POLA KOMUNIKASI ORANG
TUA DALAM MENUMBUHKAN
KECINTAAN ANAK TERHADAP
ALQURAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Menciptakan
generasi yang baik untuk melanjutkan tugas manusia di permukaan bumi tentu
menjadi tanggung jawab bersama. Dalam ajaran Islam, menjaga dan menciptakan
generasi tersebut merupakan beban dan tanggung jawab yang harus dimulai dari
lingkungan keluarga sebagai unit terkecil dari tatanan masyarakat dunia. Allah
swt dengan jelas mengingatkan hal ini dalam surat At-Tahrim ayat 6 yaitu:
Artinya: “Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
Ayat diatas
memberi tuntunan kepada kaum beriman bahwa: Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah diri kamu antara lain dengan meneladani Nabi Muhammad Saw dan
pelihara juga keluarga kamu yakni Istri, anak-anak dan seluruh yang berada di
bawah tanggung jawab kamu dengan membimbing dan mendidik mereka agar kamu semua
terhindar dari api neraka dan yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia yang
kafir dan juga batu-batu antara lain yang dijadikan berhala-berhala. Diatasnya
yakni menangani neraka itu dan bertugas menyiksa penghuni-penghuni adalah
malaikat-malaikat yang kasar-kasar hati dan perlakuannya, yang keras-keras
perlakuannya dalam melaksanakan tugas penyiksaan, yang tidak mendurhakai Allah
menyangkut apa yang dia perintahkan kepada mereka sehingga siksa yang mereka
jatuhkan- kendati mereka kasar –tidak kurang dan tidak juga berlebih dari apa
yang diperintahkan Allah, yakni sesuai dengan mudah apa yang diperintahkan
Allah kepada mereka.
Penjelasan di
atas menunjukkan pengertian bahwa manusia harus bisa menjaga diri sendiri dan
keluarga dari panasnya api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.
Dengan cara membimbing dan mendidik keluarga terutama kepada kedua orang tua
sebagai panutan untuk anak-anak dalam keluarga agar dapat membimbing dan
mendidik anak-anak menanamkan kepada mereka akhlak dan keimanan untuk menjadi
anak yang dewasa, untuk selalu menjaga diri diri sendiri dan keluarga dari
panasnya api neraka yaitu dengan saling mengingatkan dalam kebaikan.
1
|
Dari uraian
diatas jelaslah bahwa keluarga adalah sebuah institusi pendidikan yang utama
dan bersifat kodrati. Sebagai komunitas masyarakat terkecil, keluarga memiliki
arti penting dan strategis dalam pembangunan komunitas masyarakat yang lebih
luas. Oleh karena itu, kehidupan keluarga yang harmonis perlu dibangun diatas
dasar sistem interaksi yang kondusif sehingga pendidikan dapat berlangsung
dengan baik.
Alquran adalah
sumber utama ajaran Islam dan pedoman hidup bagi setiap muslim. Alquran bukan
sekedar memuat petunjuk tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga
mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (hablum
min Allah wa hablum minan-nas), serta manusia dengan alam sekitarnya. Untuk
memahami ajaran Islam secara sempurna (kaffah),
diperlukan pemahaman terhadap kandungan Alquran dan mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari secara sungguh-sungguh dan konsisten.
Kitab suci yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, antara lain dinamai Al-Kitab dan Alquran
(bacaan yang sempurna), walaupun penerima dan masyarakat pertama yang
ditemuinya tidak mengenal baca tulis. Ini semua, dimaksudkan agar mereka dan
generasi berikutnya membacanya. Fungsi utama Al-Kitab adalah memberikan
petunjuk. Hal ini tidak dapat terlaksana tanpa membaca dan memahaminya.Mengajarkan Alquran kepada anak adalah hal yang paling pokok dalam Islam. Sebagaimana
firman Allah dalam Alquran surah Al-Ankabut ayat 45:
Artinya: “Bacalah apa yang Telah diwahyukan
kepadamu, yaitu Al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat
itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan sesungguhnya
mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat
yang lain) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Bagi setiap muslim
Alquran merupakan kitab suci yang sangat diagungkan karena di dalamnya terdapat
nilai-nilai yang penting untuk dijadikan suri teladan maupun sebagai pedoman
terhadap segala aspek kehidupan. Sehingga, bagi mereka (orang-orang Islam),
apabila ingin mengharap kehidupan yang sejahtera, damai, dan bahagia, maka
semestinya berperilaku sesuai dengan semua hal yang tertera dalam Alquran. Dan
Alquran menjadi sarana paling utama untuk merintis, memulai, dan menjalani
kehidupan dengan sebaik-baiknya. Setiap persoalan apa pun yang datang silih
berganti dalam kehidupan, tentu muaranya akan bertemu pada satu titik, yaitu Alquran.
Dalam keluarga
anak memiliki dunia tersendiri yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh
orang tua. Pada usia dini anak yang senang bermain diajak bergembira menggali
kekayaan Alquran melalui berbagai jenis permainan yang mengasyikkan. Rasa cinta
pada Alquran ditumbuh-suburkan dengan mengoptimalkan potensi fitriyah yang anak
miliki. Sehubungan dengan itu orang tua dituntut untuk mendalami tugas-tugas
perkembangan anak, agar permainan yang diciptakan bersama anak dalam bergembira
bersama Alquran, mencapai sasaran yang diharapkan berbagai pihak.
Pada masa-masa
dini usia seorang anak, fungsi indera, tangan dan kaki demikian kerap
difungsikan dalam bentuk aktivitas bermain. Beberapa kesadaran potensial,
seperti mendengar, berpikir, berbicara, berhitung, dan merasakan berbagai
pengalaman hidup diri dan lingkungan terdekatnya dapat menjadi sarana bagi
proses pembelajaran Alquran. Saat pertama bayi hingga usia menyusui, menyimak
lantunan ayat-ayat Alquran adalah dasar pertama bagi perkembangan pemahaman
anak terhadap pesan dan nilai ajaran Alquran.
Berbicara
tentang Alquran merupakan salah satu faktor terpenting dalam pemahaman anak
terhadap pesan dan nilai Alquran. Di samping itu, kemampuan membaca Alquran
tetap menjadi landasan utama bagi anak. Berbagai benda yang dekat dengan
dirinya adalah sarana yang bagus bagi pertemuannya dengan Alquran. Bagi orang
tua, pendidik dan mentor yang secara sadar berupaya untuk mendesains suatu
lingkungan terdekat anak yang senantiasa mengingatkannya akan Alquran merupakan
upaya yang sangat mulia.
Terkait dengan
menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran dilingkungan keluarga, Faktor
komunikasi keluarga dinilai sangat berpengaruh dan menentukan proses
pembentukan prilaku anak. Hal ini disebabkan oleh sulitnya mengabaikan peran
keluarga dalam pendidikan anak. Anak-anak sejak bayi hingga usia sekolah
memiliki lingkungan tunggal, yaitu keluarga. Oleh karenanya Gilbert Hinghest
menyatakan bahwa kebiasaan yang dimiliki anak-anak sebagian besar terbentuk
oleh pendidikan keluarga. Sejak dari bangun tidur hingga ke saat akan tidur
kembali, anak-anak menerima pengaruh dan pendidikan dari lingkungan keluargaSementara
itu, komunikasi sebagaimana ditekankan Bernard Berelson dan Garry A. Steiner,
adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya,
dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, vigur, grafik, dan
sebagainya.
Setiap
orang tua memiliki tanggung jawab mengajarkan anak-anaknya Alquran sejak kecil.
Karena pengajaran Alquran memiliki pengaruh yang cukup besar dalam menanamkan
aqidah yang kuat pada jiwa anak. Pada proses pengajaran Alquran, sang anak akan
merasakan pengaruh besar dimana proses penanaman ruh Alquran didalam jiwanya.
Secara tidak disadarinya, pola berpikir anak dan indera lainnya terarahkan pada pola yang
terdapat dalam Alquran. Secara perlahan pula anak
akan
terikat dengan segala apa yang tersirat dalam Alquran. Maka apabila orang tua
selaku penanggung jawab langsung terhadap pendidikan anak, dapat memahami
pengaruh besar yang ada dalam pengajaran Alquran, tentunya tidak akan rela
melewatkan kesempatan berharga ini dengan mengabaikan Alquran.
Penanaman
Alquran bukan dimasyarakat akan tetapi dalam lingkungan keluarga agar mereka
mau mempelajari dan memahami Alquran.Orang tua sangat berperan penting dalam
keluarga untuk memberikan nasehat-nasehat dan arahan yang baik kepada anak,
semua arahan dan nasehat ini tidak terlepas dari komunikasi orang tua dalam
keluarga.
Ada
satu keluarga yang sangat berbeda dengan keluarga-keluarga lain yang terdapat
di lingkungan keluarga itu sendiri,
keluarga bapak Sahrizal ini tidak terpengaruh dengan kerusakan keluarga yang
lain seperti mabuk-mabukan, narkoba, dan yang lainnya.
Keluarga bapak Anuuu
mempunyai empat anak dan semua anak bapak Anuuu ini hafiz dan hafizah, selalu
menang dalam setiap pertandingan bahkan ada yang sampai ketingkat provinsi.
Padahal orang tuanya hanya orang biasa, pendidikan ibunya tidak tamat SD dan
Ayahnya hanya tamat SD. dan orang tuanya termasuk orang yang tidak mampu dalam
biaya ekonomi, tetapi mengapa semua anak keluarga bapak Sahrizal bisa
mendapatkan prestasi yang sangat baik?
Keunikan yang
terdapat dalam keluarga ini tidak terlepas dari komunikasi yang diberikan orang
tua kepada anak. Komunikasi yang dilakukan orang tua ini karena pola yang dilakukan
dalam keluarga. Maka dari itu sampai sekarang inipenulis merasa tertarik untuk
melakukan sebuah penelitian yang lebih mendalam tentang pola komunikasi orang
tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran, dengan memilih keluarga
Bapak .......... sebagai subjek penelitian.
B. Rumusan
Masalah
Masalah yang
kemudian ingin dikaji pada penelitian ini dirumuskan ke dalam beberapa
pertanyaan, yaitu:
1. Bagaimana
bentuk-bentuk pola komunikasi orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak
terhadap Alquran di keluarga bapak ...........
2. Bagaimana
proses penerapan bentuk-bentukpola komunikasi orang tua dalam menumbuhkan
kecintaan anak terhadap Alquran di keluarga bapak ..........
3. Bagaimana
hasil penerapan bentuk-bentukkomunikasi orang tua dalam menumbuhkan kecintaan
anak terhadap Alquran di keluarga bapak ..........
C. Batasan
Istilah
Untuk
menghindari kesalah pahaman dalam penafsiran dari judul penelitian ini, maka
perlu diadakan batasan istilah secara jelas, adalah sebagai berikut:
1.
Pola komunikasi terdiri
dari pola, yaitu gambar (yang bisa dipakai untuk contoh batik). Sedangkan
komunikasi, yaitu suatu proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan.
Menurut Deddy Mulyana pola komunikasi merupakan model dari proses komunikasi.Sehingga
dengan adanya berbagai macam model komunikasi dan bagian dari proses komunikasi
akan dapat ditemukan pola yang cocok dan mudah digunakan dalam berkomunikasi. Maka
pola komunikasi yang penulis maksud adalah bentuk atau model yang digunakan
dalam berkomunikasi guna memudahkan komunikator dalam penyampaian pesan kepada
komunikan. Komunikasi disini merupakan komunikasi yang dilakukan orangtua
kepada anaknya yang selalu atau sering saja terjadi dimana saja, kapan saja
(sesuatu yang sudah tetap).
2. Orang tua adalah
pendidik dalam keluarga. Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi
anak-anak mereka. Dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Oleh
karena itu, bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
Orang tua yang penulis maksud disini ialah Ayah dan Ibu yang ada di dalam
keluarga Bapak ...........
3. Menumbuhkan
kecintaan anak terhadap Alquran yang penulis maksud disini ialah memberikan
semangat anak untuk belajar dan menghafal Alquran di keluarga Bapak ...........
D. Tujuan
Penelitian
Adapun yang
menjadi tujuan dari penelitian ini ialah:
1.
Untuk mengetahui bentuk-bentuk
polakomunikasi orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran di
keluarga bapak ...........
2. Untuk
mengetahui proses penerapan bentuk-bentuk pola komunikasi orang tua dalam
menumbuhkan kecintaan anak terhadap alquran di keluarga bapak ...........
3. Untuk
mengetahui hasil penerapan bentuk-bentukkomunikasi yang diterapkan orang tua
dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran.
E.
Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan
penelitian diharapkan untuk:
Secara
teoritis, penelitian ini berguna sebagai bahan pengembangan wawasan dan ilmu
pengetahuan dalam bidang komunikasi Islam.
Secara
praktis diharapkan berguna:
1.
Kepada keluarga bapak ..........
sebagai bahan masukan untuk terus mempertahankan dan meningkatkan apa yang
sudah di terapkan kepada keluarga dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap
Alquran.
2.
Sebagai bahan masukan bagi
para orang tua dan calon orang tua, dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap
Alquran.
3.
Kepada peneliti lain
dalam mengembangkan penelitian.
F.
Sistematika
Pembahasan
Sistematika
pembahasan dalam penelitian ini dibagi kepada lima bab dan setiap bab terdiri dari beberapa pasal
yaitu:
Bab
pertama pendahuluan, latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan istilah,
tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika pembahasan.
Pada
bab kedua berisi landasan teoritis, pengertian ruang lingkup komunikasi, pola
komunikasi dalam keluarga, dan menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran.
Pada
bab ketiga didalamnya berisi metodologi penelitian, yaitu jenis penelitian, informan
penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, instrumen pengumpulan data,
dan teknik analisis data.
Pada
bab keempat yang merupakan hasil penelitian dan pembahasan berisi bentuk-bentuk
pola komunikasi orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran di
keluarga bapak .........., proses penerapan bentuk-bentuk pola komunikasi orang
tua dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran di keluarga bapak ..........,
dan hasil penerapan bentuk-bentuk komunikasi orang tua dalam menumbuhkan
kecintaan anak terhadap Alquran di keluarga bapak ...........
Pada
bab kelima sebagai penutup, dikemukakan kesimpulan yang merupakan jawaban
terhadap masalah penelitian yang telah dikemukakan, serta saran-saran terhadap
berbagai hal yang perlu ditindak lanjuti dari hasil penelitian.
BAB
II
LANDASAN
TEORITIS
A.
Pengertian
dan Ruang Lingkup Komunikasi
Secara
etimologis atau menurut asal katanya, istilah komunikasi berasal dari bahasa
Latin, yaitu communicatio, yang akar
katanya adalah communis, tetapi bukan
partai komunis dalam kegiatan politik. Arti communis
disini adalah sama, dalam arti
kata sama makna, yaitu sama makna
mengenai suatu hal. Secara terminologis komunikasi berarti proses penyampaian
suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Dari pengertian itu jelas
bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, di mana seseorang menyatakan
sesuatu kepada orang lain. Jadi yang terlibat dalam komunikasi itu adalah
manusia
Dedi
Mulyana menyebutkan beberapa defenisi
komunikasi sebagai kegiatan satu arah yang dirumuskan beberapa ahli, sebagai
berikut:
1. Bernard
Berelson dan Garry A. Steiner: Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan,
emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol,
kata-kata, gambar, vigur, grafik, dan sebagainya. Tindakan transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.
2. Theodore
M.Newcomb: Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi terdiri dari
rangsangan yang diskriminatif, dari
sumber kepada penerima.
3. Carl
Hovland: Komunikasi adalah proses yang
memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya
lambang-lambang verbal) untuk mengubah prilaku orang lain (komunikate).
4. Gerald
R. Miller: Komunikasi terjadi ketika suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada
penerima dengan niat yang disadari untuk menerima prilaku menerima.
5. Everett
M.Roger: komunikasi adalah suatu proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber
kepada satu penerima atau dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
6. Raymond
R. Ross: Komunikasi (intensional) adalah suatu proses menyortir, memilih, dan
mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar
membangkitkan makna atau respon dari fikirannya yang serupa dengan yang
dimaksudkan komunikator.
7. Harold
Laswell: cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikut: atau siapa mengatakan apa dengan saluran apa
kepada siapa dengan pengaruh bagaimana?
Berdasarkan
definisi Laswell dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling bergantung
satu sama lain yaitu:
1.
Sumber (source) yang juga disebut pengirim (sender), penyandi (encorder), komunikator (comunicator),
pembicara (speaker), atau originator.
2.
Pesan, yaitu apa yang
dikomunikasikan sumber kepada penerima.
3.
Saluran atau media, yaitu
alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada
penerima.
4.
Penerima (reciver), sering juga disebuttujuan (destination),
komunikate (communicate), penyandi
balik (decorder), atau khalayak (audience)
Selanjutnya,
Dedi Mulyana menyebutkan pula komunikasi sebagai proses interaksi yang
menyetarakan komunikasi dengan suatu proses sebab akibat atau aksi-reaksi yang
arahnya bergantian. Komunikasi sebagai interaksi dipandang sedikit lebih
dinamis daripada komunikasi sebagai tindakan satu arah. Unsur yang dapat
ditambahkan dalam konsep ini adalah umpan balik (feed back), yaitu apa yang disampaikan penerima pesan kepada sumber
pesan, yang sekaligus digunakan sumber pesan sebagai petunujuk mengeni
efektifitas pesan yang disampaikan sebelumnya.
Berdasarkan
pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses
penyampaian pesan (ide, gagasan) dari pihak kepada pihak lain agar terjadi
saling mempengaruhi diantara keduanya.
Ketercapaian
tujuan komunikasi merupakan keberhasilan komunikasi. Keberhasilan itu
tergantung dari berbagai faktor sebagai berikut.
1.
Komunikator
Komunikator
merupakan sumber dan pengiriman pesan. Kepercayaan penerima pesan pada komunikator
serta keterampilan komunikator serta keterampilan komunikator dalam melakukan
komunikasi menentukan keberhasilan komunikasi.
2.
Pesan yang disampaikan
Keberhasilan
komunikasi tergantung dari:
a. Daya
tarik pesan
b. Kesesuaian
pesan dengan kebutuhan penerima pesan
c. Lingkup
pengalaman yang sama antara pengirim dan penerima pesan tentang pesan tersebut
d. Peran
pesan dalam memenuhi kebutuhan penerima pesan.
3.
Komunikan
Keberhasilan
komunikasi tergantung dari:
a. Kemampuan
komunikan menafsirkan pesan
b. Komunikan
sadar bahwa pesan yang diterima memenuhi kebutuhannya
c. Perhatian
komunikan terhadap pesan yang diterima.
4. Konteks
Komunikasi
berlangsung dalam setting atau lingkungan tertentu. Lingkungan yang kondusif
(nyaman, menyenangkan, aman, menantang) sangat menunjang keberhasilan
komunikasi.
5.
Sistem penyampaian
Sistem
penyampaian pesan berkaitan dengan metode dan media. Metode dan media yang
sesuai dengan berbagai jenis indera penerima pesan yang kondisinya berbeda-beda
akan sangat menunjang keberhasilan komunikasi.
Onong
Ucjhana Effendi menyebutkan proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yakni
secara primer dan secara sekunder.
a. Proses
komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan
seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses
komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya
yang secara langsung mampu “menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan
komunikator kepada komunikan. Bahwa bahasayang paling banyak dipergunakan dalam
komunikasi adalah jelas karena hanya bahasalah yang mampu “menerjemahkan”
pikiran seseorang kepada orang lain. Apakah itu berbentuk idea, informasi atau
opini; baik mengenai hal yang kongkret maupun yang abstrak, melainkan juga pada
waktu yang lalu dan masa yang akan datang.
b. Proses
komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang
kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua
setelah memakai lambang media pertama. Seorang komunikator menggunakan media
kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya
berada ditempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak
H.
A. W. Widjaya mengatakan komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar
komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Komponen atau unsur tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Sumber
(source)
Sumber
adalah dasar yang digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber
dapat berupa orang, lembaga, buku dan sejenisnya.
2. Komunikator
Komunikator
dapat berupa individu yang sedang berbicara, menulis, kelompok orang,
organisasi komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi, film dan
sebagainya.
3. Pesan
Pesan
adalah keseluruhan daripada apa yang disampaikan oleh komunikator.
4. Saluran
Saluran
komunikasi selalu menyampaikan pesan yang dapat diterima melalui panca indera
atau menggunakan media.
5. Komunikan
Komunikan
atau penerima pesan dapat digolongkan dalam 3 jenis yakni personna, kelompok
dan massa.
6. Effect (hasil)
Effect
adalah hasil akhir dari suatu komunikasi, yakni sikap dan tingkah laku orang,
sesuai atau tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Jika sikap dan tingkah laku
orang lain itu sesuai, berarti komunikasi berhasil, demikian pula sebaliknya
Hafied
Changara menjelaskan demikian banyak klasifikasi yang menjadi bentuk-bentuk
komunikasi. Kelompok sarjana Amerika membagi komunikasi kedalam lima tipe,
yaitu komunikasi antar pribadi, (interpersonal
communication) komunikasi keompok kecil, (small group communication) komunikasi organisasi, (organization communication) komunikasi
massa, (massa communication) dan
komunikasi publik (publik communication)
Sementara
itu, Joseph A Devito membagi bentuk komunikasi atas empat macam, yaitu:
komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok kecil, komunikasi publik dan komunikasi
massa. Berbeda dengan Joseph dan klasifikasi sebelumnya, R. Wayne Pace membagi
komunikasi atas tiga tipe, yaitu: komunikasi dengan diri sendiri, komunikasi
antar pribadi dan komunikasi khalayak
Keberhasilan
komunikasi tergantung dari beberapa faktor sebagai berikut :
1. Komunikator
Komunikator
merupakan sumber dari pengirim pesan.
2. Pesan
yang disampaikan
Keberhasilan
komunikasi tergantung dari :
a. Daya
tarik pesan
b. Kesesuaian
pesan dengan kebutuhan penerima pesan
c. Lingkup
pengalaman yang sama antara pengirim dan penerima pesan tentang pesan tersebut,
serta peran pesan dalam memenuhi kebutuhan penerima pesan.
3. Komunikan
Keberhasilan
komunikasi tergantung dari :
a. Kemampuan
komunikan menafsirkan pesan
b. Komunikan
sadar bahwa pesan yang diterima memenuhi kebutuhannya.
c. Perhatian
komunikan terhadap pesan yang diterima.
4. Konteks
Komunikasi
berlangsung dalam setting atau
lingkungan tertentu. Lingkungan yang kondusif (nyaman, menyenangkan, aman dan
menantang) sangat menunjang keberhasilan komunikasi.
5. Sistem
penyampaian
Sistem
penyampaian pesan berkaitan dengan metode dan media. Metode dan media yang
sesuai dengan berbagai jenis indera penerima pesan yang kondisinya berbeda-beda
akan sangat menunjang keberhasilan komunikasi
Adapun Sifat dalam komunikasi
yaitu:
a.
Tatap muka (face-to-face)
b. Bermedia
(mediated)
c. Verbal
1. Lisan
(oral)
2. Tulisan/
cetak (written/printed)
d. Nonverbal
(non-verbal)
1. Kial/isyarat
badaniah (gestural)
B.
Pola
Komunikasi dalam Keluarga
Komunikasi
adalah suatu kegiatan yang pasti terjadi dalam kehidupan keluarga tanpa
komunikasi, sepilah kehidupan keluarga dari berbicara, berdialog, bertukar
pikiran dan sebagainya. Akibatnya kerawanan hubungan antara anggota kluarga pun
sukar untuk dihindari. Oleh karena itu, komunikasi antara suami dan istri,
komunikasi antara ayah, ibu dan anak, komunikasi antara ayah dan anak,
komunikasi antara ibu dan anak,komunikasi antara anak dan anak, perlu dibangun
secara harmonis dalam rangka membangun pendidikan yang baik dalam keluarga.
Berbicara mengenai pola komunikasi dalam lingkungan keluarga maka berbicara
mengenai model komunikasi.
Menurut
Sereno dan Mortensen, suatu model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai
apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Suatu model mempresentasikan
secara abstrak ciri-ciri penting yang menghilangkan rincian komunikasi yang
tidak perlu dalam dunia nyata. Sedangkan B Aubrey Fisher mengatakan, model
adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan,
unsur, sifat, atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model.
Model adalah gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan teori, atau
dengan kata lain teori yang disederhanakan.
Gardon Wiseman
dan larry Barker menyebutkan tiga fungsi pentingnya model komunikasi.
1) Melukiskan
proses komunikasi
2) Menunjukkan
hubungan visual
3) Membantu
dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi.
Beberapa
model komunikasi yang sangat umum dibicarakan dalam teori komunikasi adalah:
1. Model
S – R
Model
Stimulus – Respon (S-R) menunjukkan
komunikasi sebagai suatu proses aksi- reaksi yang sangat sederhana. Proses ini
dapat bersifat timbal balik dan memiliki banyak efek. Setiap efek dapat
mengubah tindakan komunikasi (Commucation)
berikutnya. Model S-R mengasumsi bahwa kata-kata verbal (lisan-tulisan),
isyarat-isyarat non-verbal, gambar-gambar, tindakan-tindakan tertentu akan
merangsang orang lain untuk memberikan respons dengan cara tertentu.
Model
ini menunjukkan komunikasi sebagai suatu proses “aksi- reaksi” yang sangat
sederhana. Pola ini dapat menghasilkan komunikasi yang efektif (positif), namun
pola ini dapat pula berlangsung negatif. Model S-R mengabaikan komunikasi
sebagai suatu proses khusus yang berkenaan dengan faktor manusia. Ringkasnya,
pada model ini komunikasi dianggap sebagai statis, yang menganggap manusia
selalu berprilaku karena kekuatan dari luar (stimulus).
2.
Model Ariestoteles
Model
Ariestoteles adalah model komunikasi yang paling klasik yang sering juga
disebut model retoris (rethorical model).
Pada model ini terjadi melalui tiga unsur yaitu: pembicara (speaker), pesan (message), dan pengantar (listener).
3.
Model Laswell
Seperti
dijelaskan sebelumnya, model komunikasi Laswell berangkat dari ungkapan who says what in wich channel to whom with
what effect. Model laswell menunjukkan tiga fungsi komunikasi yaitu:
a. Pengawasan
lingkungan yang mengingatkan anggota-anggota masyarakat akan bahaya dan peluang
dalam lingkungan.
b. Korelasi
berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan.
4.
Model Shannon dan
Weaver
Model Shanon dan
Weaver dikenal dengan istilah “model matematika”yang menyoroti problem
penyampaian pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran kepada seorang
penerima yang menyandi balik atau mencipta ulang pesan tersebut. Model shanon
dan weaver ini dapat dijelaskan pada gambar berikut ini:
5.
Model Schramm
Pada
model Scharmm, komunikasi paling tidak membutuhkan tiga unsur, yaitu: sumber (source), pesan (message), dan sasaran (destination).
Schramm membuat serangkaian model komunikasi dimulai dengan model komunikasi
manusia yang sangat sederhana, lalu model yang paling rumit, hingga model
komunikasi yang dianggap sebagai interaksi dua individu. Model yang
diperkenalkan Scharmm dapat dijelaskan pada gambar berikut
6. Model
Newcomb
Theodore
Newcomb memandang komunikasi dari perspektif dari perspektif psikologi sosial.
Dalam model ini, komunikasi adalah suatu cara yang lazim dan efektif yang
memungkinkan orang-orang mengorientasikan diri terhadap lingkungan mereka.
Model ini mengisyaratkan bahwa setiap sistem apapun mungkin ditandai oeh suatu
keseimbangan kekuatan-kekuatan setiap perubahan dalam bagian manapun dari
sistem tersebut akan menimbulkan suatu ketegangan terhadap keseimbangan, atau
simetri, karena ketidakseimbangan atau kekurangansimetri secara psikologis
tidak menyenangkan dan menimbulkan tekanan internal untuk memulihkan
keseimbangan.
7. Model
Westley dan MacLean
Dalam model ini terdapat lima unsur
komunikasi yaitu: objek orientasi, pesan, sumber, penerima, dan umpan balik.
Sumber (A) menyoroti suatu objek atau peristiwa tertentu dalam lingkungan (X)
dan menciptakan pesan mengenai hal itu (X’) yang ia kirim kepada penerima (B).
Pada gilirannya, penerima mengirimkan untuk balik (fBA) mengenai pesan kepada
sumber, penjelasan ini dapat dilihat pada gambar berikut:
Westley dan MacLean menambahkan suatu
unsur lain (C), yaitu “penjaga gerbang” (gatekeeper)
atau pemimpin pendapat (opinion leader)
yang menerima pesan X’ dari sumber media massa (A) atau menyoroti objek orientasi
(X3, X4) dalam lingkungannya. Dalam komunikasi massa, umpan balik dapat
mengalir dengan tiga arah: dari penerima ke penjaga gerbang, dari penerima ke
sumber media massa, dan dari pemimpin pendapat ke sumber media massa.
8. Model
Berlo
Berlo menggambarkan kebutuhan penyandi (encorder) dan penyandi-balik (decoder) dalam proses komunikasi.
Menurut Berlo, sumber dan penerima pesan dipengaruhi oleh faktor: keterampilan
komunikasi, sikap, pengetahuan, sistem sosial, dan budaya. Pesan dikembangkan
berdasarkan elemen struktur, isi, perlakuan, dan kode. Salurannya berhubungan
dengan panca indra: melihat, mendengarkan, menyentuh, membaui dan merasa
(mencicipi) model ini bersifat organisasional yang mendeskripsikan proses.
9. Model
Defleur
Model Defleur diakui sebagai perluasan
dari model-model yang dikemukakan para ahli, khususnya Shannon dan Weaver.
Yaitu dengan memasukkan perangkat media massa, perangkat umpan balik. Menurut
DeFleur komunikasi bukanlah pemindahan makna. Komunikasi terjadi lewat suatu
operasi seperangkat komponen dalam suatu sistem teoritis, yang konsekuensinya
adalah isomeorfisme (isomorphism) di
antara respon internal (makna) terhadap seperangkat simbol tertentu pada pihak
pengirim dan penerima. Isomorfisme makna merujuk pada upaya membuat makna
terkoordinasikan antara dan khalayak.
Sementara
itu H.A.W. Widjaja menyebutkan menyebutkan model-model penyebaran arus
komunikasi, sebagai berikut:
1. Model
Jarum Hipodermik
Model
komunikasi massa ini didasarkan atas anggapan bahwa media massa mampu
menimbulkan efek yang amat kuat. Artinya bahwa komunikan dapat dianggap
bersifat pasif, dengan demikian media massa dianggap sangat ampuh terhadap
komunikannya.
2. Model
Komunikasi Satu Tahap
Model
ini didasarkan atas anggapan bahwa media massa secara langsung sampai pada
komunikannya. Tidak menggunakan pemuka sebagai penerus pesan arti media massa
tersebut. Namun model ini juga mengakui bahwa media bukan merupakan alat yang
teramat kuat pengaruhnya dan efek bagi tiap komunikannya berbeda satu sama
lain.
3. Model
Komunikasi Dua Tahap
Model
ini beranggapan bahwa dalam penyampaian melalui media massa, tidak dapat
langsung kepada publiknya tetapi pemuka pendapat. Artinya dari media massa
sampai pada pemuka pendapat kemudian baru para pemuka ini meneruskannya kepada
komunikan yang dimaksud oleh media massa.
4. Model
Komunikasi Tahap Ganda
Model
ini beranggapan bahwa media massa tidak selalu langsung menuju/sampai pada
komunikannya yang dituju dan juga tidak selalu harus melalui pemuka pendapat.
Berdasarkan pemaparan tentang model
komunikasi di atas, maka pola atau model komunikasi yang bisa digunakan dalam
lingkungan keluarga, antara lain adalah :
1. Model
Stimulus- Respon (S-R)
Pola komunikasi yang biasanya terjadi
dalam keluarga adalah model stimulus –
respon. Pola ini menunjukkan komunikasi sebagai suatu proses ”aksi-reaksi” yang
sangat sederhana. Pola S-R mengasumsikan bahwa kata-kata verbal
(lisan-tulisan), isyarat –isyarat nonverbal, gambar-gambar, dan
tindakan-tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respons
dengan cara tertentu. Oleh karena itu, proses ini dianggap sebagai pertukaran
atau pemindahan informasi atau gagasan.
Dengan demikian pola komunikasi yang
berlangsung antara orang tua dan anak selalu saja terjadi didalam sebuah
keluarga. Dan peran orang tua sangat penting untuk memperhatikan seorang anak
di dalam sebuah keluarga.
Dengan demikian dari banyak model-model
yang ada maka model stimulus respon merupakan komunikasi yang sangat efektif
digunakan dalam lingkungan keluarga, karena model stimulus respon sangat baik
untuk digunakan dalam keluarga, dimana antara anggota keluarga mempunyai
hubungan yang sangat dekat dan komunikasi yang dilakukan dalam keluarga juga
secara terus menerus.
C.
Aneka
Komunikasi Dalam Keluarga
1.
Komunikasi Verbal
Komunikasi
verbal adalah suatu kegiatan komunikasi antara individu atau kelompok yang
mempergunakan bahasa sebagai alat perhubungan. Proses komunikasi dapat berlangsung dengan baik bila
komunikan dapat menafsirkan secara tepat pesan yang disampaikan oleh
komunikator melalui penggunaan bahasa dalam bentuk kata-kata atau kalimat.
Panjang pendeknya suatu kalimat, tepat tidaknya penggunaan kata-kata yang
merangkai kalimat, menjadi faktor penentu kelancaran komunikasi
Kegiatan
komunikasi verbal menempati frekuensi terbanyak dalam keluarga. Setiap hari
orang tua selalu ingin berbincang-bincang kepada anaknya. Canda dan tawa
menyertai dialog antara orang tua dan anak. Perintah, suruhan, larangan, dan
sebagainya merupakan alat pendidikan yang sering dipergunakan oleh orang tua
atau anak dalam komunikasi keluarga
2.
Komunikasi Nonverbal
Komunikasi yang
berlangsung dalam keluarga tidak hanya dalam bentuk verbal, tetapi juga dalam
bentuk nonverbal. Komunikasi nonverbal sering dipakai oleh orang tua dalam
menyampaikan suatu pesan kepada anak. Sering tanpa sepatah kata pun, orang tua
menggerakkan hati anak untuk melakukan sesuatu. Kebiasaan orang tua dalam
mengerjakan sesuatu dan karena anak sering melihatnya, anak pun ikut
mengerjakan apa yang pernah dilihat dan didengarnya dari orang tuanya
3.
Komunikasi Individual
Komunikasi
individual atau komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang sering terjadi
dalam keluarga. Komunikasi yang terjadi berlangsung dalam sebuah interaksi
antarpribadi; antara suami dan istri, antara ayah dan anak, antara ibu dan
anak, dan antara anak dan anak
D.
Menumbuhkan
Kecintaan Anak Terhadap Alquran.
Anak
adalah amanat yang diberikan Allah kepada orang tua. Anak diciptakan oleh tuhan dengan dibekali kekuatan pendorong
alamiah yang dapat diarahkan ke arah yang baik atau kearah yang buruk. Maka
kewajiban orang tualah memanfaatkan kekuatan alamiah itu dengan menyalurkannya
ke saluran yang baik, dengan mendidik anak sejak usia muda membiasakan diri
dengan kelakuan dan adat istiadat yang baik agar mereka bertumbuh dan
berkembang menjadi manusia yang berguna,
bagi dirinya dan pergaulan hidup sekelililngnya. Rasulullah SAW bersabda
“janganlah lepas anak-anakmu dan didik mereka yang baik”. Dalam hadist ini
terdapat petunjuk bagaimana orang tua harus selalu mendampingi anak-anaknya
agar bisa mengawasi gerak-gerik dan tingkah laku anak, sehingga jika terdapat
penyelewengan dari jalan yang baik, segera dapat diperhatikan dan dikembalikan
kejalan yang baik, maka dari itu ajarkanlah kepada anak untuk menanamkan rasa
cinta kepada Alquran
Alquran
adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Rasulullah saw. Melalui Malaikat
Jibril As. Kitab suci ini disampaikan kepada Nabi secara berangsur-angsur. Alquran
juga merupakan kemuliaan paling tinggi, yang memberikan petunjuk kepada seluruh
umat manusia agar berada dijalan yang lurus dan keluar dari kegelapan menuju
cahaya terang, dan tidak ada keburukan sedikitpun di dalamnya. Oleh karena itu
sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.
Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang mempelajari
Alquran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Tidak
ada waktu lagi bagi orang tua dalam menanamkan kecintaan anak pada Alquran pada
tidak pada saat usia anak masih kecil. Pada saat kertas putih yang ada dalam
jiwanya masih kosong belum tertulis apapun oleh pengaruh lingkungannya kelak.
Pada Alquran ini yang merupakan sarana paling ideal dalam membentuk anak
menjadi sosok manusia sempurna yang hidupnya selalu berlandaskan Alquran. Ibnu
sina didalam kitabnya Al-Siyasah, mengatakan
apabila anak telah mampu mengucapkan sesuatu atau meniru ucapan orang lain, dan
dia sadar serta paham terhadap apa yang dia ucapkan maka mulailah dia diajari
membaca Alquran dan pengetahuan tentang agama
Membangun
keluarga yang mencintai Alquran adalah cita-cita mulia, sebab Alquran adalah
firman Allah yang menjadi pedoman hidup manusia. Oleh karena itu penting bagi
orang tua untuk berkomitmen menjadikan putra-putri mereka akrab dengan Alquran
sejak dini, apalagi jika ingin menjadikan anak sebagai penghafal Alquran. dan
ini dimulai dari orang tua karena orang tua adalah
pendidik dalam keluarga. Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi
anak-anak mereka. dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Oleh
karena itu, bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga
Kehidupan
keluarga merupakan cermin bagi anak karena anak dalam pertumbuhan dan
perkembangannya di keluarga, mereka akan memperhatikan Ibu dan Bapaknya serta
sedikit banyaknya pada saudara-saudara sekandungnya atau wali-wali mereka.
Mereka semua akan dipandangnya sebagai orang-orang yang berperan dalam
kehidupan keluarga, segala kejadian sehari-hari dari apa yang dipergunakan
serta apa yang dilakukan oleh mereka, akan ditiru dan dicoba oleh anak tersebut.
Orang
tua yang telah memahami arti penting dalam pengaruh yang sangat besar dalam
mempelajari Alquran, tidak hanya puas sampai anak mampu membacanya saja. Justru
pengaruh besar yang akan membentuk dan menjiwai anak akan didapat ketika dia
sudah mampu memahami kandungan isi Alquran. Maka bagi orang tua diupayakan agar
setiap mengajarkan anak membaca Alquran, secara bertahap diikuti pula dengan
penjelasan ayat demi ayat yang tengah dibacanya. Walaupun saat dijelaskan arti
dari ayat-ayat tersebut, anak belum dapat memahami dengan akalnya dikarenakan
usianya belum memadai untuk bisa mengerti secara keseluruhan, namun kehebatan
anak akan terlihat ketika dia mampu menyimpan berbagai memori penjelasan dalam
otaknya
Usaha
untuk menjadikan anak dapat menghafal Alquran merupakan cita-cita yang baik dan
tinggi nilainya. Akan tetapi mendidik anak supaya hafal Alquran perlu ilmu dan
cara supaya anak-anak tidak terpaksa dan tumbuh cinta pada dirinya untuk menghafal
Alquran. Setiap orang yang ingin menghafal Alquran harus mempunyai persiapan
yang matang agar proses hafalan dapat berjalan dengan baik dan benar. Selain
itu, persiapan ini merupakan syarat yang harus dipenuhi supaya hafalan yang
dilakukan bisa memperoleh hasil yang maksimal dan memuaskan. Beberapa persiapan
atau syarat-syarat yang harus dilakukan antara lain ialah sebagai berikut:
1) Niat
yang Ikhlas
2) Meminta
Izin kepada Orang tua
3) Mempunyai
Tekad yang Besar dan Kuat
4) Istiqamah
5) Harus
Berguru kepada yang Ahli
6) Mempunyai
Akhlak Terpuji
Setiap
orang tua tentu menyadari bahwa anak adalah pelestari pahala. Jika anak tumbuh
dewasa menjadi generasi yang saleh, maka anak dapat mengalirkan pahala walaupun
orang tuanya telah meninggal dunia. Berarti jika anak tidak menjadi generasi
yang saleh, maka siksaan akan mengalir pula walaupun orang tuanya telah
meninggal dunia. Maka betapa sengsara para orang tua yang meninggalkan
anak-anak tidak saleh. Dengan demikian apabila orang tua muslim benar-benar
menyadari hakikat anak yang dapat melestarikan pahala dan juga melestarikan
siksa, niscaya akan bangkitlah semangat untuk lebih waspada terhadap pendidikan
anak-anak. Jangan sampai anak yang ditinggalkan sebagai generasi penerus itu
menjadi generasi lemah iman, akibatnya akan memberikan siksaan bagi orang
tuanya
Sesungguhnya,
bisa menghafal Alquran merupakan sebuah rahmat dan hidayah dari Allah swt. dan,
hal tersebut hanya bisa didapat oleh orang-orang yang mempunyai hati yang
bersih. Oleh karena itu, seorang penghafal Alquran haruslah menjaga hati dan
seluruh panca inderanya dari hal-hal yang dilarang oleh Allah swt. Hal ini
dinyatakan dalam Alquran, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Ankabut: 49
sebagai berikut:
ö@t/ uqèd 7M»t#uä ×M»oYÉit/ Îû Írßß¹ úïÏ%©!$# (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# 4 $tBur ßysøgs !$uZÏF»t$t«Î/ wÎ) cqßJÎ=»©à9$# ÇÍÒÈ
Artinya:
“Sebenarnya, Alquran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang
yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali
orang-orang yang zalim”
Ada
beberapa keutamaan dan keistimewaan penghafal Alquran yaitu:
1) Alquran
menjadi hujjah atau pembela bagi
pembacanya serta sebagai pelindung dari siksaan api neraka.
2) Para
pembaca Alquran, khususnya para penghafal Alquran yang kualitas dan kuantitas
bacaannya lebih bagus akan bersama malaikat yang selalu melindunginya dan
mengajak pada kebaikan.
3) Para
penghafal Alquran akan mendapatkan fasilitas khusus dari Allah swt, yaitu
berupa terkabulnya segala harapan, serta keinginan tanpa harus memohon dan
berdoa.
4) Para
penghafal Alquran berpotensi untuk mendapatkan pahala yang banyak karena sering
membaca (takrir) dan mengkaji Alquran.
Dalam sebuah hadits,
5) Para
penghafal Alquran diprioritaskan untuk menjadi imam dalam sholat.
6) Para
penghafal Alquran menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari dan
mengajarkan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Hal ini menjadikan
hidupnya barakah
Kewajiban
Ayah dan ibu untuk mendidik anak-anaknya adalah sangat penting karena posisi
keduanya sangat menentukan bagi kehidupan anak-anaknya, baik dari segi
pembawaan maupun dari segi lingkungan. Maka dari itu menumbuhkan kecintaan anak
terhadap Alquran dimulai dari keluarga yaitu orang tua yang mendidik dan
mengasuhnya
Kunci-kunci
pembelajaran Alquran pada anak :
1) Membaca
adalah kunci pertama dasar pembelajaran Alquran pada anak.
2) Mencari
dan menemukan kegiatan sesuatu yang terdapat dalam ayat-ayat atau keseluruhan
Alquran sungguh mengasyikkan bagi anak.
3) Menebak
dan menerka kegiatan ini termasuk menyenangkan dan disukai anak-anak karena
bersifat kreatif dan dinamis.
4) Tanya
jawab kegiatan ini termasuk yang paling mudah dilakukan dan dapat menjadi
dialog pembuka.
5) Menjelaskan
merupakan kegiatan hal yang tidak mungkin dihindarkan.
6) Mengamati
merupakan kegiatan yang dianjurkan bagi anak dalam memahami Alquran.
7) Menginderai
adalah mengamati hikmah dibalik penciptaan ayat-ayat Allah.
8) Menghitung
salah satu kegiatan untuk mengakrabkan anak pada Alquran. Banyak ayat-ayat Alquran
menjelaskan bilangan-bilangan, mulai dari satu, dua, tiga, empat, bahkan lima
puluh ribu. Bilangan yang menunjukkan jumlah ayat atau nomor surat dalam Alquran
dapat dijadikan bahan berkomunikasi dalam isi kandungan Alquran.
Berikut
ini beberapa contoh para ulama yang telah menghafal Alquran sejak usia kecil,
agar para orang tua sekarang ini mampu mengambil hikmah dan pelajaran agar
anak-anak mereka kelak memiliki semangat yang tinggi untuk bisa mengikuti jejak
ulama besar terdahulu :
1) Imam
Syafi’i mengatakan, “Aku telah mengahafal Alquran sejak usiaku tujuh tahun dan
hafal kitab hadist Al-Muwaththa’ (yang
ditulis oleh Imam Malik), ketika aku berusia sepuluh tahun.
2) Sahl
bin ‘Abdullah At-Tustari mengatakan, “Aku membaca kitab-kitab kemudian belajar
Alquran, dan menghafalnya ketika usia- ku sepuluh tahun.
3) Ibnu
Sina telah menghafal dan menekuni Alquran pada usia sepuluh tahun.
4) Ibrahim
bin Sa’id Al-Jauhari mengatakan, “Aku melihat seorang anak berusia empat tahun
yang dibawa ke majelis Al-Ma’mun, ia mampu mengahfal Alquran secara keseluruhan
dan mampu mengutarakan pandangan, padahal saat itu ia selalu menangis apabila
merasakan lapar.
5) Abu
Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-Asbahani berkata, “Aku
telah menghafal Alquran pada usiaku lima tahun
Waktu
yang tepat untuk mengajarkan Alquran: berkata Abu ‘Asim : “Aku pergi kerumah
Ibnu Juraij dengan membawa anakku yang saat itu masih berusia tiga tahun agar dia
dapat belajar Alquran dan hadist kepadanya. Aku mengatakan, “Tidak ada masalah
apabila seorang anak diajarkan Alquran dan hadist pada usia tiga tahun atau
lebih
[1]Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2008), hlm. 3-4
[2]Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, hlm.
68-69
[3]Ibid., hlm. 69
[4]Ibid., hlm. 73
[5]Syaiful Bahri Djamarah, Pola
Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga, hlm. 14-15
[6]Onong Uchjana Effendy, Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 11-16
[7]H. A. W. Widjaja, Komunikasi: komunikasi dan hubungan
Masyarakat (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 12-20
[8]Hafied Changara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta:
Raja Grafindo, 1998), hlm. 29
[9]Ibid., hlm. 29-30
[10]Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam
Keluarga, hlm. 14-15
[11]Onong Uchjana Effendy, Komunikasi Teori dan Praktek, hlm. 7
[12]Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam
Keluarga, hlm. 3
[13] Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, hlm.
132
[14]Ibid.,
hlm. 133
[15]Ibid.,
hlm. 144
[16]Ibid.,
hlm. 145
[17]Ibid., hlm. 147
[18]Ibid.,
hlm. 149
[19]Ibid., hlm. 152
[20]Ibid.,
hlm. 154
[21]Ibid., hlm. 156-157
[22]Ibid., hlm. 162
[23]Ibid., hlm. 164-165
[24]H. A. W. Widjaja, Komunikasi: Komunikasi dan hubungan
Masyarakat, hlm. 22-23
[25]Syaiful Bahri Djamarah, Pola
Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga, hlm. 38
[26]Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam
Keluarga, hlm, 43
[27]Ibid., hlm. 43-44
[28]Ibid., hlm. 45
[29]Ibid., hlm. 46
[30]Sayid Sabiq, Islam diPandang dari Segi
Rohani-moral-sosial, (Jakarta : PT. Bhinneka Cipta, 1994), hlm. 247-248
[31]Syaiful Bahri Djamarah, Pola
Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga, hlm. 75
[32] M. Ashim Yahya, 5 Jam Lancar Membaca & Menulis Alquran, (Jakarta:
QultumMedia, 2008), hlm. iv
[33]
M. Nur
Abdul Hafizh, Mendidik Anak Bersama
Rasulullah. hlm. 139
[34]Syaiful Bahri Djamarah, Pola
Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga, hlm. 85
[35]G. Kartasapoetra, L.J.B.
Kreimers, Sosiologi Umum, (Jakarta:
PT. Bina Aksara, 1987) hlm. 65
[36]M. Nur Abdul Hafizh, Mendidik Anak bersama Rasuullah, hlm.
142
[37]Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Alquran, hlm.
27
[38]Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dala Islam, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar,2011), hlm. 10
[39]Departemen Agama RI, Alqur`an dan Terjemahnya, hlm. 403
[40]Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Alquran, hlm.
143
[41]Abdul Qadir Djaelani, Keluarga Sakinah, (Surabaya: PT Bina
Ilmu, 1995), hlm. 212
[42]Nunu A. Hamijaya &
Nunung K. Rukmana, 70 Cara Mudah
Bergembira Bersama Alquran, hlm. 44-45
[43]M. Nur Abdul Hafizh, Mendidik
Anak bersama Rasuullah, hlm. 145
[44]Ibid., hlm.146
No comments:
Post a Comment