A.
Pengertian
dan Ruang Lingkup Komunikasi
Secara
etimologis atau menurut asal katanya, istilah komunikasi berasal dari bahasa
Latin, yaitu communicatio, yang akar
katanya adalah communis, tetapi bukan
partai komunis dalam kegiatan politik. Arti communis
disini adalah sama, dalam arti
kata sama makna, yaitu sama makna
mengenai suatu hal. Secara terminologis komunikasi berarti proses penyampaian
suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Dari pengertian itu jelas
bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, di mana seseorang menyatakan
sesuatu kepada orang lain. Jadi yang terlibat dalam komunikasi itu adalah
manusia
Dedi
Mulyana menyebutkan beberapa defenisi
komunikasi sebagai kegiatan satu arah yang dirumuskan beberapa ahli, sebagai
berikut:
1. Bernard
Berelson dan Garry A. Steiner: Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan,
emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol,
kata-kata, gambar, vigur, grafik, dan sebagainya. Tindakan transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.
2. Theodore
M.Newcomb: Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi terdiri dari
rangsangan yang diskriminatif, dari
sumber kepada penerima.
3. Carl
Hovland: Komunikasi adalah proses yang
memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya
lambang-lambang verbal) untuk mengubah prilaku orang lain (komunikate).
4. Gerald
R. Miller: Komunikasi terjadi ketika suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada
penerima dengan niat yang disadari untuk menerima prilaku menerima.
5. Everett
M.Roger: komunikasi adalah suatu proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber
kepada satu penerima atau dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
6. Raymond
R. Ross: Komunikasi (intensional) adalah suatu proses menyortir, memilih, dan
mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar
membangkitkan makna atau respon dari fikirannya yang serupa dengan yang
dimaksudkan komunikator.
7. Harold
Laswell: cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikut: atau siapa mengatakan apa dengan saluran apa
kepada siapa dengan pengaruh bagaimana?
Berdasarkan
definisi Laswell dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling bergantung
satu sama lain yaitu:
1.
Sumber (source) yang juga disebut pengirim (sender), penyandi (encorder), komunikator (comunicator),
pembicara (speaker), atau originator.
2.
Pesan, yaitu apa yang
dikomunikasikan sumber kepada penerima.
3.
Saluran atau media, yaitu
alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada
penerima.
4.
Penerima (reciver), sering juga disebuttujuan (destination),
komunikate (communicate), penyandi
balik (decorder), atau khalayak (audience)
5.
Efek, yaitu apa yang
terjadi pada penerima setelah menerima pesan.
Selanjutnya,
Dedi Mulyana menyebutkan pula komunikasi sebagai proses interaksi yang
menyetarakan komunikasi dengan suatu proses sebab akibat atau aksi-reaksi yang
arahnya bergantian. Komunikasi sebagai interaksi dipandang sedikit lebih
dinamis daripada komunikasi sebagai tindakan satu arah. Unsur yang dapat
ditambahkan dalam konsep ini adalah umpan balik (feed back), yaitu apa yang disampaikan penerima pesan kepada sumber
pesan, yang sekaligus digunakan sumber pesan sebagai petunujuk mengeni
efektifitas pesan yang disampaikan sebelumnya.
Berdasarkan
pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses
penyampaian pesan (ide, gagasan) dari pihak kepada pihak lain agar terjadi
saling mempengaruhi diantara keduanya.
Ketercapaian
tujuan komunikasi merupakan keberhasilan komunikasi. Keberhasilan itu
tergantung dari berbagai faktor sebagai berikut.
1.
Komunikator
Komunikator
merupakan sumber dan pengiriman pesan. Kepercayaan penerima pesan pada komunikator
serta keterampilan komunikator serta keterampilan komunikator dalam melakukan
komunikasi menentukan keberhasilan komunikasi.
2.
Pesan yang disampaikan
Keberhasilan
komunikasi tergantung dari:
a. Daya
tarik pesan
b. Kesesuaian
pesan dengan kebutuhan penerima pesan
c. Lingkup
pengalaman yang sama antara pengirim dan penerima pesan tentang pesan tersebut
d. Peran
pesan dalam memenuhi kebutuhan penerima pesan.
3.
Komunikan
Keberhasilan
komunikasi tergantung dari:
a. Kemampuan
komunikan menafsirkan pesan
b. Komunikan
sadar bahwa pesan yang diterima memenuhi kebutuhannya
c. Perhatian
komunikan terhadap pesan yang diterima.
4. Konteks
Komunikasi
berlangsung dalam setting atau lingkungan tertentu. Lingkungan yang kondusif
(nyaman, menyenangkan, aman, menantang) sangat menunjang keberhasilan
komunikasi.
5.
Sistem penyampaian
Sistem
penyampaian pesan berkaitan dengan metode dan media. Metode dan media yang
sesuai dengan berbagai jenis indera penerima pesan yang kondisinya berbeda-beda
akan sangat menunjang keberhasilan komunikasi.
Onong
Ucjhana Effendi menyebutkan proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yakni
secara primer dan secara sekunder.
a. Proses
komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan
seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses
komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya
yang secara langsung mampu “menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan
komunikator kepada komunikan. Bahwa bahasayang paling banyak dipergunakan dalam
komunikasi adalah jelas karena hanya bahasalah yang mampu “menerjemahkan”
pikiran seseorang kepada orang lain. Apakah itu berbentuk idea, informasi atau
opini; baik mengenai hal yang kongkret maupun yang abstrak, melainkan juga pada
waktu yang lalu dan masa yang akan datang.
b. Proses
komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang
kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua
setelah memakai lambang media pertama. Seorang komunikator menggunakan media
kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya
berada ditempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak
H.
A. W. Widjaya mengatakan komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar
komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Komponen atau unsur tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Sumber
(source)
Sumber
adalah dasar yang digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber
dapat berupa orang, lembaga, buku dan sejenisnya.
2. Komunikator
Komunikator
dapat berupa individu yang sedang berbicara, menulis, kelompok orang,
organisasi komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi, film dan
sebagainya.
3. Pesan
Pesan
adalah keseluruhan daripada apa yang disampaikan oleh komunikator.
4. Saluran
Saluran
komunikasi selalu menyampaikan pesan yang dapat diterima melalui panca indera
atau menggunakan media.
5. Komunikan
Komunikan
atau penerima pesan dapat digolongkan dalam 3 jenis yakni personna, kelompok
dan massa.
6. Effect (hasil)
Effect
adalah hasil akhir dari suatu komunikasi, yakni sikap dan tingkah laku orang,
sesuai atau tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Jika sikap dan tingkah laku
orang lain itu sesuai, berarti komunikasi berhasil, demikian pula sebaliknya
Hafied
Changara menjelaskan demikian banyak klasifikasi yang menjadi bentuk-bentuk
komunikasi. Kelompok sarjana Amerika membagi komunikasi kedalam lima tipe,
yaitu komunikasi antar pribadi, (interpersonal
communication) komunikasi keompok kecil, (small group communication) komunikasi organisasi, (organization communication) komunikasi
massa, (massa communication) dan
komunikasi publik (publik communication)
Sementara
itu, Joseph A Devito membagi bentuk komunikasi atas empat macam, yaitu:
komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok kecil, komunikasi publik dan komunikasi
massa. Berbeda dengan Joseph dan klasifikasi sebelumnya, R. Wayne Pace membagi
komunikasi atas tiga tipe, yaitu: komunikasi dengan diri sendiri, komunikasi
antar pribadi dan komunikasi khalayak
Keberhasilan
komunikasi tergantung dari beberapa faktor sebagai berikut :
1. Komunikator
Komunikator
merupakan sumber dari pengirim pesan.
2. Pesan
yang disampaikan
Keberhasilan
komunikasi tergantung dari :
a. Daya
tarik pesan
b. Kesesuaian
pesan dengan kebutuhan penerima pesan
c. Lingkup
pengalaman yang sama antara pengirim dan penerima pesan tentang pesan tersebut,
serta peran pesan dalam memenuhi kebutuhan penerima pesan.
3. Komunikan
Keberhasilan
komunikasi tergantung dari :
a. Kemampuan
komunikan menafsirkan pesan
b. Komunikan
sadar bahwa pesan yang diterima memenuhi kebutuhannya.
c. Perhatian
komunikan terhadap pesan yang diterima.
4. Konteks
Komunikasi
berlangsung dalam setting atau
lingkungan tertentu. Lingkungan yang kondusif (nyaman, menyenangkan, aman dan
menantang) sangat menunjang keberhasilan komunikasi.
5. Sistem
penyampaian
Sistem
penyampaian pesan berkaitan dengan metode dan media. Metode dan media yang
sesuai dengan berbagai jenis indera penerima pesan yang kondisinya berbeda-beda
akan sangat menunjang keberhasilan komunikasi
Adapun Sifat dalam komunikasi
yaitu:
a.
Tatap muka (face-to-face)
b. Bermedia
(mediated)
c. Verbal
1. Lisan
(oral)
2. Tulisan/
cetak (written/printed)
d. Nonverbal
(non-verbal)
1. Kial/isyarat
badaniah (gestural)
B.
Pola
Komunikasi dalam Keluarga
Komunikasi
adalah suatu kegiatan yang pasti terjadi dalam kehidupan keluarga tanpa
komunikasi, sepilah kehidupan keluarga dari berbicara, berdialog, bertukar
pikiran dan sebagainya. Akibatnya kerawanan hubungan antara anggota kluarga pun
sukar untuk dihindari. Oleh karena itu, komunikasi antara suami dan istri,
komunikasi antara ayah, ibu dan anak, komunikasi antara ayah dan anak,
komunikasi antara ibu dan anak,komunikasi antara anak dan anak, perlu dibangun
secara harmonis dalam rangka membangun pendidikan yang baik dalam keluarga.
Berbicara mengenai pola komunikasi dalam lingkungan keluarga maka berbicara
mengenai model komunikasi.
Menurut
Sereno dan Mortensen, suatu model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai
apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Suatu model mempresentasikan
secara abstrak ciri-ciri penting yang menghilangkan rincian komunikasi yang
tidak perlu dalam dunia nyata. Sedangkan B Aubrey Fisher mengatakan, model
adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan,
unsur, sifat, atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model.
Model adalah gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan teori, atau
dengan kata lain teori yang disederhanakan.
Gardon Wiseman
dan larry Barker menyebutkan tiga fungsi pentingnya model komunikasi.
1) Melukiskan
proses komunikasi
2) Menunjukkan
hubungan visual
3) Membantu
dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi.
Beberapa
model komunikasi yang sangat umum dibicarakan dalam teori komunikasi adalah:
1. Model
S – R
Model
Stimulus – Respon (S-R) menunjukkan
komunikasi sebagai suatu proses aksi- reaksi yang sangat sederhana. Proses ini
dapat bersifat timbal balik dan memiliki banyak efek. Setiap efek dapat
mengubah tindakan komunikasi (Commucation)
berikutnya. Model S-R mengasumsi bahwa kata-kata verbal (lisan-tulisan),
isyarat-isyarat non-verbal, gambar-gambar, tindakan-tindakan tertentu akan
merangsang orang lain untuk memberikan respons dengan cara tertentu.
Model
ini menunjukkan komunikasi sebagai suatu proses “aksi- reaksi” yang sangat
sederhana. Pola ini dapat menghasilkan komunikasi yang efektif (positif), namun
pola ini dapat pula berlangsung negatif. Model S-R mengabaikan komunikasi
sebagai suatu proses khusus yang berkenaan dengan faktor manusia. Ringkasnya,
pada model ini komunikasi dianggap sebagai statis, yang menganggap manusia
selalu berprilaku karena kekuatan dari luar (stimulus).
2.
Model Ariestoteles
Model
Ariestoteles adalah model komunikasi yang paling klasik yang sering juga
disebut model retoris (rethorical model).
Pada model ini terjadi melalui tiga unsur yaitu: pembicara (speaker), pesan (message), dan pengantar (listener).
3.
Model Laswell
Seperti
dijelaskan sebelumnya, model komunikasi Laswell berangkat dari ungkapan who says what in wich channel to whom with
what effect. Model laswell menunjukkan tiga fungsi komunikasi yaitu:
a. Pengawasan
lingkungan yang mengingatkan anggota-anggota masyarakat akan bahaya dan peluang
dalam lingkungan.
b. Korelasi
berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan.
c. Transmisi
warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya
4.
Model Shannon dan
Weaver
Model Shanon dan
Weaver dikenal dengan istilah “model matematika”yang menyoroti problem
penyampaian pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran kepada seorang
penerima yang menyandi balik atau mencipta ulang pesan tersebut. Model shanon
dan weaver ini dapat dijelaskan pada gambar berikut ini:
5.
Model Schramm
Pada
model Scharmm, komunikasi paling tidak membutuhkan tiga unsur, yaitu: sumber (source), pesan (message), dan sasaran (destination).
Schramm membuat serangkaian model komunikasi dimulai dengan model komunikasi
manusia yang sangat sederhana, lalu model yang paling rumit, hingga model
komunikasi yang dianggap sebagai interaksi dua individu. Model yang
diperkenalkan Scharmm dapat dijelaskan pada gambar berikut
6. Model
Newcomb
Theodore
Newcomb memandang komunikasi dari perspektif dari perspektif psikologi sosial.
Dalam model ini, komunikasi adalah suatu cara yang lazim dan efektif yang
memungkinkan orang-orang mengorientasikan diri terhadap lingkungan mereka.
Model ini mengisyaratkan bahwa setiap sistem apapun mungkin ditandai oeh suatu
keseimbangan kekuatan-kekuatan setiap perubahan dalam bagian manapun dari
sistem tersebut akan menimbulkan suatu ketegangan terhadap keseimbangan, atau
simetri, karena ketidakseimbangan atau kekurangansimetri secara psikologis
tidak menyenangkan dan menimbulkan tekanan internal untuk memulihkan
keseimbangan.
7. Model
Westley dan MacLean
Dalam model ini terdapat lima unsur
komunikasi yaitu: objek orientasi, pesan, sumber, penerima, dan umpan balik.
Sumber (A) menyoroti suatu objek atau peristiwa tertentu dalam lingkungan (X)
dan menciptakan pesan mengenai hal itu (X’) yang ia kirim kepada penerima (B).
Pada gilirannya, penerima mengirimkan untuk balik (fBA) mengenai pesan kepada
sumber, penjelasan ini dapat dilihat pada gambar berikut:
Westley dan MacLean menambahkan suatu
unsur lain (C), yaitu “penjaga gerbang” (gatekeeper)
atau pemimpin pendapat (opinion leader)
yang menerima pesan X’ dari sumber media massa (A) atau menyoroti objek orientasi
(X3, X4) dalam lingkungannya. Dalam komunikasi massa, umpan balik dapat
mengalir dengan tiga arah: dari penerima ke penjaga gerbang, dari penerima ke
sumber media massa, dan dari pemimpin pendapat ke sumber media massa.
8. Model
Berlo
Berlo menggambarkan kebutuhan penyandi (encorder) dan penyandi-balik (decoder) dalam proses komunikasi.
Menurut Berlo, sumber dan penerima pesan dipengaruhi oleh faktor: keterampilan
komunikasi, sikap, pengetahuan, sistem sosial, dan budaya. Pesan dikembangkan
berdasarkan elemen struktur, isi, perlakuan, dan kode. Salurannya berhubungan
dengan panca indra: melihat, mendengarkan, menyentuh, membaui dan merasa
(mencicipi) model ini bersifat organisasional yang mendeskripsikan proses.
9. Model
Defleur
Model Defleur diakui sebagai perluasan
dari model-model yang dikemukakan para ahli, khususnya Shannon dan Weaver.
Yaitu dengan memasukkan perangkat media massa, perangkat umpan balik. Menurut
DeFleur komunikasi bukanlah pemindahan makna. Komunikasi terjadi lewat suatu
operasi seperangkat komponen dalam suatu sistem teoritis, yang konsekuensinya
adalah isomeorfisme (isomorphism) di
antara respon internal (makna) terhadap seperangkat simbol tertentu pada pihak
pengirim dan penerima. Isomorfisme makna merujuk pada upaya membuat makna
terkoordinasikan antara dan khalayak.
Sementara
itu H.A.W. Widjaja menyebutkan menyebutkan model-model penyebaran arus
komunikasi, sebagai berikut:
1. Model
Jarum Hipodermik
Model
komunikasi massa ini didasarkan atas anggapan bahwa media massa mampu
menimbulkan efek yang amat kuat. Artinya bahwa komunikan dapat dianggap
bersifat pasif, dengan demikian media massa dianggap sangat ampuh terhadap
komunikannya.
2. Model
Komunikasi Satu Tahap
Model
ini didasarkan atas anggapan bahwa media massa secara langsung sampai pada
komunikannya. Tidak menggunakan pemuka sebagai penerus pesan arti media massa
tersebut. Namun model ini juga mengakui bahwa media bukan merupakan alat yang
teramat kuat pengaruhnya dan efek bagi tiap komunikannya berbeda satu sama
lain.
3. Model
Komunikasi Dua Tahap
Model
ini beranggapan bahwa dalam penyampaian melalui media massa, tidak dapat
langsung kepada publiknya tetapi pemuka pendapat. Artinya dari media massa
sampai pada pemuka pendapat kemudian baru para pemuka ini meneruskannya kepada
komunikan yang dimaksud oleh media massa.
4. Model
Komunikasi Tahap Ganda
Model
ini beranggapan bahwa media massa tidak selalu langsung menuju/sampai pada
komunikannya yang dituju dan juga tidak selalu harus melalui pemuka pendapat.
Berdasarkan pemaparan tentang model
komunikasi di atas, maka pola atau model komunikasi yang bisa digunakan dalam
lingkungan keluarga, antara lain adalah :
1. Model
Stimulus- Respon (S-R)
Pola komunikasi yang biasanya terjadi
dalam keluarga adalah model stimulus –
respon. Pola ini menunjukkan komunikasi sebagai suatu proses ”aksi-reaksi” yang
sangat sederhana. Pola S-R mengasumsikan bahwa kata-kata verbal
(lisan-tulisan), isyarat –isyarat nonverbal, gambar-gambar, dan
tindakan-tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respons
dengan cara tertentu. Oleh karena itu, proses ini dianggap sebagai pertukaran
atau pemindahan informasi atau gagasan.
Dengan demikian pola komunikasi yang
berlangsung antara orang tua dan anak selalu saja terjadi didalam sebuah
keluarga. Dan peran orang tua sangat penting untuk memperhatikan seorang anak
di dalam sebuah keluarga.
Dengan demikian dari banyak model-model
yang ada maka model stimulus respon merupakan komunikasi yang sangat efektif
digunakan dalam lingkungan keluarga, karena model stimulus respon sangat baik
untuk digunakan dalam keluarga, dimana antara anggota keluarga mempunyai
hubungan yang sangat dekat dan komunikasi yang dilakukan dalam keluarga juga
secara terus menerus.
C.
Aneka
Komunikasi Dalam Keluarga
1.
Komunikasi Verbal
Komunikasi
verbal adalah suatu kegiatan komunikasi antara individu atau kelompok yang
mempergunakan bahasa sebagai alat perhubungan. Proses komunikasi dapat berlangsung dengan baik bila
komunikan dapat menafsirkan secara tepat pesan yang disampaikan oleh
komunikator melalui penggunaan bahasa dalam bentuk kata-kata atau kalimat.
Panjang pendeknya suatu kalimat, tepat tidaknya penggunaan kata-kata yang
merangkai kalimat, menjadi faktor penentu kelancaran komunikasi
Kegiatan
komunikasi verbal menempati frekuensi terbanyak dalam keluarga. Setiap hari
orang tua selalu ingin berbincang-bincang kepada anaknya. Canda dan tawa
menyertai dialog antara orang tua dan anak. Perintah, suruhan, larangan, dan
sebagainya merupakan alat pendidikan yang sering dipergunakan oleh orang tua
atau anak dalam komunikasi keluarga
2.
Komunikasi Nonverbal
Komunikasi yang
berlangsung dalam keluarga tidak hanya dalam bentuk verbal, tetapi juga dalam
bentuk nonverbal. Komunikasi nonverbal sering dipakai oleh orang tua dalam
menyampaikan suatu pesan kepada anak. Sering tanpa sepatah kata pun, orang tua
menggerakkan hati anak untuk melakukan sesuatu. Kebiasaan orang tua dalam
mengerjakan sesuatu dan karena anak sering melihatnya, anak pun ikut
mengerjakan apa yang pernah dilihat dan didengarnya dari orang tuanya
3.
Komunikasi Individual
Komunikasi
individual atau komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang sering terjadi
dalam keluarga. Komunikasi yang terjadi berlangsung dalam sebuah interaksi
antarpribadi; antara suami dan istri, antara ayah dan anak, antara ibu dan
anak, dan antara anak dan anak
D.
Menumbuhkan
Kecintaan Anak Terhadap Alquran.
Anak
adalah amanat yang diberikan Allah kepada orang tua. Anak diciptakan oleh tuhan dengan dibekali kekuatan pendorong
alamiah yang dapat diarahkan ke arah yang baik atau kearah yang buruk. Maka
kewajiban orang tualah memanfaatkan kekuatan alamiah itu dengan menyalurkannya
ke saluran yang baik, dengan mendidik anak sejak usia muda membiasakan diri
dengan kelakuan dan adat istiadat yang baik agar mereka bertumbuh dan
berkembang menjadi manusia yang berguna,
bagi dirinya dan pergaulan hidup sekelililngnya. Rasulullah SAW bersabda
“janganlah lepas anak-anakmu dan didik mereka yang baik”. Dalam hadist ini
terdapat petunjuk bagaimana orang tua harus selalu mendampingi anak-anaknya
agar bisa mengawasi gerak-gerik dan tingkah laku anak, sehingga jika terdapat
penyelewengan dari jalan yang baik, segera dapat diperhatikan dan dikembalikan
kejalan yang baik, maka dari itu ajarkanlah kepada anak untuk menanamkan rasa
cinta kepada Alquran
Alquran
adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Rasulullah saw. Melalui Malaikat
Jibril As. Kitab suci ini disampaikan kepada Nabi secara berangsur-angsur. Alquran
juga merupakan kemuliaan paling tinggi, yang memberikan petunjuk kepada seluruh
umat manusia agar berada dijalan yang lurus dan keluar dari kegelapan menuju
cahaya terang, dan tidak ada keburukan sedikitpun di dalamnya. Oleh karena itu
sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.
Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang mempelajari
Alquran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Tidak
ada waktu lagi bagi orang tua dalam menanamkan kecintaan anak pada Alquran pada
tidak pada saat usia anak masih kecil. Pada saat kertas putih yang ada dalam
jiwanya masih kosong belum tertulis apapun oleh pengaruh lingkungannya kelak.
Pada Alquran ini yang merupakan sarana paling ideal dalam membentuk anak
menjadi sosok manusia sempurna yang hidupnya selalu berlandaskan Alquran. Ibnu
sina didalam kitabnya Al-Siyasah, mengatakan
apabila anak telah mampu mengucapkan sesuatu atau meniru ucapan orang lain, dan
dia sadar serta paham terhadap apa yang dia ucapkan maka mulailah dia diajari
membaca Alquran dan pengetahuan tentang agama
Membangun
keluarga yang mencintai Alquran adalah cita-cita mulia, sebab Alquran adalah
firman Allah yang menjadi pedoman hidup manusia. Oleh karena itu penting bagi
orang tua untuk berkomitmen menjadikan putra-putri mereka akrab dengan Alquran
sejak dini, apalagi jika ingin menjadikan anak sebagai penghafal Alquran. dan
ini dimulai dari orang tua karena orang tua adalah
pendidik dalam keluarga. Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi
anak-anak mereka. dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Oleh
karena itu, bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga
Kehidupan
keluarga merupakan cermin bagi anak karena anak dalam pertumbuhan dan
perkembangannya di keluarga, mereka akan memperhatikan Ibu dan Bapaknya serta
sedikit banyaknya pada saudara-saudara sekandungnya atau wali-wali mereka.
Mereka semua akan dipandangnya sebagai orang-orang yang berperan dalam
kehidupan keluarga, segala kejadian sehari-hari dari apa yang dipergunakan
serta apa yang dilakukan oleh mereka, akan ditiru dan dicoba oleh anak tersebut.
Orang
tua yang telah memahami arti penting dalam pengaruh yang sangat besar dalam
mempelajari Alquran, tidak hanya puas sampai anak mampu membacanya saja. Justru
pengaruh besar yang akan membentuk dan menjiwai anak akan didapat ketika dia
sudah mampu memahami kandungan isi Alquran. Maka bagi orang tua diupayakan agar
setiap mengajarkan anak membaca Alquran, secara bertahap diikuti pula dengan
penjelasan ayat demi ayat yang tengah dibacanya. Walaupun saat dijelaskan arti
dari ayat-ayat tersebut, anak belum dapat memahami dengan akalnya dikarenakan
usianya belum memadai untuk bisa mengerti secara keseluruhan, namun kehebatan
anak akan terlihat ketika dia mampu menyimpan berbagai memori penjelasan dalam
otaknya
Usaha
untuk menjadikan anak dapat menghafal Alquran merupakan cita-cita yang baik dan
tinggi nilainya. Akan tetapi mendidik anak supaya hafal Alquran perlu ilmu dan
cara supaya anak-anak tidak terpaksa dan tumbuh cinta pada dirinya untuk menghafal
Alquran. Setiap orang yang ingin menghafal Alquran harus mempunyai persiapan
yang matang agar proses hafalan dapat berjalan dengan baik dan benar. Selain
itu, persiapan ini merupakan syarat yang harus dipenuhi supaya hafalan yang
dilakukan bisa memperoleh hasil yang maksimal dan memuaskan. Beberapa persiapan
atau syarat-syarat yang harus dilakukan antara lain ialah sebagai berikut:
1) Niat
yang Ikhlas
2) Meminta
Izin kepada Orang tua
3) Mempunyai
Tekad yang Besar dan Kuat
4) Istiqamah
5) Harus
Berguru kepada yang Ahli
6) Mempunyai
Akhlak Terpuji
7) Berdoa
agar Sukses Menghafal Alquran
Setiap
orang tua tentu menyadari bahwa anak adalah pelestari pahala. Jika anak tumbuh
dewasa menjadi generasi yang saleh, maka anak dapat mengalirkan pahala walaupun
orang tuanya telah meninggal dunia. Berarti jika anak tidak menjadi generasi
yang saleh, maka siksaan akan mengalir pula walaupun orang tuanya telah
meninggal dunia. Maka betapa sengsara para orang tua yang meninggalkan
anak-anak tidak saleh. Dengan demikian apabila orang tua muslim benar-benar
menyadari hakikat anak yang dapat melestarikan pahala dan juga melestarikan
siksa, niscaya akan bangkitlah semangat untuk lebih waspada terhadap pendidikan
anak-anak. Jangan sampai anak yang ditinggalkan sebagai generasi penerus itu
menjadi generasi lemah iman, akibatnya akan memberikan siksaan bagi orang
tuanya
Sesungguhnya,
bisa menghafal Alquran merupakan sebuah rahmat dan hidayah dari Allah swt. dan,
hal tersebut hanya bisa didapat oleh orang-orang yang mempunyai hati yang
bersih. Oleh karena itu, seorang penghafal Alquran haruslah menjaga hati dan
seluruh panca inderanya dari hal-hal yang dilarang oleh Allah swt. Hal ini
dinyatakan dalam Alquran, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Ankabut: 49
sebagai berikut:
ö@t/ uqèd 7M»t#uä ×M»oYÉit/ Îû Írßß¹ úïÏ%©!$# (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# 4 $tBur ßysøgs !$uZÏF»t$t«Î/ wÎ) cqßJÎ=»©à9$# ÇÍÒÈ
Artinya:
“Sebenarnya, Alquran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang
yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali
orang-orang yang zalim”
Ada
beberapa keutamaan dan keistimewaan penghafal Alquran yaitu:
1) Alquran
menjadi hujjah atau pembela bagi
pembacanya serta sebagai pelindung dari siksaan api neraka.
2) Para
pembaca Alquran, khususnya para penghafal Alquran yang kualitas dan kuantitas
bacaannya lebih bagus akan bersama malaikat yang selalu melindunginya dan
mengajak pada kebaikan.
3) Para
penghafal Alquran akan mendapatkan fasilitas khusus dari Allah swt, yaitu
berupa terkabulnya segala harapan, serta keinginan tanpa harus memohon dan
berdoa.
4) Para
penghafal Alquran berpotensi untuk mendapatkan pahala yang banyak karena sering
membaca (takrir) dan mengkaji Alquran.
Dalam sebuah hadits,
5) Para
penghafal Alquran diprioritaskan untuk menjadi imam dalam sholat.
6) Para
penghafal Alquran menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari dan
mengajarkan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Hal ini menjadikan
hidupnya barakah
Kewajiban
Ayah dan ibu untuk mendidik anak-anaknya adalah sangat penting karena posisi
keduanya sangat menentukan bagi kehidupan anak-anaknya, baik dari segi
pembawaan maupun dari segi lingkungan. Maka dari itu menumbuhkan kecintaan anak
terhadap Alquran dimulai dari keluarga yaitu orang tua yang mendidik dan
mengasuhnya
Kunci-kunci
pembelajaran Alquran pada anak :
1) Membaca
adalah kunci pertama dasar pembelajaran Alquran pada anak.
2) Mencari
dan menemukan kegiatan sesuatu yang terdapat dalam ayat-ayat atau keseluruhan
Alquran sungguh mengasyikkan bagi anak.
3) Menebak
dan menerka kegiatan ini termasuk menyenangkan dan disukai anak-anak karena
bersifat kreatif dan dinamis.
4) Tanya
jawab kegiatan ini termasuk yang paling mudah dilakukan dan dapat menjadi
dialog pembuka.
5) Menjelaskan
merupakan kegiatan hal yang tidak mungkin dihindarkan.
6) Mengamati
merupakan kegiatan yang dianjurkan bagi anak dalam memahami Alquran.
7) Menginderai
adalah mengamati hikmah dibalik penciptaan ayat-ayat Allah.
8) Menghitung
salah satu kegiatan untuk mengakrabkan anak pada Alquran. Banyak ayat-ayat Alquran
menjelaskan bilangan-bilangan, mulai dari satu, dua, tiga, empat, bahkan lima
puluh ribu. Bilangan yang menunjukkan jumlah ayat atau nomor surat dalam Alquran
dapat dijadikan bahan berkomunikasi dalam isi kandungan Alquran.
9) Berpikir
dan merasakan merupakan kegiatan dasar dari semua kreativitas ibadah yang
dilakukan
Berikut
ini beberapa contoh para ulama yang telah menghafal Alquran sejak usia kecil,
agar para orang tua sekarang ini mampu mengambil hikmah dan pelajaran agar
anak-anak mereka kelak memiliki semangat yang tinggi untuk bisa mengikuti jejak
ulama besar terdahulu :
1) Imam
Syafi’i mengatakan, “Aku telah mengahafal Alquran sejak usiaku tujuh tahun dan
hafal kitab hadist Al-Muwaththa’ (yang
ditulis oleh Imam Malik), ketika aku berusia sepuluh tahun.
2) Sahl
bin ‘Abdullah At-Tustari mengatakan, “Aku membaca kitab-kitab kemudian belajar
Alquran, dan menghafalnya ketika usia- ku sepuluh tahun.
3) Ibnu
Sina telah menghafal dan menekuni Alquran pada usia sepuluh tahun.
4) Ibrahim
bin Sa’id Al-Jauhari mengatakan, “Aku melihat seorang anak berusia empat tahun
yang dibawa ke majelis Al-Ma’mun, ia mampu mengahfal Alquran secara keseluruhan
dan mampu mengutarakan pandangan, padahal saat itu ia selalu menangis apabila
merasakan lapar.
5) Abu
Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-Asbahani berkata, “Aku
telah menghafal Alquran pada usiaku lima tahun
Waktu
yang tepat untuk mengajarkan Alquran: berkata Abu ‘Asim : “Aku pergi kerumah
Ibnu Juraij dengan membawa anakku yang saat itu masih berusia tiga tahun agar dia
dapat belajar Alquran dan hadist kepadanya. Aku mengatakan, “Tidak ada masalah
apabila seorang anak diajarkan Alquran dan hadist pada usia tiga tahun atau
lebih