Sunday, 18 December 2016

Proposal Peneletian Metode Penelitian Kuantitatif



Proposal Peneletian
Metode Penelitian Kuantitatif
PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA YANG DIAJAR DENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY-TWO STRAY (TSTS)
DAN TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD)
PADA MATERI HIMPUNAN DI KELAS VII




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia Membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan proses memberdayakan atau mengembangkan semua telenta (bakat) anak, mewujudkan potensi kreatif dan tanggung  jawab kehidupan termasuk tujuan pribadi.[1]
Di Indonesia sendiri kualitas pendidikan belum mencapai hasil yang diharapkan. Rendahnya mutu pendidikan tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar siswa. Masalah lain dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah bahwa proses pembelajaran yang berlangsung di kelas masih terlalu didominasi oleh peran guru (teacher centered). Pendidikan di Indonesia kurang memberikan kesempatan kepada siswa dalam berbagai mata pelajaran untuk mengembangkan cara berpikir siswa dan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan berfikir kreatif siswa.
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah mengantarkan masyarakat ke era globalisasi yang saat ini menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas sumber daya manusia ini hanya dapat diperoleh dari proses belajar yaitu melalui pendidikan.
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[2]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.[3]
Definisi tersebut menjelaskan bahwa pendidikan adalah proses menumbuh kembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran. Pendidikan merupakan konsep ideal, sedangkan pengajaran adalah konsep operasional, dan keduanya berhubungan erat ibarat dua sisi koin yang tak mungkin terpisahkan. Untuk itu peran seorang guru sebagai pendidik dan pengajar sangatlah berarti untuk membentuk sumber daya manusia yang potensial. 
Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar. Guru bertanggung jawab untuk membawa siswanya pada suatu kedewasaan atau taraf kematangan tertentu sehingga mampu mencapai tujuan belajar itu sendiri yaitu: siswa mampu berpikir kritis dan kreatif, sikap terbuka dan demokratis, menerima pendapat orang lain, meningkatkan minat dan antusias siswa, serta dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan semangat, yang akan memberikan dampak positif dalam pencapaian hasil belajar siswa yang optimal.  
Hasil belajar  ini digunakan guru sebagai penentu atau ukuran dalam mencapai suatu pendidikan. Namun kenyataannya tidak semua siswa dapat mencapai hasil yang baik khususnya matematika dan mutu pendidikan matematika di Indonesia masih tergolong rendah. Keadaan saat ini seharusnya menjadi keprihatinan dan tanggung jawab bersama serta menjadi pendorong agar secara aktif ikut berpartisipasi dalam peningkatan mutu pendidikan nasional. 
Seperti yang telah dituturkan Mulyono bahwa “ Dari berbagai bidang studi diajarkan di sekolah matematika merupakan bidang pelajaran yang paling sulit oleh berbagai siswa, baik yang tidak berkesulitan belajar dan bagi siswa yang berkesulitan belajar”.[4]
Dari penjelasan Mulyono tersebut terlihat bahwa siswa memandang matematika sebagai bidang studi yang paling sulit. Meskipun demikian, siswa harus mempelajarinya karena matematika merupakan sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Untuk itu kesulitan belajar matematika harus diatasi sedini mungkin. Kalau tidak, siswa akan menghadapi banyak masalah karena hampir semua bidang studi memerlukan matematika yang sesuai.
Pandangan negatif siswa terhadap matematika ini berdampak pada rendahnya kualitas pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya hasil belajar matematika siswa. Rendahnya hasil belajar matematika siswa disebabkan oleh banyak faktor yaitu kurangnya minat belajar matematika, bentuk penyajian pelajaran matematika yang kurang menarik dan terkesan sulit untuk dipelajari siswa, penggunaan metode pembelajaran yang kurang tepat, serta faktor-faktor internal dari siswa, seperti kehadiran siswa di dalam kelas, motivasi belajar yang rendah serta kemampuan belajar matematika yang masih rendah.
Memperhatikan permasalahan yang dikemukakan tersebut, peneliti ingin melihat perbedaan hasil belajar siswa dengan menerapkan suatu pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok dimana siswa-siswa dituntut bekerja sama dan saling meningkatkan pembelajarannya dan pembelajaran siswa-siswa lain.
Adapun strategi pembelajaran kooperatif antara lain: Tari Bambu, Kancing Germerincing, Berpikir-Berpasangan-Berempat (Think-Pair-Share), Bertukar Pasangan, Keliling Kelompok, Jigsaw, Kepala Bernomor (Numbered Heads), Mencari Pasangan (Make A Match), Dua Datang-Dua Tamu (Two Stay-Two Stray), dan lainnya.
Salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang bisa diterapkan oleh guru matematika kelas VII ,,,,,,,,, agar hasil belajar matematika memuaskan yaitu strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD).
Strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) atau dua tinggal dua tamu. Pembelajaran dengan metode itu diawali dengan pembagian kelompok. Setelah kelompok terbentuk guru memberikan tugas berupa permasalahan-permasalahan yang harus mereka diskusikan jawabannya.[5] Pembelajaran kooperatif ini dapat mendorong anggota kelompok untuk memperoleh konsep secara mendalam melalui pemberian peran pada siswa.
Sedangkan strategi pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif.[6]
Selanjutnya Abdul Rasyid dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS  lebih tinggi dibandingkan hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.[7]
Berdasarkan uraian di atas peneliti ingin meneliti apakah terdapat perbedaan yang mendasar dalam pencapaian hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan. Oleh karena itu, peneliti akan melakukan penelitian dengan judul : “Perbedaan Hasil Belajar Siswa Yang Diajar dengan Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan Tipe Student Team-Achievement Divisions (STAD) Pada Materi Himpunan Di Kelas VII ,,,,,,,,, Tahun Pelajaran 2016/2017”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1.      Pandangan negatif siswa terhadap pembelajaran matematika.
2.      Rendahnya hasil belajar matematika siswa.
3.      Kurangnya minat siswa untuk mempelajari matematika.
4.      Perbedaan kemampuan belajar yang dimiliki setiap siswa.
5.      Perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan di kelas VII ,,,,,,,,,Tahun Pelajaran 2013/2014. 
C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, maka perlu adanya pembatasan masalah agar penelitian ini lebih terfokus pada permasalahan yang akan diteliti. Peneliti hanya meneliti perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan tipe Student Team-Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan di kelas VII ,,,,,,,,, Tahun Pelajaran 2016/2017. 
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1.      Apakah hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) lebih baik daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student TeamAchievement Divisions (STAD) pada materi himpunan?
2.      Apakah hasil belajar siswa berkemampuan tinggi yang diajar dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) lebih baik daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Team-Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan?
3.      Apakah hasil belajar siswa berkemampuan rendah yang diajar dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) lebih baik daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Team-Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan?
4.      Apakah terdapat interaksi yang signifikan antara strategi pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil belajar siswa pada materi himpunan? 
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini yaitu:
1.      Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan strategi pembelajaran kooperatif tipe Student Team-Achievement Divisions (STAD)  pada materi himpunan.
2.      Untuk mengetahui hasil belajar siswa berkemampuan tinggi yang diajar dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Student Team-Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan.
3.      Untuk mengetahui hasil belajar siswa berkemampuan rendah yang diajar dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Student Team-Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan.
4.      Untuk mengetahui apakah terdapat interaksi yang signifikan antara strategi pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil belajar siswa pada materi himpunan.
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini yaitu:
1.      Sebagai bahan masukan bagi kepala sekolah agar dapat memberikan informasi kepada guru dalam hal pentingnya strategi pembelajaran yang berkaitan dengan peningkatan hasil belajar siswa.
2.      Sebagai bahan masukan bagi guru dan calon guru dalam hal mengembangkan strategi yang lebih bervariasi.
3.      Sebagai bahan sumbangan pemikiran bagi guru dalam hal memilih dan menerapkan strategi pembelajaran matematika di tingkat MTs/sederajat khususnya materi himpunan.
4.      Sebagai bahan kajian dan referensi untuk menambah wawasan bagi peneliti berikutnya yang akan melakukan kajian yang berhubungan dengan strategi pembelajaran tipe Two Stay-Two Stray dan tipe Student Team-Achievement Divisions .







BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Kerangka Teoritis
1. Pengertian Belajar
Belajar menurut James O. Whittaker sebagaimana dikutip Abu Ahmadi dalam Mardianto adalah: Learning is the process by which behavior (in the broader sense originated of changer through practice or training). Artinya belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas
ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan).[8]
Hintzman dalam bukunya The Psychology Of Learning And Memory dalam Muhibbin Syah berpendapat bahwa: “belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut”. Jadi, dalam pandangan Hintzman, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.[9]
Guilford dalam Mustaqim menyatakan “Learning is any change in behaviour resulting from stiulation”. Artinya belajar adalah perubahan tingkah laku yang dihasilkan dari ransangan.[10] Gagne dalam Agus Suprijono mendefinisikan belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah.[11]
Drs. Slameto juga merumuskan pengertian tentang belajar. Menurutnya belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.[12]
Hal senada juga diungkapkan Moh Surya dalam Heri Gunawan, belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.[13]
Melihat beberapa pengertian belajar yang disampaikan oleh para ahli di atas terdapat kesamaan atau kata kunci dari belajar. Kesamaannya adalah terletak pada kalimat “perubahan perilaku”. Dengan demikian dikatakan belajar jika di dalamnya terjadi suatu proses perubahan tingkah laku.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap orang secara maksimal untuk dapat menguasai atau memperoleh sesuatu. Belajar dipahami sebagai tahapan perubahan tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Perubahan tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan, keadaan gila, mabuk, lelah, dan jenuh tidak dapat dipandang sebagai proses belajar. 
Ciri khas perubahan dalam belajar meliputi perubahan-perubahan yang bersifat:
1) intensional (disengaja);
2) positif dan aktif (bermanfaat dan atas hasil usaha sendiri);
3) efektif dan fungsional (berpengaruh dan mendorong timbulnya perubahan baru).[14]
Jadi, proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya. Karena belajar merupakan aktivitas yang berproses, sudah tentu didalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahanperubahan tersebut timbul melalui tahap-tahap yang antara satu dengan lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional.
Menurut Jerome S. Bruner dalam Muhibbin Syah, dalam proses belajar siswa menempuh tiga fase, yaitu:
 (1) fase informasi/tahap penerimaan informasi,
(2) fase transformasi/tahap pengubahan materi,
(3) fase evaluasi/tahap penilaian materi.[15]
Berdasarkan uraian pendapat para ahli sebelumnya yang dimaksud dengan belajar dalam penelitian ini adalah proses terjadinya perubahan tingkah laku secara sadar dan berkesinambungan akibat adanya interaksi dengan lingkungannya. Interaksi yang dimaksud adalah interaksi dalam pembelajaran seperti peserta didik yang tidak tahu menjadi tahu, dan yang tidak terampil menjadi terampil.

2. Hasil Belajar
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa belajar adalah proses terjadinya perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil belajar. Hasil belajar merupakan indikator untuk mengukur keberhasilan siswa dalam proses belajar. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar.
Menurut Abdurrahman:  Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan intruksional.[16] 
Menurut Dimyanto dan Mudjiono: Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat belum belajar. Dimana tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran.[17]
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertianpengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne dalam Agus Suprijono, hasil belajar berupa:
a.       Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespon secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah maupun penerapan aturan.
b.      Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis-sintesis fakta – konsep dan mengembangkan prinsip – prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas.
c.       Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
d.      Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
e.       Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai – nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai – nilai sebagai standar perilaku.[18]
Menurut Bloom (dalam Agus Suprijono), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakteristik). Domain psikomotor meliputi initiatory, pre-routine, dan rountinized. Psikomotor juga mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual. Sementara, menurut Lindgren dalam Agus Suprijono hasil pembelajaran meliputi kecakapan, informasi, pengertian, dan sikap.[19]
Howard Kingsley dalam Nana Sudjana membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) Sikap dan cita - cita.[20]
Hasil belajar berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan khusus yang direncanakan. Dengan demikian, tugas utama guru dalam kegiatan ini adalah merancang instrument yang dapat mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan data tersebut guru dapat mengembangkan dan memperbaiki program pembelajaran. Sedangkan, tugas seorang desainer dalam menentukan instrument juga perlu merancang cara menggunakan instrument beserta kriteria keberhasilannya. Hal ini perlu dilakukan, sebab dengan kriteria yang jelas dapat ditentukan apa yang harus dilakukan siswa dalam mempelajari isi atau bahan pelajaran. Instrument (tes) sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan), atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan).
Berdasarkan uraian sebelumnya yang dimaksud dengan hasil belajar dalam penelitian ini adalah kemampuan belajar yang dapat dicapai individu (siswa) setelah melaksanakan serangkaian proses belajar, adapun cara untuk mengukur hasil belajar matematika yang telah dicapai siswa digunakan instrument (tes). Tes dapat menilai dan mengukur hasil belajar bidang kognitif, afektif dan psikomotoris. Penilaian hasil belajar ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran di sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mencapai indikator yang telah ditentukan sebelumnya.
3. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Reinhart dan Beach dalam Al Rasyidin mengatakan, pembelajaran kooperatif adalah strategi di mana peserta didik bekerja dalam kelompok atau tim-tim untuk mempelajari konsep-konsep atau materi-materi.[21]
Henson dan Eller dalam Al Rasyidin juga mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai kerjasama yang dilakukan para peserta didik untuk mencapai tujuan bersama.[22] Menurut Nurulhayati dalam Rusman pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi.[23]
Sanjaya dalam Rusman menyatakan bahwa cooperative learning merupakan kegiatan belajar siswa yang dilakukan dengan cara berkelompok. Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.[24]
Gojwan mendefinisikan dalam Heri Gunawan: Cooperatif learning ialah suatu strategi pembelajaran yang menekankan aktivitas bersama (kolaboratif) para siswa dalam belajar yang berbentuk kelompok kecil, untuk mencapai tujuan yang sama dengan menggunakan berbagai macam aktifitas belajar guna meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran dan memecahkan masalah secara kolektif.[25]
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademis, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen).[26]
Pengelompokan bersifat heterogen artinya kelompok dibentuk berdasarkan perbedaan-perbedaan setiap anggotanya, baik perbedaan gender, latar belakang agama, sosial ekonomi, dan etnik, serta perbedaan kemampuan akademik. Dalam kemampuan akademik, kelompok pembelajaran biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan
kemamuan sedang, dan satu lainnya dari kemampuan akademis kurang.
Menurut Is Joni dalam Heri Gunawan, ada beberapa variasi model yang dapat diterapkan dalam pembelajaran kooperatif, yaitu: Student Team Achievement Division (STAD), Jigsaw, Group Investigation (GI), Rotating Trio Exchange, Group Resume, Think Pair Share, Numbered Head Together dan Decision Making.[27]
Pembelajaran kooperatif tidak sama [28]dengan sekadar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan
memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif.
Roger dan David Johnson juga mengatakan dalam Agus Suprijono bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Lima unsur tersebut adalah:
        i.            Positive interpendence (saling ketergantungan positif) yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling ketergantungan.
      ii.            Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan) yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut.
    iii.            Face to face promotive interaction (interaksi promotif) yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain. 
    iv.            Interpersonal skill (komunikasi antaranggota) yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
      v.            Group processing (pemrosesan kelompok) yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
Terdapat enam langkah utama atau tahapan (fase) dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif yang wajib dipahami guru seperti yang tertera pada tabel berikut:


Tabel 1 Sintak Model Pembelajaran Kooperatif[29]
Fase-Fase
Perilaku Guru
Fase 1: Present goals and set
Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik siap belajar
Fase 2: Present information
Mempresentasikan informasi kepada peserta didik secara verbal
Fase 3: Organize student into learning teams
Memberikan penjelasan kepada peserta didik tentang tata cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efesien

Fase 4: Assist team work and study
Membantu tim-tim belajar selama peserta didik mengerjakan tugasnya
Fase 5: Test on the materials
Menguji pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompok-kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6: Provide recognition
Memberikan pengakuan atau penghargaan
Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok



Prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu: penjelasan materi, belajar dalam kelompok, penilaian, dan pengakuan tim.
a.       Penjelasan materi, tahap ini diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok sampai siswa paham. 
b.      Belajar dalam kelompok, tahap ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi, siswa bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.
c.       Penilaian, penilaian dapat dilakukan dengan tes atau kuis yang dilakukan baik secara individual maupun kelompok. Hasil akhir setiap siswa dalam penggabungan keduanya dan dibagi dua. Nilai setiap kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya karena merupakan hasil kerja sama kelompok.
d.      Pengakuan tim, penetapan tim yang paling menonjol atau berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah.[30]
Jadi, hal yang menarik dari pembelajaran kooperatif adalah adanya harapan selain memiliki dampak pembelajaran, yaitu berupa peningkatan prestasi belajar peserta didik (student achievement) juga mempunyai dampak pengiring seperti relasi sosial, penerimaan terhadap peserta didik yang dianggap lemah, harga diri, norma akademik, penghargaan terhadap waktu, dan suka memberi pertolongan pada yang lain. [31]
Berdasarkan uraian sebelumnya yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dalam penelitian ini adalah rangkaian pembelajaran di mana peserta didik bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil yang bersifat heterogen melalui enam tahapan yaitu  menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa, penyajian informasi, pengelompokan tim belajar, bimbingan kelompok belajar, evaluasi, memberi penghargaan, yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain, serta dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman.
4. Strategi Pembelajaran Tipe Two Stay-Two Stray (Dua Tinggal-Dua Tamu)
Teknik belajar mengajar Dua Tinggal Dua Tamu (Two Sray Two Stray) dikembangkan oleh Spencer Kagan dan bisa digunakan bersama dengan teknik kepala bernomor. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.[32] Struktur Dua Tinggal Dua Tamu memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain.
Adapun prosedur pembelajaran kooperatif Dua Tinggal Dua Tamu (Two Sray Two Stray) adalah sebagai berikut:
a.       Siswa bekerja sama dengan kelompok berempat sebagaimana biasa.
b.      Guru memberikan tugas pada setiap kelompok untuk didiskusikan dan dikerjakan bersama.
c.       Setelah selesai, dua anggota dari masing-masing kelompok diminta meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke dua kelompok yang lain.
d.      Dua orang yang “tinggal” dalam kelompok bertugas mensharing  informasi dan hasil kerja mereka ke tamu mereka.
e.       “Tamu” mohon diri dan kembali ke kelompok yang semula dan melaporkan apa yang mereka temukan dari kelompok lain.
f.       Setiap kelompok lalu membandingkan dan membahas hasil pekerjaan mereka semua. [33]
Penerapan pembelajaran kooperatif dengan teknik Two Stay-Two Stray (Dua Tinggal-Dua Tamu) dalam proses pembelajaran dilaksanakan melalui tahap persiapan, penyajian kelas, kegiatan kelompok, melaksanakan evaluasi, penghargaan kelompok dan menghitung ulang skor dasar perubahan kelompok.

        i.            Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan guru melakukan beberapa langkah sebagai berikut:
a)      Memilih materi pokok
Materi pokok dalam penelitian ini adalah Himpunan.
b)      Membuat Lembar kerja Siswa
Untuk masing-masing kelompok disediakan Lembar Kerja Siswa yang sama.
c)      Menentukan skor dasar individu
Skor dasar merupakan nilai tes individu dari hasil evaluasi pada materi pokok Himpunan sebelum diberi tindakan.
d)     Membentuk kelompok-kelompok kooperatif
Anggota kelompok dipilih secara heterogen yang berjumlah empat orang, terdiri dari siswa pandai, sedang dan rendah. 
      ii.            Penyajian Kelas
Penyajian kelas dimulai dengan pendahuluan. Pendahuluan menekankan apa yang dipelajari siswa dalam kegiatan kelompok dan menjelaskan kepada siswa tentang konsep-konsep yang akan dipelajari dan mengapa hal itu penting dipelajari. Selanjutnya siswa melanjutkan dengan kegiatan kelompok.


    iii.            Kegiatan Kelompok
Sebelum kegiatan kelompok dimulai, terlebih dahulu dibentuk kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang. Dalam menetapkan anggota kelompok diupayakan setiap kelompok belajar terdiri dari satu orang siswa yang berkemampuan akademik tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dari anggota kelompok kemampuan rendah.
Kelompok belajar yang telah disusun dapat segera diinformasikan kepada siswa sebelum dilaksanakannya pembelajaran kooperatif dengan teknik Two Stay-Two Stray. Adapun kegiatan kelompok yang dilakukan yakni:
a)      Guru memberikan LKS kepada siswa untuk dikerjakan dalam masing-masing kelompok.
b)      Siswa bekerja sama dalam kelompok dengan anggota masing-masing.
c)      Setelah selesai, masing-masing kelompok mengutus dua orang (siswa yang pergi ditentukan oleh guru) berkunjung ke dua kelompok yang lain untuk melihat dan membandingkan hasil kerja kelompok lain yang dikunjungi.
d)     Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.
e)      Siswa yang berkunjung kembali ke kelompoknya semula dan melaporkan hasil temuannya dari kelompok yang dikunjungi.
f)       Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.
    iv.            Tes 
Tes dikerjakan secara individu yang mencakup semua materi yang telah dibahas dalam kegiatan pembelajaran. Skor yang diperoleh siswa dalam tes, selanjutnya diproses untuk menentukan nilai perkembangan individu yang akan disumbangkan sebagai skor kelompok.
Roger dan Johnson dalam Lie mengatakan: “Dalam penilaian, siswa mendapat nilai pribadi dan nilai kelompok. Siswa bekerjasama, saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk tes. Kemudian, masing-masing mengerjakan tes sendiri-sendiri dan menerima nilai pribadi”.[34]
      v.            Penghargaan Kelompok
Penghargaan kelompok terdiri dari beberapa langkah, yaitu:
a)      Menghitung skor individu dan skor kelompok 
Penghitungan skor tes individu bertujuan untuk menilai perkembangan individu yang akan disumbangkan sebagai skor kelompok
b)      Memberikan penghargaan
Setelah masing-masing kelompok atau tim memperoleh predikat, guru memberikan hadiah atau penghargaan kepada masing-masing kelompok sesuai dengan prestasinya (kriteria tertentu yang ditetapkan guru).
    vi.            Perhitungan Ulang Skor Dasar dan Perubahan Kelompok
Perhitungan skor dasar setiap kelompok diambil dari hasil tes yang dilakukan setelah selesai satu materi pokok. Dari nilai dasar tersebut baru dapat diketahui perkembangan individu dan kelompok. 
Teknik belajar mengajar Two Stay-Two Stray (Dua Tinggal-Dua Tamu) banyak digunakan dan menjadi perhatian serta dianjurkan oleh para ahli pendidikan. Hal ini dikarenakan teknik  belajar mengajar Two Stay-Two Stray (Dua Tinggal-Dua Tamu) dapat menghindari rasa bosan yang disebabkan pembentukan kelompok secara permanen dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan kelompok lain, guna memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya intelektual siswa, membantu siswa memahami konsep-konsep sulit, membantu siswa menumbuhkan kemampuan kerjasama, berpikir kritis dan kemampuan membantu teman.
5. Strategi Pembelajaran Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD)
Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin. STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. Metode yang dikembangkan Slavin ini melibatkan “kompetisi” antarkelompok.[35]
Siswa dikelompokkan secara beragam berdasarkan kemampuan, gender, ras, dan etnis. Pertama-tama, siswa mempelajari materi bersama dengan teman-teman satu kelompoknya, kemudian mereka diuji secara individual melalui kuis-kuis.[36]
Dengan kata lain model pembelajaran kooperatif STAD ini memiliki ciri-ciri berikut:
a.       Untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif.
b.      Kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
c.       Jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, dan jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam setiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula.
d.      Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan.[37]
 Langkah-langkah pembelajaran kooperatif model pembelajaran STAD yaitu:[38]
i.                    Penyampaian Tujuan dan Motivasi
            Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.
ii.                  Pembagian Kelompok
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, di mana setiap kelompoknya terdiri dari 4-5 siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keragaman) kelas dalam prestasi akademik, gender/jenis kelamin, rasa atau etnik.
iii.                Presentasi dari Guru
            Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Di dalam proses pembelajaran guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya.
iv.                Kegiatan Belajar dalam Tim
Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembaran kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi. Selama tim bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD.
v.                  Kuis (Evaluasi)
            Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemikiran kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Siswa diberikan kursi secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya sesuai tingkat kesulitan siswa.
vi.                Penghargaan Prestasi Siswa
Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja sama dan diberikan angka dengan rentang 0-100. Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berupa: Menghitung skor individu, Menghitung skor kelompok, Pemberian hadiah dan penguasaan skor kelompok Setelah masing-masing kelompok memperoleh predict, guru memberikan hadiah atau penghargaan kepada masing-masing kelompok sesuai dengan prestasinya (kriteria tertentu yang ditetapkan guru)
6. Materi Pelajaran “Himpunan”
a.      Pengertian Himpunan
Himpunan adalah kumpulan benda atau objek yang dapat didefinisikan dengan jelas, sehingga dengan tepat dapat diketahui objek yang termasuk himpunan dan yang tidak termasuk dalam himpunan tersebut.[39] Suatu himpunan biasanya diberi nama atau dilambangkan dengan huruf besar (Kapital) A, B, C, ..., Z. Adapun benda atau objek yang termasuk dalam himpunan tersebut ditulis dengan menggunakan pasangan kurung kurawal {...}.
Perhatikan kumpulan berikut ini:
        i.            Kumpulan lukisan indah.
Kumpulan lukisan indah tidak dapat disebut himpunan, karena lukisan indah menurut seseorang belum tentu indah menurut orang lain. Dengan kata lain, kumpulan lukisan indah tidak dapat didefinisikan dengan jelas.
      ii.            Kumpulan wanita cantik di Indonesia.
Wanita cantik menurut seseorang belum tentu cantik menurut orang lain. Jadi, kumpulan wanita cantik bukan termasuk himpunan.

b.      Cara Menuliskan Himpunan
Ada tiga cara untuk menyatakan suatu himpunan:
1.      Menggunakan notasi pembentukan himpunan,yaitu dengan menyatakan suatu himpunan dengan variabel dan menyatakan sifat-sifatnya. Contohnya B adalah suatu himpunan yang anggotanya bilangan genap.
Ditulis B = {x/x adalah bilangan genap}.
2.      Dengan menggunakan kata-kata yaitu dengan cara merangkai kata-kata yang mengambarkan suatu bilangan. Contohnya A adalah himpunan yang anggotanya adalah hewan berkaki empat. Ditulis A = {hewan kaki empat}.
3.      Dengan mendaftar anggota-anggotanya adalah suatu metode yang digunakan dengan cara menyebutkan anggotanya satu persatu. Contohnya X bilangan kurang dari 10. Ditulis A = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9).
Contoh : P adalah himpunan bilangan asli kurang dari 6
Dinyatakan dengan kata-kata : P = {bilangan asli kurang dari 6}
Dinyatakan dengan notasi pembentuk himpunan : P = {x|x bilangan asli kurang dari 6} atau P = { x|x < 6, x bilangan asli} atau  P = { x| 6 1   x , x bilangan asli}
Dinyatakan dengan mendaftar anggota-anggotanya : P = {1, 2, 3, 4, 5}


c.       Keanggotaan Himpunan
Lambang keanggotaan himpunan (“  ”) digunakan untuk menyatakan bahwa suatu objek merupakan anggota suatu himpunan, sedangkan lambang bukan keanggotaan himpunan (“ ”) digunakan untuk menyatakan bahwa suatu objek bukan merupakan anggota suatu himpunan. Contoh : P = {huruf-huruf pembentuk kata “siswa”}
Kata siswa terdiri atas 5 huruf, yaitu s, i, s, w, a. Huruf s ada dua buah, tetapi karena anggota yang sama dalam suatu himpunan hanya ditulis satu kali, sehingga salah jika ditulis P = {s, i, s, w, a}. Yang benar adalah P = {s, i, w, a}
d.      Banyak Anggota Suatu Himpunan
Banyak anggota himpunan A dapat dinyatakan dengan notasi n(A). Jadi notasi n(R) artinya banyak anggota pada himpunan R
Contoh : R = {0, 1, 2, 3, 4} Banyak anggota himpunan R adalah 5 buah. Ditulis: n(R)= 5


e.         Jenis-Jenis Himpunan
1.      Himpunan Berhingga
Yaitu himpunan yang mengandung jumlah unsur yang terhingga
Contoh :  A = {himpunan bilangan asli genap diantara 2 dan 1000}  A = {4, 6, 8, ,998}
2.      Himpunan Tak Berhingga
Yaitu himpunan yang mengandung unsur yang tidak berhingga banyaknya.
Contoh :  N = {himpunan bilangan asli ganjil}  N = {1, 3, 5,…}
3.      Himpunan Kosong dan Himpunan Nol
Himpunan kosong adalah suatu himpunan yang tidak memiliki anggota. Biasanya ditulis lambang { } atau Ø. Sedangkan himpunan nol adalah suatu himpunan yang banyak anggotanya hanya 1 yaitu angka nol.
Contoh:  A = himpunan siswa di kelasmu yang beratnya 400 kg,  A = {0}, sehingga n(A) = 0
B = Himpunan bilangan cacah kurang dari 1, B = {0}, sehingga n(B) = 1
4.      Himpunan yang Sama dan Himpunan yang Sederajat
Contoh: A = {s, i, n, g, a} dan B = {s, i, a, n, g}
Perhatikan bahwa setiap anggota di A sama dengan anggota di B. Jadi A = B
A = {2, 3, 4} sehingga n(A) = 3 
B = {2, 3, 5} sehingga n(B) = 3
Karena n(A) = n(B) = 3, maka A ~ B   
B. Kerangka Pikir
Masalah yang selama ini dialami dalam pembelajaran matematika adalah rendahnya hasil belajar matematika. Hal itu disebabkan kebanyakan siswa tidak menyukai pelajaran matematika karena terkesan sulit dan membosankan. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah tidak digunakannya strategi pembelajaran yang bervariasi.
Dari teori-teori yang telah dikemukakan, dapat kita lihat bahwa proses pembelajaran dengan berbagai strategi pembelajaran mempunyai pengaruh terhadap berhasil tidaknya seorang siswa dalam memahami materi yang disajikan. 
Diantara sekian banyak strategi pembelajaran pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dipilihlah strategi pembelajaran tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan tipe Student Teams Achievement Division (STAD). Penelitian ini mengukur hasil belajar yaitu tingkat kemampuan tinggi dan kemampuan rendah matematika siswa pada materi himpunan. Hal ini dilakukan untuk melihat perbedaan signifikan kemampuan tinggi dan kemampuan rendah siswa yang diajar dengan Strategi pembelajaran tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan tipe Student Teams Achievement Division (STAD). Adapun kerangka berpikir pada penelitian ini akan dijabarkan sebagai berikut: 

1.      Terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD).
Strategi pembelajaran TSTS adalah strategi pembelajaran kooperatif yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kecil yang heterogen, dengan ketentuan setelah selesai berdiskusi dikelompoknya ada anggota kelompok yang tinggal dan ada yang bertamu, dengan tujuan membandingkan hasil diskusi yang telah diperoleh dari kelompok masing-masing agar anggota kelompok terhindar dari rasa bosan dengan pembentukan kelompok secara permanen dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan kelompok lain. 
Sedangkan STAD adalah strategi pembelajaran kooperatif yang pembagian kelompoknya juga secara heterogen di mana siswa mempelajari materi bersama dengan teman sekelompoknya, kemudian mereka diuji secara individual melalui kuis-kuis. Kuis mempunyai pengaruh terhadap nilai tim, dan tim yang mendapatkan nilai terbaik mendapatkan penghargaan.
Melihat perbedaan diantara kedua strategi pembelajaran ini, maka tentunya siswa akan mengalami pengalaman yang berbeda pula. Untuk membuktikan apakah perbedaan tersebut akan berdampak terhadap hasil belajar, akan dilakukan penelitian pada pokok materi himpunan pada dua kelas dengan strategi yang berbeda di kelas VII ,,,,,,,,,.
Menurut penelitian Abdul Rasyid model pembelajaran koooperatif tipe TSTS memberikan pengaruh sebesar 12,1 % terhadap hasil belajar matematika siswa dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.[40] Hal ini menunjukkan bahwa sangat dimungkinkan hasil belajar siswa yang menggunakan strategi pembelajaran TSTS lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran STAD.
Slavin memaparkan dalam Rusman bahwa :”Gagasan utama di belakang STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru”.[41] Jika siswa menginginkan kelompok memperoleh hadiah, mereka harus membantu teman sekelompok mereka dalam mempelajari pelajaran. Mereka mengajari teman sekelompok dan menaksir kelebihan dan kekurangan mereka untuk membantu agar bisa berhasil menjalani tes.
Karena skor kelompok didasarkan pada kemajuan yang diperoleh siswa atas nilai sebelumnya (kesempatan yang sama untuk berhasil), siapapun dapat menjadi “bintang” kelompok dalam satu minggu itu, karena nilainya lebih baik dari nilai sebelumnya, sehingga selalu menghasilkan nilai yang maksimal tanpa mempertimbangkan nilai rata-rata siswa yang sebelumnya. Dari pendapat dan penjelasan tersebut dapat diduga bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan strategi pembelajaran STAD lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran TSTS.
Dengan demikian berdasarkan uraian di atas sangat dimungkinkan bahwa terjadi perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran TSTS dan hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran STAD. Dapat diambil dua kemungkinan bahwa strategi pembelajaran TSTS lebih baik dari strategi pembelajaran STAD atau sebaliknya strategi pembelajaran STAD lebih baik daripada strategi
pembelajaran TSTS.
2.      Terdapat perbedaan hasil belajar siswa berkemampuan tinggi yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD).
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai tempat siswa untuk bekerja sama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan, dan menjadi narasumber bagi teman yang lain. 
Memang, hampir semua penelitian tentang metode pembelajaran kooperatif umumnya selalu menjadikan interaksi antarsiswa sebagai faktor utama yang mempengaruhi prestasi belajar mereka. Akan tetapi, Slavin dalam Miftahul Huda menyatakan bahwa selain interaksi, perkembangan kognisi siswa juga turut berpengaruh terhadap pencapaian atau prestasi belajar mereka di ruang kelas.[42]
Cohen dalam Miftahul Huda menemukan bahwa status siswa juga berpengaruh terhadap interaksi mereka dengan teman-teman satu kelompoknya, yang pada akhirnya juga turut berimplikasi pada prestasi belajar mereka. Siswa-siswa yang memiliki “status yang lebih tinggi” (mereka yang dianggap kompeten dan terkenal) cenderung mampu bekerja sama dan berdiskusi lebih efektif daripada siswasiswa yang memiliki “status yang lebih rendah”. Hal ini tentu saja membuat mereka yang berstatus lebih tinggi menjadi lebih kompeten, sedangkan mereka yang berstatus lebih rendah semakin tertinggal.[43]
Dari penjelasan diatas tentunya kemampuan tinggi yang dimiliki seorang siswa dapat mempengaruhi hasil belajar mereka. Dalam pembelajaran kooperatif siswa harus mampu bekerja sama, berinteraksi, mampu memecahkan masalah yang diberikan guru, dan bertanggung jawab membantu teman-teman satu kelompoknya untuk mempelajari materi yang dipelajari. Hal tersebut pastinya tidak semua dimiliki oleh siswa berkemampuan tinggi.
Banyak siswa berkemampuan tinggi yang tidak dapat membantu temannya dalam mempelajari pelajaran, bisa disebabkan karena mereka hanya dapat mengetahui sendiri tapi tidak dapat menyampaikan atau mereka takut membagi ilmu mereka kepada temannya dikarenakan takut peringkat mereka tergantikan.
Dengan demikian berdasarkan uraian diatas sangat dimungkinkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran TSTS berbeda dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif STAD bagi siswa yang memiliki kemampuan tinggi. 
3.      Terdapat perbedaan hasil belajar siswa berkemampuan rendah yang diajar dengan pembelajaran kooperatif Two Stay-Two Stray (TSTS) dan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD).
Sebagai salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang mendapatkan perhatian, strategi pembelajaran TSTS dan strategi pembelajaran STAD dapat menaikkan kemampuan seorang siswa. Pada saat belajar kooperatif inilah, siswa akan belajar bagaimana menangani konflik, menghargai pendapat orang lain, bernegosiasi untuk menyelesaikan tugas akademik, dan saling berbagi gagasan dan sumber-sumber. Singkatnya pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa meningkatkan prestasi mereka, baik dalam materi akademik maupun perilaku, sikap, dan interaksinya sehari-hari. 
Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa strategi pembelajaran kooperatif tipe TSTS dan strategi pembelajaran STAD berpotensi meningkatkan siswa yang memiliki kemampuan rendah. Dengan demikian sangat dimungkinkan hail belajar siswa yang diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran TSTS berbeda dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran STAD bagi siswa yang memiliki kemampuan rendah.
4.      Terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil belajar siswa.
Kesiapan belajar siswa adalah kesiapan struktur kognitif siswa. Apakah struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa telah mampu untuk mencerna pengetahuan yang dipelajarinya atau belum. Hal tersebut dimaksudkan agar struktur kognitif dan pengalaman belajar yang telah dimiliki siswa bisa mengasimilasi dan mengakomodasi pengetahuan baru yang dipelajarinya sehingga terjadi adaptasi dalam belajar. Kerja sama dua variabel tersebut mempengaruhi hasil belajar matematika siswa. Dengan kata lain kemampuan siswa dan pembelajaran yang dialaminya dalam kelas yang menggunakan strategi pembelajaran kooperatif mempengaruhi hasil belajar siswa.
Tidak dapat dipastikan siswa yang memiliki kemampuan tinggi yang diajarkan dengan mengunakan strategi pembelajaran TSTS akan memiliki hasil belajar yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan rendah yang diajarkan juga dengan mengunakan strategi TSTS. Juga tidak dapat dipastikan siswa yang memiliki kemampuan tinggi yang diajarkan mengunakan strategi pembelajaran STAD akan memiliki hasil belajar yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan rendah yang diajarkan juga dengan mengunakan strategi pembelajaran STAD. Demikian sebaliknya. Hal tersebut karena belum diketahui apakah ada hubungan yang positif antara strategi pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil belajar siswa.
C. Hipotesis
Berdasarkan uraian pada landasan teoritis yang telah dipaparkan maka dapat disusun hipotesis sebagai berikut: 
1.       H0 : Tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan.
H1 : Terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan.
2.      H0 : Tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa berkemampuan tinggi yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan.
H1 :  Terdapat perbedaan hasil belajar siswa berkemampuan tinggi yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan.
3.      H0 :  Tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa berkemampuan rendah yang diajar dengan pembelajaran kooperatif Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan.
H1 :  Terdapat perbedaan hasil belajar siswa berkemampuan rendah yang diajar dengan pembelajaran kooperatif Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan.
4.      H0 :  Tidak terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil belajar siswa pada materi himpunan.
H1 :  Terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil belajar siswa pada materi himpunan.



BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah Negeri ,,,,,,,,, TP. 2016/2017 pada materi himpunan. Oleh karena itu,penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan jenis penelitiannya adalah quasi eksperiment (eksprimen semu). Sebab kelas yang digunakan telah terbentuk sebelumnya. 
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di ,,,,,,,,, , pada tanggal 01 Desember 2016 – 03 Desember 2016 pada semester I (Ganjil) Tahun Ajaran 2016/2017. 

C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Dr. Indra menyatakan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.[44] Sedangkan sampel adalah sebahagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.[45]
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII ,,,,,,,,,  Tahun Ajaran 2016/2017, yang terdiri dari 2 kelas, 1 kelas VII-A dengan jumlah siswa 30 siswa, 1 kelas VII-B dengan jumlah siswa 30 siswa.
2. Sampel
Sampel adalah sebahagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel kluster, karena pengambilan sampel dengan kelompok bukan individu. Subjek-subjek yang diteliti secara alami berkelompok atau kluster.
Teknik pengambilan sampel ini dibuat dengan pertimbangan bahwa peneliti hanya meneliti siswa berkemampuan tinggi dan rendah di kelas VII-A dan siswa berkemampuan tinggi dan rendah di kelas VII-B. Dalam penelitian ini 24 siswa dari kelas VII-A sebagai kelas TSTS dan 24 siswa dari kelas VII-B sebagai kelas STAD. 
D. Desain Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dirancang dengan desain faktorial 2 x 2. Dalam desain ini masing-masing variabel bebas diklasifikasikan menjadi 2 (dua) sisi, yaitu pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (A1) dan pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (A1). Sedangkan variabel atributnya diklasifikasikan dalam dua kecendrungan kemampuan siswa tinggi (B1) dan kemampuan siswa rendah (B2), sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar siswa (Y).  
Desain penelitian Eksperimen ini direncanakan menggunakan rancangan faktorial sederhana 2 x 2 dengan alasan bahwa rancangan ini memiliki beberapa kelebihan di antaranya yaitu :
(1)   rancangan penelitian faktorial ini dapat menyelesaikan satu kali eksperimen yang berkemungkinan membutuhkan dua atau lebih penelitian yang terpisah,
(2)   rancangan ini dapat digunakan untuk mengkaji interaksi-interaksi yang sering kali sangat penting dalam penelitian pendidikan,
(3)   melalui rancangan ini hipotesis dapat diuji secara matang. 


Tabel 4 Desain Penelitian Faktorial 2 x 2
Strategi                               Pembelajaran (X1)
Kemampuan  siswa (X2)
Kooperatif Two Stay-Two Stray  (A1)
Kooperatif Student Team Achievement Divisions  (A2)

Tinggi (B1)
A1B1
A2B1
Rendah (B2)
A1B2
A2B2




Keterangan :
1)      A1B1  =  Kelompok siswa yang dikenai Pembelajaran Kooperatif Two Stay-Two Stray yang memiliki kemampuan tinggi.
2)      A2B1 =  Kelompok siswa yang dikenai Pembelajaran Kooperatif Student Team Achievement Division yang memiliki kemampuan tinggi.
3)      A1B2  =  Kelompok siswa yang dikenai Pembelajaran Kooperatif Two Stay-Two Stray yang memiliki kemampuan rendah.
4)      A2B2 =  Kelompok siswa yang dikenai Pembelajaran Kooperatif Student Team Achievement Division yang memiliki kemampuan rendah.
5)      A1   =  Kelompok siswa yang diberikan Pembelajaran Kooperatif Two Stay-Two Stray sebagai kelas eksperimen.
6)      A2 =  Kelompok siswa yang diberikan Pembelajaran Kooperatif Student Team Achievement Division sebagai kelas kontrol (pembanding).
7)      B1 =  Kemampuan tinggi.
8)      B2  =  Kemampuan rendah.
Penelitian ini melibatkan dua kelas yaitu kelas TSTS dan kelas STAD yang diberi perlakuan berbeda. Pada kelas VII-A diberi perlakuan yaitu pengajaran materi himpunan dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray dan kelas VII-B diberi perlakuan yaitu pengajaran materi himpunan dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division.
Di setiap kelas terdapat pembagian kelompok. Anggota kelompok dipilih secara heterogen yang berjumlah empat sampai lima orang, terdiri dari siswa pandai, sedang, dan rendah. Untuk mengetahui hasil belajar siswa diperoleh dari penerapan dua perlakuan tersebut maka siswa diberikan tes. 
E. Defenisi Operasional
Penelitian ini berjudul: “Perbedaan Hasil Belajar Siswa Yang Diajar dengan Strategi
Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team-Achievement Divisions (STAD) pada materi Himpunan di Kelas VII ,,,,,,,,, Tahun Ajaran 2016/2017”.
Istilah-istilah yang memerlukan penjelasan adalah sebagai berikut:
1. Perbedaan Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar dalam penelitian ini adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melalui kegiatan belajar. Peserta didik yang berhasil dalam belajar ialah yang mampu mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuantujuan instruksional. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan peserta didik dalam memahami mata pelajaran matematika khususnya pokok bahasan himpunan. Jadi, perbedaan hasil belajar siswa dalam penelitian ini merupakan adanya perbedaan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar dengan perlakuan yang berbeda pula. 
2. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif dalam penelitian ini adalah suatu bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompokkelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen, yang melalui prosedur menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa, penyajian informasi, pengelompokan tim belajar, bimbingan kelompok belajar, evaluasi, memberi penghargaan, yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain, serta dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman.
3. Tipe Two Stay-Two Stray (TSTS)
Two Stay-Two Stray (Dua Tinggal-Dua Tamu) dalam penelitian ini adalah suatu teknik belajar kooperatif yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kecil yang terdiri dari empat orang secara heterogen, dengan ketentuan setelah selesai berdiskusi dikelompoknya dua orang tinggal dalam kelompoknya, sedangkan dua orang yang lain sebagai tamu ke kelompok lain dengan tujuan membandingkan hasil diskusi yang telah diperoleh dari kelompok masing-masing, adapun tujuan teknik ini agar anggota kelompok terhindar dari rasa bosan dengan pembentukan kelompok secara permanen dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan kelompok lain.
4. Tipe Student Team-Achievement Divisions (STAD)
Student Team-Achievement Divisions (STAD) dalam penelitian ini adalah suatu strategi pembelajaran kooperatif dimana siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan orang yang beragam kemampuaan, jenis kelamin, dan suku yang melalui langkah-langkah pembelajaran yaitu penyampaian tujuan dan motivasi, pembagian kelompok, presentasi guru, kerja tim, evaluasi, dan penghargaan yang bertujuan untuk memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru. 
F. Teknik Pengumpulan Data
 Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan tes untuk hasil belajar pada materi himpunan. Tes hasil belajar berupa pertanyaanpertanyaan dalam bentuk pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban pada pokok bahasan himpunan sebanyak 20 butir soal. Tes tersebut diberikan kepada semua siswa pada kelompok TSTS dan kelompok STAD. Semua siswa mengisi atau menjawab sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan peneliti pada awal atau lembar pertama dari tes itu untuk pengambilan data. Adapun teknik pengambilan data adalah sebagai berikut:
1.      Memberikan post-tes untuk memperoleh data hasil belajar siswa berkemampuan tinggi dan data hasil belajar siswa berkemampuan rendah pada kelas TSTS dan kelas STAD.
2.      Melakukan analisis data post-tes yaitu uji normalitas, uji homogenitas pada kelas TSTS dan kelas STAD.
3.      Melakukan analisis data post-tes yaitu uji hipotesis dengan menggunakan teknik Analisis Varian lalu dilanjutkan dengan Uji Tuckey. 











DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rasyid. 2012. Perbedaan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS (Two Stay Two Stray) Dan Tipe STAD (Student Team-Achievement Divisions) Pada Pokok Bahasan Lingkaran Di Kelas VIII SMP Muhammadiyah 16 Lubuk Pakam. Skripsi Pendidikan Matematika, (Medan: Perpustakaan UNIMED)
Agus Suprijono. 2010. Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Al Rasyidin. 2011. Teori Belajar dan Pembelajaran. Medan: Perdana Publishing
Anggota IKAPI. 2009. Undang-Undang SISDIKNAS Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokusmedia
Anita Lie. 2010. Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia Wiiasarana Indonesia
Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni. 2008. Matematika Konsep dan Aplikasinya. Jakarta : Pusat Perbukuan
Heri Gunawan. 2012. Kurikulum Dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung: Alfabeta
http://Indramunawar. Blogspot.com/2009/06/ hasil belajar-belajar-pengertian-dan definisi.htm
Hamruni. 2011. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani
Indra Jaya. 2010. Statistik Penelitian Untuk Pendidikan. Medan: Cita Pustaka
Mastur Faizi. 2013. Ragam Metode Mengajarkan Eksakta Pada Murid. Jogjakarta: DIVA Press
Mardianto. 2012. Psikologi Pendidikan. Medan: Perdana Publishing,
Mustaqim. 2008. Psikologi Pendidikan. Semarang: Pustaka Pelajar
Muhibbin Syah. 2010.  Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Mulyono Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Nana Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Robert E. Slavin. 2005. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
S.B. Djamarah. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Syafaruddin Dan Nurmawati. 2011. Pengelolaan pendidikan (Mengembangkan keterampilan manajemen pendidikan menuju sekolah efektif).Medan:Perdana publishing, h.69.pendidikan menuju sekolah efektif).Medan:Perdana publishing
Wina Sanjaya. 2011. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Group


[1] Syafaruddin Dan Nurmawati. 2011. Pengelolaan pendidikan (Mengembangkan keterampilan manajemen pendidikan menuju sekolah efektif).Medan:Perdana publishing, h.69.pendidikan menuju sekolah efektif).Medan:Perdana publishing, h.69.
[2] Anggota IKAPI. 2009. Undang-Undang SISDIKNAS Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokusmedia, h.2.
[3] Muhibbin Syah. 2010.  Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, h. 10.
[4] Mulyono Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta, h. 251. 

[5] Agus Suprijono. 2010. Cooperative Learning. Surabaya: Pustaka Pelajar, h. 93
[6] Robert E. Slavin. 2005. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media, h. 143
[7] Abdul Rasyid. 2012. Perbedaan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS (Two Stay Two Stray) Dan Tipe STAD (Student Team-Achievement Divisions) Pada Pokok Bahasan Lingkaran Di Kelas VIII SMP Muhammadiyah 16 Lubuk Pakam. Skripsi Pendidikan Matematika, (Medan: Perpustakaan UNIMED), h. 45, t.d.

[8] Mardianto. 2012. Psikologi Pendidikan. Medan: Perdana Publishing, h. 38.
[9] Muhibbin Syah. 2010. Psikologi Belajar Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, h. 88.
[10] Mustaqim. 2008. Psikologi Pendidikan. Semarang: Pustaka Pelajar, h. 34.

[11] Agus Suprijono. 2010. Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, h. 2
[12] S.B. Djamarah. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta, h. 13
[13] Heri Gunawan. 2012. Kurikulum Dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung: Alfabeta, h. 104
[14] Muhibbin Syah, op. cit., h. 137
[15] Ibid, h. 111
[16] Mulyono Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta, h. 37-38
[17] http://Indramunawar. Blogspot.com/2009/06/ hasil belajar-belajar-pengertian-dan definisi.htm
[18] Agus Suprijono, op. cit., h. 5-6
[19] Ibid, h. 6-7
[20] Nana Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, h. 22
[21] Al Rasyidin. 2011. Teori Belajar dan Pembelajaran. Medan: Perdana Publishing, h. 153.
[22] Ibid
[23] Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, h. 203
[24] Ibid
[25] Heri Gunawan, h. 233.
[26] Wina Sanjaya. 2011. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Group, h. 194.
[27] Heri Gunawan, op.cit., h. 241.
[28] Agus Suprijon, op.cit., h. 58
[29] Agus Suprijono, op.cit, h.211
[30] Hamruni. 2011. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani, h. 127
[31] Wina Sanjaya, op.cit., h. 243
[32] Anita Lie. 2010. Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia Wiiasarana Indonesia, h. 61.
[33] Mifahul Huda, op.cit., h. 141. 
[34] Anita Lie, op.cit., h.88
[35] Robert E. Slavin, op.cit., h. 143
[36] Miftahul Huda, op.cit., h. 116
[37] Mastur Faizi. 2013. Ragam Metode Mengajarkan Eksakta Pada Murid. Jogjakarta: DIVA Press, h. 183-184
[38] Rusman, op.cit., h. 215-217
[39] Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni. 2008. Matematika Konsep dan Aplikasinya. Jakarta : Pusat Perbukuan, h. 164
[40] Abdul Rasyid. 2012. Perbedaan Hasil Belajar Siswa Menggunakan PembelPelajaran Kooperatif Tipe TSTS (Two Stay Two Stray) Dan Tipe STAD (Student Team-Achievement Divisions) Pada Pokok Bahasan Lingkaran Di Kelas VIII SMP Muhammadiyah 16 Lubuk Pakam. Skripsi Pendidikan Matematika, (Medan: Perpustakaan UNIMED), h. 45, t.d.
[41] Rusman. op.cit., h. 214
[42] Miftahul Huda. op.cit., h. 43
[43] Ibid, h. 304
[44] Indra Jaya. 2010. Statistik Penelitian Untuk Pendidikan. Medan: Cita Pustaka, h. 18.
[45] Ibid, h. 29