Proposal
Peneletian
Metode
Penelitian Kuantitatif
PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA YANG DIAJAR DENGAN STRATEGI
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY-TWO
STRAY (TSTS)
DAN TIPE STUDENT
TEAM ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD)
PADA MATERI HIMPUNAN DI KELAS VII
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia
Membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan proses
memberdayakan atau mengembangkan semua telenta (bakat) anak, mewujudkan potensi
kreatif dan tanggung jawab kehidupan
termasuk tujuan pribadi.[1]
Di
Indonesia sendiri kualitas pendidikan belum mencapai hasil yang diharapkan. Rendahnya
mutu pendidikan tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar siswa.
Masalah lain dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan
adalah bahwa proses pembelajaran yang berlangsung di kelas masih terlalu
didominasi oleh peran guru (teacher
centered). Pendidikan di Indonesia kurang memberikan kesempatan kepada
siswa dalam berbagai mata pelajaran untuk mengembangkan cara berpikir siswa dan
mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan berfikir kreatif siswa.
Pesatnya perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah mengantarkan masyarakat ke era
globalisasi yang saat ini menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas.
Kualitas sumber daya manusia ini hanya dapat diperoleh dari proses belajar
yaitu melalui pendidikan.
Undang-undang No. 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.[2]
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang
atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran
dan pelatihan.[3]
Definisi tersebut
menjelaskan bahwa pendidikan adalah proses menumbuh kembangkan seluruh kemampuan
dan perilaku manusia melalui pengajaran. Pendidikan merupakan konsep ideal,
sedangkan pengajaran adalah konsep operasional, dan keduanya berhubungan erat
ibarat dua sisi koin yang tak mungkin terpisahkan. Untuk itu peran seorang guru
sebagai pendidik dan pengajar sangatlah berarti untuk membentuk sumber daya manusia
yang potensial.
Guru adalah salah satu
komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar. Guru bertanggung jawab untuk
membawa siswanya pada suatu kedewasaan atau taraf kematangan tertentu sehingga
mampu mencapai tujuan belajar itu sendiri yaitu: siswa mampu berpikir kritis
dan kreatif, sikap terbuka dan demokratis, menerima pendapat orang lain, meningkatkan
minat dan antusias siswa, serta dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar
dengan baik dan semangat, yang akan memberikan dampak positif dalam pencapaian
hasil belajar siswa yang optimal.
Hasil belajar ini digunakan guru sebagai penentu atau
ukuran dalam mencapai suatu pendidikan. Namun kenyataannya tidak semua siswa
dapat mencapai hasil yang baik khususnya matematika dan mutu pendidikan matematika
di Indonesia masih tergolong rendah. Keadaan saat ini seharusnya menjadi
keprihatinan dan tanggung jawab bersama serta menjadi pendorong agar secara
aktif ikut berpartisipasi dalam peningkatan mutu pendidikan nasional.
Seperti yang telah dituturkan
Mulyono bahwa “ Dari berbagai bidang studi diajarkan di sekolah matematika
merupakan bidang pelajaran yang paling sulit oleh berbagai siswa, baik yang
tidak berkesulitan belajar dan bagi siswa yang berkesulitan belajar”.[4]
Dari penjelasan Mulyono
tersebut terlihat bahwa siswa memandang matematika sebagai bidang studi yang
paling sulit. Meskipun demikian, siswa harus mempelajarinya karena matematika
merupakan sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Untuk itu
kesulitan belajar matematika harus diatasi sedini mungkin. Kalau tidak, siswa
akan menghadapi banyak masalah karena hampir semua bidang studi memerlukan
matematika yang sesuai.
Pandangan negatif siswa
terhadap matematika ini berdampak pada rendahnya kualitas pembelajaran. Hal ini
dapat dilihat dari rendahnya hasil belajar matematika siswa. Rendahnya hasil
belajar matematika siswa disebabkan oleh banyak faktor yaitu kurangnya minat
belajar matematika, bentuk penyajian pelajaran matematika yang kurang menarik
dan terkesan sulit untuk dipelajari siswa, penggunaan metode pembelajaran yang kurang
tepat, serta faktor-faktor internal dari siswa, seperti kehadiran siswa di
dalam kelas, motivasi belajar yang rendah serta kemampuan belajar matematika
yang masih rendah.
Memperhatikan
permasalahan yang dikemukakan tersebut, peneliti ingin melihat perbedaan hasil
belajar siswa dengan menerapkan suatu pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif
merupakan aktivitas pembelajaran kelompok dimana siswa-siswa dituntut bekerja
sama dan saling meningkatkan pembelajarannya dan pembelajaran siswa-siswa lain.
Adapun strategi
pembelajaran kooperatif antara lain: Tari Bambu, Kancing Germerincing,
Berpikir-Berpasangan-Berempat (Think-Pair-Share), Bertukar Pasangan, Keliling
Kelompok, Jigsaw, Kepala Bernomor (Numbered Heads), Mencari Pasangan (Make A
Match), Dua Datang-Dua Tamu (Two Stay-Two Stray), dan lainnya.
Salah satu strategi
pembelajaran kooperatif yang bisa diterapkan oleh guru matematika kelas VII ,,,,,,,,,
agar hasil belajar matematika memuaskan yaitu strategi pembelajaran kooperatif
tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan pembelajaran kooperatif tipe Student Team
Achievement Divisions (STAD).
Strategi pembelajaran
kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) atau dua tinggal dua tamu. Pembelajaran
dengan metode itu diawali dengan pembagian kelompok. Setelah kelompok terbentuk
guru memberikan tugas berupa permasalahan-permasalahan yang harus mereka diskusikan
jawabannya.[5]
Pembelajaran kooperatif ini dapat mendorong anggota kelompok untuk memperoleh konsep
secara mendalam melalui pemberian peran pada siswa.
Sedangkan strategi
pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD)
merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang paling sederhana,
dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru
menggunakan pendekatan kooperatif.[6]
Selanjutnya Abdul
Rasyid dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa
yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS lebih tinggi dibandingkan hasil belajar matematika
siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.[7]
Berdasarkan uraian di
atas peneliti ingin meneliti apakah terdapat perbedaan yang mendasar dalam
pencapaian hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe
Two Stay-Two Stray (TSTS) dan yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe
Student Team Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan. Oleh karena
itu, peneliti akan melakukan penelitian dengan judul : “Perbedaan Hasil Belajar
Siswa Yang Diajar dengan Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay-Two
Stray (TSTS) dan Tipe Student Team-Achievement Divisions (STAD) Pada Materi
Himpunan Di Kelas VII ,,,,,,,,, Tahun Pelajaran 2016/2017”.
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar
belakang masalah di atas, dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan sebagai
berikut :
1.
Pandangan negatif siswa terhadap
pembelajaran matematika.
2.
Rendahnya hasil belajar matematika
siswa.
3.
Kurangnya minat siswa untuk mempelajari
matematika.
4.
Perbedaan kemampuan belajar yang
dimiliki setiap siswa.
5.
Perbedaan hasil belajar siswa yang diajar
dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan tipe
Student Team Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan di kelas VII ,,,,,,,,,Tahun
Pelajaran 2013/2014.
C.
Batasan Masalah
Berdasarkan latar
belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, maka perlu adanya pembatasan
masalah agar penelitian ini lebih terfokus pada permasalahan yang akan
diteliti. Peneliti hanya meneliti perbedaan hasil belajar siswa yang diajar
dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan tipe
Student Team-Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan di kelas VII ,,,,,,,,,
Tahun Pelajaran 2016/2017.
D.
Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan
masalah di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1.
Apakah hasil belajar siswa yang diajar
dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) lebih
baik daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student
TeamAchievement Divisions (STAD) pada materi himpunan?
2.
Apakah hasil belajar siswa berkemampuan
tinggi yang diajar dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two
Stray (TSTS) lebih baik daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran
kooperatif tipe Student Team-Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan?
3.
Apakah hasil belajar siswa berkemampuan
rendah yang diajar dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two
Stray (TSTS) lebih baik daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran
kooperatif tipe Student Team-Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan?
4.
Apakah terdapat interaksi yang
signifikan antara strategi pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil
belajar siswa pada materi himpunan?
E.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan
penelitian ini yaitu:
1. Untuk
mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi
pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan strategi
pembelajaran kooperatif tipe Student Team-Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan.
2. Untuk
mengetahui hasil belajar siswa berkemampuan tinggi yang diajar dengan strategi
pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar
dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Student Team-Achievement Divisions
(STAD) pada materi himpunan.
3. Untuk
mengetahui hasil belajar siswa berkemampuan rendah yang diajar dengan strategi
pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar
dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Student Team-Achievement Divisions
(STAD) pada materi himpunan.
4. Untuk
mengetahui apakah terdapat interaksi yang signifikan antara strategi
pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil belajar siswa pada materi
himpunan.
F.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang
diharapkan dari hasil penelitian ini yaitu:
1.
Sebagai bahan masukan bagi kepala
sekolah agar dapat memberikan informasi kepada guru dalam hal pentingnya
strategi pembelajaran yang berkaitan dengan peningkatan hasil belajar siswa.
2.
Sebagai bahan masukan bagi guru dan
calon guru dalam hal mengembangkan strategi yang lebih bervariasi.
3.
Sebagai bahan sumbangan pemikiran bagi
guru dalam hal memilih dan menerapkan strategi pembelajaran matematika di
tingkat MTs/sederajat khususnya materi himpunan.
4.
Sebagai bahan kajian dan referensi untuk
menambah wawasan bagi peneliti berikutnya yang akan melakukan kajian yang
berhubungan dengan strategi pembelajaran tipe Two Stay-Two Stray dan tipe Student
Team-Achievement Divisions .
BAB II
LANDASAN
TEORITIS
A.
Kerangka Teoritis
1.
Pengertian Belajar
Belajar menurut James
O. Whittaker sebagaimana dikutip Abu Ahmadi dalam Mardianto adalah: Learning is
the process by which behavior (in the broader sense originated of changer through
practice or training). Artinya belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam
arti luas
ditimbulkan atau diubah melalui praktek
atau latihan).[8]
Hintzman dalam bukunya
The Psychology Of Learning And Memory dalam Muhibbin Syah berpendapat bahwa: “belajar
adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan)
disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme
tersebut”. Jadi, dalam pandangan Hintzman, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman
tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.[9]
Guilford dalam Mustaqim
menyatakan “Learning is any change in behaviour resulting from stiulation”. Artinya
belajar adalah perubahan tingkah laku yang dihasilkan dari ransangan.[10] Gagne
dalam Agus Suprijono mendefinisikan belajar adalah perubahan disposisi atau
kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi
tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara
alamiah.[11]
Drs. Slameto juga
merumuskan pengertian tentang belajar. Menurutnya belajar adalah suatu proses
usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya.[12]
Hal senada juga
diungkapkan Moh Surya dalam Heri Gunawan, belajar adalah suatu proses yang
dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara
keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi
dengan lingkungannya.[13]
Melihat beberapa
pengertian belajar yang disampaikan oleh para ahli di atas terdapat kesamaan
atau kata kunci dari belajar. Kesamaannya adalah terletak pada kalimat
“perubahan perilaku”. Dengan demikian dikatakan belajar jika di dalamnya
terjadi suatu proses perubahan tingkah laku.
Belajar merupakan suatu
kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap orang secara maksimal untuk dapat
menguasai atau memperoleh sesuatu. Belajar dipahami sebagai tahapan perubahan
tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan
interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Perubahan tingkah
laku yang timbul akibat proses kematangan, keadaan gila, mabuk, lelah, dan
jenuh tidak dapat dipandang sebagai proses belajar.
Ciri khas perubahan dalam belajar
meliputi perubahan-perubahan yang bersifat:
1) intensional (disengaja);
2) positif dan aktif (bermanfaat dan atas
hasil usaha sendiri);
3) efektif dan fungsional (berpengaruh
dan mendorong timbulnya perubahan baru).[14]
Jadi, proses belajar
dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan
psikomotorik yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif
dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya. Karena
belajar merupakan aktivitas yang berproses, sudah tentu didalamnya terjadi
perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahanperubahan tersebut timbul melalui
tahap-tahap yang antara satu dengan lainnya bertalian secara berurutan dan
fungsional.
Menurut Jerome S.
Bruner dalam Muhibbin Syah, dalam proses belajar siswa menempuh tiga fase,
yaitu:
(1)
fase informasi/tahap penerimaan informasi,
(2) fase transformasi/tahap pengubahan
materi,
(3) fase evaluasi/tahap penilaian
materi.[15]
Berdasarkan uraian
pendapat para ahli sebelumnya yang dimaksud dengan belajar dalam penelitian ini
adalah proses terjadinya perubahan tingkah laku secara sadar dan berkesinambungan
akibat adanya interaksi dengan lingkungannya. Interaksi yang dimaksud adalah
interaksi dalam pembelajaran seperti peserta didik yang tidak tahu menjadi
tahu, dan yang tidak terampil menjadi terampil.
2.
Hasil Belajar
Seperti yang telah
dijelaskan di atas bahwa belajar adalah proses terjadinya perubahan tingkah laku
yang relatif menetap sebagai hasil belajar. Hasil belajar merupakan indikator
untuk mengukur keberhasilan siswa dalam proses belajar. Hasil belajar adalah
kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar.
Menurut
Abdurrahman: Hasil belajar adalah
kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu
sendiri merupakan proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu
bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan belajar yang
terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan
instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak
yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan
pembelajaran atau tujuan-tujuan intruksional.[16]
Menurut Dimyanto dan
Mudjiono: Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu
sisi siswa dan sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat
perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat belum belajar.
Dimana tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar
merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran.[17]
Hasil belajar adalah
pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertianpengertian, sikap-sikap, apresiasi
dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne dalam Agus Suprijono, hasil belajar
berupa:
a. Informasi
verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik
lisan maupun tertulis. Kemampuan merespon secara spesifik terhadap rangsangan spesifik.
Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah maupun
penerapan aturan.
b. Keterampilan
intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan
intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis-sintesis
fakta – konsep dan mengembangkan prinsip – prinsip keilmuan. Keterampilan
intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas.
c. Strategi
kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya
sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan
masalah.
d. Keterampilan
motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan
koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
e. Sikap
adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap
objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi
nilai – nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai – nilai sebagai
standar perilaku.[18]
Menurut Bloom (dalam
Agus Suprijono), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension
(pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis
(menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan,
membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain afektif adalah
receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (nilai),
organization (organisasi), characterization (karakteristik). Domain psikomotor
meliputi initiatory, pre-routine, dan rountinized. Psikomotor juga mencakup
keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual.
Sementara, menurut Lindgren dalam Agus Suprijono hasil pembelajaran meliputi
kecakapan, informasi, pengertian, dan sikap.[19]
Howard Kingsley dalam
Nana Sudjana membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan
kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) Sikap dan cita - cita.[20]
Hasil belajar berkaitan
dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan khusus yang direncanakan. Dengan
demikian, tugas utama guru dalam kegiatan ini adalah merancang instrument yang
dapat mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai tujuan
pembelajaran.
Berdasarkan data
tersebut guru dapat mengembangkan dan memperbaiki program pembelajaran.
Sedangkan, tugas seorang desainer dalam menentukan instrument juga perlu
merancang cara menggunakan instrument beserta kriteria keberhasilannya. Hal ini
perlu dilakukan, sebab dengan kriteria yang jelas dapat ditentukan apa yang
harus dilakukan siswa dalam mempelajari isi atau bahan pelajaran. Instrument
(tes) sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada
siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam
bentuk tulisan (tes tulisan), atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan).
Berdasarkan uraian
sebelumnya yang dimaksud dengan hasil belajar dalam penelitian ini adalah
kemampuan belajar yang dapat dicapai individu (siswa) setelah melaksanakan
serangkaian proses belajar, adapun cara untuk mengukur hasil belajar matematika
yang telah dicapai siswa digunakan instrument (tes). Tes dapat menilai dan
mengukur hasil belajar bidang kognitif, afektif dan psikomotoris. Penilaian hasil
belajar ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran di
sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mencapai indikator yang telah
ditentukan sebelumnya.
3.
Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Reinhart dan Beach
dalam Al Rasyidin mengatakan, pembelajaran kooperatif adalah strategi di mana
peserta didik bekerja dalam kelompok atau tim-tim untuk mempelajari
konsep-konsep atau materi-materi.[21]
Henson dan Eller dalam
Al Rasyidin juga mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai kerjasama yang
dilakukan para peserta didik untuk mencapai tujuan bersama.[22] Menurut
Nurulhayati dalam Rusman pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran
yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling
berinteraksi.[23]
Sanjaya dalam Rusman
menyatakan bahwa cooperative learning merupakan kegiatan belajar siswa yang
dilakukan dengan cara berkelompok. Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian
kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.[24]
Gojwan mendefinisikan
dalam Heri Gunawan: Cooperatif learning ialah suatu strategi pembelajaran yang
menekankan aktivitas bersama (kolaboratif) para siswa dalam belajar yang
berbentuk kelompok kecil, untuk mencapai tujuan yang sama dengan menggunakan berbagai
macam aktifitas belajar guna meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi
pelajaran dan memecahkan masalah secara kolektif.[25]
Pembelajaran kooperatif
merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil,
yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan
akademis, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen).[26]
Pengelompokan bersifat
heterogen artinya kelompok dibentuk berdasarkan perbedaan-perbedaan setiap anggotanya,
baik perbedaan gender, latar belakang agama, sosial ekonomi, dan etnik, serta
perbedaan kemampuan akademik. Dalam kemampuan akademik, kelompok pembelajaran
biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan
kemamuan sedang, dan satu lainnya dari
kemampuan akademis kurang.
Menurut Is Joni dalam
Heri Gunawan, ada beberapa variasi model yang dapat diterapkan dalam
pembelajaran kooperatif, yaitu: Student Team Achievement Division (STAD),
Jigsaw, Group Investigation (GI), Rotating Trio Exchange, Group Resume, Think
Pair Share, Numbered Head Together dan Decision Making.[27]
Pembelajaran kooperatif
tidak sama [28]dengan
sekadar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif
yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan
prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan
memungkinkan guru mengelola kelas lebih
efektif.
Roger dan David Johnson
juga mengatakan dalam Agus Suprijono bahwa tidak semua belajar kelompok bisa
dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima
unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Lima unsur tersebut
adalah:
i.
Positive interpendence (saling
ketergantungan positif) yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam
penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut.
Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota
kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling
ketergantungan.
ii.
Personal responsibility (tanggung jawab
perseorangan) yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing
anggota kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok mempunyai tugas
dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut.
iii.
Face to face promotive interaction
(interaksi promotif) yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap
anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk
saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.
iv.
Interpersonal skill (komunikasi
antaranggota) yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan
berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
v.
Group processing (pemrosesan kelompok)
yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja
kelompok dan hasil kerja sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan
lebih efektif.
Terdapat enam langkah
utama atau tahapan (fase) dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran
kooperatif yang wajib dipahami guru seperti yang tertera pada tabel berikut:
Tabel 1 Sintak Model Pembelajaran
Kooperatif[29]
Fase-Fase
|
Perilaku Guru
|
Fase
1: Present goals and set
|
Menjelaskan
tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik siap belajar
|
Fase
2: Present information
|
Mempresentasikan
informasi kepada peserta didik secara verbal
|
Fase
3: Organize student into learning teams
|
Memberikan
penjelasan kepada peserta didik tentang tata cara pembentukan tim belajar dan
membantu kelompok melakukan transisi yang efesien
|
Fase
4: Assist team work and study
|
Membantu
tim-tim belajar selama peserta didik mengerjakan tugasnya
|
Fase
5: Test on the materials
|
Menguji
pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran atau
kelompok-kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
|
Fase
6: Provide recognition
|
Memberikan
pengakuan atau penghargaan
Mempersiapkan
cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok
|
Prosedur pembelajaran
kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu: penjelasan materi,
belajar dalam kelompok, penilaian, dan pengakuan tim.
a.
Penjelasan materi, tahap ini diartikan
sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar
dalam kelompok sampai siswa paham.
b.
Belajar dalam kelompok, tahap ini
dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi, siswa bekerja dalam
kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.
c.
Penilaian, penilaian dapat dilakukan
dengan tes atau kuis yang dilakukan baik secara individual maupun kelompok.
Hasil akhir setiap siswa dalam penggabungan keduanya dan dibagi dua. Nilai
setiap kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya karena merupakan hasil
kerja sama kelompok.
d.
Pengakuan tim, penetapan tim yang paling
menonjol atau berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah.[30]
Jadi, hal yang menarik
dari pembelajaran kooperatif adalah adanya harapan selain memiliki dampak
pembelajaran, yaitu berupa peningkatan prestasi belajar peserta didik (student
achievement) juga mempunyai dampak pengiring seperti relasi sosial, penerimaan
terhadap peserta didik yang dianggap lemah, harga diri, norma akademik,
penghargaan terhadap waktu, dan suka memberi pertolongan pada yang lain. [31]
Berdasarkan uraian
sebelumnya yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif (cooperative learning)
dalam penelitian ini adalah rangkaian pembelajaran di mana peserta didik bekerja
sama dalam kelompok-kelompok kecil yang bersifat heterogen melalui enam tahapan
yaitu menyampaikan tujuan pelajaran dan
memotivasi siswa, penyajian informasi, pengelompokan tim belajar, bimbingan
kelompok belajar, evaluasi, memberi penghargaan, yang bertujuan untuk
meningkatkan hasil belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan
sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain, serta dapat
memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan
mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman.
4.
Strategi Pembelajaran Tipe Two Stay-Two Stray (Dua Tinggal-Dua Tamu)
Teknik belajar mengajar
Dua Tinggal Dua Tamu (Two Sray Two Stray) dikembangkan oleh Spencer Kagan dan
bisa digunakan bersama dengan teknik kepala bernomor. Teknik ini bisa digunakan
dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.[32] Struktur
Dua Tinggal Dua Tamu memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil
dan informasi dengan kelompok lain.
Adapun prosedur
pembelajaran kooperatif Dua Tinggal Dua Tamu (Two Sray Two Stray) adalah
sebagai berikut:
a. Siswa
bekerja sama dengan kelompok berempat sebagaimana biasa.
b. Guru
memberikan tugas pada setiap kelompok untuk didiskusikan dan dikerjakan
bersama.
c. Setelah
selesai, dua anggota dari masing-masing kelompok diminta meninggalkan
kelompoknya dan masing-masing bertamu ke dua kelompok yang lain.
d. Dua
orang yang “tinggal” dalam kelompok bertugas mensharing informasi dan hasil kerja mereka ke tamu
mereka.
e. “Tamu”
mohon diri dan kembali ke kelompok yang semula dan melaporkan apa yang mereka
temukan dari kelompok lain.
f. Setiap
kelompok lalu membandingkan dan membahas hasil pekerjaan mereka semua. [33]
Penerapan pembelajaran
kooperatif dengan teknik Two Stay-Two Stray (Dua Tinggal-Dua Tamu) dalam proses
pembelajaran dilaksanakan melalui tahap persiapan, penyajian kelas, kegiatan kelompok,
melaksanakan evaluasi, penghargaan kelompok dan menghitung ulang skor dasar
perubahan kelompok.
i.
Tahap
Persiapan
Pada tahap persiapan
guru melakukan beberapa langkah sebagai berikut:
a)
Memilih materi pokok
Materi
pokok dalam penelitian ini adalah Himpunan.
b)
Membuat Lembar kerja Siswa
Untuk
masing-masing kelompok disediakan Lembar Kerja Siswa yang sama.
c)
Menentukan skor dasar individu
Skor
dasar merupakan nilai tes individu dari hasil evaluasi pada materi pokok
Himpunan sebelum diberi tindakan.
d)
Membentuk kelompok-kelompok kooperatif
Anggota
kelompok dipilih secara heterogen yang berjumlah empat orang, terdiri dari
siswa pandai, sedang dan rendah.
ii.
Penyajian
Kelas
Penyajian kelas dimulai
dengan pendahuluan. Pendahuluan menekankan apa yang dipelajari siswa dalam
kegiatan kelompok dan menjelaskan kepada siswa tentang konsep-konsep yang akan
dipelajari dan mengapa hal itu penting dipelajari. Selanjutnya siswa
melanjutkan dengan kegiatan kelompok.
iii.
Kegiatan
Kelompok
Sebelum kegiatan
kelompok dimulai, terlebih dahulu dibentuk kelompok belajar kooperatif yang
terdiri dari empat orang. Dalam menetapkan anggota kelompok diupayakan setiap
kelompok belajar terdiri dari satu orang siswa yang berkemampuan akademik tinggi,
dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dari anggota kelompok
kemampuan rendah.
Kelompok belajar yang
telah disusun dapat segera diinformasikan kepada siswa sebelum dilaksanakannya
pembelajaran kooperatif dengan teknik Two Stay-Two Stray. Adapun kegiatan kelompok
yang dilakukan yakni:
a)
Guru memberikan LKS kepada siswa untuk
dikerjakan dalam masing-masing kelompok.
b)
Siswa bekerja sama dalam kelompok dengan
anggota masing-masing.
c)
Setelah selesai, masing-masing kelompok
mengutus dua orang (siswa yang pergi ditentukan oleh guru) berkunjung ke dua
kelompok yang lain untuk melihat dan membandingkan hasil kerja kelompok lain
yang dikunjungi.
d)
Dua orang yang tinggal dalam kelompok
bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.
e)
Siswa yang berkunjung kembali ke
kelompoknya semula dan melaporkan hasil temuannya dari kelompok yang
dikunjungi.
f)
Kelompok mencocokkan dan membahas
hasil-hasil kerja mereka.
iv.
Tes
Tes dikerjakan secara
individu yang mencakup semua materi yang telah dibahas dalam kegiatan pembelajaran.
Skor yang diperoleh siswa dalam tes, selanjutnya diproses untuk menentukan nilai
perkembangan individu yang akan disumbangkan sebagai skor kelompok.
Roger dan Johnson dalam
Lie mengatakan: “Dalam penilaian, siswa mendapat nilai pribadi dan nilai kelompok.
Siswa bekerjasama, saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk tes.
Kemudian, masing-masing mengerjakan tes sendiri-sendiri dan menerima nilai
pribadi”.[34]
v.
Penghargaan
Kelompok
Penghargaan
kelompok terdiri dari beberapa langkah, yaitu:
a)
Menghitung skor individu dan skor
kelompok
Penghitungan
skor tes individu bertujuan untuk menilai perkembangan individu yang akan
disumbangkan sebagai skor kelompok
b)
Memberikan penghargaan
Setelah
masing-masing kelompok atau tim memperoleh predikat, guru memberikan hadiah
atau penghargaan kepada masing-masing kelompok sesuai dengan prestasinya
(kriteria tertentu yang ditetapkan guru).
vi.
Perhitungan
Ulang Skor Dasar dan Perubahan Kelompok
Perhitungan skor dasar
setiap kelompok diambil dari hasil tes yang dilakukan setelah selesai satu
materi pokok. Dari nilai dasar tersebut baru dapat diketahui perkembangan individu
dan kelompok.
Teknik belajar mengajar
Two Stay-Two Stray (Dua Tinggal-Dua Tamu) banyak digunakan dan menjadi perhatian
serta dianjurkan oleh para ahli pendidikan. Hal ini dikarenakan teknik belajar mengajar Two Stay-Two Stray (Dua
Tinggal-Dua Tamu) dapat menghindari rasa bosan yang disebabkan pembentukan
kelompok secara permanen dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi
dengan kelompok lain, guna memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya
intelektual siswa, membantu siswa memahami konsep-konsep sulit, membantu siswa
menumbuhkan kemampuan kerjasama, berpikir kritis dan kemampuan membantu teman.
5.
Strategi Pembelajaran Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD)
Model ini dikembangkan
oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin. STAD
merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan
merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru
menggunakan pendekatan kooperatif. Metode yang dikembangkan Slavin ini
melibatkan “kompetisi” antarkelompok.[35]
Siswa dikelompokkan
secara beragam berdasarkan kemampuan, gender, ras, dan etnis. Pertama-tama,
siswa mempelajari materi bersama dengan teman-teman satu kelompoknya, kemudian
mereka diuji secara individual melalui kuis-kuis.[36]
Dengan kata lain model
pembelajaran kooperatif STAD ini memiliki ciri-ciri berikut:
a. Untuk
menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif.
b. Kelompok
dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
c. Jika
dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, dan
jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam setiap kelompok terdiri
dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula.
d. Penghargaan
lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan.[37]
Langkah-langkah
pembelajaran kooperatif model pembelajaran STAD yaitu:[38]
i.
Penyampaian
Tujuan dan Motivasi
Menyampaikan tujuan pelajaran yang
ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.
ii.
Pembagian
Kelompok
Siswa
dibagi ke dalam beberapa kelompok, di mana setiap kelompoknya terdiri dari 4-5
siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keragaman) kelas dalam prestasi
akademik, gender/jenis kelamin, rasa atau etnik.
iii.
Presentasi
dari Guru
Guru menyampaikan materi pelajaran
dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada
pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru
memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Di dalam
proses pembelajaran guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau
masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang
keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan
yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya.
iv.
Kegiatan
Belajar dalam Tim
Siswa belajar dalam
kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembaran kerja sebagai pedoman
bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-masing
memberikan kontribusi. Selama tim bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan
bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri
terpenting dari STAD.
v.
Kuis
(Evaluasi)
Guru mengevaluasi hasil belajar melalui
pemikiran kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian
terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Siswa diberikan kursi
secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk
menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam
memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan batas penguasaan untuk setiap
soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya sesuai tingkat kesulitan siswa.
vi.
Penghargaan
Prestasi Siswa
Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja
sama dan diberikan angka dengan rentang 0-100. Selanjutnya pemberian
penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan
melakukan tahapan-tahapan sebagai berupa: Menghitung skor individu, Menghitung
skor kelompok, Pemberian hadiah dan penguasaan skor kelompok Setelah masing-masing
kelompok memperoleh predict, guru memberikan hadiah atau penghargaan kepada
masing-masing kelompok sesuai dengan prestasinya (kriteria tertentu yang
ditetapkan guru)
6.
Materi Pelajaran “Himpunan”
a. Pengertian Himpunan
Himpunan adalah
kumpulan benda atau objek yang dapat didefinisikan dengan jelas, sehingga
dengan tepat dapat diketahui objek yang termasuk himpunan dan yang tidak
termasuk dalam himpunan tersebut.[39] Suatu
himpunan biasanya diberi nama atau dilambangkan dengan huruf besar (Kapital) A,
B, C, ..., Z. Adapun benda atau objek yang termasuk dalam himpunan tersebut
ditulis dengan menggunakan pasangan kurung kurawal {...}.
Perhatikan kumpulan
berikut ini:
i.
Kumpulan lukisan indah.
Kumpulan
lukisan indah tidak dapat disebut himpunan, karena lukisan indah menurut
seseorang belum tentu indah menurut orang lain. Dengan kata lain, kumpulan
lukisan indah tidak dapat didefinisikan dengan jelas.
ii.
Kumpulan wanita cantik di Indonesia.
Wanita
cantik menurut seseorang belum tentu cantik menurut orang lain. Jadi, kumpulan
wanita cantik bukan termasuk himpunan.
b. Cara Menuliskan Himpunan
Ada tiga cara untuk
menyatakan suatu himpunan:
1.
Menggunakan notasi pembentukan
himpunan,yaitu dengan menyatakan suatu himpunan dengan variabel dan menyatakan
sifat-sifatnya. Contohnya B adalah suatu himpunan yang anggotanya bilangan
genap.
Ditulis
B = {x/x adalah bilangan genap}.
2.
Dengan menggunakan kata-kata yaitu
dengan cara merangkai kata-kata yang mengambarkan suatu bilangan. Contohnya A
adalah himpunan yang anggotanya adalah hewan berkaki empat. Ditulis A = {hewan
kaki empat}.
3.
Dengan mendaftar anggota-anggotanya
adalah suatu metode yang digunakan dengan cara menyebutkan anggotanya satu
persatu. Contohnya X bilangan kurang dari 10. Ditulis A = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,
8, 9).
Contoh
: P adalah himpunan bilangan asli kurang dari 6
Dinyatakan
dengan kata-kata : P = {bilangan asli kurang dari 6}
Dinyatakan
dengan notasi pembentuk himpunan : P = {x|x bilangan asli kurang dari 6} atau P
= { x|x < 6, x bilangan asli} atau P
= { x| 6 1 x , x bilangan asli}
Dinyatakan
dengan mendaftar anggota-anggotanya : P = {1, 2, 3, 4, 5}
c. Keanggotaan Himpunan
Lambang keanggotaan
himpunan (“ ”) digunakan untuk
menyatakan bahwa suatu objek merupakan anggota suatu himpunan, sedangkan
lambang bukan keanggotaan himpunan (“ ”) digunakan untuk menyatakan bahwa suatu
objek bukan merupakan anggota suatu himpunan. Contoh : P = {huruf-huruf
pembentuk kata “siswa”}
Kata siswa terdiri atas 5 huruf, yaitu
s, i, s, w, a. Huruf s ada dua buah, tetapi karena anggota yang sama dalam
suatu himpunan hanya ditulis satu kali, sehingga salah jika ditulis P = {s, i,
s, w, a}. Yang benar adalah P = {s, i, w, a}
d. Banyak Anggota Suatu Himpunan
Banyak anggota himpunan
A dapat dinyatakan dengan notasi n(A). Jadi notasi n(R) artinya banyak anggota
pada himpunan R
Contoh : R = {0, 1, 2,
3, 4} Banyak anggota himpunan R adalah 5 buah. Ditulis: n(R)= 5
e. Jenis-Jenis Himpunan
1.
Himpunan Berhingga
Yaitu himpunan yang
mengandung jumlah unsur yang terhingga
Contoh : A = {himpunan bilangan asli genap diantara 2
dan 1000} A = {4, 6, 8, …,998}
2.
Himpunan Tak Berhingga
Yaitu himpunan
yang mengandung unsur yang tidak berhingga banyaknya.
Contoh :
N = {himpunan bilangan asli ganjil} N = {1, 3, 5,…}
3.
Himpunan Kosong dan Himpunan Nol
Himpunan kosong adalah
suatu himpunan yang tidak memiliki anggota. Biasanya ditulis lambang { } atau Ø.
Sedangkan himpunan nol adalah suatu himpunan yang banyak anggotanya hanya 1
yaitu angka nol.
Contoh:
A = himpunan siswa di kelasmu yang beratnya 400 kg, A = {0}, sehingga n(A) = 0
B = Himpunan bilangan
cacah kurang dari 1, B = {0}, sehingga n(B) = 1
4.
Himpunan yang Sama dan Himpunan yang
Sederajat
Contoh: A = {s, i, n, g, a} dan B = {s,
i, a, n, g}
Perhatikan bahwa setiap anggota di A sama
dengan anggota di B. Jadi A = B
A = {2, 3, 4} sehingga
n(A) = 3
B = {2, 3, 5} sehingga
n(B) = 3
Karena n(A) = n(B) = 3,
maka A ~ B
B.
Kerangka Pikir
Masalah yang selama ini
dialami dalam pembelajaran matematika adalah rendahnya hasil belajar
matematika. Hal itu disebabkan kebanyakan siswa tidak menyukai pelajaran matematika
karena terkesan sulit dan membosankan. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal
tersebut adalah tidak digunakannya strategi pembelajaran yang bervariasi.
Dari teori-teori yang
telah dikemukakan, dapat kita lihat bahwa proses pembelajaran dengan berbagai
strategi pembelajaran mempunyai pengaruh terhadap berhasil tidaknya seorang siswa
dalam memahami materi yang disajikan.
Diantara sekian banyak
strategi pembelajaran pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dipilihlah
strategi pembelajaran tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan tipe Student Teams
Achievement Division (STAD). Penelitian ini mengukur hasil belajar yaitu
tingkat kemampuan tinggi dan kemampuan rendah matematika siswa pada materi
himpunan. Hal ini dilakukan untuk melihat perbedaan signifikan kemampuan tinggi
dan kemampuan rendah siswa yang diajar dengan Strategi pembelajaran tipe Two Stay-Two
Stray (TSTS) dan tipe Student Teams Achievement Division (STAD). Adapun
kerangka berpikir pada penelitian ini akan dijabarkan sebagai berikut:
1. Terdapat perbedaan hasil belajar
siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS)
dan siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams
Achievement Divisions (STAD).
Strategi pembelajaran
TSTS adalah strategi pembelajaran kooperatif yang menitikberatkan pada kerja
kelompok siswa dalam bentuk kecil yang heterogen, dengan ketentuan setelah
selesai berdiskusi dikelompoknya ada anggota kelompok yang tinggal dan ada yang
bertamu, dengan tujuan membandingkan hasil diskusi yang telah diperoleh dari
kelompok masing-masing agar anggota kelompok terhindar dari rasa bosan dengan
pembentukan kelompok secara permanen dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi
dengan kelompok lain.
Sedangkan STAD adalah
strategi pembelajaran kooperatif yang pembagian kelompoknya juga secara heterogen
di mana siswa mempelajari materi bersama dengan teman sekelompoknya, kemudian
mereka diuji secara individual melalui kuis-kuis. Kuis mempunyai pengaruh
terhadap nilai tim, dan tim yang mendapatkan nilai terbaik mendapatkan
penghargaan.
Melihat perbedaan
diantara kedua strategi pembelajaran ini, maka tentunya siswa akan mengalami
pengalaman yang berbeda pula. Untuk membuktikan apakah perbedaan tersebut akan
berdampak terhadap hasil belajar, akan dilakukan penelitian pada pokok materi
himpunan pada dua kelas dengan strategi yang berbeda di kelas VII ,,,,,,,,,.
Menurut penelitian
Abdul Rasyid model pembelajaran koooperatif tipe TSTS memberikan pengaruh
sebesar 12,1 % terhadap hasil belajar matematika siswa dibandingkan dengan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD.[40]
Hal ini menunjukkan bahwa sangat dimungkinkan hasil belajar siswa yang menggunakan
strategi pembelajaran TSTS lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar
dengan strategi pembelajaran STAD.
Slavin memaparkan dalam
Rusman bahwa :”Gagasan utama di belakang STAD adalah memacu siswa agar saling
mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang
diajarkan guru”.[41]
Jika siswa menginginkan kelompok memperoleh hadiah, mereka harus membantu teman
sekelompok mereka dalam mempelajari pelajaran. Mereka mengajari teman
sekelompok dan menaksir kelebihan dan kekurangan mereka untuk membantu agar
bisa berhasil menjalani tes.
Karena skor kelompok
didasarkan pada kemajuan yang diperoleh siswa atas nilai sebelumnya (kesempatan
yang sama untuk berhasil), siapapun dapat menjadi “bintang” kelompok dalam satu
minggu itu, karena nilainya lebih baik dari nilai sebelumnya, sehingga selalu menghasilkan
nilai yang maksimal tanpa mempertimbangkan nilai rata-rata siswa yang
sebelumnya. Dari pendapat dan penjelasan tersebut dapat diduga bahwa hasil
belajar siswa yang menggunakan strategi pembelajaran STAD lebih baik daripada
hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran TSTS.
Dengan demikian
berdasarkan uraian di atas sangat dimungkinkan bahwa terjadi perbedaan hasil
belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran
TSTS dan hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran STAD. Dapat
diambil dua kemungkinan bahwa strategi pembelajaran TSTS lebih baik dari strategi
pembelajaran STAD atau sebaliknya strategi pembelajaran STAD lebih baik
daripada strategi
pembelajaran TSTS.
2. Terdapat perbedaan hasil belajar
siswa berkemampuan tinggi yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Two
Stay-Two Stray (TSTS) dan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams
Achievement Divisions (STAD).
Pembelajaran kooperatif
adalah pembelajaran yang memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai tempat
siswa untuk bekerja sama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial
dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari
sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan, dan menjadi narasumber bagi
teman yang lain.
Memang, hampir semua
penelitian tentang metode pembelajaran kooperatif umumnya selalu menjadikan
interaksi antarsiswa sebagai faktor utama yang mempengaruhi prestasi belajar
mereka. Akan tetapi, Slavin dalam Miftahul Huda menyatakan bahwa selain interaksi,
perkembangan kognisi siswa juga turut berpengaruh terhadap pencapaian atau
prestasi belajar mereka di ruang kelas.[42]
Cohen dalam Miftahul
Huda menemukan bahwa status siswa juga berpengaruh terhadap interaksi mereka
dengan teman-teman satu kelompoknya, yang pada akhirnya juga turut berimplikasi
pada prestasi belajar mereka. Siswa-siswa yang memiliki “status yang lebih
tinggi” (mereka yang dianggap kompeten dan terkenal) cenderung mampu bekerja
sama dan berdiskusi lebih efektif daripada siswasiswa yang memiliki “status
yang lebih rendah”. Hal ini tentu saja membuat mereka yang berstatus lebih
tinggi menjadi lebih kompeten, sedangkan mereka yang berstatus lebih rendah
semakin tertinggal.[43]
Dari penjelasan diatas
tentunya kemampuan tinggi yang dimiliki seorang siswa dapat mempengaruhi hasil
belajar mereka. Dalam pembelajaran kooperatif siswa harus mampu bekerja sama,
berinteraksi, mampu memecahkan masalah yang diberikan guru, dan bertanggung
jawab membantu teman-teman satu kelompoknya untuk mempelajari materi yang
dipelajari. Hal tersebut pastinya tidak semua dimiliki oleh siswa berkemampuan
tinggi.
Banyak siswa
berkemampuan tinggi yang tidak dapat membantu temannya dalam mempelajari
pelajaran, bisa disebabkan karena mereka hanya dapat mengetahui sendiri tapi tidak
dapat menyampaikan atau mereka takut membagi ilmu mereka kepada temannya dikarenakan
takut peringkat mereka tergantikan.
Dengan demikian
berdasarkan uraian diatas sangat dimungkinkan bahwa hasil belajar matematika
siswa yang diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran TSTS berbeda dengan hasil
belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif
STAD bagi siswa yang memiliki kemampuan tinggi.
3. Terdapat perbedaan hasil belajar
siswa berkemampuan rendah yang diajar dengan pembelajaran kooperatif Two
Stay-Two Stray (TSTS) dan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams
Achievement Divisions (STAD).
Sebagai salah satu
strategi pembelajaran kooperatif yang mendapatkan perhatian, strategi
pembelajaran TSTS dan strategi pembelajaran STAD dapat menaikkan kemampuan
seorang siswa. Pada saat belajar kooperatif inilah, siswa akan belajar
bagaimana menangani konflik, menghargai pendapat orang lain, bernegosiasi untuk
menyelesaikan tugas akademik, dan saling berbagi gagasan dan sumber-sumber.
Singkatnya pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa meningkatkan prestasi
mereka, baik dalam materi akademik maupun perilaku, sikap, dan interaksinya
sehari-hari.
Seperti yang telah
dikemukakan diatas bahwa strategi pembelajaran kooperatif tipe TSTS dan strategi
pembelajaran STAD berpotensi meningkatkan siswa yang memiliki kemampuan rendah.
Dengan demikian sangat dimungkinkan hail belajar siswa yang diajar dengan
menggunakan strategi pembelajaran TSTS berbeda dengan hasil belajar siswa yang
diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran STAD bagi siswa yang memiliki kemampuan
rendah.
4. Terdapat interaksi antara strategi
pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil belajar siswa.
Kesiapan belajar siswa
adalah kesiapan struktur kognitif siswa. Apakah struktur kognitif yang telah
dimiliki oleh siswa telah mampu untuk mencerna pengetahuan yang dipelajarinya
atau belum. Hal tersebut dimaksudkan agar struktur kognitif dan pengalaman
belajar yang telah dimiliki siswa bisa mengasimilasi dan mengakomodasi
pengetahuan baru yang dipelajarinya sehingga terjadi adaptasi dalam belajar.
Kerja sama dua variabel tersebut mempengaruhi hasil belajar matematika siswa.
Dengan kata lain kemampuan siswa dan pembelajaran yang dialaminya dalam kelas
yang menggunakan strategi pembelajaran kooperatif mempengaruhi hasil belajar siswa.
Tidak dapat dipastikan
siswa yang memiliki kemampuan tinggi yang diajarkan dengan mengunakan strategi
pembelajaran TSTS akan memiliki hasil belajar yang lebih baik daripada siswa
yang memiliki kemampuan rendah yang diajarkan juga dengan mengunakan strategi
TSTS. Juga tidak dapat dipastikan siswa yang memiliki kemampuan tinggi yang
diajarkan mengunakan strategi pembelajaran STAD akan memiliki hasil belajar
yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan rendah yang diajarkan juga
dengan mengunakan strategi pembelajaran STAD. Demikian sebaliknya. Hal tersebut
karena belum diketahui apakah ada hubungan yang positif antara strategi
pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil belajar siswa.
C.
Hipotesis
Berdasarkan uraian pada landasan teoritis
yang telah dipaparkan maka dapat disusun hipotesis sebagai berikut:
1.
H0
: Tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran
kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan
pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada
materi himpunan.
H1
: Terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif
tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan pembelajaran
kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi
himpunan.
2.
H0 : Tidak terdapat perbedaan
hasil belajar siswa berkemampuan tinggi yang diajar dengan pembelajaran
kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan
pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada
materi himpunan.
H1
: Terdapat perbedaan hasil belajar siswa
berkemampuan tinggi yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Two
Stay-Two Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe
Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan.
3.
H0 : Tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa
berkemampuan rendah yang diajar dengan pembelajaran kooperatif Two Stay-Two
Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student
Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan.
H1
: Terdapat perbedaan hasil belajar siswa
berkemampuan rendah yang diajar dengan pembelajaran kooperatif Two Stay-Two
Stray (TSTS) dan siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Student
Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi himpunan.
4.
H0 : Tidak terdapat interaksi antara strategi
pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil belajar siswa pada materi
himpunan.
H1
: Terdapat interaksi antara strategi
pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil belajar siswa pada materi
himpunan.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian
Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran dan kemampuan siswa
terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah Negeri
,,,,,,,,, TP. 2016/2017 pada materi himpunan. Oleh karena itu,penelitian ini merupakan
penelitian eksperimen dengan jenis penelitiannya adalah quasi eksperiment
(eksprimen semu). Sebab kelas yang digunakan telah terbentuk sebelumnya.
B.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan
di ,,,,,,,,, , pada tanggal 01 Desember 2016 – 03 Desember 2016 pada semester I
(Ganjil) Tahun Ajaran 2016/2017.
C.
Populasi dan Sampel
1.
Populasi
Dr. Indra menyatakan
populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang
memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.[44] Sedangkan
sampel adalah sebahagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut.[45]
Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII ,,,,,,,,, Tahun Ajaran 2016/2017, yang terdiri dari 2
kelas, 1 kelas VII-A dengan jumlah siswa 30 siswa, 1 kelas VII-B dengan jumlah
siswa 30 siswa.
2.
Sampel
Sampel adalah
sebahagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.
Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel kluster, karena pengambilan
sampel dengan kelompok bukan individu. Subjek-subjek yang diteliti secara alami
berkelompok atau kluster.
Teknik pengambilan
sampel ini dibuat dengan pertimbangan bahwa peneliti hanya meneliti siswa
berkemampuan tinggi dan rendah di kelas VII-A dan siswa berkemampuan tinggi dan
rendah di kelas VII-B. Dalam penelitian ini 24 siswa dari kelas VII-A sebagai
kelas TSTS dan 24 siswa dari kelas VII-B sebagai kelas STAD.
D.
Desain Penelitian
Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dirancang dengan desain faktorial
2 x 2. Dalam desain ini masing-masing variabel bebas diklasifikasikan menjadi 2
(dua) sisi, yaitu pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (A1) dan
pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (A1). Sedangkan
variabel atributnya diklasifikasikan dalam dua kecendrungan kemampuan siswa
tinggi (B1) dan kemampuan siswa rendah (B2), sedangkan variabel terikatnya adalah
hasil belajar siswa (Y).
Desain penelitian
Eksperimen ini direncanakan menggunakan rancangan faktorial sederhana 2 x 2
dengan alasan bahwa rancangan ini memiliki beberapa kelebihan di antaranya
yaitu :
(1) rancangan
penelitian faktorial ini dapat menyelesaikan satu kali eksperimen yang
berkemungkinan membutuhkan dua atau lebih penelitian yang terpisah,
(2) rancangan
ini dapat digunakan untuk mengkaji interaksi-interaksi yang sering kali sangat
penting dalam penelitian pendidikan,
(3) melalui
rancangan ini hipotesis dapat diuji secara matang.
Tabel 4 Desain Penelitian Faktorial
2 x 2
Strategi Pembelajaran (X1)
Kemampuan siswa (X2)
|
Kooperatif Two Stay-Two
Stray (A1)
|
Kooperatif Student Team
Achievement Divisions (A2)
|
Tinggi (B1)
|
A1B1
|
A2B1
|
Rendah (B2)
|
A1B2
|
A2B2
|
Keterangan :
1)
A1B1
= Kelompok siswa yang dikenai
Pembelajaran Kooperatif Two Stay-Two Stray yang memiliki kemampuan tinggi.
2)
A2B1 =
Kelompok siswa yang dikenai Pembelajaran Kooperatif Student Team
Achievement Division yang memiliki kemampuan tinggi.
3)
A1B2
= Kelompok siswa yang dikenai
Pembelajaran Kooperatif Two Stay-Two Stray yang memiliki kemampuan rendah.
4)
A2B2 =
Kelompok siswa yang dikenai Pembelajaran Kooperatif Student Team
Achievement Division yang memiliki kemampuan rendah.
5)
A1
= Kelompok siswa yang diberikan
Pembelajaran Kooperatif Two Stay-Two Stray sebagai kelas eksperimen.
6)
A2 =
Kelompok siswa yang diberikan Pembelajaran Kooperatif Student Team
Achievement Division sebagai kelas kontrol (pembanding).
7)
B1 =
Kemampuan tinggi.
8)
B2
= Kemampuan rendah.
Penelitian ini
melibatkan dua kelas yaitu kelas TSTS dan kelas STAD yang diberi perlakuan
berbeda. Pada kelas VII-A diberi perlakuan yaitu pengajaran materi himpunan
dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray dan kelas VII-B
diberi perlakuan yaitu pengajaran materi himpunan dengan strategi pembelajaran
kooperatif tipe Student Team Achievement Division.
Di setiap kelas terdapat
pembagian kelompok. Anggota kelompok dipilih secara heterogen yang berjumlah
empat sampai lima orang, terdiri dari siswa pandai, sedang, dan rendah. Untuk
mengetahui hasil belajar siswa diperoleh dari penerapan dua perlakuan tersebut
maka siswa diberikan tes.
E.
Defenisi Operasional
Penelitian
ini berjudul: “Perbedaan Hasil Belajar Siswa Yang Diajar dengan Strategi
Pembelajaran Kooperatif Tipe Two
Stay-Two Stray (TSTS) dan Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Student
Team-Achievement Divisions (STAD) pada materi Himpunan di Kelas VII ,,,,,,,,,
Tahun Ajaran 2016/2017”.
Istilah-istilah yang memerlukan
penjelasan adalah sebagai berikut:
1. Perbedaan Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar dalam
penelitian ini adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melalui
kegiatan belajar. Peserta didik yang berhasil dalam belajar ialah yang mampu
mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuantujuan instruksional. Kemampuan
yang dimaksud adalah kemampuan peserta didik dalam memahami mata pelajaran
matematika khususnya pokok bahasan himpunan. Jadi, perbedaan hasil belajar
siswa dalam penelitian ini merupakan adanya perbedaan kemampuan yang diperoleh siswa
setelah melalui kegiatan belajar dengan perlakuan yang berbeda pula.
2. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif
dalam penelitian ini adalah suatu bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar
dan bekerja dalam kelompokkelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya
terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat
heterogen, yang melalui prosedur menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi
siswa, penyajian informasi, pengelompokan tim belajar, bimbingan kelompok
belajar, evaluasi, memberi penghargaan, yang bertujuan untuk meningkatkan
prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial,
menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain, serta dapat
memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan
pengetahuan dengan pengalaman.
3. Tipe Two Stay-Two Stray (TSTS)
Two Stay-Two Stray (Dua
Tinggal-Dua Tamu) dalam penelitian ini adalah suatu teknik belajar kooperatif
yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kecil yang terdiri
dari empat orang secara heterogen, dengan ketentuan setelah selesai berdiskusi
dikelompoknya dua orang tinggal dalam kelompoknya, sedangkan dua orang yang
lain sebagai tamu ke kelompok lain dengan tujuan membandingkan hasil diskusi
yang telah diperoleh dari kelompok masing-masing, adapun tujuan teknik ini agar
anggota kelompok terhindar dari rasa bosan dengan pembentukan kelompok secara
permanen dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan kelompok
lain.
4. Tipe Student Team-Achievement
Divisions (STAD)
Student
Team-Achievement Divisions (STAD) dalam penelitian ini adalah suatu strategi
pembelajaran kooperatif dimana siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan
orang yang beragam kemampuaan, jenis kelamin, dan suku yang melalui langkah-langkah
pembelajaran yaitu penyampaian tujuan dan motivasi, pembagian kelompok,
presentasi guru, kerja tim, evaluasi, dan penghargaan yang bertujuan untuk
memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai
keterampilan yang diajarkan guru.
F.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah menggunakan tes untuk hasil belajar pada materi himpunan. Tes hasil
belajar berupa pertanyaanpertanyaan dalam bentuk pilihan ganda dengan 4 pilihan
jawaban pada pokok bahasan himpunan sebanyak 20 butir soal. Tes tersebut
diberikan kepada semua siswa pada kelompok TSTS dan kelompok STAD. Semua siswa
mengisi atau menjawab sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan peneliti pada
awal atau lembar pertama dari tes itu untuk pengambilan data. Adapun teknik
pengambilan data adalah sebagai berikut:
1.
Memberikan post-tes untuk memperoleh
data hasil belajar siswa berkemampuan tinggi dan data hasil belajar siswa
berkemampuan rendah pada kelas TSTS dan kelas STAD.
2.
Melakukan analisis data post-tes yaitu
uji normalitas, uji homogenitas pada kelas TSTS dan kelas STAD.
3.
Melakukan analisis data post-tes yaitu
uji hipotesis dengan menggunakan teknik Analisis Varian lalu dilanjutkan dengan
Uji Tuckey.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul
Rasyid. 2012. Perbedaan Hasil Belajar
Siswa Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS (Two Stay Two Stray) Dan
Tipe STAD (Student Team-Achievement Divisions) Pada Pokok Bahasan Lingkaran
Di Kelas VIII SMP Muhammadiyah 16 Lubuk Pakam. Skripsi Pendidikan Matematika,
(Medan: Perpustakaan UNIMED)
Agus
Suprijono. 2010. Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Al
Rasyidin. 2011. Teori Belajar dan
Pembelajaran. Medan: Perdana Publishing
Anggota
IKAPI. 2009. Undang-Undang SISDIKNAS
Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokusmedia
Anita
Lie. 2010. Cooperative Learning
Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia
Wiiasarana Indonesia
Dewi
Nuharini dan Tri Wahyuni. 2008.
Matematika Konsep dan Aplikasinya. Jakarta : Pusat Perbukuan
Heri Gunawan. 2012. Kurikulum Dan Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam. Bandung: Alfabeta
http://Indramunawar.
Blogspot.com/2009/06/ hasil belajar-belajar-pengertian-dan definisi.htm
Hamruni.
2011. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta:
Insan Madani
Indra
Jaya. 2010. Statistik Penelitian Untuk
Pendidikan. Medan: Cita Pustaka
Mastur
Faizi. 2013. Ragam Metode Mengajarkan
Eksakta Pada Murid. Jogjakarta: DIVA Press
Mardianto.
2012. Psikologi Pendidikan. Medan:
Perdana Publishing,
Mustaqim. 2008. Psikologi Pendidikan. Semarang: Pustaka Pelajar
Muhibbin Syah. 2010. Psikologi
Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Mulyono Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Nana
Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Robert
E. Slavin. 2005. Cooperative Learning
Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media
Rusman. 2011. Model-Model
Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada
S.B. Djamarah. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Syafaruddin
Dan Nurmawati. 2011. Pengelolaan
pendidikan (Mengembangkan keterampilan manajemen pendidikan menuju sekolah
efektif).Medan:Perdana publishing, h.69.pendidikan
menuju sekolah efektif).Medan:Perdana publishing
Wina
Sanjaya. 2011. Perencanaan dan Desain
Sistem Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Group
[1]
Syafaruddin Dan Nurmawati. 2011. Pengelolaan pendidikan (Mengembangkan
keterampilan manajemen pendidikan menuju sekolah efektif).Medan:Perdana
publishing, h.69.pendidikan menuju sekolah efektif).Medan:Perdana publishing, h.69.
[2] Anggota
IKAPI. 2009. Undang-Undang SISDIKNAS
Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokusmedia, h.2.
[3] Muhibbin
Syah. 2010. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, h. 10.
[4]
Mulyono
Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak
Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta, h. 251.
[5] Agus
Suprijono. 2010. Cooperative Learning.
Surabaya: Pustaka Pelajar, h. 93
[6] Robert
E. Slavin. 2005. Cooperative Learning
Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media, h. 143
[7]
Abdul
Rasyid. 2012. Perbedaan Hasil Belajar
Siswa Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS (Two Stay Two Stray) Dan
Tipe STAD (Student Team-Achievement Divisions) Pada Pokok Bahasan Lingkaran
Di Kelas VIII SMP Muhammadiyah 16 Lubuk Pakam. Skripsi Pendidikan Matematika,
(Medan: Perpustakaan UNIMED), h. 45, t.d.
[8] Mardianto.
2012. Psikologi Pendidikan. Medan:
Perdana Publishing, h. 38.
[9]
Muhibbin
Syah. 2010. Psikologi Belajar Dengan
Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, h. 88.
[10]
Mustaqim.
2008. Psikologi Pendidikan. Semarang:
Pustaka Pelajar, h. 34.
[11]
Agus
Suprijono. 2010. Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, h. 2
[12] S.B.
Djamarah. 2011. Psikologi Belajar.
Jakarta: Rineka Cipta, h. 13
[13] Heri
Gunawan. 2012. Kurikulum Dan Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam. Bandung: Alfabeta, h. 104
[14] Muhibbin
Syah, op. cit., h. 137
[15] Ibid,
h. 111
[16] Mulyono
Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak
Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta, h. 37-38
[17] http://Indramunawar.
Blogspot.com/2009/06/ hasil belajar-belajar-pengertian-dan definisi.htm
[18] Agus
Suprijono, op. cit., h. 5-6
[19] Ibid,
h. 6-7
[20] Nana
Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, h. 22
[21]
Al Rasyidin. 2011. Teori Belajar dan
Pembelajaran. Medan: Perdana Publishing, h. 153.
[22] Ibid
[23] Rusman.
2011. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, h. 203
[24] Ibid
[25] Heri
Gunawan, h. 233.
[26] Wina
Sanjaya. 2011. Perencanaan dan Desain
Sistem Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Group, h. 194.
[27] Heri
Gunawan, op.cit., h. 241.
[28] Agus
Suprijon, op.cit., h. 58
[29] Agus
Suprijono, op.cit, h.211
[30] Hamruni.
2011. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta:
Insan Madani, h. 127
[31] Wina
Sanjaya, op.cit., h. 243
[32] Anita
Lie. 2010. Cooperative Learning
Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT
Gramedia Wiiasarana Indonesia, h. 61.
[33] Mifahul
Huda, op.cit., h. 141.
[34] Anita
Lie, op.cit., h.88
[35] Robert
E. Slavin, op.cit., h. 143
[36] Miftahul
Huda, op.cit., h. 116
[37] Mastur
Faizi. 2013. Ragam Metode Mengajarkan
Eksakta Pada Murid. Jogjakarta: DIVA Press, h. 183-184
[38] Rusman,
op.cit., h. 215-217
[39] Dewi
Nuharini dan Tri Wahyuni. 2008.
Matematika Konsep dan Aplikasinya. Jakarta : Pusat Perbukuan, h. 164
[40] Abdul
Rasyid. 2012. Perbedaan Hasil Belajar
Siswa Menggunakan PembelPelajaran Kooperatif Tipe TSTS (Two Stay Two Stray) Dan
Tipe STAD (Student Team-Achievement Divisions) Pada Pokok Bahasan Lingkaran
Di Kelas VIII SMP Muhammadiyah 16 Lubuk Pakam. Skripsi Pendidikan Matematika,
(Medan: Perpustakaan UNIMED), h. 45, t.d.
[41] Rusman.
op.cit., h. 214
[42] Miftahul
Huda. op.cit., h. 43
[43] Ibid,
h. 304
[44] Indra
Jaya. 2010. Statistik Penelitian Untuk
Pendidikan. Medan: Cita Pustaka, h. 18.
[45] Ibid,
h. 29