CRITICAL BOOK REPORT
“ ILMU PENDIDIKAN ”
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Peningkatan mutu pendidikan dirasakan sebagai suatu kebutuhan bangsa yang ingin maju. Oleh sebab itu perlu adanya pemahaman tentang dasar dan tujuan pendidikan secara mendalam. Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokraris serta bertanggung jawab.
Dengan hanya memberikan bermacam-macam keterampilan tanpa di sertai pemberian makna hakikat dan tujuan pendidikan itu sendiri akan terjadi ketimpangan.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan critical book ini adalah :
1) Supaya memahami apa itu ilmu pendidikan
2) Supaya mengetahui apa saja tujuan pendidikan yang ada diindonesia
3) Agar mengetahui bagaimana keterkaitan pendidikan dengan lingkungan keluarga
1.3. Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan critical book ini adalah :
1) Dapat memahami bagaimana pendidikan yang ada di Indonesia
2) Dapat memahami bagaimana pendidikan yang ada dalam lingkungan keluarga
3) Dapat menambah wawasan
4) Dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen pada mata kuliah ilmu pendidikan
BAB II
ISI BUKU
2.1. Identitas Buku
· Buku Utama ( Buku Utama)
1. Judul buku : Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis
2. Pengarang : Drs. M.Ngalim Purwanti, Mp.
3. Penerbit : PT. Remaja Rosdakarya
4. Tahun terbit : 2011
5. Kota Terbit : Bandung
6. ISBN : 979-514-384-0
7. Tebal Buku : 197 halaman
· Buku Pembanding (buku kedua)
1. Judul buku : Dasar-Dasar Pendidikan
2. Pengarang : Abdul Kadir
3. Penerbit : Kencana
4. Tahun terbi : 2014
5. Kota Terbit : Jakarta
6. ISBN : 978-602-9143-53-3
7. Tebal Buku : 282 halaman
2.2. Ringkasan Buku
BAB I : Apa Pendidikan Itu?
1. Arti beberapa istilah
Kita perlu mengerahui dua istilah yang hamper sama bentuknya dengan pendidikan yaitu paendagogi dan paedagogik. Paedagogi artinya pendidikan, sedangkan paedagogik berarti ilmu pendidikan. Pedagogik ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki, merenunkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik.
2. Apa yang dimaksud dengan mendidik
a. Dapat kita katakan dengan singkat mendiidk ialah memimpin anak. Mendidik adalah pengertian yang sangat umum yang meliputi semua tindakan mengenai gejala-gejala pendidikan. Kebanyakan orang tua mendiidk anak-anaknya hanya berdasarkan pengalaman-pengalamanpraktisnya saja.
3. Berdasarkan pemikiran diatas, mendidik itu sama halnya dengan pekerjaan tukang kebun yang memelihara tanam-tanamannya.seorang pendiidk terhadap anak didiknya, ia berusaha membimbing atau memimpin pertumbuhan anak, jasmani maupun rohaninya. Dalam pertumbuhannya, jasmani dan rohani, anak itu berkembang sendiri dan perkembangannya itu menurut tempo dan iramanya sendri pula yang tidak sama antara anak yang satu dengan anak yang lainMengapa anak harus dididik?
a. Sudah jelas bagi kita bahwa pertumbuhan seorang anak tidak dapat disamakan secara mutlak dengan pertumbuhan sebagai tanaman. Kita juga mengerti bahwa binatang pun “ mendidik” anak-anaknya. Binatang memelihara, melindungi, dan mengajar anak-anaknya, sampai anak-anaknya itu dapat berdiri snediri seperti induknya.
b. Samakah pendidikan yang dilakukan binatang-binatang itu dengan pendidikan yang dilakukan manusia? Terus terang, kita katakan tidak. Manusia mempunyai kelebihan dari binatang. Binatang mendidik anaknya secara instingtif. Kepandaian mendidik yang ada pada binatang bukan karena dipelajari dari binatang lain, melainkan kepandaian yang sudah ada pada tiap-tiap jenis binatang dan sifatnya tetap , tidak berubah atau hampir tidak berubah. Jadi tindakan- tindakan yang kita lakukan terhadap hewan itu bukanlah pendidikan, melainkan “dresur”.
c. Dresur dan pendidikan : apakah mendidik itu tidak bolek disamakan dengan tindakan-tindakan menjinakkan, mendresur dan melatih binatang?. Karena pendidikan juga mempergunakan kecenderungan-kecenderungan yang timbul pada masa perkembangan psikis, pendidik mengarahkan nafsu-nafsu bawaan kepada tujuan yang berguna, ia menentukan bentuk-bentuk tindakan instingtif yang boleh dilakukan, ia turut menjaga tetapi lebih-lebih dengan menuntut dan memberikan bentuk pada perkembangan tadi. Ciri yang pertama dari tindakan instingtif ialah tindakan itu dilakukan sekaligus dan tidak sesudah beberapa percobaan, tindakan itu tidak dipelajari dan tidak berdasarkan pengalaman. Ciri kedua dari tindakan insting ialah tindakan itu dilakukan otomatis dan bebas. Dalam situasi dresur tidak terdapart kedua ciri ini.
d. Dari uraian diatas jelas bahwa dresur tidak dapat disamakan dengan pendidikan. Dengan kata lain pendidikan yang dilakukan terhdap binatang berlainan dengan pendidikan yang dilakukan terhadap manusia.
BAB 2 : Uraian Selanjutnya tentang Pendidikan
Pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untk memimpin perkembangan jasamani dan rohaninya kearah kedewasaan.
1. Pergaulan dan pendidikan
Dari rumusan diatas nyatalah bahwa pendidikan yang sebenernya berlaku dalam pergaulan antara orang dewasa dan anak. Pergaulan antara orang dewasa dan orang dewasa tidak disebut pergaulan pendidikan (pergaulan pedagogis) sebab didalam pergaulan itu orang dewasa menerima dan bertanggung jawab sendiri terhadap pengaruh yang terdapat dalam pergaulan itu . pergaulan pedagogis itu bersifat :
a. Didalam pergaulan ini ada pengaruh yangs edang dilaksanakan
b. Ada maksud bahwa pengaruh itu dilaksanakan oleh orang dewasa (dalam berbagai bentul. Misalnya berupa sekolah, pengajian, buku-buku,pelajaran dan sebagainya) kepada orangyang belum dewasa.
c. Pengaruh itu diberikan atau dilaksanakan dengan sadar dan diarahkan pada tujuan yang berupa nilai-nilai atau norma-norma yang baik yang akan ditanaman dalam diri anak didik atau orang yang belum dewasa.
2. Mengapa pendidik harus orang yang sudah dewasa?
Dalam rumusan dimuka dinyataan dengan tegas bahwa hal mendidik itu terdapat dalam pergaulan/ hubungan antara orang dewasa dan anak, jadi dalam hal ini ada dua ketentuan:
a. Si pendidik harus orang yang sudah dewasa sendiri.
b. Si terdidik harus orang yang belum dewasa, jadi terbatas pada anak-anak saja.
Apakah yang dimaksud dengan kedawasan?
Arti kedewasaan kadang-kadang dibedakan menjadi kedewasaan jasmani dan kedewasaan rohani. Jika segala kedewasaan itu kita tinjau, maka tampaklah cirri-cirinya, yaitu sifat tetap dan sifat teratur dan statis jika dibandingkan dengan dinamika pada anak-anak yangs elalu meghendaki dan mengalami perubahan.
3. Mendidik ialah memipin anak
Pendidikan disebut pimpinan karena dengan perkataan ini tersimpul arti bahwa sianak aktif sendiri, memperkembangkan diri, tumbuh sendiri, tetapi didalam keaktifannya itu ia harus dibantu, dipimpin.
a. Teori tabularasa
Teori ini mengatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dpaat diumpamakan sebagi kertas putih bersih yang belum ditulisi (a shet of white paper avoid of all characters). Jadi , sejak lahir anak itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa.
b. Teori nativisme
Aliran nativisme berpendapat bahwa tiap-tiap anak sejak dilahirkan sudah mempunyai berbagai pmbawaan yang akan berkembang sendiri menurut arahnya masing-masing. Pembawaan anak-anak itu ada yang baik dan ada yang buruk. Pendidikan tidak perlu dan tidak berkuasa apa-apa.
4. Negara dan pendidikan
Negara mempunyai hak dan kewajiban untuk menyelenggarakan pendidik dan pengajaran bagi waga negaranya, sesuai dengan dasar-dasar dan tujuan negara itu sendiri, yaitu mengatur kehidupan umum menurut ukuran-ukuran yang sehat sehingga menjadi bantuan bagi pendidikan keluarga dan dapat mencegah apa-apa yang merugikan perkembangan anak untuk mencapai kedewasaan.
BAB 3 : Tujuan Pendidikan
1. Pendahuluan
Soal tujuan pendidikan merupakan soal yang prinsipil dalam pedagogik. Sebelum kita membicarakan tujuan pendidikan yang khusus berlaku dinegara kita dewasa ini (Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran No. 12 tahun 1945 dan Undang-Undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional), untuk sekadar menambah pengetahuan kita tentang pendidikan, marilah kita tinjau dahulu beberapa hal.
2. Tujuan dan kepribadian pendidik
Dalam pasal-pasal dimuka sudah dikatakan bahwa pendidikan ialah pimpinan orang dewasa terhadap anak dalam perkembangannya kearah kedewasaan, jadi tuhuan umum dari pendidikan ialah membawa anak kepada kedewasaannya, yang berarti bahwa ia harus dapat membawa anak kepada kedewasaannya, yang berarti bahwa harus dapat menentukan diri sendiri dan bertanggung jawab sendiri. Tujuan pendidikan berhubungan erat dengan tujuan dan pandangan hidup si pendidik sendiri, si pendidik harus telah memilki (mempersatukan diri dengan) norma-norma yang tertentu sehingga ia dapat disebut orang yang berkepribadian.
3. Macam-macam tujuan didalam pendidikan
Di dalam bukunya beknopte theoretische paedagogiek, Langveld mengutarakan macam-macam tujuan pendidikan sebagi berikut.
a. Tujuan umum
Tujuan umum disebut juga tujuan sempurna, tujuan terakhir, atau tujuan bulat. Tujuan umum ialah tujuan didalam pendidikan yang seharusnya menjadi tujuan orang tua atau pendidik lain, yang telah ditetapkan oleh pendidik dan selalu dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang terdapat pada anak didik itu sendiri dan dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yangterdapat pada anak didik itu sendiri dan dihubungkan dengan syarat-syarat dan alat-alat untuk mencapai tujuan umum itu.
b. Tujuan-tujuan tak sempurna
Yang dimaksud dengan tujuan tak sempurna atau tak lengkap ini ialah tujuan-tujuan mengenai segi-segi kepribadian manusia yang tertentu yang hendak dicapai dengan pendidikan itu, yaitu segi-segi yang berhubungan dengan nilai-nilai hidup yang tertentu, seperti keindahan, kesusilaan, keagamaan, kemasyarakatan dan seksual.
c. Tujuan-tujuan sementara
Tujuan sementara ini merupakan tempat-tempat perhentian sementara pada jalan yang menuju ketujuan umum, sperti anak-anak dilatih untuk belajar, kebersihan, belajar berbicara, belajar berbelanja, dan belajar bermain-main bersama teman-temannya.
d. Tujuan-tujuan perantara
Tujuan ini bergantung pada tujuan-tujuan sementara. Umpamanya, tujuan sementara ialah si anak harus belajar membaca dan menulis. Setelah ditentukan untuk apa anak belajar membaca dan menulis itu, dapatlah sekarang berbagai macam kemungkinan untuk mencapainya itu dipandang sebagi tujuan perantara, seperti metode mengajar dan metode membaca.
e. Tujuan insidental
Tujuan ini hanya sebagi kejadian-kejadian yang merupakan saat-saat yang terlepas pada jalan yang menuju kepada tujuan umum.
4. Beberapa pendapat tentang tujuan pendidik
Karena “pandangan hidup” manusia itu berlainan-lainan, berbeda-beda pula a ayang hendak dicapai dengan pendidikan itu. Jadi titik berat yang dituju berdeba-beda pula, sperti :
a. Ada ahli didik yang lebih menitikberatkan kepada ketuhanan atau agama. Semua pendidikan dimaksudkan untukmembawa si anak agar selalu berbakti kepada Tuhannya, selalu hidup menuruti dan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh agamanya.
b. Ditinjau dari sudut anak atau manusia itu sendiri. Sehingga dalam hal ini timbullah apa yang disebut pendidikan individual dan pendidikan kemasyarakatan. J.J Rousseau umpamanya lebih mementingkan pendidikan individual dari pada pendidikan kemasyarakat. Ia berpendapat bahwa manusia itu ketika dilahirkan adalah baik, suci, dan kebanyakan anak it menjadi rusak karena manusia itu sneidri atau karena masyarakat. John Dewey, berpendapat bahwa pendidikan kemasyarakatanlah yang lebih penting dari pada pendidikan individual. Sebagaimana pendapat Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan, terutama pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Sebagai pendiri, bapak dan pemimpin perguruan Taman Siswa pendapat dan padangannya tentang pendidikan dapat dilihat pada: asas-asas taman sisa yang antara lain:
1) Hak seorang akan megatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum
2) Tertib dan damai
3) Bertumbuh menurut kodrat
4) Dalam sistem ini maka pengajaran berarti mendidik anak akan menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikrannya, dan merdeka tenaganya.
BAB 4 : Tujuan Pendidikan dan Pengajaran di Indonesia
1. Pendahuluan
Pemerintah Indonesia telah menggariskan dasar-dasar dan tujuan pendidikan dan pengajaran itu dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1945 , terutama pasal 3 dan 4 yang berbunyi :
Pasal 3 : Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan waga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
Pasal 4 : Pendidikan dan ppengajaran berdasarkan atas asas-aas yang termaktub dalam pacasila Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan atas kebudayaan kebangsaan Indonesia .
2. Anak harus dididik menjadi manusia susila
a. Manusia susila ialah manusia yang hidupnya selalu menuruti dan sesuai dengan norma-norma kesusilaan yang sedang berlaku. sebagai pendidik harus benar-benar kenal akan norma-norma kesusilaan yang sedang berlaku sekarang, bahkan tidak cukup mengenal saja, tetapi wajib pula memilikinya , yang berarti ia sendiri harus hidup sesuai dengan norma-norma kesusilaan yang telah ditetapkan.pendidik adalah orag yangs elalu dipandang dicontoh oleh anak didiknya ataupun oleh masyarakat sekelilingnya.
b. Dapatkah watak itu dididik?
Seorang ahli ilmu watak bangsa Belanda, Prof.Heymans, penganut aliran determinismi, meragukan akan berhasilnya pendidikan watak terhadap manusia. Ia berpendapat, dunia hanya dapat memperoleh orang-orang yang mempunyai tingkatan kesusilaan yang lebih tinggi dengan jalan memilih (seleksi) orang-orang mana yang boleh mempunyai keturunan.
Berlainan dengan pendapat kerschensteiner, seorang ahli ilmu jiwabahsa jerman, yang mengutarakan hal watak itu antara lain sebagai berikut,watak manusia itu dibanya menjadi dua bagian:
a) Watak biologis, yaitu watak yang berhubungan dengan nafsu dan insting yang rendah yang terikat kepada kejasmanian
b) Watak inteligbel (watak budi), yaitu watak yang berhubungan dengan budi atau akal pikiran manusia.
c. Mengapa pendidikan kesusilaan itu penting?
Kesusilaan bukan hanya berarti bertingkah laku sopan-santun,bertintak dengan lemah-lembut, taat dan berbakti kepada orang tua saja, seperti pada umumnya diartikan orang melainkan lebih luas lagi dari itu.
3. Anak harus dididik menjadi manusia yang cakap
a. Banyak orang yang menafsirkan cakap itu sama dnegan “pandai”, yang berarti yang hapal tentang pelajaran yang diberikn disekolah. Orang yang berpendirian demikian kan merasa puas jika murid-muridnya hapal dan dapat memproduksikan kembali pelajaran-pelajaran yang diberikan dan pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal yang diajukan kepada mereka . bagi pendidik yang demikian, cakap berarti memiliki pengetahuan banyak , dan mendidik manusia cakap berarti memasukkan pengetahuan-pengetahuan yang banyak kepada otak anak-anak.
b. Kalau yang dimaksudkan dengan orang yang cakap seperti diatas nyatalah bahwa itu benar. Orang yang dididik demikian belum berarti bahwa ia tentu menunaikan tugasnya didalam masyarakat.
c. Dari uraian tersebut diatas, nyatalah bahwa yang dimaksud dengan orang yang cakap itu tidak hanya orang yang banyak memilki ilmu pengetahuann saja. Orang disebut cakap jika orang itu pandai menggunakan daya-daya akal dan pikiranya dengan baik sehingga pekerjaan yang harus dilakukan dengan menggunakan daya-daya akal danpikiran dapat berlangsung dengan cepat dan lancar.
4. Anak harus dididik menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
Manusia itu adalah makhluk sosial, anggota suatu persekutuan: persekutuan masyarakat juga persekutuan bangsa. Dalam pasal inilah maka tujuan pendidikan itu diarahkan kepada mendidik manusia sebagai makhluk masyarakat. Untuk itu diperlukan bagi tiap-tiap warga negara:
a. Suatu pengetahuan yang cukup tentang kewarganegaraan (civic), ketatanegaraan, kemasyarakatan, soal-soal pemerintahan yang penting.
b. Suatu kesadaran dan kesanggupan, suatu semangat menjalankan tugasnya, dengan mendahulukan kepentingan natau masyarakat daripada kepentingan sendiri atau kepentingan sekelompok kecil manusia.
c. Suatu kesadaran dan kesanggupan memberantas kecurangan-kecurangan dan perbuatan-perbuatan yang menghalangi kemajuan dan kemakmuran masyarakat dan pemerintah.
BAB 5 : Tujuan Pendidikan dan Pengajaran di Indonesia (Lanjutan)
1. Pendahuluan
Tujuan pendidikan yang berlaku pada waktu Orde Lama berbeda dengan tunjuan pendidikan setelah Orde Baru. Ini disebabkan pandangan dengan Orde Baru. Demikian pula sejak Orde Baru hingga sekarang rumusan tujuan pendidikan selalu mengalami perubahan dari pelita kepelita sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan kehidupan masyarakat dan Negara Indonseia.
2. Tujuan pendidikan nasional
Didalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I pasal 1 ayat (2) disebutkan : “ Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945”. Tujuan pendidikan nasional yang dimaksud disini adalah tujuan akhir yang akan dicapai oleh semua lembaga pendidikan, baik formal, nonformal, maupun informal yang berada dalam masyarakat dan negara Indonesia.
3. Masalah tujuan dalam pendidikan dan pengajaran
Suatu tujuan dalam pengajaran adalah deskripsi tentang penampiln perilaku (performance) murid-murid yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang kita ajarkan. Suatu tujuan pengakaran menyatakan suatu hasil yang kita harapkan dari pengajaran itu dan bukan seedar proses dari pengajaran itu sendiri . Seperti yang dikatakan Mager sedikitnya ada tiga alasan pokok mengapa guru harus memperhatikan/ merumuskan tujuan pengajarannya. Pertama, jika guru tidak merumuskan tujuan atau menentukan tujuan pengajaran tetapi kurang jelas, maka ia tidak akan dapat memilih atau merancang abhan pengajaran, isi, ataupun merode yang tepat untuk dipergunakan dalam pengajaran itu. Hirerarki tujuan dalam pendidikan dan pengajaran
Dalam uraian berikut ini akan dibicarakan lebih lanjut bagaimana merumuskan tujuan instruksional khususnya TIK. Menurut Mager (1975:21) rumusan tujuan instruksional yang baik harus memenuhi tiga syarat , yaitu :
1) Performance : tujuan instrusional selalu menyatakan apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa
2) Conditions: tujuan instruksional menyatakan pula dalam kondisi yang bagaimana tingkah laku tersebut diharapkan akan terjadi
3) Criterion: dalam rumusan tujuan instrujsional tergambar suatu criteria, sampai seberapa jauh penampilan tingkah laku siswa yang diharapkan.
4. TIK dan tingkat kemampuan siswa
Merujuk pada pendapat Bloom tentang hasil belajar siswa ada tiga macam ranah yang merupakan penggolongan hasil belajar yang diperhatikan dala setiap proses be;ajar –mengajar. Ketiga ranah tersebut sangat berkaitan dengan tujuan instrusional. Keterkaitan antara perumusan tujuan instruksional khsuusnya TIK dengan ketiga mavam ranah tersebut dikemukakan oleh Bloom menjadi enam tingkat kemampuan :
1) Kemampuan ingatan (Knowledge)
2) Kemampuan pemahaman ( comprehention)
3) Kemampuan penerapan ( application)
4) Kemampuan penguraian ( analysis)
5) Kemampuan penyatuan(synthesis)
6) Kemampuan penilaian (evaluation)
BAB 6 : Kewibawaan (Gezag) dalam pendidikan
1. Apakah kewibawaan (gezag) itu ?
Gezag berasal dari kata Zeggen yang berarti “berkata”. Siapa yang perkataannya mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti mempunnyai kewibawaan atau gezag terhadap orang lain. Gezag atau kewibawaan itu ada pada orang dewasa terutama pada orang tua.
2. Apakah perbedaan kewibawaan orang tua dan guru
a. Orang tua adalah pendidik yang terutama dan yang sudah semestinya. Adapun kewibawaan yang dimilki yaitu :
1) Kewibawaan pendidikan
Ini berarti bahwa dengan kewibawaan itu orang tua bertujuan memelihara keselamatan anak-anaknya agar mereka dapat hidup terus dan selanjtnya berkembang jasmani dan rohaninya menjadi manusia dewasa.
2) Kewibawaan keluarga
Orang tua merupakan kepala dari suatu keluarga. Kewibawaan keluarga itu bertujuan untuk pemeliharaan dan keselamatan keluarga itu. Soal sudah dewasa atau belum, itu bukan soal yang penting lagi.
b. Kewibawaan guru atau pendidik-pendidik lainnya
1) Kewibawaan pendidik
Sama halnya dengan kewibawaan pendidikan yang ada pada orang tua, guru atau pendidik karena jabatan atau berkenaan dengan jabartannya sebagai pendidik, telah diserahi sebagian dari tugas orang tua untuk mendidik anak-anak.
2) Kewibawaan memerintah
Mereka telah diberi kekuasaan oleh pemerintau atau instansu yang mengangkat mereka. Kekuasaan tersebut meliputi pimpinan kelas, disanalah anak-anak telah diserahkan kepadanya.
3. Fungsi kewibawaan dalam pendidikan
Fungsi wibawa pendidikan yaitu, membawa sianak kearah pertumbuhannya yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya juga.
4. Bagaimana pendidikan seharusya menggunakan kewibawaannya?
Tentu saja yang dimaksud di sini ialah kewibawann pendidikan, yaitu menolong dan memimpin sianak kearah kedewasaannya. Oleh karena itu, penggunaan kewibawaan pada pendidikan harus berdasarkan faktor-faktor berikut :
1) Dalam menggunakan kewibawaan itu hendaklah didasarkan atas perkembangan anak itu sendiri sebagai pribadi.
2) Pendidikan hendaklah member kesempatan kepada anak untuk bertindak atas inisiatif sendiri.
3) Pendidik hendaknya menjalankan kewajibannya itu atas dasar cinta kepada si anak.
5. Kewibawaan dalam masyarakat orang dewasa dan pendidikan
a. Kewibawaan dalam masyarakat orang dewasa
1) Dalam masyarakat harus ada wibawa supaya dapat tercapai maksud masyarakat itu yaitu kesejahteraan umum.
2) Masyarakat orang dewasa menurut atau patu kepada pendukung-pendukung kekuasaan pemerintah itu bukan katena orang-orang itu telah mendapat pegangkatnya untuk menjalankan kewajibannya.
3) Pemeritah meminta semua menaati segala peraturannya.
4) Kewibawaan dan pelaksanaan kewibawaan dalam masyarakat orang dewasa tidak menjadi berkurang, tetapi tetap stabil karena tujuannya ialah hendak mengatur perputaran masyarakat yang baik.
b. Kewibawaan dalam pendidikan
1) Kewibawaan dan pelaksanaan kewibawaan dalam keluarga, yang terutama tidak dimaksudkan untuk melaksanakan berputarnya roda “masyarakat kecil” itu.
2) Pelaksanaan kewibawaan dalam pendidikan itu harus berdasarkan kepada perwujudan norma-norma dalam diri si pendidik sendiri.
3) Di muka telah dikatakan bahwa negara dapat tetap berjalan baik selama warga negaranya hidup sesuai dengan undang-undang dan peraturan-peraturan yang berlaku di negara.
4) Wibawa dan pelaksanaan wibawa dalam masyarakat tetap, akan tetapi dalam pendidikan akan selalu berkurang, dan kahirnya selesai bila telah tercapai tingkat kedewasaan.
6. Kewibawaan dan identifikasi
Diatas telah dikatakan bahwa tujuan wibawa dalam pendidikan itu ialah dengan wibawa itu si pendidik hendak berusaha membawa anak itu ke arah kedewasaanya. Dalam setiap macam kewibawaan terdapatlah suatu identifikasi sebagai dasar, artinya dalam melakukan kewibawaan itu si pendidik mempersatukan dirinya dengan yang dididik, juga yang dididik mempersetukan dirinya terhadap pendidiknya. Jadi dalam hal identifikasi mengandung dua arti :
1) Si pendidik mengidentifikasi dirinya dengan kepentingan dan kebahagiaan si anak.
2) Si anak mengidentifikasi dirinya terhadap pendidikannya .
BAB 7 : Hubungan Pembawaan, Keturunan, dan Ligkungan di dalam Pendidikan
1. Pembawaan dan lingkungan
Seperti yang telah kita singgung dalam bab yang lalu mengenai hal ini ada beberapa pendapat :
a. Aliran nativisme : berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah yang menentukan hasil perkembangannya.
b. Aliran naturalisme: nature artinya alam atau apa yang dibawa sejak lahir. Hamper senada dengan aliran nativisme, maka aliran ini berpendapat bahwa pada hakikatnya semua anak (manusia) sejak dilahirkan adalah baik .
c. Aliran empirisme: berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali ditentukanoleh lingkungannya atau oleh pendidikannya dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil.
d. Hokum konvergensi : Willian Stren berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya menentukan perkembangan manusia.
e. Tut wuri handayani : aliran ini mengakui adanya pembawaan, bakat, ataupun potensi-potensi yang ada pada anak sejak lahir. Tut wuri handayanimerupakan bagian konsep kependidikan Ki Hajar Dewantara yang secara keseluruhan berbunyi “ing ngarsi sung tuldo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”.
Keturunan dan pembwaan
a. Keturunan
Kita dapat mengatakan bahwa sifat-sifat atau ciri-ciri yang terdapat pada seorang anak adalah keturunan, jika sifat-sifat atau cirri-ciri tersebut diwariskan atau diturunkan dengan mealui sel-sel kelamin dari generasi yang lain. Jadi, sebelum kita memutuskan suatu sifat atau cirri-ciri yang terdapat pada seseorang itu keturunan atau bukan, terlebih dahulu kita harus ingat dua syarat:
1) Persamaan sifat atau ciri-ciri
2) Cirri-ciri ini harus menurun melalui sel-sel kelamin
b. Pembawaan
Pembawaan ialah seluruh kemungkinan atau kesanggupan (potensi) yang terdapat pada suatu individu dan yang selam amasa perkembangan benar-benar dapat diwujudkan (direalisasikan) Beberapa macam pembawaan dan pengaruh keturunan
a. Perlu kiranya disini kami singgung sedikit beberapa macam pembawaan berikut :
1) Pembawaan jenis
2) Pembawaan ras
3) Pembawaan jenis kelamin
4) Pembawaan perseorangan
b. Beberapa macam pembawaan diatas banyak ditentukan oleh keturunan ialah pembawaan ras, pembawaan jenis, dan pembawaan kelamin. Akan tetapi pada pembawaan perseorangan pengaruh lingkungan adalah penting.
2. Lingkungan (environment)
Sartain membagi lingkungan itu menjadi tiga bagian sebagai berikut : lingkungan alam atau luar, lingkungan dalam, lingkungan sosial. Yang dimaksud lingkungan alam atau luar ialah segala sesuatu yang ada dalam dunia ini yang bukan manusia seperti rumah, tumbuh-tumbuhan, air, iklim, dan hewan. Menurut Woodworth, cara-cara individu itu berhubungan dengan lingkungannya dapat dibedakan menjadi empat macam:
1) Individu bertentangan dengan lingkungannya
2) Individu menggunakan lingkungannya
3) Individu berpartisipasi dengan lingkungannya
4) Individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
BAB 8 : Pendidikan dalam Lingkungan Keluarga
1. Keluarga zaman dahulu dan keluarga zaman sekarang
Pada zaman dulu umunya orang hidup dalam satu rumah yang besar. Didalam rumah yang besar itu hiduplah beberapa keluarga menjadi satu. Kesatuan kekeluargaan yang besar itu lazim disebut family. Pesatnya kemajuan dunia di segala bidang, sperti politik, ekonomi, sosial, perindustrian, kenegaraan, kesenian, ilmu pengetahuan dan pendidikan menyebabkan tidak terhitungnya jumlah macam pekerjaan yang masing-masing memerlukan bakat dan kemampuan yang berbeda-beda dari para pekerjanya. Pentingnya dan perlunya pendidikan dan pengajaran disekolah bagi anak-ana.
2. Pentingnya pendidikan dalam lingkungan keluarga
Berhasil atau tidaknya pendidikan disekolah bergantung pada dan dipengaruhi oleh pendidikan di dalam keluarga. Pendidikan keluarga adalah fundamen atau dasar pendidikan anak selanjtnya. Hasil-hasil pendidikan yang diperoleh anak dalam keluarga menentukan pendidikan anak itu selanjutnya, baik sekolah maupun dalam masyarakat.
3. Kedudukan orang dewas dalam keluarga
a. Pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya adalah pendidikan yang didasarkan pada wasa kasih saying terhadap anak-anak dan yang diterimanya dari kodrat. Orang tua adalah pedidik sejati, pendidik karena kodratnya. Oleh karena itu kasih sayang orang tua terhadap anak-anak hendaklah kasih saying yang sejati pula
b. Lebih berbahaya lagi bagi pertumbuhan jiwa anak-anak jika kasih sayang itu disertai kekhawatiran orang tua. Banyak orang tua yang merasa khawatir kalau-kalau anaknya akan terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya , yang penuh dengan kesukaran-kesukaran dan bahaya –bahaya serta hal-hal yang kotor-kotor.
c. Harapan dan tuntutan orang tua: ada pila kasihs ayang orang tua yang salah, yaitu mengharapkan kesenangan dan kepuasan bagi dirinya dari anak-anaknya.
4. Peranan anggota keluarga terhadap pendidikan anak-anak
a. Peranan ibu
Peranan ibu terjadap pendidikan anak-anaknya adalah :
- Sumber dan pemberian rasa kasih saying
- Pengasuh dan pemelihara
- Tempat mencurahkan isi hati
- Pengatur kehidupan dalam rumah tangga
- Pembimbing hubungan pribadi
- Pendiidkan dalam segi-segi emosional.
b. Peranan ayah
Peranan ayah dalam pendidikan anak-anaknya yang lebih dominan adalah :
- Sumber kekuasaan didalam keluarga
- Penghubung intern keluarga dengan masyarakat atau dunia luar
- Pemberi perasaan aman bagi seluruh anggota keluarga
- Pelingdung terhadap ancaman dari luar
- Hakim atau mengadili jika terjadi perselisihan
- Pendidik dlam segi-segi rasional
c. Peranan nenek
Umumnya nenek itu merupakan sumber kasihs ayang yag mencurahkan kasih sayangnya yang berlibihan terhadap cucu-cucunya. Meka tidak mengharapkan sesuatu dari cucunya itu mereka semata-mata member berkala. Maka dari iitu mereka memanjakan cucu-cucunya dengan sangat berlebih-lebihan
d. Peranan pembantu rumah tangga (pramuwisma)
Peranan pramuwia sebagai pembant rumah tangga seyogianya hanyalah sebagai pembantu pula dalam mengasuh dan mendidik anak-anak didalam keluarga sedangkan yang tetap berperan dan menentukan pendidikan anak-anak adalah orang tua yaitu ayang dan ibu.
5. Pengaruh lingkungan keluarga terhadap pendidikan anak-anak
Keadaan tiap-tiap keluarga berlainaan satu dengan yang lainnyya. Ada keluarga yang kaya ada yang kurang mampu, ada keluarga yang besar ada keluarga yang kecil, ada keluarga yang selalu diliputi oleh Susana tenang dan tentram, ada pula yang selalu gaduh, bercekcok, dsb. Dengan sendirinya keadaan dalam keluarga yang bermacam-maam coraknya itu akan membawa pengaruh yang berbeda-beda pula terhadap pendidikan anak-anak.
6. Petunjuk-petunjuk penting bai pendidikan dalam lingkungan keluarga
Adapun beberapa petunjuk yang penting dan perlu diperhatikan oleh keluarga
a. Usahakan Susana yang baik dalam lingkungan keluarga.
b. Tiap-tiap anggota keluarga hendaklah belajar berpegang pada hak dan tugas kewajiban masin-masing.
c. Orang tua serta orang dewasa lainnya dalam keluarga iu hendaklah mengetahui tabiat dan watak anak-anak.
d. Hidarkanlah segala sesuatu yangd apat meruska pertumbuhan jiwa anak-anak.
e. Biarkanlah anak-anak bergaul dnegan teman-temangnya diluar lingkungan keluarga.
BAB 9: Beberapa Kesukaran dalam Pendidikan
1. Pendahuluan
Dalam bab ini akan diuraikan beberapa kesukaran dalam pendidikan yang umum terdapat didalam keluarga dan disekolah. Adapun beberapa kesukaran yang dimaksud yang akan dibahas secara singkat ini yaitu.
2. Keras hati dan keras kepala
Keras hati dan keras kepala adalah sifat anak-anak yangs erring sangat menyulitkan para orang tua pendidik-pendidiklain. Anak yang keras hati berbat menurut nafsu dan kemauannya sendiri bertentangan dengan tindakan orang lain. Anak yang keras kepala tidak mau juga mengerjakan apa yang disuruhkan kepadanya, tetapi ia tidak memiliki alasan yang bertujuan.
a. Keras hati
Adapun sebab-sebabnya antara lain
a) Karena pembawaan anak
b) Karena keadaan badan yang terganggu
c) Karena perkembangan rohani anak
d) Karena kesalahan-kesalahan dalam pendidikan
b. Keras kepala
Adapun sebab yang menimbulkannya ialah :
a) Karena terlalu dimanja
b) Karena iri hati terhadap rang lain
c) Karena banyak dicela atau ditertawakan, diejek ataupun di hidna
d) Tindakan yang keras dan kasar atau tidak menaruh kaish saying
e) Perasaan takut dan perasaan harga diri kurang
3. Anak yang manja
Hal-hal yang dapat menyebabkan pemanjaan teradap anak yaitu :
1) Karena ketakutan yang berlebih-lebihan akan bahaya yang mungkin mengancam si anak
2) Keinginan yang tidak disadari untuk selalu enolong dan memudahkan kehidup si anak
3) Karena orang tua sendiri takut akan kesukaran
4) Karena kebodohan orang tua
Akibat dari anak yang manja adalah :
1) Sifat mementingkan dirinya sendiri
2) Kurang mempunyai rasa tanggung jawab
3) Mempunyai perasaan harga diri kurang
4) Selalu berusahan menarik perhatian dari orang
5) Tidak ada kemauan dan inisiatif atau pemalas.
4. Perasaan takut terhadap anak
Perasaan takut adalah sejelnis naluri (insting). Yang dapat menimbulkan perasaan takut pada anak-anak yaitu
1) Sesuatu yang aneh-aneh yang selama itu belum pernah dikenalnya
2) Sesuatu yang telah dikenalnya, bercampur dengan hal ang masih asing sekali dan tak masuk akal meraka
3) Jika mereka terpisah dari orang yang disayangi atau yang dikenalnya
4) Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh anak itu dalam kehidupan sehari-hari.
5. Dusta anak
Ada macam-macam dusta pada anak yaitu
1) Dusta semu
Yang menyebabkan dusta semu ialah :
a) Pengalaman yang belum sempurna
b) Karena daya ingatan anak belum smepurna
c) Karena fantasi yang sangat kuat
2) Dusta yan sebenarnya
Ada beberapa macam dusta yang sebenarnya yaitu :
a) Dusta karena takut
b) Dusta sosial atau dusta alturistis
c) Dusta untuk kepentingan sendiri atau dusta egoistis
d) Dusta kmpensasi
BAB 10 : Beberapa Kesukaran dalam Pendidikan
6. Agresi dan Frustasi
Agresi berarti penyerangan,serangan yakni suatu keinginan menyerang orang lain yang menghalangi tercapainya sesuatu tujuan atau lebih jelasnya lagi agresi ialah segala perbuatan yang dimaksudkan sebagai serangan terhadap orang lain dan jugabersifat permusuhan. Sebab-sebab terjadinya agresi itu bersifat rohaniah
Frustasi , jika hasrat dalam batin kita tak dapat diberikan kepuasan, tidak dapat dipenuhi karena suatu rintangan, dan kita merasa sangat kecewa karenanya, maka hal itu dinamakan frustasi. Frustasi sebenernya ialah keadaan batin seseorang ketidakseimbangan dalam jiwa suatu perasaan tidak puas karena hasrat atau dorongan yang tidak dapat terpenuhi. Reaksi-reaksi yang mungkin timbul karena adanya frustasi ialah :
1) Agresi : reaksi menentang atau sesuatu serangan yang bersifat langsung dan tidak langsung
2) Mengundurkan diri
3) Regresi
4) Fiksasi
5) Represi
6) Gangguan psikosomatis
7) Resionalisasi
8) Sublimasi
9) Kompensasi
BAB 11 :Pendidikan dalam Lingkungan Sekolah
1. Macam-macam lingkungan pendidikan
Adapun macam-macam lingkungan (tempat) pendidikan itu ialah :
a. Lingkungan keluarga
b. Lingkungan sekolah
c. Lingkungan kampong
d. Lingkungan perkumpulan pemuda
e. Lingkungan negara
Kelima macam lingkungan tersebut digolongkan menjadi tiga yaitu
a. Lingkungan keluarga , disebut juga lingkungan pertama
b. Lingkungan sekolah , disebut juga lingkungan kedua
c. Lingkungan masyarakat, disebut juga lingkungan ketiga
2. Perbedaan ligkungan keluarga dan lingkungan sekolah
a. Perbedaan pertama ialah rumah atau lingkungan keluarga yakni lingkungan pendidika yang sewajarnya
b. Perbedaan kedua ialah perbedaan suasana
c. Perbedaan kedua ialah perbedaan suasana
d. Perbedaan ketiga ialah perbedaan tnggung jawab
3. Kerjasama antara keluarga dan sekolah
Dengan adanya kerasama orang tua akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman dar guru dalam hal mendidik anak-anaknya. Sebaliknya para guru dapat pula memperoleh keterangan-keterangan dari orang tua tentang kehidupan dans ifat-sifat anak-anaknya. Keterangan itu digunakan untuk memberikan pelajaran dan penddikan terhadap murid-muridnya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan sekolah untuk mengadakan kerja sama itu adalah :
1) Mengadakan pertemuan dengan orang tua pada hari penerimaan murid baru
2) Mengadakan surat-menyurat antara sekolah dna keluarga
3) Adanya daftar nilai atau rapor
4) Kunjungan guru kerumah orang tua murid atau sebaliknya
5) Mengadakan perayaan, pesta sekolah atau pameran-pameran hasil karya murid-murid
6) Mendirikan perkumpulan orang tua murid dan guru (POMG)
4. Taman kanak-kanak sebagai jembatan antara keluarga dan sekolah
Manfaat TK dilihat dari tujuan Frobel mendirikan kindegardten yaitu :
1. Memberikan pendidikan yang lengkap kepada anak-anak
2. Memberi pertolongan dan bimbingan kepada para ibu dalam mendidik anak-anaknya
3. Mendidik dan menyiapkan para calon ibu
BAB 12 : Guru sebagai Pendidik
1. Pendahuluan
Pekerjaan sebagai guru adalah pekerjaan yang luhur dan mulia, baik ditinjau dari sudut masyarakat dan negara maupun ditinjau dari sudut keagamaan. Guru sebagai pendidik adalah seorang yang berjasa besar terhadap masyarakat dan negara. Tinggi atau rendahnya kebudayaan masyarakat, maju atau mundurya tingkat kebudayaan suatu masyarakat dan negara, sebagian besar bergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru-guru.
2. Syarat-syarat menjaid guru yang baik
Syarat-syarat untuk menjadi guru dapat disimpulkan :
a. Berijazah
b. Sehat jasmani dan rohani
c. Takwa kepada Tuhan YME dna berkelakuan baik
d. Bertanggung jawab
e. Berjiwa sosial
3. Sikap dan sifat-sifat guru yang baik
a. Adil
b. Percaya dan suka kepada murid-muridnya
c. Sabar dan rela berkorban
d. Memiliki wibawa (gezag)
e. Penggembira
f. Bersikap baik terhadap guru-guru lainnya
g. Bersikap baik terhadap masyarakat
h. Benar-benar menguasai mata pelajarannya
i. Suka kepada mata pelajaran yang diberikannya
j. Berpengatahuan luas
BAB 13: Segi-Segi Pendidikan
1. Mengajar dan mendidik
Pada hakikatnya antara mengajar dan mendidik itu tidak ada perbedaan yang tegas. Keduanya tak dapat dipisah-pisahkan. Siapa yang mengajat, ia juga mendidik, dans iapa hendak mendidik harus juga mengajar. Pendidikan lebih luas dari pada pengajaran. Pendidikan merupakan pendidikan keseluruhan, merupakan pembentukan kepribadian. Pendidikan meliputi segala usaha yang dilakukan dalam hal mendidik. Pengajaran salahs atu segi dari pendidikan. Pengajaran merupakan satua lat usaha dari pendidikan keseluruhan. Setiap perbuatan mendidik selalu dilakukan dengan sadar dan sengaja, dan mempunyai tujuan tertentu yang baik, demi kepentingan perkembangan diri pribadi anak didik.
2. Segi-segi pendidikan
Adapun pembagian segi-segi atau macam pendidikan itu ialah sebagai berikut :
a. Pendidikan jasmani
b. Pendidikan kecakapan
c. Pendidikan agama
d. Pendidikan kesusilaan
e. Pendidikan keindahan
f. Pendidikan kemasyarakatan
BAB 14: Alat-Alat Pendidikan
1. Pendahuluan
Didalam ilmu pendidikan, usaha-usaha atau perbuatan-perbuatan si pendidik yang ditunjukan untuk melaksanakan tugas mendidik itu disebut juga alat-alat pendidikan.
2. Pembiasaan
Pembiasaan adalah salah satu alat pendidikan yang penting seali, teruama bagi anak-anak yang masih kecil. Pembiasaan yang baik penting artinya bagi pembentukan watak anak-anak dan juga akan terus berpengaruh kepad anak itu sampai hari tuanya. Menanamkan kebiasaan pada anak-anak adalah sukar dan kadang-kadang memakan waktu yang lama. Maka dari itu lebih baik kita menjaga anak-anak supaya mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang baik daripada terlanjur memilki kebiasaan yang tidak baik.
3. Pengawasan
Pengawaan itu pentings ekali dalam mendidik anak-anak. Tanpa pengawasan berarti membiarkan anak berbuat sekehendaknya anak tidak akan dapat membedakan yang baik dna yang buruk, tidak mengetahui mana yang seharusnya dihindari atau tidak senonoh dan mana yang boleh dan harus dilaksanakan, mana yang membahayakan dan mana yang tidak. Tujuan mendidik ialah membentuk anak-ana supaya akhirnya dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab sendiri atas perbuatannya, mendidik kearah kebebasan.
4. Perintah
Tentu saja suatu perintah atau peraturan itu dapat mudah diaati oleh anak- anak jika pendidik sendir menaati dan hidup menurut peraturan-peraturan itu, jika apa yang harus dilakukan oleh anak-anak itu sebenarnay sudah dimiliki dan menjadi pedoman pula bagi hidup si pendidik.
5. Larangan .
6. Ganjaran
Ganjaran adalah salah satu alat pendidikan. Jadi, dengan sendirinya maksud ganjaran itu ialah sebagai alat untuk mendidik anak-anak suaya anak dapat merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan. Syarat-syarat ganjaran yang perlu diperhatikan oleh pendidik ialah :
a. Untuk memberi ganjaran yang pedagogis perlu sekali guru mengenal betul-betul miurid-muridnya dan tahu menghargai dengan tepat
b. Ganjaran yang diberikan kepada seorang anak janganlah hendaknya menimbulkan rasa cemburu atau iri hati
c. Member ganjaran hendaklah hemat
d. Janganlah member ganjaran dengan menjanjikan lebih dulu sebelum anak-anak menunjukkan prestasi kerjanya apalagi bagi ganjaran yang diberikan kepada seluruh kelas
e. Pendidik harus berhati-hati dalam memberikan ganjaran, jangan sampai ganjaran yang diberikan kepada anak-anak diterimanya sebagai upah dari jerih payah yang telah dilakukannya.
BAB III
PERBEDAAN (KELEBIHAN DAN KELEMAHAN)
3.1. Perbedaan (kelebihan dan kelemahan)
Menurut penulis kelebihan pada buku ini adalah buku ini bagus dan bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi orang tua dan guru karena pada buku ini disajikan bagaimana ilmu pendidikan yang ada di Indonesia, kesulitan-kesulitan, pengaruh-pengaruh, tujuan ilmu pendidikan dan lainnya. Buku ini juga menarik untuk dibaca walaupun tidak menampilkan gambar-gambar tetapi tetap buku ini menarik karena buku ini menyajikan contoh-contoh keseharian yang memang terjadi di lingkungan sekitar kita tentang pendidikan.
Selain kelebihan menurut penulis buku ini juga mempunyai kekurangan yaitu pada penulisan kata-kata yang ada di isi buku ini. Buku ini tidak memilki standart kopetensi. Buku ini juga tidak di lengkapi dengan ragkuman yang berguna untuk menyimpulkan dengan singkat suatu tulisan, berita atau pembahasan tersebut
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari critical book report Didalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I pasal 1 ayat (2) disebutkan : “ Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945”. Tujuan pendidikan nasional yang dimaksud disini adalah tujuan akhir yang akan dicapai oleh semua lembaga pendidikan, baik formal, nonformal, maupun informal yang berada dalam masyarakat dan negara Indonesia. Negara mempunyai hak dan kewajiban untuk menyelenggarakan pendidik dan pengajaran bagi waga negaranya, sesuai dengan dasar-dasar dan tujuan negara itu sendiri, yaitu mengatur kehidupan umum menurut ukuran-ukuran yang sehat sehingga menjadi bantuan bagi pendidikan keluarga dan dapat mencegah apa-apa yang merugikan perkembangan anak untuk mencapai kedewasaan.
4.2. Saran
Ada baiknya semua materi ini diterapkan kedalam kehidupan sehari-hari
DAFTAR PUSTAKA
Purwanti, Ngalim. 2011. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung : Remaja Rosdakarya
Kadir, Abdul. 2012. Dasar dasar Pendidikan. jakarta
bagilah cbr yang lebih simple dari ini kak tapi padat dan singkat karna cbr kk ini bagus tapi terlalu panjang untukku karena aku masih mahasiswa baru unimed yang di tugaskan membuat cbr tentang ilmu pendidikan tapi aku masih pemula jadi cbr kakak ini terlalu panjang dan kurang rapi menurutku kakak tapi isi nya bagus dan dapat dijadikan batu loncatan pembuatan cbr yang serupa tapi perlu di rapikan kembali kakak bisakan kakak aku minta tolong kali kakak
ReplyDelete