Friday, 30 September 2016

Makalah Masa Transisi Remaja ke Dewasa Awal


MASA TRANSISI REMAJA KE DEWASA AWAL 
BAB I

PENDAHULUAN
            Manusia adalah makhluk yang istimewa yang diciptakan Tuhan karena memiliki akal budi. Melalui akal budi manusia dapat hidup sesuai dengan apa yang ada tempat dimana dia hidup. Perkembangan yang dialami oleh manusia menjadikan dia lebih matang dalam menjalani kehidupan ini. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalani hubungan secara intim dengan lawan jenis. Hurlock (1993) dia mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya. Dari segi fisik masa dewasa awal adalah masa dari puncak perkembangan fisik. Perkembangan fisik sesudah masa ini mengalami degradasi sedikit demi sedikit, mungkin mengikuti umur seseorang menjadi lebih tua.
            Dewasa awal sering juga disebut dewasa muda yaitu antara umur 20 m- 40 tahun merupakan tahapan yang paling dinamis sepanjang rentang kehidupan manusi, sebab seseorang banyak mengalami perubahan – peubahan progresif secara fisik, kognitif maupun psikologis emosional untuk integrasi kepribadian yang semakin matang dan bijaksana.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Masa Transisi Remaja ke Dewasa Awal                                
Dewasa awal adalah peralihan dari masa remaja. Masa remaja yang ditandai dengan pencarian identitas diri, pada masa awal dewasa, identitas diri ini didapat secara sedikit demi sedikit sesuai dengan umur kronologis dan mental agennya. Berbagai masalah juga muncul dengan bertambahnya umur pada masa dewasa awal, dewasa awal adalah masa peralihan dari ketergantungan ke masa mandiri, baik dari segi ekonomi, kebebasan menentukan diri sendiri dan pandangan tentang masa depan sudah realistis.
Menurut Hurlock (2003), masa dewasa awal berlangsung dari manusia berusia kira-kira 18-40 tahun. Secara umum periode ini merupakan periode pemantapan diri terhadap pola hidup yang baru. Manusia sudah memikirkan hal-hal penting seperti belajar demi karir, memilih pasangan hidup dengan lebih serius, dan cita-cita menjadi lebih realistis, serta sudah dapat menentukan hidup sendiri tanpa harus ikut dalam keputusan kelompok seperti pada periode remaja. Kenniston (dikutip dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2009), menyebutkan bahwa dewasa awal merupakan masa transisi masa remaja menuju dewasa. Masa ini disebut dengan “masa muda”. Transisi ini ditunjukan dengan kemandirian ekonomi dan kemandirian membuat keputusan (karir, nilai-nilai, keluarga, hubungan, dan gaya hidup), dan merupakan transisi dari sekolah menengah menuju universitas. Tahapan perkembangan ini dimulai ketika individu berumur 20 tahun sampai 40 tahun (Papalia et al, 2009).
B. Kekuatan Fisik
Di masa ini, manusia berada di puncak kesehatan, kekuatan, energi dan daya tahan, serta di puncak fungsi sensoris dan motoris, semua fungsi tubuh berkembang sempurna, ketajaman visual, intensitas rasa, bau, sensitif terhadap rasa sakit dan temperatur. Dan akan mengalami penurunan pada usia 45 tahun. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan yaitu genetik, perilaku (apa yang dimakan/nutrisi, pola tidur, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang). Faktor yang tidak langsung seperti kondisi sosial-ekonomi, ras, gender dan hubungan dengan orang lain. Hal-hal ini memberi kontribusi besar pada kesejahteraan pada saat ini dan mendatang. Hubungan perilaku dan kesehatan mengambarkan hubungan antara aspek fisik, kognitif dan emosional. (Santrock, 2002).
.
C. Kesehatan
            Pada masa dewasa awal dasar fungsi fisik yang permanen diletakkan. Kesehatan dipengaruhi sebagian oleh gen, tetapi faktor tingkah laku apa yang dimakan, apakah mereka cukup tidur, seberapa aktif mereka secara fisik dan apakah mereka merokok, minum atau mengkonsumsi obat – obatan sangat berkontribusi terhadap kesehatan serta kesejahteraan di masa sekarang dan mendatang. Kemisikinan dan diskriminasi juga memberikan kontribusi pada perbedaan kesehatan.

D. Seksualitas
Masa beranjak dewasa adalah kerangka waktu di mana kebanyakan individu aktif secara seksual dan belum menikah.Orientasi dan Perilaku Seksual, hingga akhir abad ke sembilan belas, secara umum diyakini bahwa manusia mungkin saja heteroseksual atau homoseksual, para ahli lebih beranggapan bahwa orientasi seksual merupakan sesuatu yang bersifat kontinum dari relasi yang esklusif antara pria-wanita hingga relasi eksklusif di antara sesama jenis. Orientasi seksual individu (homoseksual, heteroseksual, atau biseksual), paling dipengaruhi oleh kombinasi antara faktor genetik, hormonal, kognitif, dan lingkungan.
Sebagian besar ahli berpendapat bahwa tidak ada satu pun faktor tunggal yang bertanggung jawab terhadap orientasi seksual tertentu, masing-masing faktor memilki kontribusi dalam derajat yang berbeda-beda. 


D. Penyalahgunaan Obat-obatan
            Penyalahgunaan dalam penggunaan obat-obatan atau zat – zat adalah berbahaya jika dengan tujuan bukan untuk pengobatan dan penelitian serta digunakan tanpa mengikuti aturan atau dosis yang benar. Penyalahgunaan obat-obatan juga berpengaruh pada tubuh dan mental-emosional para pemakainya. Jika semakin serig dikonsumsi apalagi dalam jumlah berlebih maka akan merusak kesehatan tubuh, kejiwaan dan fungsi sosial didalam masyarakat.
            Penyalahgunaan obat – obatan atau narkoba merupakan suatu pola penggunaan yang bersifat patologik dan harus menjadi perhatian segegnap pihak. Meskipun sudah banyak terdapat informasi yang menyatakan dampak negatif yang ditimbulkan oleh penyalahgunanan dalam mengkonsumsi narkoba, tapi hal ini belum memberi angka yang cukup sigifikan dalam mengurangi tingkat penyalahgunaan obat – obatan atau narkoba. Terdapat tiga faktor yang dapat dikatakan sebagai pemicu seseorang dalam penyalahgunaan obat – obatan. Ketiga faktor tersebut adalah faktor diri, faktor lingkungan, dan faktor ketersediaan obat – obatan atau narkoba.

E. Perkembangan Kognitif Masa Dewasa Muda
Masa perkembangan dewasa muda (young adulthood] ditandai dengan keinginan mengaktualisasikan segala ide dan pemikiran yang dimatangkan selama mengikuti pendidikan tinggi (universitas/akademi). Mereka bersemangat untuk meraih tingkat kehidupan ekonomi yang tinggi (mapan). Ketika memasuki masa dewasa muda, biasanya individu telah mencapai penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang matang. Dengan modal itu, seorang individu akan siap untuk menerapkan keahlian tersebut ke dalam dunia pekerjaan. Dengan demikian, individu akan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan mampu mengembangkan daya inisiatif-kreatimya sehingga ia akan memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Dengan pengalaman-pengalaman tersebut, akan semakin mematangkan kualitas mentalnya.
Menurut Turner dan Helms (1995), dewasa muda bukan hanya mencapai taraf operasi formal, melainkan telah memasuki penalaran postformal (post-formal reasoning). Kemampuan ini ditandai dengan pemikiran yang bersifat dialektikal (dialectical thought], yaitu kemampuan untuk me­mahami, menganalisis dan mencari titik temu dari ide-ide, gagasan-gagasan, teori-teori, pendapat-pendapat dan pemikiran-pemikiran yang saling kontradiktif (bertentangan) sehingga individu mampu menyintesiskan dalam pemikiran yang baru dan kreatif. Gisela Labouvie-Vief (dalam Turner dan Helms, 1995} setuju kalau operasi formal lebih tepat untuk remaja, sedangkan dewasa muda mampu memahami masalah-masalan secara logis dan mampu mencari inti sari dari hal-hal yang bersifat paradoksal sehingga diperoleh pemikiran baru.
Pikiran sehat menyatakan cara berfikir individu berbeda dengan anak-anak dan remaja. Individu melakukan beberapa percakapan yang berbeda, memahami materi yang lebih rumit, dan menggunakan pengalaman untuk memecahkan masalah. Piaget: Individu mengalami pergeseran ke pemikiran post-formal. Pemikiran pada masa dewasa cenderung tampak fleksibel, terbuka, adaptif, dan individualistis. Tahap kognisi orang dewasa ini sering kali disebut pemikiran post-formal yang bersifat relatif. Pemikiran post-formal melihat bayangan abu-abu. Pemikiran tersebut sering kali muncul sebagai respon terhadap peristiwa dan interaksi membuka cara pandang tidak biasa terhadap sesuatu dan menantang pandanan sederhana terpolarisasi terhadap dunia. Pemikiran tersebut memungkinkan orang dewasa melampaui sistem logika tunggal dan mendamaikan atau memilih diantara beberapa ide yang saling berlawanan. (Papalia et al., 2009).
·         Tahap-Tahap Kognitif
Menurut Piaget, berpikir formal operasional, yang dimulai dari usia 11-15 tahun, adalah tahap kognitif yang terakhir. Meskipun jika dilihat dari segi kuantitas jumlah pengetahuan orang dewasa lebih besar dibandingkan remaja, secara kualitatif tahap perkembangan kognitif orang dewasa tidak berbeda dari remaja. Piaget juga berpendapat bahwa penambahan pengetahuan pada orang dewasa secara khusus terjadi dalam bidang-bidang tertentu. Beberapa ahli perkembangan berpendapat bahwa banyak individu yang baru akan mengkonsolidasikan pemikiran operasional formalnya ketika memasuki masa dewasa, di masa remaja mereka memang mulai mampu menyusun rencana dan hipotesis, namun di masa dewasa muda,mereka menjadi lebih sistematis dan terampil.
·         Berpikir Realistis dan Pragmatis
Menurut para ahli perkembangan, ketika seorang individu pada masa dewasa awal mulai memasuki dunia kerja, cara berpikir mereka pun berubah, mereka mulai menghadapi paksaan realitas yang disebabkan oleh pekerjaan, idealisme mereka menurun.Perspektif lain mengatakan, orang dewasa cenderung tidak mencapai cara berpikir ilmiah yang terdapat pada tahap operasional formal. Di sisi lain, penggunaan intelektual mereka melampaui remaja, di masa dewasa awal, individu seringkali beralih dari memperoleh pengetahuan menjadi mengaplikasikan pengetahuan ketika individu berusaha meraih karier jangka panjang dan berusaha meraih sukses dalam pekerjaannya.
·         Pemikiran Reflektif dan Relativistik
Menurut William Perry (Santrock, 2011), remaja seringkali memandang dunia dalam polaritas, benar/salah, baik/buruk dll, pada masa beranjak dewasa, secara bertahap mereka mulai meninggalkan tipe pemikiran yang absolut ini, mereka mulai menyadari berbagai pendapat dan perspektif orang lain.Pemikiran absolut, dualistik remaja merupakan awal dari pemikiran reflektif, relativistik orang dewasa.Pemikiran reflektif adalah indikator yang penting dalam perubahan kognitif pada orang dewasa muda. Gisela Laobouvie-Vief (Santrock, 2011) menyatakan bahwa meningkatnya kompleksitas budaya di abad terakhir telah menimbulkan kebutuhan yang lebih besar untuk berpikir secaralebih kompleks dan reflektif agar dapat mempertimbangkan hakikat pengetahuan dan tantangan yang berubah.
Aspek penting perkembangan kognitif pada individu yang beranjak dewasa, menentukan pandangan khususnya mengenai dunia, mengenali bahwa pandangan dunia bersifat subjektif, dan memahami perlunya mengetahui berbagai pandangan dunia yang berbeda-beda. Level pendidikan yang dicapai individu yang beranjak dewasa secara khusus mempengaruhi bagaimana mereka akan memaksimalkan potensi berpikir mereka.

BAB III
PENUTUP

 Ketika memasuki masa dewasa muda, biasanya individu telah mencapai penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang matang. Dengan modal itu, seorang individu akan siap untuk menerapkan keahlian tersebut ke dalam dunia pekerjaan. Dengan demikian, individu akan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan mampu mengembangkan daya inisiatif-kreatimya sehingga ia akan memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Dengan pengalaman-pengalaman tersebut, akan semakin mematangkan kualitas mentalnya.


No comments:

Post a Comment