafal Alquran harus mempunyai persiapan yang matang agar proses hafalan dapat berjalan dengan baik dan benar. Selain itu, persiapan ini merupakan syarat yang harus dipenuhi supaya hafalan yang dilakukan bisa memperoleh hasil yang maksimal dan memuaskan. Beberapa persiapan atau syarat-syarat yang harus dilakukan antara lain ialah sebagai berikut:
1)      Niat yang Ikhlas
2)      Meminta Izin kepada Orang tua
3)      Mempunyai Tekad yang Besar dan Kuat
4)      Istiqamah
5)      Harus Berguru kepada yang Ahli
6)      Mempunyai Akhlak Terpuji
7)      Berdoa agar Sukses Menghafal Alquran
Setiap orang tua tentu menyadari bahwa anak adalah pelestari pahala. Jika anak tumbuh dewasa menjadi generasi yang saleh, maka anak dapat mengalirkan pahala walaupun orang tuanya telah meninggal dunia. Berarti jika anak tidak menjadi generasi yang saleh, maka siksaan akan mengalir pula walaupun orang tuanya telah meninggal dunia. Maka betapa sengsara para orang tua yang meninggalkan anak-anak tidak saleh. Dengan demikian apabila orang tua muslim benar-benar menyadari hakikat anak yang dapat melestarikan pahala dan juga melestarikan siksa, niscaya akan bangkitlah semangat untuk lebih waspada terhadap pendidikan anak-anak. Jangan sampai anak yang ditinggalkan sebagai generasi penerus itu menjadi generasi lemah iman, akibatnya akan memberikan siksaan bagi orang tuanya
Sesungguhnya, bisa menghafal Alquran merupakan sebuah rahmat dan hidayah dari Allah swt. dan, hal tersebut hanya bisa didapat oleh orang-orang yang mempunyai hati yang bersih. Oleh karena itu, seorang penghafal Alquran haruslah menjaga hati dan seluruh panca inderanya dari hal-hal yang dilarang oleh Allah swt. Hal ini dinyatakan dalam Alquran, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Ankabut: 49 sebagai berikut:
ö@t/ uqèd 7M»tƒ#uä ×M»oYÉit/ Îû Írßß¹ šúïÏ%©!$# (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# 4 $tBur ßysøgs !$uZÏF»tƒ$t«Î/ žwÎ) šcqßJÎ=»©à9$# ÇÍÒÈ  
Artinya: “Sebenarnya, Alquran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim”
Ada beberapa keutamaan dan keistimewaan penghafal Alquran yaitu:
1)      Alquran menjadi hujjah atau pembela bagi pembacanya serta sebagai pelindung dari siksaan api neraka.
2)      Para pembaca Alquran, khususnya para penghafal Alquran yang kualitas dan kuantitas bacaannya lebih bagus akan bersama malaikat yang selalu melindunginya dan mengajak pada kebaikan.
3)      Para penghafal Alquran akan mendapatkan fasilitas khusus dari Allah swt, yaitu berupa terkabulnya segala harapan, serta keinginan tanpa harus memohon dan berdoa.
4)      Para penghafal Alquran berpotensi untuk mendapatkan pahala yang banyak karena sering membaca (takrir) dan mengkaji Alquran. Dalam sebuah hadits,
5)      Para penghafal Alquran diprioritaskan untuk menjadi imam dalam sholat.
6)      Para penghafal Alquran menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari dan mengajarkan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Hal ini menjadikan hidupnya barakah
Kewajiban Ayah dan ibu untuk mendidik anak-anaknya adalah sangat penting karena posisi keduanya sangat menentukan bagi kehidupan anak-anaknya, baik dari segi pembawaan maupun dari segi lingkungan. Maka dari itu menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran dimulai dari keluarga yaitu orang tua yang mendidik dan mengasuhnya
Kunci-kunci pembelajaran Alquran pada anak :
1)      Membaca adalah kunci pertama dasar pembelajaran Alquran pada anak.
2)      Mencari dan menemukan kegiatan sesuatu yang terdapat dalam ayat-ayat atau keseluruhan Alquran sungguh mengasyikkan bagi anak.
3)      Menebak dan menerka kegiatan ini termasuk menyenangkan dan disukai anak-anak karena bersifat kreatif dan dinamis.
4)      Tanya jawab kegiatan ini termasuk yang paling mudah dilakukan dan dapat menjadi dialog pembuka.
5)      Menjelaskan merupakan kegiatan hal yang tidak mungkin dihindarkan.
6)      Mengamati merupakan kegiatan yang dianjurkan bagi anak dalam memahami Alquran.
7)      Menginderai adalah mengamati hikmah dibalik penciptaan ayat-ayat Allah.
8)      Menghitung salah satu kegiatan untuk mengakrabkan anak pada Alquran. Banyak ayat-ayat Alquran menjelaskan bilangan-bilangan, mulai dari satu, dua, tiga, empat, bahkan lima puluh ribu. Bilangan yang menunjukkan jumlah ayat atau nomor surat dalam Alquran dapat dijadikan bahan berkomunikasi dalam isi kandungan Alquran.
9)      Berpikir dan merasakan merupakan kegiatan dasar dari semua kreativitas ibadah yang dilakukan
Berikut ini beberapa contoh para ulama yang telah menghafal Alquran sejak usia kecil, agar para orang tua sekarang ini mampu mengambil hikmah dan pelajaran agar anak-anak mereka kelak memiliki semangat yang tinggi untuk bisa mengikuti jejak ulama besar terdahulu :
1)      Imam Syafi’i mengatakan, “Aku telah mengahafal Alquran sejak usiaku tujuh tahun dan hafal kitab hadist Al-Muwaththa’ (yang ditulis oleh Imam Malik), ketika aku berusia sepuluh tahun.
2)      Sahl bin ‘Abdullah At-Tustari mengatakan, “Aku membaca kitab-kitab kemudian belajar Alquran, dan menghafalnya ketika usia- ku sepuluh tahun.
3)      Ibnu Sina telah menghafal dan menekuni Alquran pada usia sepuluh tahun.
4)      Ibrahim bin Sa’id Al-Jauhari mengatakan, “Aku melihat seorang anak berusia empat tahun yang dibawa ke majelis Al-Ma’mun, ia mampu mengahfal Alquran secara keseluruhan dan mampu mengutarakan pandangan, padahal saat itu ia selalu menangis apabila merasakan lapar.
5)      Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-Asbahani berkata, “Aku telah menghafal Alquran pada usiaku lima tahun
Waktu yang tepat untuk mengajarkan Alquran: berkata Abu ‘Asim : “Aku pergi kerumah Ibnu Juraij dengan membawa anakku yang saat itu masih berusia tiga tahun agar dia dapat belajar Alquran dan hadist kepadanya. Aku mengatakan, “Tidak ada masalah apabila seorang anak diajarkan Alquran dan hadist pada usia tiga tahun atau lebih

[1]Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 3-4
[2]Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, hlm. 68-69
[3]Ibid., hlm. 69
[4]Ibid., hlm. 73
[5]Syaiful Bahri Djamarah,  Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga, hlm. 14-15
[6]Onong Uchjana Effendy, Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 11-16
[7]H. A. W. Widjaja, Komunikasi: komunikasi dan hubungan Masyarakat (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 12-20
[8]Hafied Changara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo, 1998), hlm. 29
[9]Ibid., hlm. 29-30                         
[10]Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga, hlm. 14-15
[11]Onong Uchjana Effendy, Komunikasi Teori dan Praktek, hlm. 7
[12]Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga, hlm. 3
[13] Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, hlm. 132
[14]Ibid., hlm. 133
[15]Ibid., hlm. 144
[16]Ibid., hlm. 145
[17]Ibid., hlm. 147
[18]Ibid., hlm. 149
[19]Ibid., hlm. 152
[20]Ibid., hlm. 154
[21]Ibid., hlm. 156-157
[22]Ibid., hlm. 162
[23]Ibid., hlm. 164-165
[24]H. A. W. Widjaja, Komunikasi: Komunikasi dan hubungan Masyarakat,  hlm. 22-23
                               
[25]Syaiful Bahri Djamarah,  Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga, hlm. 38
[26]Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga, hlm, 43
[27]Ibid., hlm. 43-44
[28]Ibid., hlm. 45
[29]Ibid., hlm. 46    
[30]Sayid Sabiq, Islam diPandang dari Segi Rohani-moral-sosial, (Jakarta : PT. Bhinneka Cipta, 1994), hlm. 247-248
[31]Syaiful Bahri Djamarah,  Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga, hlm. 75
[32] M. Ashim Yahya, 5 Jam Lancar Membaca & Menulis Alquran, (Jakarta: QultumMedia, 2008), hlm. iv
[33] M. Nur Abdul Hafizh, Mendidik Anak Bersama Rasulullah. hlm. 139
[34]Syaiful Bahri Djamarah,  Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga, hlm. 85
[35]G. Kartasapoetra, L.J.B. Kreimers, Sosiologi Umum, (Jakarta: PT. Bina Aksara, 1987) hlm. 65
[36]M. Nur Abdul Hafizh, Mendidik Anak bersama Rasuullah, hlm. 142
                                                   
[37]Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Alquran, hlm. 27
[38]Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dala Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2011), hlm. 10
[39]Departemen Agama RI, Alqur`an dan Terjemahnya, hlm. 403
[40]Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Alquran, hlm. 143
[41]Abdul Qadir Djaelani, Keluarga Sakinah, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1995), hlm. 212
[42]Nunu A. Hamijaya & Nunung K. Rukmana, 70 Cara Mudah Bergembira Bersama Alquran, hlm. 44-45
[43]M. Nur Abdul Hafizh,  Mendidik Anak bersama Rasuullah, hlm. 145
[44]Ibid., hlm.146



No comments:

Post a Comment