BAB
I
PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk yang
istimewa yang diciptakan Tuhan karena memiliki akal budi. Melalui akal budi
manusia dapat hidup sesuai dengan apa yang ada tempat dimana dia hidup.
Perkembangan yang dialami oleh manusia menjadikan dia lebih matang dalam
menjalani kehidupan ini. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang
mulai menjalani hubungan secara intim dengan lawan jenis. Hurlock (1993) dia
mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu intinya
dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara
hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya. Dari segi fisik masa
dewasa awal adalah masa dari puncak perkembangan fisik. Perkembangan fisik
sesudah masa ini mengalami degradasi sedikit demi sedikit, mungkin mengikuti
umur seseorang menjadi lebih tua.
Dewasa awal sering juga disebut dewasa muda yaitu antara
umur 20 m- 40 tahun merupakan tahapan yang paling dinamis sepanjang rentang
kehidupan manusi, sebab seseorang banyak mengalami perubahan – peubahan
progresif secara fisik, kognitif maupun psikologis emosional untuk integrasi
kepribadian yang semakin matang dan bijaksana.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Masa Transisi
Remaja ke Dewasa Awal
Dewasa awal adalah
peralihan dari masa remaja. Masa remaja yang ditandai dengan pencarian
identitas diri, pada masa awal dewasa, identitas diri ini didapat secara
sedikit demi sedikit sesuai dengan umur kronologis dan mental agennya. Berbagai
masalah juga muncul dengan bertambahnya umur pada masa dewasa awal, dewasa awal
adalah masa peralihan dari ketergantungan ke masa mandiri, baik dari segi
ekonomi, kebebasan menentukan diri sendiri dan pandangan tentang masa depan
sudah realistis.
Menurut Hurlock (2003),
masa dewasa awal berlangsung dari manusia berusia kira-kira 18-40 tahun. Secara
umum periode ini merupakan periode pemantapan diri terhadap pola hidup yang
baru. Manusia sudah memikirkan hal-hal penting seperti belajar demi karir,
memilih pasangan hidup dengan lebih serius, dan cita-cita menjadi lebih
realistis, serta sudah dapat menentukan hidup sendiri tanpa harus ikut dalam
keputusan kelompok seperti pada periode remaja. Kenniston (dikutip dalam
Papalia, Olds, & Feldman, 2009), menyebutkan bahwa dewasa awal merupakan
masa transisi masa remaja menuju dewasa. Masa ini disebut dengan “masa muda”.
Transisi ini ditunjukan dengan kemandirian ekonomi dan kemandirian membuat
keputusan (karir, nilai-nilai, keluarga, hubungan, dan gaya hidup), dan
merupakan transisi dari sekolah menengah menuju universitas. Tahapan
perkembangan ini dimulai ketika individu berumur 20 tahun sampai 40 tahun
(Papalia et al, 2009).
B. Kekuatan Fisik
Di masa ini, manusia berada di puncak kesehatan,
kekuatan, energi dan daya tahan, serta di puncak fungsi sensoris dan motoris,
semua fungsi tubuh berkembang sempurna, ketajaman visual, intensitas rasa, bau,
sensitif terhadap rasa sakit dan temperatur. Dan akan mengalami penurunan pada
usia 45 tahun. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan yaitu genetik,
perilaku (apa yang dimakan/nutrisi, pola tidur, aktivitas fisik, kebiasaan
merokok, konsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang). Faktor yang tidak langsung
seperti kondisi sosial-ekonomi, ras, gender dan hubungan dengan orang lain.
Hal-hal ini memberi kontribusi besar pada kesejahteraan pada saat ini dan
mendatang. Hubungan perilaku dan kesehatan mengambarkan hubungan antara aspek
fisik, kognitif dan emosional. (Santrock, 2002).
.
C. Kesehatan
Pada
masa dewasa awal dasar fungsi fisik yang permanen diletakkan. Kesehatan
dipengaruhi sebagian oleh gen, tetapi faktor tingkah laku apa yang dimakan,
apakah mereka cukup tidur, seberapa aktif mereka secara fisik dan apakah mereka
merokok, minum atau mengkonsumsi obat – obatan sangat berkontribusi terhadap
kesehatan serta kesejahteraan di masa sekarang dan mendatang. Kemisikinan dan
diskriminasi juga memberikan kontribusi pada perbedaan kesehatan.
D. Seksualitas
Masa beranjak dewasa
adalah kerangka waktu di mana kebanyakan individu aktif secara seksual dan
belum menikah.Orientasi dan Perilaku Seksual, hingga akhir abad ke sembilan
belas, secara umum diyakini bahwa manusia mungkin saja heteroseksual atau
homoseksual, para ahli lebih beranggapan bahwa orientasi seksual merupakan
sesuatu yang bersifat kontinum dari relasi yang esklusif antara pria-wanita
hingga relasi eksklusif di antara sesama jenis. Orientasi seksual individu
(homoseksual, heteroseksual, atau biseksual), paling dipengaruhi oleh kombinasi
antara faktor genetik, hormonal, kognitif, dan lingkungan.
Sebagian besar ahli berpendapat bahwa tidak ada satu
pun faktor tunggal yang bertanggung jawab terhadap orientasi seksual tertentu,
masing-masing faktor memilki kontribusi dalam derajat yang berbeda-beda.
D. Penyalahgunaan Obat-obatan
Penyalahgunaan
dalam penggunaan obat-obatan atau zat – zat adalah berbahaya jika dengan tujuan
bukan untuk pengobatan dan penelitian serta digunakan tanpa mengikuti aturan atau
dosis yang benar. Penyalahgunaan obat-obatan juga berpengaruh pada tubuh dan
mental-emosional para pemakainya. Jika semakin serig dikonsumsi apalagi dalam
jumlah berlebih maka akan merusak kesehatan tubuh, kejiwaan dan fungsi sosial
didalam masyarakat.
Penyalahgunaan
obat – obatan atau narkoba merupakan suatu pola penggunaan yang bersifat
patologik dan harus menjadi perhatian segegnap pihak. Meskipun sudah banyak
terdapat informasi yang menyatakan dampak negatif yang ditimbulkan oleh
penyalahgunanan dalam mengkonsumsi narkoba, tapi hal ini belum memberi angka
yang cukup sigifikan dalam mengurangi tingkat penyalahgunaan obat – obatan atau
narkoba. Terdapat tiga faktor yang dapat dikatakan sebagai pemicu seseorang
dalam penyalahgunaan obat – obatan. Ketiga faktor tersebut adalah faktor diri,
faktor lingkungan, dan faktor ketersediaan obat – obatan atau narkoba.
E. Perkembangan Kognitif Masa Dewasa Muda
Masa perkembangan dewasa muda (young adulthood] ditandai
dengan keinginan mengaktualisasikan segala ide dan pemikiran yang dimatangkan
selama mengikuti pendidikan tinggi (universitas/akademi). Mereka bersemangat
untuk meraih tingkat kehidupan ekonomi yang tinggi (mapan). Ketika memasuki
masa dewasa muda, biasanya individu telah mencapai penguasaan ilmu pengetahuan
dan keterampilan yang matang. Dengan modal itu, seorang individu akan siap
untuk menerapkan keahlian tersebut ke dalam dunia pekerjaan. Dengan demikian,
individu akan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan mampu
mengembangkan daya inisiatif-kreatimya sehingga ia akan memperoleh
pengalaman-pengalaman baru. Dengan pengalaman-pengalaman tersebut, akan semakin
mematangkan kualitas mentalnya.
Menurut Turner dan Helms (1995), dewasa muda bukan
hanya mencapai taraf operasi formal, melainkan telah memasuki penalaran
postformal (post-formal reasoning). Kemampuan ini ditandai dengan
pemikiran yang bersifat dialektikal (dialectical thought], yaitu
kemampuan untuk memahami, menganalisis dan mencari titik temu dari ide-ide,
gagasan-gagasan, teori-teori, pendapat-pendapat dan pemikiran-pemikiran yang
saling kontradiktif (bertentangan) sehingga individu mampu menyintesiskan dalam
pemikiran yang baru dan kreatif. Gisela Labouvie-Vief (dalam Turner dan Helms,
1995} setuju kalau operasi formal lebih tepat untuk remaja, sedangkan dewasa
muda mampu memahami masalah-masalan secara logis dan mampu mencari inti sari
dari hal-hal yang bersifat paradoksal sehingga diperoleh pemikiran baru.
Pikiran sehat menyatakan cara berfikir individu
berbeda dengan anak-anak dan remaja. Individu melakukan beberapa percakapan
yang berbeda, memahami materi yang lebih rumit, dan menggunakan pengalaman
untuk memecahkan masalah. Piaget: Individu mengalami pergeseran ke pemikiran
post-formal. Pemikiran pada masa dewasa cenderung tampak fleksibel, terbuka,
adaptif, dan individualistis. Tahap kognisi orang dewasa ini sering kali
disebut pemikiran post-formal yang bersifat relatif. Pemikiran post-formal
melihat bayangan abu-abu. Pemikiran tersebut sering kali muncul sebagai respon
terhadap peristiwa dan interaksi membuka cara pandang tidak biasa terhadap
sesuatu dan menantang pandanan sederhana terpolarisasi terhadap dunia.
Pemikiran tersebut memungkinkan orang dewasa melampaui sistem logika tunggal
dan mendamaikan atau memilih diantara beberapa ide yang saling berlawanan.
(Papalia et al., 2009).
·
Tahap-Tahap Kognitif
Menurut Piaget, berpikir formal operasional, yang
dimulai dari usia 11-15 tahun, adalah tahap kognitif yang terakhir. Meskipun
jika dilihat dari segi kuantitas jumlah pengetahuan orang dewasa lebih besar
dibandingkan remaja, secara kualitatif tahap perkembangan kognitif orang dewasa
tidak berbeda dari remaja. Piaget juga berpendapat bahwa penambahan pengetahuan
pada orang dewasa secara khusus terjadi dalam bidang-bidang tertentu. Beberapa
ahli perkembangan berpendapat bahwa banyak individu yang baru akan
mengkonsolidasikan pemikiran operasional formalnya ketika memasuki masa dewasa,
di masa remaja mereka memang mulai mampu menyusun rencana dan hipotesis, namun
di masa dewasa muda,mereka menjadi lebih sistematis dan terampil.
·
Berpikir Realistis dan
Pragmatis
Menurut para ahli perkembangan, ketika seorang
individu pada masa dewasa awal mulai memasuki dunia kerja, cara berpikir mereka
pun berubah, mereka mulai menghadapi paksaan realitas yang disebabkan oleh
pekerjaan, idealisme mereka menurun.Perspektif lain mengatakan, orang dewasa
cenderung tidak mencapai cara berpikir ilmiah yang terdapat pada tahap
operasional formal. Di sisi lain, penggunaan intelektual mereka melampaui
remaja, di masa dewasa awal, individu seringkali beralih dari memperoleh
pengetahuan menjadi mengaplikasikan pengetahuan ketika individu berusaha meraih
karier jangka panjang dan berusaha meraih sukses dalam pekerjaannya.
·
Pemikiran Reflektif dan
Relativistik
Menurut William Perry (Santrock, 2011), remaja
seringkali memandang dunia dalam polaritas, benar/salah, baik/buruk dll, pada
masa beranjak dewasa, secara bertahap mereka mulai meninggalkan tipe pemikiran
yang absolut ini, mereka mulai menyadari berbagai pendapat dan perspektif orang
lain.Pemikiran absolut, dualistik remaja merupakan awal dari pemikiran
reflektif, relativistik orang dewasa.Pemikiran reflektif adalah indikator yang
penting dalam perubahan kognitif pada orang dewasa muda. Gisela Laobouvie-Vief
(Santrock, 2011) menyatakan bahwa meningkatnya kompleksitas budaya di abad
terakhir telah menimbulkan kebutuhan yang lebih besar untuk berpikir
secaralebih kompleks dan reflektif agar dapat mempertimbangkan hakikat
pengetahuan dan tantangan yang berubah.
Aspek penting perkembangan kognitif pada individu yang
beranjak dewasa, menentukan pandangan khususnya mengenai dunia, mengenali bahwa
pandangan dunia bersifat subjektif, dan memahami perlunya mengetahui berbagai
pandangan dunia yang berbeda-beda. Level pendidikan yang dicapai individu yang
beranjak dewasa secara khusus mempengaruhi bagaimana mereka akan memaksimalkan
potensi berpikir mereka.
BAB III
PENUTUP
Ketika memasuki
masa dewasa muda, biasanya individu telah mencapai penguasaan ilmu pengetahuan
dan keterampilan yang matang. Dengan modal itu, seorang individu akan siap
untuk menerapkan keahlian tersebut ke dalam dunia pekerjaan. Dengan demikian,
individu akan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan mampu
mengembangkan daya inisiatif-kreatimya sehingga ia akan memperoleh
pengalaman-pengalaman baru. Dengan pengalaman-pengalaman tersebut, akan semakin
mematangkan kualitas mentalnya.
No comments:
Post a Comment