Monday, 17 October 2016

CRITICAL BOOK REPORT TENTANG DASAR – DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING



CRITICAL BOOK REPORT TENTANG DASAR – DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Bila ditinjau dari segi sejarah perkembangannya ilmu bimbingan dan konseling di indonesia, maka sebenarnya istilah bimbingan dan konseling pada awalnya dikenal dengan istilah bimbingan dan penyuluhan yang merupakan terjemahan dari istilah guidance and counseling. Istilah penyuluhan yang merupakan ...................

 B.     MANFAAT
     Manfaat critical jurnal adalah sebagai berikut:
1 ...............................................................
Ø  Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan isi buku.
Ø  Membantu mahasiswa untuk berpikir kritis dan menalar dan menganalisis isi buku
Ø  Untuk membantu seorang mahasiswa mengkritik isi dari buku

C.    TUJUAN
     Tujuan pembuatan critical jurnal adalah sebagai berikut:
v  Untuk memngetahui isi dari buku yang dapat dijadikan seebagai bahan kajian untuk mengamati,menanya,mengumpulkan informasi,menalar dan mengkomunikasikan
v  Sebagai bahan pengumpulan data dalam pembuatan critical jurnal untuk di analisis dan mencari kelebihan dan kekurangan buku yang di kritisi .
v  Mengembangkan potensi peseta didik agar menjadi manusia yang mampu berpikir dan mengembangkan potensi diri.



BAB II
ISI BUKU

BIOGRAFI BUKU
1.      Buku utama(buku satu)
Judul buku      : Dasar-dasar Konseling dan Pendidikan
Pengarang       :  Dr.H. Mohammad Surya
Penerbit           :  Kota Kembang, Yogyakarta
Tahun terbit     :  8 September 1988
Tebal buku      :  251 halaman

2.      Buku pembanding (buku dua)
Judul buku      :  Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling
Pengarang       :  Prof. Dr. H. Prayetno, M.Sc.Ed.
                            Drs. Erman Amti
Penerbit           :  Rineka Cipta
Tahun terbit     :  2013
Tebal buku      :  379 halaman

3.      Buku Pembanding (ke tiga)
Judul Buku      :  Dasar- dasar Bimbingan dan Konseling
Pengarang       :  Drs. Nasrun, M.S
                           Dra. Zuraida Lubis, M.Pd., Kons
                           Dra. Nurarjani, M.Pd
                           Mirza Irawan, S.Pd, M.Pd., kons
Penerbit           :Universitas Negeri Medan Fakultas Ilmu Pendidikan
Tahun terbit     :  Agustus 2016
Tebal buku      :  123 halaman


RINGKASAN BUKU BIMBINGAN KONSELING
1.1       KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING
A.    BIMBINGAN




B.     PENGERTIAN KONSELING


C.     KONSELING SEBAGAI HUBUNGAN YANG BERSIFAT MEMBANTU 

D.    KONSELING DAN PSIKOTERAPI PROFESIONAL

1.2 UNSUR-UNSUR POKOK KONSELING
A.    HARAPAN DAN TUJUAN KONSELING
Kebanyakan konseling mengharapkan bahwa dengan konseling ,mereka akan memperoleh pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah pribadi yang dihadapinya. Tujuan dari konseling  mencerminkan kebutuhan-kebutuhannya sendiri dan bukan kebutuhan –kebutuhan klien. Dalam hal ini,merupakan pencerminan dari latar belakang profesional , pengalaman dan filsafat dari pengarangnya.

B.     KARAKTERISTIK KONSELOR DAN KONSELI
Uraian yang berisi ringkasan hasil-hasil riset yang berkaitan dengan karakteristik konselor dan konseli, yai.................................................................................................................................
......................................................................................................

BAB III
PERBANDINGAN
DASAR-DASAR KONSELING DAN PENDIDIKAN ( PERTAMA )
·         KELEBIHAN BUKU PERTAMA (I)

·         KELEMAHAN
-          
DASAR- DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING ( KEDUA )
·         KELEBIHAN
-       
·         KELEMAHAN
-       


DASAR - DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING ( KETIGA)
·         KELEBIHAN

·         KELEMAHAN
-      



BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Bimbingan  konseling adalah suatu bantuan yang diberikan oleh konselor kepada konseli agar k.............................................................................................
SARAN
Harusnya membuat lebih banyak gambaran atau contoh tentang tingkah laku baik seseorang agar dapat .............................


Sunday, 16 October 2016

Contoh Makalah PLS Critical book

CRITICAL BOOK REPORT



BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dewasa ini tidak jarang kita temui remaja-remaja yang mengalami gangguan psikologis yang menghambat perkembangan remaja tersebut. Hal ini tentulah suatu hal yang perlu di atasi dan perlu mendapat tinjauan lebih lanjut. Gangguan pada remaja ini terutama di sebabkan oleh pengaruh psikologis. Dimana seorang remaja mengalami hambatan dalam mengembangkan kepribadiannya. Masa remaja merupakan masa mencari jati diri. Artinya pada remaja suka melihat permasalahan dengan menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Perilaku remaja tersebut sangat beresiko misalnya masalah kesehatan. Karena itu, peran orangtua tetap penting sebagai pengawas mereka.
B. TUJUAN
Tujuan dari makalah ini untuk menjelaskan gambaran mengenai psikologi remaja kepada pembaca. Mengetahui apa yang di maksud dengan gangguan psikologi remaja, mengetahui gangguan yang paling sering di alami oleh remaja kebanyakan, memahami cara mengatasi gangguan psikologi pada remaja.
C. MANFAAT
Penulis membuat makalah ini mengharapkan agar memberi manfaat bagi semua pihak, baik bagi penulis, mahasiswa, serta pembaca. Hasil penulisan ini juga di harapkan menambah pengetahuan bagi para pembaca tentang psikologi remaja.
2 | P a g e
BAB II
ISI BUKU
BAB I DEFINISI REMAJA
Remaja adalah suatu masa dimana:
- Individu berkembang dari saat pertama kali Ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
- Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
- Terjadi peralihan dari ketergantungan social ekonomi yang penuh pada keadaan yang relatif lebih mandiri.
Definisi Remaja Untuk Masyarakat Indonesia
- Di banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah di anggap akil balik, baik menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak.
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Remaja Dalam Rangka Perkembangan Jiwa Manusia
Tahap-tahap perkembangan jiwa menurut Aristoteles:
- 0-7 tahun: masa kanak-kanak
- 7-14 tahun: masa anak-anak
- 14-21 tahun: masa dewasa muda
Tahap-tahap perkembangan jiwa menurut Rousseau:
- 0-4 atau 5 tahun: masa kanak-kanak
- 5-12 tahun: masa bandel
- 12-15 tahun: masa bangkitnya akal, nalar dan kesadaran diri
- 15-20 tahun: masa kesempurnaan remaja/puncak perkembangan emosi
Tahap-tahap perkembangan jiwa menurut Bloss:
- Remaja awal
- Remaja madya
- Remaja akhir
BAB III PERKEMBANGAN FISIK REMAJA
A. Pada Anak Perempuan
- Pertumbuhan tulang-tulang
- Pertumbuhan payudara
- Tumbuh bulu yang halus dan lurus berwarna gelap di kemaluan
- Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimal setiap tahunnya
- Bulu kemaluan menjadi keriting
- Haid
- Tumbuh bulu-bulu ketiak
B. Pada Anak Laki-Laki
- Pertumbuhan tulang-tulang
- Testis membesar
- Tumbuh bulu kemaluan

- Awal perubahan suara
- Ejakulasi
- Tumbuh rambut halus di wajah
- Tumbuh bulu ketiak
- Akhir perubahan suara
- Tumbuh bulu di dada
C. Hormon-Hormon Seksual
- Kelenjar bawah otak
- Testis
- Indung telur
BAB IV PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS REMAJA
A. Pembentukan Konsep Diri
- Pemekaran diri sendiri
- Kemampuan untuk melihat diri sendiri secara objektif
- Memiliki falsafah hidup tertentu
B. Perkembangan Intelegensi
Jenis-jenis Intelegensi yaitu:
- Bodily kinesthetic: kecerdasan yang terkait dengan gerakan anggota tubuh
- Interpersonal: kecerdasan yang terkait dengan hubungan dengan orang lain
- Verbal linguistic kemampuan yang terkait dengan kata-kata lisan maupun tertulis
- Logical mathematical: menyangkut logika, penggunaan akal, abstraksi dan angka
- Intrapersonal: kemampuan utama adalah introspeksi diri
- Visual spatial: kemampuan yang tinggi dalam mengambil keputusandalam bidang penglihatan dan ruang
- Musical: kecerdasan musical terkait dengan irama, music, nada, dan pendengaran
C. Perkembangan Peran Sosial
D. Perkembangan Peran Gender
E. Perkembangan Moral dan Religi
BAB V REMAJA SEBAGAI SUBKULTUR
A. Masyarakat Transisi
B. Remaja dan Masyarakat Transisi
C. Remaja Sebagai Anggota Keluarga
D. Remaja Disekolah
E. Remaja Dalam Masyarakat
BAB VI PERILAKU SEKSUAL REMAJA
A. Faktor-Faktor Penyebab Masalah Seksualitas Pada Remaja
- Meningkatnya libido seksualitas
- Penundaan usia perkawinan
- Tabu-larangan
- Kurangnya informasi tentang seks
- Pergaulan yang makin bebas
B. Nilai Seksual Pada Pria dan Wanita
- Dari pada wanita, laki-laki lebih cenderung menyatakan bahwa mereka sudah berhubungan seks dan sudah aktif berperilaku seksual
- Remaja putri menghubungkan seks dengan cinta

- Sebagian besar dari hubungan seks remaja di awali dengan agresivitas pada remaja pria dan selanjutnya remaja putrinya lah yang menentukan sampai batas mana agresivitas pria itu terpenuhi
- Remaja pria cenderung menekan dan memaksa remaja putri untuk berhubungan seks, namun ia sendiri tidak merasa memaksa
C. Kelainan Dan Gangguan Seksual
Jenis-jenis gangguan seksual pada umumnya:
- Gangguan identitas jenis
- Parafilia
- Disfungsi psikoseksual
- Gangguan psikoseksual
BAB VII PERILAKU MENYIMPANG PADA REMAJA
A. Kenakalan Remaja
- Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain
- Kenakalan yang menimbulkan korban materi
- Kenakalan social yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain
- Kenakalan yang melawan status
B. Penyalahgunaan Narkoba
Jenis-jenis narkoba:
- Opium
- Heroin
- Shabu-shabu
- Ekstasi
- Putaw
- Ganja
C. Psikopatologi Pada Remaja
Jenis-jenis gangguan jiwa pada praremaja:
- Gangguan neurosis
- Takut kepada sekolah
- Keterasingan
- Kenakalan anak
- Retardasi mental
- Gangguan organis
- Gangguan kepribadian
D. Penanganan Terhadap Perilaku Menyimpang Remaja
- Kepercayaan
- Kemurnian hati
- Kemampuan mengerti dan menghayati perasaan remaja
- Kejujuran
- Mengutamakan persepsi remaja sendiri
- Penanganan individual
- Penanganan keluarga
- Penanganan kelompok
- Penanganan pasangan

BAB III
PEMBAHASAN

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Manusia adalah suatu makhluk somato-psiko-sosial dan karena itu maka semua pendekatan terhadap manusia harus menyangkut semua unsur somatic, psikologi, dan social. Remaja adalah mereka yang berusia antara 12-21 tahun. Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Perkembangan psikologis di tekankan pada keadaan emosi remaja. Kenakalan remaja itu sendiri merupakan perbuatan pelanggaran norma-norma baik norma hokum maupun norma social.
B. SARAN
Berdasarkan critical book yang saya buat, mungkin ada tambahan-tambahan untuk mengisi kekurangan-kekurangan dalam critical book ini. Saran dari semuanya akan saya kumpulkan untuk memberi semangat dan acuan dalam penulisan critical book ini.

DAFTAR PUSTAKA
Andrini , D. R. (2000). Intensi orangtua untuk memberikan pendidikan seks kepada anak remajanya. Skripsi. Jakarta: fakultas psikologi UI
Aditya, Prita. (2009). Gambaran kecemburuan pada kaum homoseksual pria di Jakarta. Skripsi. Jakarta: Fakultas Psikologi UI
Bertens, K. (1980). Memperkenalkan psikoanalisis Sigmund freud. Jakarta: Gramedia
Dapartemen Kesehatan (1993). Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III, Cetakan Pertama. Jakarta: Depkes
Dirjen PPM dan PLP, Depkes RI. 1999. Laporan kasus HIV/AIDS s/d Maret 1999

Friday, 14 October 2016

MAKALAH KI HAJAR DEWANTARA VERSI ABDUL GOFUR


MAKALAH KI HAJAR DEWANTARA VERSI ABDUL GOFUR

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Berbicara tentang pendidikan pada umumnya, serta pendidikan Islam pada khususnya di Indonesia tidak dapat ditinggalkan pembicaraan terhadap tokoh dan pejuang pendidikan Indonesia sejati yang bernama Ki Hajar Dewantara. Seorang pakar yang berkecimpung atau mengonsentrasikan keahliannya dalam bidang pendidikan, amatlah naif apabila tidak mengetahui dan memahami pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara. Hal yang demikian itu terjadi antara lain di sebabkan karena berbagai konsep strategis tentang pendidikan di Indonesia dalam hampir seluruh aspeknya senantiasa merujuk pada pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Gagasan dan pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara telah ditulis dalam berbagai karangannya yang mendapatkan sambutan hangat dari kepala Negara, Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Karena demikian luas dan mendalam pemikiran pendidikannya itu, maka boleh jadi ia belum dapat dibaca oleh para pakar pendidikan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, karena berbagai alasan. Bagaimanakah corak, sifat, dan karakter pemikiran pendidikannya itu, boleh jadi belum dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat.
Demikian pula dalam situasi reformasi seperti sekarang ini, konsep pendidikan di Indonesia tengah ditinjau ulang untuk kemudian dihasilkan suatu rumusan konsep pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam kaitan mencari rumusan kosep pendidikan yang demikian itu, maka sebaiknya kita menengok sejenak pemikiran-pemikiran pendidikan yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara, dalam kerangka al-mahafadzah ala al-qadim al-shalih wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah (meneruskan hal-hal masa lalu yang masih relevan dan mengambil pemikiran baru yang lebih baik).
Sebagai seorang Muslim yang taat dan tinggal dalam lingkungan budaya Jawa yang kental, maka dapat diduga kuat, bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara itu, selain dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, situasi politik dan perjalanan hidupnya, juga akan dipengaruhi oleh pandangannya tentang ajaran Islam. hal ini pada gilirannya menjadi dasar yang kuat untuk mengindetifikasi corak dan sifat gagasan-gagasan pendidikannya itu.
B.   Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah biografi Ki Hajar Dewantara?
2.      Apa karya-karya Ki Hajar Dewantara?
3.      Bagaimana pemikiran-pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara?
C.   Tujuan
1.      Untuk mengetahui biografi Ki Hajar Dewantara
2.      Untuk mengetahui karya-karya Ki Hajar Dewantara
3.      Untuk mengetahui pemikiran-pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara

BAB II
PEMBAHASAN

A.   Biografi Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara yang nama aslinya Suwardi Suryaningrat dilahirkan pada 2 Mei 1889, bertepatan dengan 1303 H di Yogyakarta, dan wafat pada 26 April 1959 bertepatan dengan 1376 H (berusia 70 tahun).
Dilihat dari segi leluhurnya, ia adalah putra dari Suryaningrat, putra Paku Alam III. Sebagai seorang keluarga ningrat, ia termasuk yang memperoleh keuntungan dalam mendapatkan pendidikan yang baik. Pendidikan dasarnya ia peroleh dari sekolah rendah Belanda (Europeesche Lagere School, ELS). Setelah itu ia melanjutkan ke Sekolah Guru (Kweek School); tetapi sebelum sempat menyelesaikannya, ia pindah ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Arten). Namun di sekolah ini pun ia alami kesulitan ekonomi. Sejak itu, ia memilih terjun ke dalam bidang jurnalistik, suatu bidang yang kelak mengantarkannya ke dunia pergerakan politik nasional.
Pada tahun 1912, nama Ki Hajar Dewantara dapat dikatogorikan sebagai tokoh muda yang mendapat perhatian Cokroaminoto untuk memperkuat barisan Syarekat Islam cabang Bandung. Oleh karena itu, ia bersama dengan Wignyadisastra dan Abdul Muis, yang masing-masing diangkat sebagai ketua dan wakil ketua, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai sekertaris, tidak genap satu tahun. Hal ini terjadi, karena bersama dengan E.F.E. Dowes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, ia diasingkan ke Belanda (1913) atas dasar orientasi politik mereka yang cukup radikal. Selain alasan itu, Ki Hajar Dewantara pun jauh lebih mengaktifkan dirinya pada Indische Partij yang didirikan pada tanggal 6 September 1912. Dengan alasan ini, maka Ki Hajar Dewantara tidak memiliki kesempatan untuk menjadi tokoh penting di lingkungan Syarikat Islam.
Sebagai tokoh politik dan tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara tidak hanya terlibat dalam konsep dan pemikiran melainkan juga terlibat aktif sebagai pelaku yang berjuang membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda dan Jepang melalui pendidikan yang diperjuangkannya melalui Sistem Pendidikan Taman Siswa yang didirikan dan diasuhnya. Dalam posisinya yang demikian itu, maka dapat diduga ia memiliki konsep-konsep yang strategis tentang pendidikan di Indonesia. Konsep ini cukup menarik untuk dikaji lebih lanjut. Karena jasanya yang demikian besar dalam dunia pendidikan nasional, maka hari kelahirannya, tanggal 2 Mei dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional.
B.   Karya-karya Ki Hajar Dewantara
Karya Warisan Pertama Ki Hajar Dewantara adalah Taman Siswa yang menjadi representasi institusi pendidikan pribumi pada masa kolonial dan tetap eksis sampai hari ini. Kedua adalah tulisan-tulisan Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.
Tulisan-tulisan itu dikumpulkan dan diterbitkan oleh Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa dalam buku Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian I Pendidikan (1962) dan Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian II: Kebudayaan (1967). Kepiawaian dalam menulis karena beliau sejak muda menjadi penulis dan wartawan.
Ketiga, Buku Bagian I Pendidikan terbagi dalam 8 bab: pendidikan nasional, politik pendidikan, pendidikan kanak-kanak, pendidikan kesenian, pendidikan keluarga, ilmu jiwa, ilmu adab, dan bahasa. Tulisan tertua dalam buku ini yakni ’’Pendidikan dan Pengajaran Nasional’’ yang disampaikan sebagai prasaran dalam Kongres Permufakatan Pergerakan Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada 31 Agustus 1928.
Ki Hadjar Dewantara dalam tulisan itu mengatakan bahwa kemerdekaan dalam dunia pendidikan memiliki tiga sifat: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dapat mengatur diri sendiri. Buku Bagian II Kebudayaan terbagai dalam 5 bab: kebudayaan umum, kebudayaan dan pendidikan/kesenian, kebudayaan dan kewanitaan, kebudayaan dan masyarakat, hubungan dan penghargaan kita.
Dua buku itu adalah representasi pemikiran dan pembuktian dalam praktik pendidikan dan pengajaran dari Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan dan kebudayaan adalah basis kehidupan yang menentukan kualitas manusia dan bangsa.
C.   Gagasan dan Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa pada masa hidupnya Ki Hajar Dewantara banyak mengabdikan dirinya bagi kepentingan pendidikan nasional, melalui Taman Siswa yang didirikan dan diasuhnya. Dalam kapasitasnya yang demikian itu dapat diduga kuat bahwa ia banyak memiliki gagasan dan pemikiran dalam bidang pendidikan yang dikemukakannya.
            Gagasan dan pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara selengkapnya dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.      Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan
Secara sederhana visi dapat diartikan suatu cita-cita ideal yang bersifat jangka panjang jauh ke depan dan mengandung makna yang amat dalam yang kemudian berfungsi sebagai arah pandang ke mana suatu kegiatan akan diarahkan. Secara konseptual visi biasanya berisi rumusan kalimat yang tegas, jelas, dan singkat.
Sedangkan misi adalah serangkaian langkah-langkah strategis yang lebih terperinci dan terukur yang apabila dilaksanakan akan terasa pengaruhnya baik secara psikologis, sosiologis maupun kultural. Kumpulan dari misi tersebut selanjutnya berfungsi untuk mencapai visi.
Adapun tujuan, adalah langkah-langkah strategis yang lebih terukur dan dapat dijangkau hasilnya dalam kurun dan kadar tertentu.
Dalam berbagai tulisannya, Ki Hajar Dewantara tidak mengemukakan visi dan misi tujuan pendidikan secara eksplisit. Namun dari berbagai pernyataannya yang dapat dilihat menurut batasan pengertian tersebut di atas dapat dijumpai bahwa ia memiliki visi dan misi pendidikan tersebut. Ki Hajar Dewantara misalnya mengatakan bahwa pendidikan nasional sebagaimana dianut oleh Taman Siswa adalah pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya (cultureel-national) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia.
Pada bagian lain Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksudnya pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Lebih lanjut Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa pendidikan yang dilakukan dengan keinsyafan, ditujukan ke arah keselamatan dan kebahagiaan manusia, tidak hanya bersifat laku pembangunan, tetapi tetapi sering merupakan perjuangan pula. Pendidikan berarti memelihara hidup tumbuh ke arah kemajuan, tak boleh melanjutkan keadaan kemarin menurut alam kemarin. Pendidikan adalah usaha kebudayaan, berasaskan peradaban, yakni memajukan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan.
Dengan memperhatikan beberapa pernyataan tersebut diatas, tampak sekali bahwa visi, misi dan tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah bahwa pendidikan sebagai alat perjuangan untuk mengangkat harkat, martabat dan kemajuan umat manusia secara universal, sehingga mereka dapat berdiri kokoh sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju dengan tetap berpijak kepada identitas dirinya sebagai bangsa yang memiliki peradaban dan kebudayaan yang berbeda dengan bangsa lain.
Pernyataan visi, misi dan tujuan pendidikan yang bernuansa perjuangan tersebut tidak dapat dilepaskan dari situasi dan kondisi sosial politik pada masanya, yaitu politik kolonial penjajah Belanda yang telah menguras kekayaan alam Indonesia serta menyengsarakan rakyat Indonesia secara lahir batin.
      2.Kurikulum (Mata Pelajaran)
Istilah “kurikulum” berasal dari dunia olahraga zama Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish. Dalam pengertian yang sederhana kurikulum sering diartikan dengan sejumlah mata pelajaran atau bidang studi. Namun dalam perkembangan selanjutnya pengertian kurikulum tidak hanya terbatas pada pengertian sejumlah mata pelajaran atau bidang studi saja, melainkan termasuk pula kegiatan-kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka belajar. Kegiatan-kegiatan belajar dimaksud dapat dilakukan dalam kelas dengan mengikuti ceramah, bertanya jawab, mengadakan demonstrasi, bisa juga kegiatan di luar kelas, baik di dalam maupun di luar kampus. Sejalan dengan itu pendapat berikutnya mengatakan bahwa menurut pandangan modern, kurikulum lebih dari sekedar rencana pelajaran atau bidang studi. Kurikulum dalam pandangan modern ialah semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah. Pandangan ini bertolak dari sesuatu yang aktual, yang nyata yaitu yang aktual terjadi di sekolah dalam proses belajar.
Pemikiran dan gagasan Ki Hajar Dewantara dalam bidang kurikulum terlihat sangat dipengaruhi oleh semangat kemandirian yang dibangunnya dengan bertumpu pada budaya bangsa sendiri, yaitu budaya Indonesia. Sungguhpun ia dibesarkan dalam lingkungan pendidikan Belanda, tapi ia laksana ikan dalam laut. Sungguhpun air laut itu asin, tapi ikan tidak asin, kecuali sengaja diasin. Ki Hajar Dewantara memperlihatkan kejeniusan, keorisinalan, dan kemandiriannya dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum (mata pelajaran). Ia ingin mandiri dan tidak mau menjiplak produk Belanda. Ia ingin menunjukkan bahwa bangsa Indonesia juga dapat mengurus dan merumuskan sendiri tentang pendidikan yang terbaik bagi bangsanya.
3.      Pendidikan Budi Pekerti
Pendidikan budi pekerti termasuk bidang kajian yang mendapat perhatian yang menonjol dari Ki Hajar Dewantara. Pemikiran dan gagasannya tentang pendidikan budi pekerti secara akademis amat luas, kokoh dan komprehensif, sebagaimana hal ini terlihat pada sejumlah refrensi dari para tokoh dalam bidangnya yang ia gunakan. Penguasaannya terhadap ilmu jiwa yang demikian luas yang mendalam telah digunakannya secara fungsional, proporsional dan elegan dalam membangun konsep atau teorinya tentang pendidikan budi pekerti. Demikian pula semangat nasionalisme, kemandirian dan kemerdekaannya dari pengaruh budaya Belanda telah semakin mendorong baginya untuk merumuskan konsep budi pekerti yang khas bagi bangsa Indonesia.
Gagasan dan pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan budi pekerti terlihat dengan jelas diarahkan pada pembentukkan karakter bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya bangsa. Ia menginginkan agar bangsa Indonesia memiliki sikap dan pandangan yang maju disatu pihak, namun di pihak lain ia tetap berpijak pada kepribadian sebagai bangsa Indonesia yang memiliki budaya dan kepribadian yang khas, tidak meniru atau bersikap kebarat-baratan dan sebagainya.
4.      Pendidikan Agama
Ki Hajar Dewantara menunjukkan sikap sebagai seorang nasionalis religius yang bersikap toleran, demokrat, menghargai keragaman dan sekaligus juga realistik. Selain itu, ia juga menginginkan agar masing-masing agama memiliki tanggung jawab moral untuk memperbaiki akhlak dan sopan santun masyarakat dengan cara menonjolkan sisi-sisi pengalaman agama dalam bentuk budi pekerti yang mulia. Ia juga menginginkan agar masyarakat bersikap realistik dan objektif serta toleran. Hal ini terlihat pernyataan yaitu bahwa dari satu sisi suatu lembaga pendidikan dapat mengajarkan agama yang sesuai dengan misi lembaga tersebut kepada siswa yang memiliki agam yang berbeda, dengan catatan tidak boleh dengan paksaaan. Sementara itu kepada penganut agama lain yang minoritas harus dengan kebesaran jiwa menerima realitas penganut agama lain yang mayoritas. Jika di lembaga pendidikan tersebut penganut agama yang mayoritas adalah Islam, kemudian membiasakan tradisi secara islami, maka penganut non-Muslim harus menerima keadaan tersebut. Demikian pula sebaliknya.
Jalan pemecahan masalah (solusi) yang ditawarkan oleh Ki Hajar Dewantara terhadap persoalan pendidikan agama tersebut tampaknya cukup toleran, demokrat, menghargai perbedaan, seimbang, sesuai dengan prinsip menjungjung hak-hak asasi manusia dan sekaligus juga realistik. Dari sikapnya ini terlihat, bahwa ia memang bukan seorang kiai atau ulama, tapi cara pandangnya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.
5.      Pendidikan Taman Kanak-kanak
Pendidikan Taman Kanak-kanak termasuk ke dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia. Dalam bahasa Arab dijumpai adanya istilah Bustanul Athfal (Tempat bermaik Kanak-kanak), Riyadlul Athfal (Taman Kanak-kanak), dan sebagainya. Para Ulama Islam seperti Imam Al-Ghazali, Ibn Jama’ah dan lain-lain sudah menyinggung perlunya pendidikan kanak-kanak sebagai bagian yang tidak boleh dianggap sepele dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia yang utuh.
Perhatian terhadap pentingnya pendidikan kanak-kanak ini telah pula di lakukan oleh Ki Hajar Dewantara sebagaimana hal itu dijumpai dalam bagian pendidikan yang terdapat pada Taman Siswa. Dalam hubungan ini Ki Hajar Dewantara mengatakan, “Barangkali pembaca sudah pernah mendengar, bahwa dalam Taman Siswa diadakan adalah Taman Anak, yaitu kalau di HIS sama dengan Voorklas, kelas I, II dan III yang dimana Legere School (Taman Muda), yaitu bagian kedua dari kelas 4 sampai kelas 7, kalau menurut aturan HIS.
Konsep pendidikan Taman Kanak-kanak Ki Hajar Dewantara sangat dipengaruhi oleh pandangannya yang utuh tentang manusia serta sikap nasionalisme yang kokoh. Melalui pendidikan Taman Kanak-kanak, pelajaran ditujukan untuk mempertajam daya batin (cipta, rasa, karsa, nafsu dan sebagainya) yang dilakukan melalui pengajaran pancaindra dengan mempergunakan sejumlah  permainan yang hidup dan tumbuh di bumi Indonesia sendiri. Membaca dan melihat konsep dari luar adalah suatu keharusan, tetapi semuanya itu bukan untuk ditiru mentah-mentah begitu saja, melainkan membangun konsep yang baru dan khas milik kita sendiri. Dengan cara demikian jati diri, karakter dan kepribadian sebagai bangsa akan tampak jelas dan terpelihara sebagaimana mestinya.
6.      Wawasan Global-Internasional
Berbagai konsep pendidikan yang berkaitan dengan pendidikan sebagaimana di kemukakan oleh Ki Hajar Dewantara selalu didasarkan pada dasar kebangsaan Indonesia, dalam arti yang luas, tinggi dan dalam, dan hanya terbatas oleh syarat-syarat Adab Kemanusiaan, seperti yang dimaksudkan oleh segala pengajaran agama. Namun demikian, dasar kebangsaan ini menurut Ki Hajar Dewantara harus pula dibangun dalam hubungan yang lebih luas dengan dunia Internasional. Dalam hubungan ini, ia mengatakan: meskipun cara penyelenggaraan pengajaran itu harus seimbang dengan kekuatan dan keadaan lain-lain dari masyarakat, tetapi hendaklah selalu diusahakan memperbaiki segala peraturan pengajaran, hingga dapat memenuhi syarat-syarat dan ukuran-ukuran internasional.
Sejalan dengan wawasan global-internasional tersebut, Ki Hajar Dewantara sangat menekankan pentingnya pengajaran bahasa dunia. Untuk kepentingan pengajaran bahasa ini, dalam bukunya Bagian Pertama Pendidikan, ia menguraikan pandangannya tentang bahasa dalam satu bab khusus tentang bahasa sebanyak lebih kurang enam puluh halaman. Ia mengatakan bahwa bahasa yang dipelajarkan pada sekolah-sekolah rendah hanya bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Sedangkan untuk sekolah menengah selain bahasa itu perlu pula bahasa Inggris sebagai bahasa dunia internasional dan bahasa Jerman untuk keperluan perluasan ilmu pengetahuan, yang sebaik-baiknya diajarkan di sekolah menengah tinggi.
7.      Sistem Pondok
Selain berbicara tentang berbagai aspek yang terkait dengan pendidikan, Ki Hajar Dewantara juga berbicara tentang sistem pondok. sistem pondok, asrama atau pawiyatan mengandung keuntungan dari segi ekonomi, sosial kemasyarakatan dan secara akademis akan mendukung terciptanya hasil pendidikan yang berkualitas secara sempurna. Dengan sistem ini, seorang anak diajar cara hidup bermasyarakat, dan sekaligus dapat memanfaatkan seluruh waktunya untuk kepentingan pendidikan.
Konsep pendidikan yang berbasiskan pada sistem asrama ini tampak masih cukup menarik di zaman sekarang ini. Di tengah-tengah masyarakat yang penuh dengan barbagai godaan yang dapat menjerumuskan peserta didik ke dalam kehidupan yang menyuramkan masa depannya, sistem pendidikan yang berbasiskan pondok ini merupakan alternatif yang perlu dipertimbangkan. Berbagai lembaga pendidikan yang menginginkan lulusannya berhasil dalam studinya dengan baik masih terus mengembangkan konsep pendidikan yang berbasis pondok ini.

BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
1.      Terbukti dengan amat jelas dan meyakinkan, bahwa Ki Hajar Dewantara adalah seorang pendidikan yang sejati. Berbagai pemikiran, gagasan dan konsep-konsep yang ditawarkannya bukan hanya dalam teori tetapi telah ia praktikan melalui Perguruan Taman Siswa yang diasuhnya.
2.      Corak pemikiran dan gagasan pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara amat dipengaruhi oleh situasi perjuangan dan pergerakan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah Belanda dan Jepang. Ia mengkritik pendidikan yang diberikan pemerintah Belanda kepada bangsa Indonesia sebagai pendidikan yang tidak bermutu, sekularistik, diskriminatif dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
3.      Gagasan pemikiran Ki Hajar Dewantara dikemukakan sebagai berikut:
a.       Visi, misi dan Tujuan Pendidikan
b.      Kurikulum (Mata pelajaran)
c.       Pendidikan budi pekerti
d.      Pendidikan agama
e.       Pendidikan Taman Kanak-kanak
f.       Wawasan global-internasional
g.      Sistem pondok
B.   Saran
Demikian makalah ini kami buat. Penulis sadar akan banyaknya kekurangan dan jauh dari hal sempurna. Masih banyak kesalahan dari makalah ini. Penulis juga membutuhkan kritik dan saran agar bisa menjadikan motivasi bagi penulis agar ke depan bisa lebih baik lagi. Terima kasih juga kami ucapkan kepada segala pihak yang telah membantu hingga makalah ini dapat kami selesaikan.
DAFTAR PUSTAKA

Penulis, Tim. Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I. Jakarta: Djambatan. 2002
Dewantara, Ki Hajar. Bagian Pertama Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. 1962
Lihat Sudirman, dkk. Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Karya. 1989
Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: